Posts

Showing posts from June, 2009

Peta Pemasaran Capres dan Cawapres

Menarik sekali memperhatikan kampanye dari para capres kita belakangan ini. Sepertinya perkembangan dunia politik di tanah air menuntut pengembangan strategi dari masing-masing tim sukses dalam “memasarkan” produk mereka yaitu para pasangan capres dan cawapres. Pada dasarnya sekarang ini selama masa pemilu, masing-masing kandidat sedang “menjual” diri mereka sendiri, tentunya yang semakin menarik adalah adanya pola-pola pemasaran yang mereka gunakan termasuk di dalamnya dalam menentukan siapa target market mereka yang sebenarnya.

Nampaknya jika dilihat di permukaan, seorang presiden tidak memiliki target market, karena mereka dipilih oleh semua orang di negara ini. Tetapi hal tersebut tentu pemahaman yang salah dalam langkah pemasaran, karena nyaris tidak ada strategi yang berhasil tanpa adanya pemilihan target market secara fokus, karena masing-masing kelompok target market memiliki hal-hal yang wajib kita penuhi dan tentunya memiliki ekspektasi yang berbeda-beda. Bukan saja ekspekta…
Corporate Value
Pajangan atau Junjungan?


Apa salah satu pekerjaan yang paling sulit sebagai bisnis partner perusahaan, celetuk salah satu sahabat saya ketika sedang menikmati dinner bersama, hmmm, hampir semua sebetulnya sulit karena karakeristik bisnis setiap klien berbeda namun jika boleh mengungkapkan satu hal yang paling sulit yang selama ini saya tangani mungkin implementasi Corporate Valueslah jawabannya. Yah setelah saya pikir-pikir inilah pekerjaan yang paling nyita pikiran dan waktu dalam implementasinya karena melibatkan seperangkat nilai yang bisa dikatakan abstrak dan sejumlah orang yang punya sikap dan prilaku yang juga unik dan berbeda-beda.

Corporate Values, kata yang sederhana, sangat sering diucapkan di perusahaan dan jika Anda datang ke sebuah kantor pasti hampir dipastikan Anda melihat poster yang bertulisan corporate values di perusahaan tersebut, ditempel di ruang meeting atau tamu, dengan gambar yang indah dan ditulis dengan hurup yang besar dan kadang jumlahnya bis…
Strategy Perusahaan = Tipe Perusahaan


Saya sempat heran setengah mati saat ‘berkunjung’ ke kantor salah satu perusahaan makanan yang cukup terkenal namanya (dulu) di Bandung. Tidak ada yang tidak mengetahui perusahaan itu beberapa belas tahun yang lalu, siapun yang berkunjung ke Bandung pasti membeli oleh2 disana. Coba tanyakan pada Mama-Papa atau Eyang kamu sekalian ,saya yakin banyak dari mereka yang tahu tentang brand itu. Itu dulu! Sekarang? Coba tanya ke teman-teman sepantaran kamu, mungkin hanya beberapa orang yang mengetahui brand tersebut. Terjadi lost generation yang sangat saya sayangkan. Tapi mau bagaimana lagi, perusahaan ternyata mempunyai strategy tersendiri dalam menjalankan usahanya. Strategy yang menurut saya sebagai bagian dari target market mereka (saya belum bicara sebagai konsultan branding lho ya!;p), “sayang banget!”.

Bukan bermaksud membanding-bandingkan jika saya jadi penasaran ‘melihat’ strategy yang digunakan Mc. Donalds dalam menjalankan usahanya. Yah memang …
Loyal Customer = More Profit


Beberapa waktu yang lalu saya membaca postingan salah satu member milis tersebut, dimana si anggota milis yang kecewa pelayanan salah satu hotel bintang lima di daerah Ibu Kota. Dalam postingnya ia mengeluhkan pelayanan yang tidak professional yang tidak sesuai dengan expektasinya terhadap hotel berbintang 5. Tanggapan dari anggota milis yang lain pun bermacam-macam, namun sebagian besar beranggapan kalau hotel bintang lima tidak seharusnya punya kualitas pelayanan seperti yang dikeluhkan.

Di lain kesempatan, adapula cerita dari seorang Ibu berkatitan RS International yang betul-betul membuat heboh dengan maraknya pemberitaan kasus ini. Cerita singkatnya sang Ibu mengeluhkan layanan dan tindakan dari RS tersebut yang membuat beliau merasa dirugikan sebagai pasiennya.

Bicara soal service, mungkin Anda sekalian sudah tidak asing lagi dengan yang namanya SERVQUAL, metode yang dikemukakan oleh Valerie A. Zeithamal, A. Parasuraman, dan Leonard L. Berry, dimana SER…
Cinta itu Memang Indah


Kalo Anda memperhatikan iklan Telkomsel akhir-akhir ini pasti beberapa dari Anda akan menyadari bahwa pendekatan iklan yang dilakukan saat ini sepertinya mengambil angle kreatif dari sisi Cinta. Saya sendiri ketika melihat iklan tersebut langsung membayangkan iklan Ponds beberapa waktu lalu yang juga menggunakan konsep Cinta serta beberapa iklan lainnya yang juga menggunakan cinta sebagai big ideanya seperti Conello, TImtam Crush dan beberapa iklan lainnya.

Di paman sam sana, Kota Philadelphia, untuk meningkatkan kunjungan tourist, Tourisms marketing Corporationnya mencipkatan pendekatan yang terbilang cukup unik dalam industry Tourist dengan mengadopsi cinta sebagai tema kampanyenya. Kapanye periklanan tersebut dinamakan "With love, Philadelphia," dimana Kota tersebut diibaratkan teman akrap lama yang menuliskan surat cintanya ke seluruh media yang mereka gunakan dan uniknya tema ini digunakan untuk promosikan apa saja mulai dari hotel sama museum seni …
Innovation for Other Innovation


Ditawari Blackberry second oleh atasan dengan harga yang murah membuat saya sempat “ragu” dengan niatan membeli handphone biasa (biasa = yang ada kamera 3,2 MegaPixel, ada MP4, ada radio, ada buat ngedit-ngedit foto, bisa internet-an, dll…biasa banget kan?;p). Di rumah saya mencoba berdiskusi dengan adik saya (yah jujur saja saya nggak begitu jago dalam hal per-gadget-an). Dia bilang kalau mau sih lebih bagus I-Phone, katanya multimedianya lebih komplit, kalau Blacberry kan enaknya buat keperluan bisnis. Hmmm…makin bingung saya!

Di jalan-jalan di Bandung saya mulai melihat ‘persaingan’ dua brand tersebut. Billboard di spot-spot utama, iklan di media massa, bundling dengan provider-provider kuat, dsb. Fiuh…lagi kenceng tuh! Saya suka jadi ‘amaze’ sendiri kadang kalau mengamati perkembangan gadget sekarang ini. Dulu saya salut sekali dengan system inovasi Nokia yang selalu mengeluarkan inovasi produk setiap 3 bulan sekali. Kemarin-kemarin saya lihat Sony E…
Orang Sales & Marketing Strategy


Minggu lalu saya diminta salah satu klien saya untuk datang dan memberikan briefing singkat mengenai marketing ke kantor pusat dan cabang yang baru saja diakuisisi oleh klien saya tersebut dari pemilik lamanya untuk kemudian cabang ini dijadikan semacam senjata utama untuk menggarap pasar yang ditidak bisa digarap oleh perusahaannya dikarenakan adanya aturan yang membatasi pembukaan kantor cabang baru, walaupun masih bisa dengan system tenaga pemasar lepas, namun dengan berdiri fisik kantor walaupun berbeda brand akan lebih maksimal dalam penggarapan pasarnya.

Mulailah perjalanan saya menyambangi tiga kota dalam tiga hari tersebut, di setiap kota saya minta semua tim marketing “baca: sales” dikumpulkan agar saya bisa share pengalaman bagaimana perusahaan yang baru saja mengakusisi mereka bisa menjadi perusahaan terbesar di Indonesia. Ok sedikit saya ulang lagi, perusahaan yang diakuisisi ini produknya sama persis dengan produk perusahaan utamanya, ja…
MENJADI MARKET DRIVER
MELALUI BLUE OCEAN STRATEGY


Nada-nada yang minor….
Lagu perselingkuhan….
Atas nama pasar semuanya begitu cliché……. (Efek Rumah Kaca-Cinta Melulu)

Itulah sepenggal lirik yang dikumandangkan oleh Efek Rumah Kaca. Lagu yang berjudul “Cinta Melulu” ini dapat saya katakan merupakan lantunan kritik yang ditujukan pada pasar music Indonesia saat ini, yang didominasi oleh lagu-lagu cinta dan dibawakan oleh band-band yang mendayu-dayu. Fenomena ini bisa kita amati bersama, acara music seperti “Inbox”, “Dahsyaat”, “Derings”, dan sederet acara yang serupa memang kebanyakan didominasi oleh band-band yang membawakan lagu cinta, belum lagi banyak band-band baru yang hadir dengan karakteristik yang bisa dibilang serupa, kenyataannya pasar sangat menyukai mereka. Pasar sangat menyukai lagu-lagu cinta yang mendayu-dayu. Yah wajar kalau Efek Rumah Kaca protes…..bagaimana tidak?Lagu mereka bukanlah lagu-lagu cinta yang mendayu-dayu, lagu-lagu mereka tercipta dari sebuah idealism dal…