Skip to main content

Roti Bacok dan Tante Susi


Bulan lalu saya dan teman2 Creasionbrand & Dixgital mendapat kesempatan untuk mengunjungi kotanya stasiun Balapan yang terkenal karena lagunya Didi Kempot, Solo, untuk mengisi seminar sekaligus jalan2 dan kukulineran. Ketika mendatangi tempat baru saya selalu punya kebiasaan mengamati kebiasaan dan trend di tempat ini, karena biasanya selalu berbeda dengan kebiasaan di tempat domisili kita. Karena tema seminar yang akan di eksplore seputar dunia kuliner, maka saya mencoba mencari tahu trend kuliner apa yang sedang trend di kota Solo, apa sih yang sedang digandrungi oleh anak2 muda Solo?

Klo anak2 muda di Bandung dan Jakarta punya kebiasaan nongkrong di Cafe dan menyantap roti bakar ataupun red velvet, anak muda di Solo juga punya kebiasaan nongkrong, unik nya yang disantap bukanlah minuman khas cafe, tapi susu... wah.. susu? Iya susu murni tepatnya. Dan ternyata tempat nongkrong yang menyediakan minuman susu murni ini cukup banyak di Solo, salah satunya sudah pernah kami bahas di artikel sebelumnya: Susu Ibu, Creative Brand, kalau Mom Milk dibalut dengan suasana nongkrong yang mirip cafe, kali ini saya ingin menceritakan pioneer industri “jual susu murni” di Solo, nama tempat nya: “Shi Jack”

Susu murni “Shi Jack” ini hanya berupa tenda, penyajian nya pun belum secanggih Mom Milk yang keren dengan branding nya, penyajian nya hanya menggunakan gelas dengan ditataki piring, persis ala-ala warung kopi pinggi jalan. Tapi ketika berkunjung kesana, ternyata konsumen nya sangat banyak dan ramai, hampir saja kita tidak mendapatkan tempat duduk. Walaupun bukan tempat yang elit, tapi “Shi Jack” ini cukup diminati, dan berikut beberapa hal yang coba saya amati dari fenomena “Shi Jack” ini

1.Bisnis itu soal pilihan

Sempat juga terlintas di otak saya: “Ga semua orang suka susu murni, klo ga doyan susu murni gimana ya?” Buat yang tidak suka susu murni, mungkin susu dengan varian rasa yang banyak bisa jadi solusi untuk bisa tetap menikmati susu. Shi Jack menyediakan sampai dengan 35an jenis minuman susu, dari hanya dicampur syrup, susu, jahe, coklat sampai dengan telur.

Sang pemilik Shi Jack cukup jeli melihat peluang ini,  sediakan banyak pilihan agar membuka banyak kesempatan untuk di konsumsi oleh konsumen yang banyak pula #BuyMore, di model Creative Sales kami menyebutnya dengan Product Tactic – varian, produk yang di hasilkan tetap sama tapi di launch dengan varian yang berbeda, sehingga memungkinkan untuk meng grab konsumen di preferensi yang berbeda

2. Sediakan “temannya” minuman
Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa produk2 kecil seperti permen, vitamin dan roko selalu diletakkan dekat kasir di supermarket, bahkan di beberapa supermarket kulkas ice cream juga sudah mulai diletakkan di dekat kasir. Jawabannya hanya satu: “Impulse buying”, pembelian produk atau jasa tidak direncanakan sebelumnya, biasanya terjadi karena konsumen melihat produk atau karena ada promosi tertentu dari produk. Impulse buying ini memang seringkali menjadi strategy dari para produsen atau marketer dalam memasarkan produk nya, begitupun yang dilakukan oleh Shi Jack. Minuman itu selalu berpasangan dengan makanan, rasanya hal ini sangat dipahami oleh pemilik cafe, resto ataupun tempat  nongkrong.

Jadi ngomongin soal minuman tidak lengkap tanpa ngomongin soal makanan. Untuk order minuman kita diberikan menu dan ditanya, mau pesan apa, tapi untuk makanan, ajaib nya tidak, makanan di tempat ini di display tepat ditengah2 meja dengan varian yang banyak sekali, bahkan disediakan juga nasi nya di meja. Dalam Creative Sales, ada pendekatan “Push To Action” yaitu pendekatan yang membuat konsumen membeli karena “impulse buying”, jadi tadi nya hanya ingin beli segelas susu jahe, akhirnya jadi makan nasi ditambah lauk.

3. Talkable name
“susu campur madu, coklat dingin, susu campur sirup” kalau saja menu yang disediakan hanya berupa nama seperti itu, yaaa.... mainstream.. standar, tapi coba kalo menu yang sama ditulis seperti ini:

Suramadu: Susu Rasa Manis Madu
Tante Susi: Tanpa Telur Susu Sirup
Sukamandi: Susu Coklat Manis Dingin
Jaman Korupsi: Jahe Manis Kopi Sirup Susu
Sumanto: Susu Manis Telor
Sujahmandi: Susu Jahe Manis Dingin

Atau menu roti bakarnya: Roti Bacok (Roti Bakar Coklat), Tikar Selang (Roti Bakar Selai Kacang), Roti Baju (Roti Bakar Keju)

Waktu pertama menatap nama2 produk di menu nya saya langsung senyum-senyum sendiri, lucu sekaligus talkable, seperti nya wajib banget untuk di post, share dan dibicarakan dengan orang lain, unik dan lucu inilah yang membuat Shi Jack bisa dikenal secara luas, sekaligus menarik untuk dibicarakan #BuyRecomendation

Shi Jack ini memberikan pengalaman yang luar biasa buat saya pribadi, satu hal yang juga bisa kita pelajari adalah menjadi kreatif itu tidak perlu mahal. So selamat menikmati.

Creasionbrand I Creative Sales & Brand Consultant

Comments

Ceritaperut said…
Bisnis kuliner makin hari makin menarik :) yang penting harus punya nilai jual dan diferensiasi.

Nice article! Keep inspiring!
Anonymous said…
bener-bener ide kreatif and out of the box. bukti bikin word of mouth marketing itu nggak musti ribet dan mahal :)
Rizkymamat said…
Bisa banget ya nama-nama yang dibikin. Dari nama menu tadi terus diomongin sama yang udah dateng ke temen-temen. Jadi deh WOM,

Artikel yang bagus. Selalu menginspirasi, ya.
Pujiananurul said…
Kuliner memang sebuah bisnis yang tidak akan pernah mati. Ada kelanjutannya.. hehe. Tidak akan pernah mati asalkan pelaku bisnisnya bisa memanfaatkan peluang yang ada. Konsep jualan dari Shi Jack yang memiiki nilai lebih adalah dari segi kretifitas pembentukan nama, rasanya. Unik dan lucu. Tapi balik lagi ke produknya itu sendiri. Shi Jack ini selain unik dan lucu, produknya pun memuaskan konsumen. Sehingga pada saat rasa penasaran si konsumen telah terpenuh, mereka masih tetap ingin balik lagi karena rasa dan kualitas produknya yang bagus dan enak.
Anonymous said…
Hahahah... pertama kali baca judulnya udah agak curiga... kayaknya ini nama makanan deh.

Dan setelah baca ternyata benera makanan dan minuman.

Unik, kreatif dan juga menampilkan sisi2 unik yang tidak biasa, kadangan di bisnis memang yang penting adalah keberanian orang untuk eksekusi ide, pilihannya cuma tunggu, antara kita duluan yang merealisasikan ide itu atau nunggu pesaing atau orang lain realisasi ide kita

Shinta Margaret
ranirano said…
apa di Solo emang udah trend banget ya ama susu? anak muda Solo kayaknya udah gak ada gengsi lagi buat nikmatin susu. Tapi bener juga yah, taktik dia soal impulse buying. hmm, bisa dipraktekin buat bisnis saya nih. Terima kasih buat artikelnya :)
Anonymous said…
Saya pesan Sukamandi sama tantesusi ya! #eh

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…