Dec 12, 2007

Benci tapi Cinta

Hari ini salah satu team branding saya pulang dengan sedikit menggerutu setelah bertemu dengan kliennya, "masa sih pa X katakanlah mau menambah menunya dengan menu yang tidak ada sama sekali hubungannya dengan cafe atau restoran", kemudian saya dengan sedikit mencoba menenangkan bertanya dengan team saya tersebut, "maksudnya?". Kemudian teman saya tersebut meneruskan pemicaraannya dengan mengatakan bahwa kliennya ingin menambah menu bubur yang hanya dibuka dipagi hari karena dia melihat peluang banyak ibu-ibu yang menunggui anaknya sekolah karena kebenaran di depan cafe tersebut ada sekolah.

Hmmmm, saya menjadi tersenyum entah itu senang karena begitu pedulinya teman saya tersebut dengan kliennya sampai marah tersebut atau sedikit sedih karena kenyataan kadang kala apapun yang dikatakan klien sebagai penyandang dana yang jelas-jelas hal tersebut tidak baik bagi brandnya harus tetap dilakukan karena sudah menjadi semacam kalimat perintah.
Realita. seperti itulah kalau semua ingin kejujuran dari hampir sebagian besar pelaku bisnis di bidang branding dan advertising. Pernah suatu waktu saya menolak fee dan mengundurkan diri sebagai brand konsultan sebuah perusahaan karena hati saya merasa sakit bahwa kerja keras yang team saya ciptakan menjadi sia-sia hanya karena keputusan yang maaf kalau boleh saya bilang bodoh, klasik, akhir cerita klien saya tersebut akhirnya berakhir.

Saya kadang berpikir mengapa cukup banyak klien yang menganggap ide dan strategi yang dipaparkan oleh branding konsultannya merupakan hal yang harus didebat dengan berbagai alasan yang terkadang tidak logis yang ujung-ujungnya terjadi penolakan. Di sisi yang lebih ekstrim ada beberapa klien yang merasa sudah benar sendiri dan strategi yang dia ciptakan pasti tepat untuk pasarnya dan apa yang dikatan oleh brand agency adalah sesuatu yang salah walaupun sudah melalui riset dan sebagainya. di perusahaan yang saya tolak agency feenya pun team saya mengalami hal demikian, seluruh hasil yang didapatkan dari consumer insight lewat wawancara ditolak mentah-mentah dengan mengatakan bahwa yang diwawancara itu bukan marketnyalah, emang gua pikirin, ah masih banyak calon customer lain dsb.

Gila nih, saya sampai tidak habis pikir mengapa hal tersebut bisa terjadi, logikanya sangat sederhana customer is your king, jika mereka mengatakan sesuatu tidak secara langsung ke perusahaan berarti dia merasa kecewa dengan perusahaan tersebut. ke depannya jelas sangat gampang di tebak mereka tidak akan pernah datang lagi ke perusahaan anda. kedua, sebagai branding konsultan jelas bukan nilai yang kecil yang harus dikeluarkan untuk membayar team saya, lantas mengapa kita harus bekerja sesuai dengan kesenangan beberapa orang di dalam perusahaan? sebagai professional jelas saya dan team saya akan berbicara sesuai fakta lapangan, apapun itu hasilnya dan tidak peduli hal ini punya akibat apa ke dalam internal perusahaan.

Kalau saja saya mau, saya bisa saja tidak peduli dan mengikuti saja apa yang diinginkan orang perusahaan yang kebenaran incharge bersama saya, tapi hal tersebut jelas bukan sebuah etika yang baik di dalam bisnis jasa.

Ah ini khan hanya keluahan seorang saya, kenyataan yang kerap menghampiri hidup ini, syukur-syukur dibaca dan dimengerti bahwa sebagai brand agency saya dan team saya dari hati yang paling dalam selalu mencoba jatuh cinta dan memberikan yang terbaik bagi semua yang kami cintai.

1 comment:

Ranmaru said...

gamang ya, dan klien kita adalah customer kita pula. hmm...