Nov 22, 2017

2. Q&A (SOP + Fast Growing + Consultant)

Tadi pagi asik ngobrol dengan temen di group Whatsapp ada pertanyaan yang menarik yang dikemukakan oleh beliau yang saya rasa cukup ok untuk dibahas dan mungkin bisa bermanfaat bagi setiap pebisnis.

"Mas, ini kita udah cukup banyak cabang, cuman sejujurnya kita bingung bagaimana yah biar lebih terstandart, bisa berkembang lebih professional dan tumbuh cepat?"

Ok basically pertanyaan diatas ada 3 hal yang ditanyakan dan semua pertanyaan yang berat untuk dijawab karena sejujurnya saya juga terus improvement persoalan-persoalan di atas, tapi its ok mungkin saya bisa sharing base on pengalaman apa yang sedang kita jalankan dan sudah pernah kita jalankan.

1. Standarisasi
Point paling utama dalam melakukan standarisasi adalah DOKUMENTASI - TRAINING - IMPLEMENTASI - KONTROL - EVALUASI - IMPROVEMENT circle. Hal apapun ikut semua circle ini jika kita ingin membangun standarisasi yang kuat bagi bisnis kita. Contoh klo kita punya bisnis kuliner, tata cara masuk, tata cara layanan, tata cara kebersihan dan semua hal yang terkait bisnis kita tidak ada DOKUMENTASI bagaimana bisa terstandart?


Nov 14, 2017

Q&A. Target + Passion + Investor

Sudah lama sekali ga nulis nih, alasan klasik sih terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga menyempatkan waktu untuk menulis menjadi sesuatu yang "langkah".

Sering sekali saya berpikir bagaimana yah biar ide menulis bisa ngalir gitu ajah, sometimes idenya lagi ada eh lagi pas dijalan, sudah di depan komputer hilang tanpa bekas haha sampai tadi di mobil, dalam kondisi dingin dan hujan yang rintik-rintik terpikirlah sesuatu yang lebih sederhana untuk ditulis tapi Insya Allah punya manfaat yang sama dengan tulisan-tulisan dalam bentuk artikel, apa itu?

Q & A, Yap, tiap minggu ada-ada ajah pertanyaan soal bisnis baik secara langsung, melalui social media, curhat di DM ataupun di channel lainnya, kadang pertanyaan yang sama berulang dan saya rasa bagus juga kalo saya tuliskan ajah (bisa gantian dengan menulis artikel) sehingga bisa dibaca oleh temen-temen semua yang mungkin punya problem yang sama dalam bisnisnya. Or bisa juga tuliskan pertanyaan di kolom komen, Insya Allah saya balas jika saya rasa ada sedikit kemampuan untuk menjawabnya.

Seperti tadi sore ketika ngobrol santai dengan beberapa temen-temen MBA ITB ada beberapa pertanyaan yang mereka tanyakan, nah kita mulai yuk. Btw mungkin tidak 100% sama pertanyaan tapi saya modif2 dikit biar lebih kontekstual tentunya.

1. "Mas gimana yah buat nentuin berapa besar target jualan buat bisnis saya, rada bingung soalnya untuk menetapkan target buat orang salesnya"


May 7, 2017

Jangan Jadi Pengusaha Yah

Yah ini kalimat yang sering sekali saya katakan kebanyak temen-temen yang bertanya soal menjadi pengusaha. Jadi pengusaha itu tidak mudah, bahkan klo mau jujur sangat-sangat sulit deh, butuh tenaga besar, pikiran besar, nyali besar dan banjir stress dan tekanan perasaan dan pikiran yang luar biasa edan, klo bukan karena NIAT ibadah, rasanya saya pikir2 dulu ga akan sanggup menjalankan usaha, mending kerja dengan kepastian sebenernya.

"Wuihh mas, nakut-nakutin amat, buat orang demotivasi ajah buat jadi pengusaha, hehe". Buat saya sharing soal kesulitan, kerasnya dan sulitnya jadi pengusaha adalah hal yang sangat penting untuk calon pengusaha, mengapa? Agar temen-temen bersiap dengan kondisi seperti ini, yah syukur2 ga datang (jarang sih) tapi jikapun datang MINDSET mereka sudah siap untuk bertarung dengan semua itu.

MOTIVASI bagus, gairah penting tapi siap dengan gagal juga sangat penting karena begitulah sebetulnya yang dihadapi oleh kebanyakan pengusaha ketika mereka membangun bisnisnya pertama kali, sukses sih soal gampang buat di ceritain, tapi jauh-jauh lebih penting untuk setiap kita yang ingin menjadi pengusaha siap untuk kegagalan dan persiapan itu dimulai dari sharing tetang kegagalan orang-orang yang sudah menjalankannya, dan seperti maksud saya diatas, syukur2 dengan cerita2 tersebut kita bisa menghindari kesalahan-kesalahan yang dulu pernah diperbuat sehingga bisa gagal.


May 3, 2017

It’s Not About The Coffee, 5 Differentiation Approachs

"jadilah berbeda ato brand kita tidak akan bertahan hidup lebih lama". Yah dalam dunia bisnis, differensiasi adalah mantra penting yang betul-betul harus dipahami dan dimengerti serta dieksekusi dengan tepat oleh pemilik brand untuk bisa bertahan dan terus perkembang.

Nah masalahnya, dari pengalaman saya banyak menjadi speaker dan sharing, kebanyakan pebisnis khususnya UKM sering sekali tidak betul-betul mengerti sebetulnya apa itu Differensiasi, taunya hanya sekedar menjadi berbeda, menjadi unik, to be the one atau bahkan semua umat manusia dimuka bumi ini sampai bingung dengan apa yang dia jual kecuali dia dan Tuhan yang mengerti dengan apa yang sebetulnya lagi dijual.

Kebanyakan pebisnis juga kalo saya perhatikan sering tidak tepat dalam implementasi Differensiasi brandnya sehingga alih-alih menjadi faktor pembeda yang punnya daya ungkit dan menjadi "reason to buy", differensiasi yang "dia pikirkan" malah menjadi backfire or tidak punya impact sama sekali terhadap bisnisnya.

Membangun differensiasi brand di dalam bisnis merupakan hal yang cukup kompleks dan sulit terutama di kondisi saat ini dimana arus informasi, teknologi dan pengetahuan sangat mudah didapat dan dicari oleh banyak pihak khususnya kompetitor kita. Apa yang menjadi differensiasi hari ini (menurut kita katakanlah) bisa jadi menjadi basi esok hari karena tiba-tiba kompetitor atau orang lain membuat hal yang sama bahkan lebih baik.

Jadi, ada beberapa pendekatan yang bisa dijadikan acuan untuk membangun differensiasi yang kuat sehingga punya daya saing namun sekaligus tidak mudah ditiru oleh kompetitor tentunya.

1. Customer Intimacy Approach

May 2, 2017

Hokkaido Strategi, Simple, Cepat & Menguntungkan

Minggu lalu ketika sedang cukup lama di jakarta saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk main ke Kokas jakarta, yah biasalah orang kuliner, yg dicari tentu sesuatu yang berkaitan dengan kuliner klo sudah pergi ke suatu tempat.

Cukup banyak beberapa SPOT baru ternyata yang bisa dikunjungin cuman yang bolak balik ujung-ujungnya kembali makan di tempat yang "aman" hehe, yg penting udah hafal lah rasanya, nah setelah makan kita rencana untuk kembali lagi ke hotel tempat menginap dan jalan menuju parkir berhentilah tatapan saya di suatu counter 4x4 meter mungkin dengan nama brand Hokkaido Chesee Baked.

"Buset nih brand, ga di indo, ga di malaysia, ga di Australia ketemu ajah dan rame pula, padahal harga ga bisa dibilang murah sih untuk ukuran kue sekali telan wkwk", klo tidak salah butuh duit 20 ribuan untuk sepotong kuenya, cukup 1 potong? JELAS TIDAK, jadi ajah akhirnya beli 100 rebu dapet 6, just for kue yang ga ada 2 menit lenyap ditelan, klo makan Indomie bisa di stock seminggu 100 ribu".

Hokkaido Chesee Baked ini menarik dari sisi Model Bisnis dan Marketing, jual hanya 1 variant, focus dan growth dalam waktu cepat, bertolak belakang sekali dengan pemikiran bahwa kita butuh Variant produk untuk bisa memuaskan banyak konsumen. Seperti halnya Roti Boy yang beberapa tahun belakang juga berkembang cukup cepat, brand Roti Boy ini hanya focus menjual 1 item dengan 1 rasa, berbeda dengan beberapa toko roti besar yang banyak sekali variant seperti yang kita sering lihat.

yah tentu saya tidak sedang ingin melakukan komparasi dengan dua model bisnis yang saya ceritakan di atas, karena masing-masing punya advantage dan disadvantage terhadap model yang digunakan, tapi untuk kita yang baru akan memulai bisnis dan tertarik untuk terjun di bisnis makanan baik itu cake, roti atau apapun, model bisnis seperti Hokkaido Chesee Baked atau Roti Boy bisa menjadi pertimbangan yang cukup bagus, kenapa?


May 1, 2017

Bisnis Itu Ga Harus "Unik"

2015 ......

"hehe ga salah bro buat bisnis bakso, udah banyak banget yang jualan bakso apalagi di bandung, mana udah ada raja-rajanya yang memang udah terkenal sejak dulu. Coba buat bisnis yang lebih unik dan outstandig lah yang pesaingnnya blom banyak dan potensi marketnya masih besar", Bakso mah berat sama peluangnya kecil"

2017 .......

"Now Open, cabang ke 17 & 18 Bakso Boedjangan Bintaro dan Bakso Boedjangan Bogor"

Butuh 2 tahun lebih untuk saya mulai menulis dan memberikan jawaban dari komen salah satu kolega bisnis saya di atas. Aha tentu dalam konteks ini saya tidak bicara soal MOTIVASI bagaimana kita disanksikan atau direndahkan inteletualitas kita terhadap ide sebuah bisnis, not that point at all tentu, pembukan di atas hanya sebuah gambaran bahwa kadang banyak orang yang tidak bisa melihat peluang bisnis/ pasar yang punya potensi untuk digarap dan menjadi besar.

Yuk coba kita bahas satu persatu dari beberapa penggalan kalimat kolega saya tersebut.

Bisnis yang Unik dan OutStanding

Apa definisi unik/ outstanding dalam bisnis? sesuatu yang belom pernah ada dijual? atau sudah ada yang jual tapi masih sedikit kompetitor? atau sesuatu yang tidak bisa ditiru sama sekali? atau pas orang lihat terbengong-bengong sampe bingung ini orang jualan apa yah? hehe


Apr 29, 2017

The Power of IG Recommendation

Melakukan Trip (apakah liburan ataupun perjalanan dinas) mungkin punya sisi asyik dan zonk nya, artinya walaupun kekinian karena mengunjungi lokasi2 & bisa mencicipi kuliner2 unik di setiap lokasi, terkadang kita juga mendapati kebingungan untuk mendapatkan informasi kuliner2 favorit yang sedang trend, HITS, ataupun sedang booming di lokasi2 tersebut, atau jangan2 kelihatan enak di socmed tapiii pas di coba Zonk... rasa tidak seindah rupa.

Basicly hal yang paling umum saya lakukan adalah ask mbah Google, dan barulah dari sana bermunculan iklan, portal, blog, dll yang tentunya tetap harus kita buka satu per satu, or klo yg sekarang sedang trend adalah membuka akun2 Instagram milik foodies2 lokal

Mungkin terasa simple.. yah.. simple untuk yang paham dan mengetahui mekanisme search dan keyword di google ataupun via IG, namun untuk yang belum paham, mungkin hal ini cukup sulit dilakukan, tapi sebenarnya hal ini mudah untuk dipelajari ataupun di lakukan oleh pebisnis2 lokal yang ingin produk, cafe, tempat makan atau lokasi nya ‘searchable’ atau mudah ditemukan oleh para pemburu kenikmatan (baca: pecinta kuliner) yg berkunjung di lokasi2 baru:

Berikut beberapa pertimbangan / hal2 yang bisa dicoba untuk bisa hadir dan eksis di Instagram:

1. Use #Hastag (brand, kategori – food, kota, keyword)
Ngomongin instagram, pastinya ga mungkin engga ngomomgin apa itu #Hastag, hal tersimple yang sering dilakukan oleh pengguna IG untuk mencari sebuah topik adalah mencari hastag / Tag, mungkin Hastag mirip seperti fungsi keyword pada Google.


Apr 10, 2017

5 Cara Naikin Profit tanpa Naikin Penjualan

Bahasan yang selalu menarik untuk dibahas bagi setiap pebisnis khususnya yang bermain di bisnis kuliner seperti saya adalah tentang bagimana meningkatkan profit perusahaan tanpa perlu ada kenaikan penjualan, instilahnya penjualan yah wess mentok to the max hehe jadi harus ada cara-cara lain untuk bisa meningkatkan profit perusahaan.

Barusan saya menonton sebuah video dimana perusahaan distribusi di china menciptakan inovasi robot untuk melakukan sortir 200 ribu barang setiap harinya sehingga mereka bisa menekan biaya human dan error dengan sangat signifikan sehingga pada akhirnya keuntungan perusahaan meningkatkan karena cost menjadi lebih rendah dan kecepatakan delivery menjadi lebih baik.

Kemarin, di sebuah cafe saya lihat sebuah hal yang sangat inspiratif, bagaimana 1 lantai dilayani oleh hanya 1 orang dengan jumlah kursi hampir 80 kursi tanpa mengurangi kualitas dan kecepatan layanan di tempat tersebut, nah ini jadi sebuah insight penting untuk kita di mana dengan sistem ini cafe tersebut tentu menghemat biaya karyawan dalam jumlah cukup signifikan, apakah sebuah kebetulan? tentu tidak, ini bagian dari strategi yang ujungnya Naikin Profit tanpa harus Naikin Penjualan.

Ok, coba yuk kita bahas singkat beberapa ide yang bisa diimplemtasikan sehingga profit bisa naik tanpa harus penjualan naik terus, yah spesifik saya bahas untuk teman-temann di bisnis kuliner tentunya, tapi konsep ini juga bisa diimplemtasikan di berbagai bisnis dengan customenisasi tentunya. Siapp? Yukk.

1. Tekan Opex

Apr 6, 2017

Kopi, Melbourne, Idealisme & Industrialisasi

 "Jika ingin melihat idealisme dan kualitas bersatu di dalam Kopi pergilah ke Melbourne"

..... Di satu hari masuklah kalimat ini di FB Messenger saya dari seorang teman di Melbourbe, mungkin karena sangat sering saya memposting tentang Kopi di Warunk Upnormal sehingga sahabat saya terpikir untuk memberikan informasi tersebut.

Warunk Upnormal, sejak 2014 dibangun dan terus berkembang menjadi hampir 40 cabang di akhir april ini memang sangat indentik dengan tempat nongkrong asik dengan "senjata" andalannya variasi Indomie yang khas, tidak banyak memang yang tau jika Idealisme tentang kopi juga tumbuh di kalangan ownernya khususnya salah satu sahabat saya, jadi jangan kaget kalo saya beritahu bahwa biarpun kelas warung, kopi yang ada di roasting sendiri dengan menggunakan Mesin Probat Jerman seharga mobil mewah dan mesin-mesin espresso yang digunakan bahkan dibeberapa outlet sudah memakai Black Eagle seharga total kurang lebih 200 juta per mesin, blom lagi bean nya didatangkan langsung dari petani kopi yang menjual Grade terbaik dan semua itu ada di warung Indomie.

Nah kembali lagi, bulan lalu kebetulan sekali saya mendapatkan kabar ada pameran Kopi di Melbourne, berbekal rasa ingin tahu yang lebih besar soal Idealisme dan Kualitas di Melbourne akhirnya kita memutuskan untuk menjelajah Australia, ini perjalan ke 2 ke "pusat kopi dunia" setelah sebelumnya tim Warunk Upnormal ke Italia demi membangun knowledge untuk dapat digunakan membangun industri kopi di Indonesia dan bisnis warunk upnormal tentunya.... idealis sekali yah hehe.

Idealisme

Apr 4, 2017

Masalah = Solusi = Bisnis

"Masalah adalah sumber utama ide bisnis yang potensial sejauh tersedia solusi untuk masalah tersebut"

Ada beberapa common things yang sangat penting diperhatikan ketika kita memutuskan untuk membangun sebuah bisnis. Sangat tidak disarankan ketika kita memutuskan untuk membangun sebuah bisnis hanya didasarkan pada karena saya "suka", "sepertinya ok", "cocok nih dengan passion saya" ato "lagi ada modal nih, jadi mumpung" or "kepepet banget, mau ga mau harus".

Gaya berbisnis seperti di atas, punya kencenderungan akan membuat kita sulit menjalankan bisnisnya dan tidak menguasai kondisi dan kemampuan yang dibutuhkan sehingga ujung-ujung sangat sulit membuat bisnis berkembang, modal keburu habis duluan atau lebih buruk bisnis jalan tapi terus merugi, boro-boro bicara menjadikan bisnis lebih besar dengan profit yg besar, sekedar untuk menggaji karyawan dan operasional day to day ajah mungkin harus hutang sana sini, gestun, gali lubang tutup lubang sampai menggunakan dana pinjaman tambahan dari bank or sejenisnya.

"Bukannya wajar mas Rex hal tersebut untuk setiap pemula bisnis?" Betul wajar karena biasanya kita melakukan common mistake yang sama, apakah ada yang berbisnis tidak melalui hal tersebut? yah pasti ada, tentu ada challenge tapi biasanya akan lebih terkait dengan bisnis growthnya bukan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dialami jika sejak dari awal melakukan bisnis dengan tuntunan yang tepat.

Contoh, dulu ketika memutuskan untuk berbisnis ketika belum lulus kuliah, karena begitu cintanya dan sukanya saya dengan dunia marketing, maka saya memutuskan untuk menjadi konsultan marketing dan advertising, hasilnya 8 tahun berakhir dengan menumpuk hutang biarpun klien banyak, bingung juga saya kalo ditanya kok bisa bertahan hehe, finaly akhirnya melakukan Pivot ke bisnis kuliner dan menjadikan 8 tahun lebih sebagai kuliah "Harvard" hehe. Mengapa bisa demikian? Yah karena ketika memutuskan terjun ke dalam bisnis alasannya sangat sederhana "passion", pasar? Waduh kira2 ajah kayanya banyak sih, berapa besar? yah besar kali yah, memang orang butuh? Yah pastilah siapa sih yang ga butuh konsultan? ... get my point?


Mar 28, 2017

Bisnis Kuliner Apa yang Potensial?

"mas Rex, bisnis kulinner apa yah yang kira-kira potensial untuk digarap, lagi kepengen coba peruntungan di bisnis kuliner nih mas?"

Ini pertanyaan yang mungkin sudah ga terhitung jumlah ditanya oleh temen-temen yang tertarik untuk terjun ke dalam bisnis kuliner, mungkin salah satu pertanyaan bisnis terbanyak yang saya temui selama ini hehe, karena mungkin saya juga orang kuliner kali yah or memang kalo mau start bisnis sepertinya bisnis kuliner "terlihat" lebih mudah dimasuki dan cukup menjanjikan.

Nah untuk menjawab pertanyaan di atas, saya jadi terpikir untuk dituliskan ajah jawabannya sehingga mudah untuk siapapun yang ingin tahu mendapatan jawabannya secara gamblang dan tentu lumayan itung-itung traffic ke blog yang udah lama banget saya tulis ini meningkat lagi hehe, maklum berat sekali rasanya untuk rajn nulis ditengah kesibukan yang luar biasa saat ini.

Ok balik lagi, bisnis kuliner seperti apa sih yang potensial dan punya peluangan yang masih sangat besar untuk digarap? Bisnis kuliner apa sih yang cukup menjanjikan untuk bisa jadi masa depan hidup kita dan jadi tumpuan ketika kita memutuskan untuk menjadi pengusaha kuliner?

Ok coba saya sharing point-point nya tapi sebelum itu perlu sekali untuk dipahami bahwa it is not easy world, dunia usaha termasuk di dalamnya kuliner bukanlah "golden tickets" untuk kita bisa sukses, banyak sekali tantangan, masalah dan peluang untuk gagal, so saran saya, jika sudah melihat peluangannya (What) maka kita perlu membekali diri dengan (how) nya. Ok let's go.


Jan 4, 2017

Perusahaan Banyak Keluarga

Hehe judul sudah cukup verbal bukan, dan ini sesuatu yang sangat lazim terjadi di dunia bisnis, BANYAK KELUARGA di dalam bisnis. Salah? Yah tentu saja tidak salah, kenapa harus salah? Asal keluarga yang berkerja di dalam perusahaan bekerja secara professional dan sesuai dengan aturan perusahaan.

Masalahnnya .....? hehe, yah pada prateknya keluarga yang berkerja di dalam perusahaan sering kali menjadi sumber masalah yang sulit untuk ditangani mulai dari karena orang tersebut kebetulan juga pemegang saham keluarganya, kurang kompeten dalam pekerjaan, unsur enak tidak enak di level management untuk memberikan teguran yang biasa diterapkan di karyawan non keluarga atau prilaku yang terpaksa "dimaklumi" karena .... "yah ga enak lah keluarga sendiri".

Hal ini jika dibiarkan dalam jangka panjang malah akan menjadi potensi yang membuat perusahaan kita malah menjadi tidak produktif, tidak berjalan secara profesional dan yang paling buruk kemungkinan yang bisa terjadi malah mejadi bumerang perpecahan yang punya impak buruk terhadap perusahaan di masa yang akan datang, rasanya jika harus memberikan contoh cukup banyak bisnis yang akhirnya pecah dan berakhir dengan keributan keluarga, either itu bisnisnya masih terus jalan dengan rusaknya hubungan keluarga atau bahkan bisnisnya bubar akibat keluarga.

Namun disisi lain tidak kita pungkiri bahwa Keluarga juga menjadi faktor competitive advantage yang sangat sulit ditiru jikalau mereka memang berkerja secara professional, punya kompetensi kerja yang tinggi, loyalitas yang luar biasa serta dedikasi yang sulit ditemukan di level karyawan non keluarga pada umumnnya, dan satu hal yang juga sangat penting keluarga bisa DIPERCAYA, jargon yang sudah lama ada dan hidup di dalam dunia bisnis.

Jadi, bagaimana kita membangun bisnis yang Banyak keluarga di dalamnya?

1. Competence di Bidangnya