Skip to main content

Mujigae, Korean Attack to Indonesia

Beberapa minggu belakangan ini bisa jadi Korea adalah salah satu yang jadi perbincangan hangat. Kalau beberapa tahun belakangan ini yang booming adalah Korean Wave dari sisi musik, kali ini lagi hangat-hangat nya keyword Korea diperbincangkan di kancah politik dunia.

Anyway kemarin ini topic Korea saya bertambah seru karena saya baru saja mengunjungi sebuah restoran Korea yang unik banget! Restoran ini bernama Mujigae dan berlokasi di Cihampelas Walk Bandung. Sebenarnya saya sangat terpana sekali dengan apa yang telah dilakukna oleh Korea di berbagai belahan dunia. Masalahnya beberapa decade belakangan ini terlihat jelas perkembangan yang sangat pesat dari Negara ini dan tidak hanya kemajuan negaranya sendiri, tapi juga pengaruhnya ke berbagai belahan dunia.

Sebut saja di industri teknologi. 2 pemain raksasa Samsung dan LG yang sama-sama berasal dari Korea mampu menciptakan trend an lifestyle, bahkan brand Samsung dengan produk-produk unggulannya saat ini mampu membuat para masyarakat di Negara Barat beralih dari fanatisme awal mereka terhadap produk Apple. Bebrapa bulan lalu saat saya mengunjungi kerabat di Sydney, saat nengok-nengok di jalan yang saya temukan lebih banyak mereka yang memakai Samsung SIII dibandingkan IPhone.

Selain di industri teknologi, sebut saja di dunia musik.Korean Wave di dunia musik tidak perlu diragukan lagi, karena pengaruhnya menyebar di berbagai penjuru dunia dan mempengaruhi industri lainnya seperti industri fashion. Fashion yang di bawa Korean Wave dari klip musiknya mampu menciptakan kategori baru di dunia fashion, dan terutama di Indonesia kian membuka pasar jualan Online yang banyak mengimpor barang dari Korea dan menjualnya secara Online.


Oke..yang paling menarik dan yang ingin saya angkat di artikel ini adalah Korean Wave di industri kuliner. Menurut saya, di Indonesia masih belum tercipta Korean Wave di sisi kuliner ini, karena sebagian besar restoran Korea masih bermain di level menengah ke atas dan cenderung tidak “lifestyle”. Nah saat saya melihat Mujigae ini wah..bisa jadi dia adalah pelopor dan akan menjadi titik awal dimulainya Korean Wave dari sisi kuliner!

Kenapa saya merasa demikian? Karena di Indonesia tidak terlalu sulit “menyuntikkan” suatu wave atau lifestyle baru sejauh itu keren! Karena studi kasus yang saya temukan di Sydney, kota Sydney dengan culture yang lebih beragam dan kondisi masyarakat yang lebih mature saja, Korea mampu membawa lifestyle yang sangat dominan. Bahkan di Sydney terdapat area yang bernama Korea Town.Jadi tidak hanya ada China Town, tapi juga Korea Town.

Namun Mujigae, restoran Korea yang membuat saya mengantri lebih kurang ½ jam ini membuat wajah baru dari sebuah restoran Korea di Indonesia. Seperti konsep restoran-restoran Korea di Sydney, Mujigae menyajikan konsep yang lebih terjangkau, dengan standar harga mall, dengan tampilan dekorasi yang unik yang secara kilat mampu menarik perhatian dan menciptakan antrian di beberapa minggu Opening mereka.

Jadi apa yang bisa kita pelajari dari keberhasilan Mujigae ini? Yuk simak bahasan USP : Unique Message, Sensational Offer dan Push to Action berikut ini!

Unique Message
Jika dilihat taglinenya, tidak ada yang special dari Mujigae ini.Taglinenya menginformasikan bahwa Mujigae adalah sebuah restoran Korea. Namun apa yang dikategorikan dalam Unique Message tidak selalu dikomunikasikan dalam bentuk “tulisan” tapi juga dalam representasi berbagai hal yang menciptakan “message” itu sendiri. Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh Mujigae ini untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa ia adalah restoran yang layak untuk dicoba!

Saat pertama lewat sudah pasti kita akan nengok, karena di depannya terpampang gambar bergerak, yang adalah sebuah video yang ditembak dari sebuah infocus ke sepanjang etalase depan toko mereka. Wanita-wanita dengan Korea dengan kaki jenjang berbicara bahasa Korea yang lebih kurang mungkin artinya “yuk mampir..bla bla..” sudah pasti akan membuat nengok orang-orang yang lewat di depannya, dan hal ini bisa terjadi karena di Indonesia masih jarang restoran yang menggunakan dekorasi dengan visualisasi video seperti yang Mujigae lakukan.

Belum lagi di bagian dalamnya saat restoran lain memajang gambar sebagai dekorasi, mereka menjadikan video klip Korea sebagai dekorasi dinding-dinding mereka, sehingga menjadikan restoran ini secara visual sangat interaktif, modern dan SERU!. Belum lagi saat Anda mulai duduk, Anda akan tertarik dengan IPad yang ada di setiap meja. IPad tersebut menawarkan berbagai aktivitas yang unik yang jarang Anda temukan di restoran lain. Melalui IPad tersebut Anda bisa melihat menu, melihat pesanan, berfoto, request lagu, bahkan meminta bill.

Mungkin Anda masih ingat kehebohan D’Cost saat memberikan PDA kepada para waiternya, nah Mujigae di era yang lebih modern ini, selain memberi gadget kepada para waiternya, juga memberi IPad kepada pengunjungnya!

Nah..berbagai hal yang dilakukan untuk menciptakan “kesan” tersebut yang menjadi kunci restoran ini untuk menciptakan “message”. Bagi saya, sebagai konsumen yang kemarin datang, saya mendapat Unique Message dari restoran ini bahwa mereka adalah restoran yang seru banget, pop banget, lifestyle banget dan experience yang sama sekali berbeda! Dan sudah pasti saya jadinya akan ngomong ke teman-teman saya, nulis-nulis artikel (seperti yang sedang saya lakukan sekarang) dan cerita kesana sini tentang pengalaman saya tersebut.

Cara Mujigae menceritakan “pesan unik”nya adalah melalui berbagai visualisasi yang berbeda dan jarang ditemukan di restoran lain, dan hal inilah yang menciptakan word of mouth tersendiri dan bahkan reason to buy often alias pengen balik lagi.

Penawaran yang bombastis tidak selalu berkaitan dengan harga. Namun apa yang ditawarkan oleh restoran Korea pop ini lebih bersifat keunikan menu-menunya. Dari sebagian besar menu yang disajikan, hampir 80%nya jarang disajikan restoran mall lainnya.Karena menu yang disajikan bernuansa Korea, maka dari sisi bahasa dan cita rasa juga mengangkat kuliner Korea.

Konsumen selalu tertarik mencoba sesuatu yang baru, apalagi didukung dengan experience yang menggoda, sehingga penawaran mereka terhadap menu-menu unik dan berbau Korea ini menjadi salah satu kunci kuat yang menarik konsumen untuk mencoba. Leads diciptakan tidak hanya bagi mereka pecinta Korea, tapi bagi saya yang jarang makan makanan Korea jadi ingin coba seperti apa saja makanan-makanan bernama Ryuman, Bibimbab, dll.

Push to Action
Kelemahan beberapa pelaku industri kuliner yang seringkali sulit untuk mengundang konsumen adalah terletak pada seberapa kuat “undangan masuk” yang terlihat.Sebagai pecinta kuliner saya seringkali mempercayai adanya beberapa factor yang membuat saya sebagai konsumen mau menjejakan kaki masuk ke sebuah restoran atau tidak.

Mujigae ini adalah salah satu yang memiliki “kekuatan” itu.Kekuatan untuk membuat saya langsung melakukan tindakan (push to action) untuk masuk dan mencoba.

Analisanya ada di beberapa factor di bawah ini :

A. Fasad restoran yang terbuka
konsumen seringkali enggan atau berpikir dua kali saat mau memasuki sebuah restoran yang “tertutup” karena mereka tidak bisa membayangkan seperti apa kondisi di dalam dan apakah mereka akan kecewa atau puas. Dan seringkali konsumen tidak mau mengambil resiko tersebut, mereka mau “yang pasti-pasti aja” dalam memilih sebuah restoran.Dan contoh yang dilakukan Mujigae adalah membuka selebar mungkin fasad restoran mereka.

Di lantai bawah terbuka lebar, bahkan ada area duduk yang bersebalahan langsung dengan jalan di depannya. Dan area lantai 2 juga terbuka lebar sehingga yang makan di atas bisa lihat ke luar dan hal ini mendorong konsumen yang lewat, secara psikologi untuk “bergabung” dalam keceriaan yang ada di dalamnya. Singkat kata “koq kayaknya seru ya, masuk yuk!”

B. Frontliners yang bersikap natural
nah.. saya sebagai konsumen juga seringkali merasa canggung atau terintimidasi karena frontliners yang terlalu agresif. Biasanya hal ini terjadi di beberapa restoran atau toko yang sudah “desperate” menarik konsumen.Mereka memborbardir orang-orang yang lewat dengan ajakan masuk, bacain menu, dll. Apalagi kalo sudah diakhiri dengan “kak” “ci” dll..jangan sampai nanti mereka tambah sok akrab dengan panggilan “bro” “sis” :)

Frontliners di Mujigae terlihat lebih “elit” dengan tidak menarik-narik konsumen dengan agresif. Mereka dengan professional berdiri di depan pintu masuk dan menyambut saat konsumen memang sudah memutuskan untuk masuk. Dan mereka membantu dengan serangkaian SOP yang “cukup”, seperti menanyakan berapa orang, mengantarkan ke tempat duduk, dll.

Dengan sikap frontliners yang tidak intimidatif, membuat saya push to action, tidak canggung dan dengan senang hati menjejakkan kaki ke dalam restoran mereka.

C. Buku menu yang diletakkan di depan
saat mengunjungi sebuah restoran konsumen akan membeli 2 hal : yang pertama adalah produk makanannya, dan yang kedua adalah ambientnya. Ambient bisa kita perlihatkan dari fasad depan restoran, atau bahkan seperti poin pertama yang saya jabarkan, sebisa mungkin area dalam juga terlihat dari depan sehingga mengundang konsumen untuk push to action. Nah yang kedua adalah produk makanan.Produk makanan memang tidak bisa konsumen cicipi dulu (bahkan kalo bisa menawarkan cicipan di beberapa kategori produk tertentu, bisa mendorong konsumen untuk push to action).

Tapi kalo tidak bisa menyediakan cicipan, minimal Anda menyediakan buku menu di bagian depan resto, sehingga konsumen bisa tergiur dengan berbagai menu yang ditawarkan. Jangan lupa visual selalu memegang peranan penting, sehingga foto-foto makanan yang menggoda adalah salah satu factor push to action yang memberi pengaruh besar. Wah..menarik sekali ya.. belum lagi push to action taktik yang dilakukan oleh Mujigae mendorong saya untuk menulis artikel ini. Itu baru 1 orang, jangan-jangan banyak konsumen lainnya yang juga bercerita dan buy recommendation.

Tentu keberhasilan sebuah restoran atau brand tidak bisa diukur hanya dari beberapa minggu mereka launching, tapi seberapa jauh kemampuan mereka pada akhirnya menjalankan Credo Creative Sales lainnya, seperti membuat konsumen melakukan buy more dan buy often. Mari kita tunggu seberapa stabil performa dari Mujigae ini..dan seberapa kuat Korean Wave di industri kuliner dapat mendominasi masyarakat Indonesia!

Semoga bermanfaat dan Annyeonghi Gaseyo :)

Comments

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…