Posts

Showing posts from December, 2007

Rekayasa itu perlu

Percaya nga percaya kita memang tidak bisa selalu jujur dalam berjualan, ya gimana nga.. masyarakat kita sudah terbentuk sedemikian rupa untuk lebih menyukai hal-hal baik yang bersifat semu dibandingkan hal buruk yang nyata. Contoh aja semua orang akan lebih suka hidung mancung dari pesek, jadi jangan salahkan banyak artis kita yang memancungkan hidungnya, itu kan tuntutan job.. lalu setelah mereka melakukan operasi itu dan berusaha untuk jujur balik lagi dicaci maki masyarakat.. jadi terkadang lebih baik bersikap tidak jujur dalam berjualan. Stop dulu jangan langsung jadi mencaci maki saya karena saya menyarankan hal yang buruk, karena saya masih punya contoh banyak dalam hal ini.

Saya akan lebih menjabarkan dalam hal naming, bahwa nama sebuah brand akan sangat mempengaruhi jalannya karir penjualan atau kesuksesan brand itu sendiri. Ok, kemarin saya sempat ngobrol dengan anak-anak kantor saya berkaitan dengan kasus baru yang masuk ke kantor. Ada 1 produk teh mahkota dewa yang menjual …

Ngelantur Marketing

Untuk brand baru, bagaimana caranya kita masuk kepasar yang sudah mature di mana market leader dan pemain nomor dua, tiga lainnya sudah sangat mengusai market tersebut, tingkat penetrasi produk sudah sangat tinggi dan komunikasi dari kompetitorpun sudah sangat gencar serta ditambah lagi posisitioning masing-masing brand competitor sudah sangat mapan dan menancap di benak konsumen?
Kira-kira inilah pertanyaan akhir pekan lalu yang ditanyakan klien saya kepada saya ketika sedang lunch bersama, sambil bercanda saya bertanya balik ke beliau, trus ngapain maksain masuk ke pasar itu pak? Ha……..ha, iya toh, penetrasi marketnya sudah sangat tinggi, katakanlah sabun mandi, masing-masing brand sudah memiliki positioning dan differensiasi masing-masing, komunikasinya juga sangat matang dan intensitasnya tinggal belum lagi sudah pasti masalah distribusi sudah pasti jauh unggul dalam banyak hal, wah ini sih mengirim kucing garong ke markas macan, canda saya. Nasibnya sudah hampir jelas, menghadap i…

The Love of Dove

Melanjutkan diskusi ngelantur singkat kemaren bersama teman kerja saya di area meeting baru kami, saya menyisipkan post singkat di salah satu milis, berkomentar tentang strategi Dove yang, saya nyaris tidak percaya kalau hampir semua orang membicarakannya. Entah hal ini sebenarnya bukan merupakan hal yang baru, Dove bukan baru kemarin melancarkan strategi persahabatan itu : The Love of Dove. Tapi ada dua hal sebenarnya yang ingin saya bahas. Yang pertama : Oprah adalah suatu media yang menggemparkan, sangat menggemparkan dan saya tidak percaya kalau efeknya sebesar itu, seperti yang sebelumnya saya katakan bahwa sudah sejak beberapa waktu lalu (hitungan bulan) Dove memulai strategi persahabatan yang ia jalankan, tetapi sejak muncul di Oprah Show (Dove based on America, tentunya) baru setelah itu semua orang membicarakannya, ya termasuk teman kerja saya dan orang-orang di milis. Ternyata that Oprah really does work.. dan memang jarang sih ada hal-hal komersil in that show, tapi karena …

Meramal Masa Depan

Inilah pekerjaan yang paling berbahaya dari brand consultan seperti saya, meramal masa depan. Membut prediksi mengenai apa yang akan terjadi di masa depan sehingga bisa membuat perhitungan yang tepat mengenai perkembangan dan strategi perusahaan berikutnya dan tentu memprediksi laju pertumbuhan perusahaan.
Bagaimana kita memprediksi masa depan bisnis kita? apa yang harus kita lakukan guna menghadapi masa depan bisnis di mana tingkat persaingan demikian ketat seperti saat ini? Pertanyaan ini iseng di tanyakan klien saya ketika sedang makan siang di sebuah restaurant dengan konsep melayu. Ah ha, ini dia nih pertanyaa yang jarang ditanyakan padahal mimiliki bobot yang luar biasa pentingnya bagi masa depan bisnis perusahaan. Dan kadang saya sering menemukan klien yang bahkan tidak peduli tentang masa depan, "yang deket-deket aja deh rex, ngapain mikirin 5 atau 10 tahun lagi" begitulah kira-kira komentar mereka, waduh buset dah. Tidak sedikit sih memang pengusaha dengan tipikal ja…

Bebek Naga

Membahas mengapa sebuah perusahaan yang dulunya sangat terkenal, very profitable dan memiliki klien yang sangat loyal dan banyak lantas kemudian menjadi perusahaan dengan kinerja yang buruk dan tidak menguntungkan lagi serta mulai ditinggalkan konsumen loyalnya jelas sangat menantang dan membuat keinganan untuk lebih dalam membahasnya selalu saja muncul dalam tensi tinggi. Banyak sekali contoh mengapa perusahaan yang dulunya sangat bagus seiring waktu menjadi perusahaan yang berkinerja buruk baik itu pemain lokal, regional maupun dunia sekalipun dan tentunya banyak sekali teori yang dikemukan mengapa hal tersebut kemudian terjadi seperti miss management, red ocean, marketing myopia dan sebagainya.
Saya tertarik dengan sebuah artikel yang saya baca di Harvard Business Review mengenai hal ini, secara umum apa yang dikemukan oleh penulisnya memberikan gambaran yang cukup lengkap mengapa perusahaan yang dahulunya bagus menjadi berkinerja buruk seiring berjalannya waktu. Dalam artikel Ha…

Jangan Ngedisain

Wacana ini memang sudah lama terjadi, dan terkadang mengusik pemikiran saya. Beberapa waktu yang lalu bertepatan dengan hajatan besar industri periklanan di Bandung, yaitu Layang Kencana, saya dan teman-teman ikut serta menyelenggarakan Seminar yang mempertemukan dua industri yang sebenarnya saling berkaitan seperti selayaknya sahabat karib, tapi nampak tak saling mengenal : Branding dan Advertising itu sendiri – periklanan. Turut mengundang Bp. Sumardy, Om Bud dan Mas Glenn Marsalim.
Waktu hampir menunjukkan pkl 15.00 sore dan acara sebentar lagi selesai, tanpa unsur kesengajaan saya mendengar perbincangan beberapa rekan senior dalam industri periklanan (jangan salahkan saya kalau saya ikut mendengar, masalahnya mereka ngobrol di meja panitia, meja di mana saya memang sedang duduk dan minum air putih). Pembicaraan tersebut antara seorang mahasiswi S2 bidang komunikasi dan seorang tokoh periklanan yang pada waktu itu mewakili tim PPPI dari Pusat – Jakarta. Mereka memperbincangkan menge…

PR yang Sexy

Mungkin terkadang kita sempat bertanya-tanya di benak kita masing-masing, apa yang membuat sebuah brand J.Co sebegitu terkenalnya, BreadTalk, Starbucks atau bahkan Rumah Mode. Sedangkan tidak pernah sekalipun anda lihat mereka beriklan di TV. Hal ini yang seringkali sebuah perusahaan melupakannya. Tidak lain keterkenalan mereka adalah peran dari PR atau public relations. Sebuah peran PR belum tentu harus dijabat oleh seorang wanita cantik nan seksi yang pandai melobi klien, lebih atau bahkan kurang dari itu yang terpenting adalah perannya. Siapapun bisa menjadi seorang PR dalam perusahaannya. PR tidak hanya sebatas jabatan tetapi sebuah konsep komunikasi. Seorang owner bisa menjadi PR bagi perusahaannya, hal ini yang dilakukan sebagian brand lokal yang saya sebutkan di atas. Seorang Satpam sekalipun bisa menjadi PR yang baik asalkan ia mengenal betul konsep peran serta PR kepada konsumen.
Dengan begitu banyaknya media yang tercipta setiap harinya dari yang konvensional hingga yang sang…

Alkisah si Aji Mumpung

Dalam kategori tertentu satu brand sangat mungkin bersifat sangat mendominasi. Sebut saja Coca Cola atau Starbucks. Siapa yang tidak kenal kedua brand tersebut? dan tanpa harus menyebutkan embel embelnya semua orang tahun Starbucks menjual kopi. Tetapi bukan tidak mungkin sebuah brand yang sudah sangat besar kehilangan kendali pimpinannya, hanya saja cara menanganinya harus tepat dan didukung sumber daya dan waktu yang tidak sedikit. Karena hal inilah yang dilakukan Coca Cola pada jamannya ia mengalahkan 7Up. Sebelum Coca Cola, selama 28 tahun 7Up merajai minuman ringan bersoda. Tetapi hal yang dilakukan Coca Cola sebagai the counter brand tepat dan didukung sumber daya yang maksimal, akhirnya dalam kurun waktu yang juga tidak sebentar Coca Cola berhasil mencapai posisi puncak. Kira-kira apa saja yang bisa menjadi kriteria pemilihan sifat counter brand supaya mampu menandingi the big brandnya? Tidak lain adalah diferensiasi yang mencolok. Sekarang sering kali kita menemui berbagai mac…

Product Brand

Ada beberapa tujuan dalam mengganti sebuah package produk. Salah satu yang dilakukan Hi-Lo beberapa waktu lalu memang tidak kita ketahui bila diperhatikin secara seksama. Seperti produk-produk Tropicana Slim lainnya, strategi yang digunakan serupa, yaitu pada awalnya brand baru yang keluar diberi awalan Tropicana Slim, karena memang the umbrella brand nya sudah sangat kuat dan memiliki brand equity yang baik, baik dari segi produk maupun perusahaan.
Lalu lambat laun dari brand-brand kecil yang terlahir, mereka menginginkan brand tersebut lepas dari embel-embel Tropicana Slim dan menjadi besar secara mandiri, yang ke depannya diharapkan bisa sebesar Tropicana Slim dan punya sub brand lagi dan seterusnya. Tetapi memang hal ini sangat tidak mudah dilakukan, konsistensi akan visi perusahaan yang sedari awal basic pada kesehatan menjadi komitmen tersendiri dan dipandang positif oleh masyarakat.
Hal ini yang terjadi pada pergantian packaging Hi-Lo beberapa waktu lalu, yaitu hilangnya simbol …

Noraknya Orang Indonesia

Dalam menyusun sebuah strategi berbisnis, kita diharuskan untuk mempelajari secara mendasar perilaku dan karakteristik masyarakat yang kita targetkan menjadi pihak konsumen. Hal ini sepertinya cukup dilakukan oleh beberapa restoran yang menggunakan konsep baru. Pertama kalinya restoran seafood berkonsep baru ini buka di Metro Marina, Jakarta.
Sebenarnya benar-benar tidak ada yang spesial dibandingkan dengan seafood lain, hanya saja beberapa titik berat “hal aneh” diciptakan sebagai pemicu word of mouth yang timbul di masyarakat. Di antaranya adalah para waiter nya yang menggunakan PDA sebagai alat pencatat dan yang kedua adalah persepsi harga murah yang diciptakan, apabila kita melihat ke daftar menunya memang harganya di bawah standar restoran seafood, tetapi setelah makanannya datang, rasanya ya memang sebanding, dari hal rasa dan porsi memang dengan harga lebih rendah tersebut menjadi masuk akal.
Tetapi yang bisa menjadi keunikan lagi adalah harga minumnya yang rata-rata di bawah 5…

Rekayasa itu Penting

Percaya nga percaya kita memang tidak bisa selalu jujur dalam berjualan, ya gimana nga.. masyarakat kita sudah terbentuk sedemikian rupa untuk lebih menyukai hal-hal baik yang bersifat semu dibandingkan hal buruk yang nyata. Contoh aja semua orang akan lebih suka hidung mancung dari pesek, jadi jangan salahkan banyak artis kita yang memancungkan hidungnya, itu kan tuntutan job.. lalu setelah mereka melakukan operasi itu dan berusaha untuk jujur balik lagi dicaci maki masyarakat.. jadi terkadang lebih baik bersikap tidak jujur dalam berjualan. Stop dulu jangan langsung jadi mencaci maki saya karena saya menyarankan hal yang buruk, karena saya masih punya contoh banyak dalam hal ini.
Saya akan lebih menjabarkan dalam hal naming, bahwa nama sebuah brand akan sangat mempengaruhi jalannya karir penjualan atau kesuksesan brand itu sendiri. Ok, kemarin saya sempat ngobrol dengan anak-anak kantor saya berkaitan dengan kasus baru yang masuk ke kantor. Ada 1 produk teh mahkota dewa yang menjual …

4P vs 4C

Banyak pendapat yang bilang bahwa 4P yang adalah Product Price Place Promotion sudah tidak relevan lagi. Hal ini tidak lain dikarenakan adanya perkembangan teknologi yang dulunya ketiga elemen diferensiasi : konten, konteks dan infrastruktur adalah mutlak; sekarang tidak lagi. Ternyata dengan berkembangnya segi informasi, telekomunikasi, transportasi, teknologi, dll; sebuah perusahaan bisa saja fokus pada kontennya saja, konteksnya saja atau infrastrukturnya saja, sehingga dalam hal ini 4P memang sudah tidak relevan lagi.
Jadi apa sebenarnya 4C? 4C dijabarkan sebagai Customer Solution, Cost, Convenience dan Communication. Misalnya saja sebuah perusahaan agen buku impor yang tidak memiliki produk (karena ia mengambil produk dari para produsennya) dan tidak memiliki tempat (karena pembeli tidak datang ke tempatnya). Cara kerjanya mereka hanya mengirimkan list buku impor terbaru ke para pelanggannya dan para pelanggan akan memilih buku mana yang ingin mereka beli, lalu agen buku impor ter…

Creating Great Event Marketing

Dengan begitu massalnya komunikasi yang dilakukan melalui berbagai media massa, para masyarakat sebagai customer dari sebuah produk semakin merasa jenuh dan keterbatasan memorinya semakin membuat sulit mengingat keragaman produk, brand berikut dengan masing-masing pembedanya. Dalam strategi pemasaran sekarang EM dan MPR menjadi menjamur untuk mengantisipasi kejenuhan tersebut. EM yang kita ketahui sebagai Event marketing dan MPR sebagai Marketing Public Relations menjadi ujung tombak dalam berkomunikasi secara langsung dengan customer, karena hubungan yang terjadi adalah interaktif dan mendapatkan feedback langsung dari para customer, baik itu hal yang positif maupun negatif. Cara pengukurannya pun lebih mudah karena langsung terlihat respon yang dihasilkan dari para customer.
Event Marketing yang kian menjamur tidak dilakukan dengan sembarangan karena memakan biaya dan tenaga yang cukup besar, sehingga dalam proses perencanaannya sebisa mungkin matang dan tepat sasaran. Karena result …

Kenali Dulu Dong !!

Memilih market sebagai salah satu unsur menyusun strategi bisnis sama juga seperti memilih buah mangga di pasar. Harus dilihat-lihat jangan yang masih hijau muda, nanti asem; harus dicium-cium supaya dapat yang harum; harus dipegang-pegang supaya nga dapat yang bosok; dan yang terakhir harus ditimbang-timbang supaya pas dengan kebutuhan. Market share untuk ketepatan produk yang akan dipasarkan pun harus dilihat-lihat karakternya, dicium-cium prospeknya, dipegang-pegang kebiasaannya dan ditimbang-timbang kesesuaiannya.
Banyak persepsi yang beranggapan bahwa market size adalah yang segala-galanya : faktor terpenting dalam menentukan keberhasilan pemasaran dan penjualan produk ke depannya. Tapi tentu saja berkaitan dengan market, lebihhhhh dari itu, masih ada yang harus kita pikirkan, yang sering terlupakan, yang kita sebut dengan : market spend, market growth, competitive setting dan competitive advantage.
Jadi absolutely bukan sebuah kepastian apabila keuntungan terbesar akan diperoleh a…

Kampanye Anti Rokok

Beberapa hari yang lalu saya berkeliling Jakarta setelah sekian lama tidak mengunjungi kota kelahiran saya yang semakin hari semakin panas dan tidak karuan. Di setiap beberapa meter di berbagai spot baik pada area strategis maupun tidak banyak sekali himbauan-himbauan anti rokok yang juga sering kita temui tidak hanya pada media outdoor tetapi juga media dalam ruang, seperti di mal, kantor, dll. Dengan pemandangan yang tidak kalah sedikitnya pula : di mana-mana orang merokok dari rokok yang harganya melambangkan prestige sekelas direktur hingga rokok ketengan di warung pinggir jalan. Semua tampak menikmati racun dunia tersebut. Rokok milik siapa saja.
Pada kesempatan yang sama pula, saya sedang mencoba menyelesaikan seri 9 Elemen Marketing milik Bapak Jagoan Marketing yang satu itu : Hermawan Kertajaya, dan baru saja menyelesaikan seri Diferensiasi. Ada hal yang menarik yang bisa kita jadikan bahan pembahasan berkaitan dengan diferensiasi dan juga kampanye anti rokok yang sangat sulit …

Jadi Konglomerat di Kolam Cetek

Beberapa kali sering saya mendengar komentar seputar perkembangan industri hiburan di sepanjang ruas tol yang menuju ke arah Cipularang. Dari yang memang cukup awam dalam hal menganalisa sebuah perkembangan peluang bisnis-seperti ibu saya, sampai pada kenalan yang memang sering mengamati bidang tersebut. Mereka rata-rata berpendapat hal yang sama-yang sama pula dengan pendapat saya beberapa waktu yang lalu : kami sepakat bahwa memang peluang bisnis dalam hal tempat peristirahatan bisa dikatakan sebagai peluang bisnis baru yang cukup berkembang dan saya katakan relatif menjamur pada masa sekarang ini. Malahan saking seringnya saya bolak balik Jkt-Bdg, saya makin bosan dan kurang tertarik dengan tempat-tempat baru yang dibuka di kanan-kiri jalan tol, semua menjual sesuatu yang sama percis (memang bisa saya katakan sama percis, karena saya tidak melihat hal apapun berkaitan dengan inovasi yang dikembangkan dari pelopornya –dengan icon Starbucks yang sangat menjual). Saya juga sebenarnya …

Just.. don't do it to your business!

Berapa lama sebenarnya kekuatan sebuah produk akan menjadi landasan utama persaingan dalam bisnis? Tidak terbatas pada bisnis apapun, produk memang sudah menjadi substansi utama untuk berjualan. Tetapi dalam perkembangan persaingan dan persepsi masyarakat yang juga semakin kompleks, diferensiasi produk sudah tidak sepenuhnya bisa diandalkan lagi, tetapi sifatnya mutlak. Karena apabila produk terus menerus diandalkan sebagai diferensiasi maka bisnis anda akan terjebak alias got association trap. Berkaitan dengan restoran misalnya, produk merupakan substansi yang mutlak untuk berjualan, karena baik dari skala pedagang kaki lima sampai yang sekelas hotel bintang 5, apa lagi yang dicari orang dan akan membuatnya kembali selain rasa enaknya si makanan yang dijual. Tapi ada yang dinamakan pula dengan elemen servis yang juga nga kalah pentingnya dengan si substansi mutlak produk. Malahan kalau bisa kita perhatikan atmosfer persaingan sekarang ini baik dari skala lokal sampai internasional, s…

Endoser Effect

Banyak pihak yang mencerca iklan Indomie 3 diva yang kampanye nya masih sering kita lihat di mana-mana. Saya juga sedikit bingung dengan berbagai pihak yang berpendapat berbeda dari saya itu.. tapi ya sudah semua orang punya pandangannya masing-masing, dan asik nya kita jadi bisa diskusi dan menemukan hal-hal baru yang bisa jadi pembelajaran.
Beberapa waktu lalu di salah satu milis periklanan saya juga sempat berdiskusi berkaitan dengan kasus 3 diva ini. Menurut saya penggunaan 3 endorser ini tidak bisa dikatakan tidak tepat. Ketiga diva ini memang sangat tepat untuk disejajarkan dengan persepsi Indomie yang telah tertanam di benak masyarakat Indonesia, yaitu Indomie (sekaligus 3 diva) adalah sosok yang sudah menjadi nomor 1 di kelasnya, memiliki kualitas yang paling diandalkan (persepsi lho..) dan merupakan generasi-generasi pelopor yang sudah mapan. Dan bukannya se simple itu tujuan dari penggunaan endorser selebriti dalam sebuah produk yang sudah nomor 1 di kelasnya? Yaitu memperkua…

The Love of Dove

Melanjutkan diskusi ngelantur singkat kemaren bersama teman kerja saya di area meeting baru kami, saya menyisipkan post singkat di salah satu milis, berkomentar tentang strategi Dove yang, saya nyaris tidak percaya kalau hampir semua orang membicarakannya. Entah hal ini sebenarnya bukan merupakan hal yang baru, Dove bukan baru kemarin melancarkan strategi persahabatan itu : The Love of Dove. Tapi ada dua hal sebenarnya yang ingin saya bahas. Yang pertama : Oprah adalah suatu media yang menggemparkan, sangat menggemparkan dan saya tidak percaya kalau efeknya sebesar itu, seperti yang sebelumnya saya katakan bahwa sudah sejak beberapa waktu lalu (hitungan bulan) Dove memulai strategi persahabatan yang ia jalankan, tetapi sejak muncul di Oprah Show (Dove based on America, tentunya) baru setelah itu semua orang membicarakannya, ya termasuk teman kerja saya dan orang-orang di milis. Ternyata that Oprah really does work.. dan memang jarang sih ada hal-hal komersil in that show, tapi karena …

Pocari dan Adik Angkatnya

Di sebuah sore yang melelahkan ternyata saya harus mengalami shock berat. setelah beberapa waktu lalu mendengar tentang extra dan eren walahhh ada lagi yang bikin saya di satu sisi geli tapi di satu sisi jadi berpikir juga. Pada saat saya makan mi instan (makanan favorit gua) dan mencari acara TV yang bagus, ya terjadilah saya melihat iklan si mari sweat ini mungkin masih adik jauhnya si pocari, tapi walau mari mengaku adik jauh (hanya soal nama belakang sweat) tapi nyatanya mereka nampak kembar. dari baju kemasan, karakter air dan "peluh" nya hingga warna si biru putih pun ikutan di coreng-corengin. yah okey, memang sampai sekarang itu "bukan masalah"
Yang bikin saya bingung sekarang, entah memang semua orang seperti saya atau nga yah, karena sedari kecil mungkin ini bagian dari doktrinasi ayah saya yang selalu hanya merekomendasikan membeli barang dengan brand terbaik (dulu tajir -sekarang setelah belajar hidup sendiri boro2, makan mi instan aja pilih yang paling …

Purple Ocean

Begitu banyak sumber dan para pakar yang sekarang ini terus menebarkan pemahaman ilmu untuk mencari peluang bisnis baru di area blue ocean atau bisa kita sebut sebagai sebuah pasar yang belum terjamah pebisnis/produk lain. Hal ini memang betul adanya, tetapi sebenarnya ada satu segi yang bisa kita masuki pula selain tetap diam dan terkikis di red ocean atau tergopoh-gopoh mencari modal untuk membuka blue ocean, yaitu the purple ocean.. area di antara red ocean dan blue ocean. Apa maksud the purple ocean?
Secara singkat kita tilik kasus C1000, di mana dia memasuki area pasar the purple ocean itu.. di mana satu area pasar yang jelas-jelas bukan red ocean (jenuh) tetapi telah teredukasi atau telah ada pemain yang lebih dulu membuka pasar blue ocean tersebut. Produk tersebut tentu saja You C 1000. Sebelumnya produk vitamin C cenderung diasumsikan orang lebih mendekati pada kategori obat, di mana bisa kita lihat perihal pendistribusian di berbagai supermarket, produk vitamin C, seperti Redo…

Manusia itu Sulit

Tadi ketika asyik ngobrol melepas lelah sepulangnya dari kantor ada yang menanyakan kepada saya apa sih leadership itu dan bagaimana menjadi seorang leader yang baik. hmm pertanyaan yang benar-benar berat untuk menjelaskan dengan jawaban yang tepat.
Dengan santai gua jelaskan kepada sahabat gua tersebut bahwa kalo ingin secara teoritis, lebih jelas dan dilengkapi dengan contoh-contoh kepemimpinan mungkin ada baiknya dia membaca 22 irrutable laws of leadershipnya Jhon maxwell, membaca forbes dan buku-buku lainnya yang berhubungan dengan kepemimpinan. nah di semua literatur itu dijelaskan dengan sangat-sangat baik mengenai kepemimpinan.
Nah yang jadi masalah dia malah menanyakan bagaimana dengan yang gua rasakan dan jalani. wah berat nih, oke lah secara acak-acakan gua mungkin bisa sedikit berbagi cerita seperti apa sih kepemimpinan itu menurut pengalaman hidup gua tentunya. pertama buat gua seorang pemimpin itu harus mempunyai visi bagi seluruh komponen perusahaannya. seorang pemimpin ha…

Bocah Gendeng dan Segmentasi

Saat lagi santai menikmati hidangan the manis hangat di teras seorang sahabat tiba-tiba datang dan bertanya kepada saya, eh rex segmentasi itu apa sih? Kebenaran sahabat saya ini masih kuliah, terhitung angkatan senior (-:, dan rada gendeng. Wah tumben nih tiba-tiba nanyain hal yang berhubungan dengan pelajaran, pikir saya. “ada apa nih, kok nanya pelajaran yang ga ada hubungan langsung dengan jurusan kamu?”.
Kemudian sahabat saya tersebut menceritakan bahwa sekarang ada mata kuliah pilihan dan kebenaran dia mengambil mata kuliah pemasaran, oh pantesan guman hati saya. Ok deh, saya coba jelaskan secara singkat makna dari segmentasi yang kamu tanyakan dengan sebuah pertanyaan. Kalo kamu punya sebuah produk atau service katakanlah, kemana dan kepada siapa kamu menjualnya? Wah tergantung dong rex, kalo misalnya gua punya mobil mewah yah gua bakal jual ke orang-orang yang kaya yang bisa membeli mobil tersebut, nah kalo gua jualnya Brownis, gua akan jual kekalangan ibu-ibu karena biasanya m…

Ngobrol Brand

Brand, apa sih sebenarnya brand itu? bertahun-tahun berbicara dengan banyak orang baik itu klien, calon karyawan, mahasiswa ataupu akedemisi sekalipun hampir semua jawaban yang saya dapatkan bias. dalam artian hampir tidak ada satupun yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti apa itu sebenarnya brand. tentu semua jawaban yang saya dapatkan setelah didiskusikan memiliki argumen sendiri dan tentu tidak bisa dikatakan salah karena demiakianlah pengertian yang melekat selama ini di benak masing-masing orang dan juga kadang dalam prateknya hal tersebut berhasil.
Brand sebagai sebuah bahasa rasanya bukan lagi hal yang asing di masyarakat umum rasanya, tukang nasi goreng (kribo), tukang perkedel (perkedel bondon) dan bahkan tukang baso (bu lela) bahkan sudah mengerti dengan baik pentingnya sebuah brand sehingga mereka bisa membangun perusahaan demikian besar. lantas mengapa masih banyak sekali orang yang tidak dapat menjelaskan makna dari brand? it's easy to …

When Your Brand?

Suatu hari ada seorang sahabat yang bertanya kepada saya memang perlu yah melakukan branding? Paman gua ga ngerti yang namanya branding ajah bisa jadi “tajir” dan bisnisnya makin maju ajah tuh. Lagi pula branding itu khan menghabiskan dana ajah yang efeknya kalopun ada jangka panjang.
Hmmm dari dulu sampai hari ini, ga itu teman atapun pemilik perusahaan kalau sudah membicarakan topik yang satu ini kebanyakan selalu ajah berpendapat seperti itu, tapi memang kadang gua sendiri ga bisa menutup mata emang mereka maju tanpa perlu teori branding yang ini ataupun yang itu sehingga memang harus dicari cara yang tepat untuk mengatakan bahwa itu dulu, ketika persaingan tidak seketat sekarang, teman!
Oke lah, kemudian gua bertanya kepada sahabat gua tersebut, lo kalo mobil sukanya apa? “Honda.” Kenapa? “Soalnya gaya anak mudah banget deh”. Kalo ngerokok rokonya apa? “A mild.” Kenapa? “Soalnya rendah tar nya.” Nah sekarang kalo lo dikasih rezeki yang banyak sama Tuhan mau pergi kemana? “Singapura.…

Blizt & The Old Lady

Pernah datang ke blitz Megaplex di Bandung? Jika belum pernah sebaiknya anda harus menyempatkan diri untuk datang, menikmati suasana dan kemudia menonton di dalam bioskopnya. Lalu kemudian anda pergi ke salah satu pesaingnya dan lakukan aktivitas yang sama dengan yang anda lakukan di Blitz. Yah kamu akan menemukan apa bedanya Blitz dan The Old Lady.
Bangku-bangku dan sofa-sofa yang sangat nyaman untuk menunggu sampai film yang kita inginkan diputar di Blitz bertebaran di lantai bawah dan lantai atasnya, begitu nyaman dan santai sambil sesekali waiter dari cafe di sana datang menawarkan beberapa menu ringan untuk dinikmati, belum cukup bagi anda penggemar musik terdapat db di mana anda dapat membuat album yang kamu sukai. Kalo di old lady, wah wah nunggu film kita bisa bisa harus ngapar-ngapar di lantai, sukur-syukur ada bangku din dong yang kosong sehingga kita bisa manfaatkan untuk duduk kalo ga mau yah pergi ke food court ato resto di sekitarnya.
Blizt sepertinya tahu benar expectasi …