Skip to main content

Garap Market Berbeda? Why Not!


Beberapa hari kebelakang kebetulan saya melakukan perjalanan dinas ke Jakarta, dan kebetulan saat di jalan tol perhatian saya sekilas teralihkan oleh sosok travel Bandung – Jakarta bernama “transline”, sejenak saya berpikir oh mungkin brand bisnis travel baru, namun setelah saya cermati dan perhatikan dengan seksama balutan branding yang melekat pada armada yang masih baru tersebut saya melihat sebuah merk yang cukup familiar khususnya di industri jasa transportasi shuttel travel, adalah brand Cipaganti yang saya maksudkan.

Seperti diketahui Cipaganti bisa dibilang raksasa dalam industri transportasi dan tentunya memiliki unit bisnis yang masing-masingnya memiliki target market yang berbeda-beda, nah disini saya ingin sedikit membahas mengenai strategi Cipaganti yang mengembangkan unit service baru bernama “transline”, yang ternyata menyasar segmen lebih premium (middle up class), apa yang berbeda? Selain fasilitas penjemputan, berdasarkan observasi saya di jalan tol saat itu selain armada baru tentunya travel ini mengemas konsep double seat in every row (di setiap baris hanya ada dua kursi sehingga lebih luas) sehinggal konsumen lebih luas.

Oke balik lagi ke pembahasan, seperti diketahui Cipaganti yang sebelumnya sudah memiliki jasa travel Bandung – Jakarta dan ke beberapa kota lainnya untuk segmen middle, sebelum meluncurkan Transline yang diperuntukan untuk segmen premium, Cipaganti juga meluncurkan Star Shuttle yang memang ditujukan untuk segmen low. Nah dari uraian tersebut, tentunya menarik untuk bersama kita jadikan pembahasan dibalik strategi yang dilakukan oleh Cipaganti dengan melakukan pengembangan produk jasa untuk segmentasi yang berbeda.

1. Lihat Potensi Pasar

Saya menilai hal pertama yang menjadikan landasan dalam pengembangan produk ini adalah potensi pasar (market) itu sendiri, seperti diketahui bisnis transportasi travel  shuttle to shuttle menjadi sebuah bisnis baru yang cukup potensial khususnya setelah adanya jalur transortasi tol cipularang (Bandung – Jakarta yang kini bisa ditempuh hanya dalam 3 Jam).

Kemunculan banyak merk jasa travel merupakan sebuah bukti kecermatan para pelaku bisnis dalam memanfaatkan dan memaksimalkan potensi pasar, mengenai peluang kebutuhan jasa transportasi yang murah dan cepat bagi konsumen yang hendak melakukan perjalanan Bandung – Jakarta ataupun sebaliknya. Nah itu kalo dari konteks melihat potensi pasar secara umum, bagaimana secara spesifik?

saya menilai dilihat dari persaingan itu sendiri sejauh mana pesaing kita memaksimalkan potensi yang dimiliki pasar. Misalkan sebut saja beberapa brand travel menggarap segmen middle class, muncul Baraya Travel yang menurut saya menyasar segmen low class (saya masih ingat di awal kemunculannya travel ini menawarkan harga yang paling murah), dan Citytrans yang memang dari awal fokus menggarap segmen middle up dengan mempertahankan ekslusifitasnya.

Kalo boleh saya berandai-andai mengenai Cipaganti yang awalnya menggarap segmen middle, lalu meluncurkan Star Shuttle untuk segmen low, dan Transline untuk segmen premium (middle up), apa yang melandasi? Menurut saya jawabannya ada tiga, tentunya didasarkan pada statement saya sebelumnya mengenai kecermatan dalam melihat potensi pasar :

Pertama karena kompetitor belum memaksimalkan sepenuhnya segmen tersebut (low atau middle up).
Kedua karena konsumen pada segmen tersebut (low atau middle up) belum digarap sepenuhnya oleh competitor dan marketnya cukup potensial untuk digarap
Ketiga karena masih sedikitnya kompetitor yang bermain di segemen ini (low atau middle up).

2. Maximalkan = Revenue
Selain dari kecermatan potensi pasar tentunya ada alasan kuat lainnya yang melandasi sebuah perusahaan mengembangkan produk untuk segmen berbeda, apakah itu? jawabannya tentunya adalah income revenue.

Dengan strategi ini sebuah perusahaan tentunya bisa membangun dan menggarap segmen pasar yang berbeda dari sebelumnya, dan tentunya jika berhasil dikembangkan akan menjadi suntikan income revenue tambahan yang lumayan dong bagi perusahaan tersebut.

Sebenarnya strategi ini lumrah dilakukan oleh brand-brand besar, bisa jadi karena tidak puas dengan income yang dihasilkan dari satu segmen, karena melihat potensi besar dari segmen lain, atau bahkan sebut saja karena kebutuhan masyarakat segmen middle yang juga ingin merasakan dan membeli produk kita yang memang sejak awal diperuntukan untuk segmen high. Bagaimana caranya? salah satunya dengan mengembangkan produk yang memang dikhususkan segemen tertentu dengan bendera brand baru.

3. Waspada Kanibalisme
Apakah dibalik keuntungan menggarap segmen berbeda terdapat efek negatif bagi brand atau perusahaan kita? ada tentunya, karena setiap upaya atau strategi yang kita lakukan pada dasarnya seperti dua sisi mata uang ada positif point dan negatif pointnya, lalu apakah yang harus diwaspadai? adalah efek “kanibalisme”.

Wuih ngeri banget yah istilahnya, he4 namun intinya adalah ketika kita mengembangkan sebuah produk (barang atau jasa) serupa sebut saja untuk segmen low class sebelumnya kita sudah mengembangkannya untuk segmen middle class. Bagaimana? bisa jadi akan ada kecenderungan low class beralih kepada middle class ataupun sebaliknya. Lho kok bisa? kan segmen yang digarap benar-benar berbeda, begitupun produk dan jasa yang kita hasilkan berbeda karena sudah disesuaikan dengan masing-masing segmen.

Oke memang benar segmen yang digarap berbeda begitu juga produk yang dihasilkan, namun yang namanya konsumen terlebih saat ini kan pinter, sekecil apapun perbedaan sudah pastinya akan dijadikan pertimbangan terlebih jika core bisnis (produk atau jasanya) persis sama, dengan demikian hal ini bisa memunculkan kecenderungan kanibalisme. Jadi Waspadalah, Waspadalah.

Posted by.
Creasionbrand I Brand & Creative Sales Consultant

Comments

ranirano said…
Wah bermanfaat banget ya artikelnya. Saya baru tau kalau star shuttle dan transline itu masih dibawah naungan cipaganti. Berarti sama kayak hotel Santika dengan hotel Amaris-nya ya?!

Anonymous said…
Resiko kanibalisme memang akan selalu adadi bisnis manapun, hal ini sering disiasati oleh beberapa group dengan cara "memisahkan" saluran komunikasi dan distribusi pemasaran produknya.

Percuma kalau hanya memisahkan brand, layanan dan produk kalau dipasarkan di saluran distribusi (contoh: toko atau counter) yang sama, bahkan ada beberapa pemilik produk yang "celakanya" mengkondisikan brand dan produk dengan segmen yang berbeda dijual oleh sales / tim pemasaran yang sama. Blunder...


Anonymous said…
yang awal nya gtw skr jadi tau, artikelnya bermanfaat :))

wah saya juga baru tau kalo transline sama star shuttle itu masih grupnya cipaganti. Keren banget cipaganti bisnisnya terus berkembang, bisnis travelnya aja bisa menggaet pasar dari berbagai segmen.
Angga Nugraha said…
apa yang dilakukan oleh Cipaganti memang salah satu aktifitas yang brilian. dengan memanfaatkan segmentasi market berbeda yang belum digarap kompetitor menjadikan Cipaganti menjadi leading inovator untuk jasa transportasi sejenis
Pujiananurul said…
Dengan semakin banyaknya pesaing yang bermunculan di bidang transportasi ini, untuk mencapai target menjadi sebuah market leader, sebuah bisnis memang harus melakukan banyak inovasi. Dengan pengembangan produk yang menyediakan produk sesuai dengan segementasi pasar adalah salah satu strategi pintar yang dilakukan oleh CIpaganti. Semoga bisnis travel lain bisa mengadaptasi konsep ini dan diaplikasikan kepada bisnis mereka ya :)
Rizkymamat said…
Cipaganti ngelebarin sayap usaha mereka bukan cuma membidik pasar atas loh, tapi juga pasar yang lebih bawah. Ada tuh Star Shuttle dari Cipaganti juga. Harganya Rp 50.000,-
Jadi, revenue mereka masuk dari mana aja.
Ayu said…
Great ! Cerdas memang raja transportasi yang satu ini. Semoga saja dari segi keselamatannya juga, Cipaganti semakin ekstra menjaga itu.

Yang paling penting, hal baru ini akan terus mmendapat minat yang cukup besar dari konsumen. Untuk itu, cipaganti harus tetap menjaga dan berkreasi untuk membuat konsumen "buy more", "buy often" dan "buy recommendatin" :D

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…