Skip to main content

Amplop Warna Pink


Tulisan ini ingin saya buka dengan sebuah pertanyaan. Amplop warna apa yang digunakan oleh 99 persen orang ketika mengirimkan lamaran kerja? Coklat. Ok pertanyaan berikutnya, buka lowongan kerja di koran tempat Anda tinggal, dari 100 lowongan yang ada di koran tersebut, coba hitung berapa banyak lowongan yang menuliskan "Kirim Lamaran Dengan Amplop Coklat"? Ada berapa? Saya berani bertaruh dari 100 tidak lebih dari 5 perusahaan atau bahkan tidak ada sama sekali.

Nah pertanyaan selanjutnya yang sangat menggelitik saya selama ini adalah mengapa semua lamaran yang dikirim menggunakan amplop warna coklat? Muncullah jawaban dari hasil survey saya iseng yaitu
1. Udah standart kirim lowongan begitu 
2. Soalnya udah biasa seperti itu kalo kirim lowongan
3. Lah emang harus warna apa?

Inilah contoh Lack of Creativity yang sudah melanda banyak pelamar kerja dari dulu sampai hari ini. Coba saya lanjutkan pertanyaan saya, jika Anda melamar ke perusahaan besar di mana ribuan orang melamar ke tempat tersebut dan semua pelamar mengirimkan amplop warna coklat, coba kira-kira kapan lamaran Anda di buka? Kapan Anda punya kesempatan test psikologi atau wawancara dan pertanyaan lebih dalam lagi, memangnya pasti dipanggil dari 10 ribu amplop coklat yang ada di HRD perusahaan tersebut?


Nah coba kalo amplop Anda warna Pink, bakal outstanding ga kira-kira? Ada peluang ga Anda dipanggil duluan diantara ribuan tumpukan lamaran? Cuma dualah kira-kira peluangnnya, diambil terus di baca atau diambil terus dibuang, but hey Man worthy dong? setidaknya ada peluang 1:10.000. Yah terlepas kemudian Anda diterima atau tidak sih udah bukan urusan saya haha, itu sih gimana kualitas masing-masing individu ajah.

Dari sedikit cerita yang saya sering sekali sharing di setiap seminar, training dan workshop, apa pelajaran bisnis yang bisa kita ambil soal kreatifitas Amplop Warna Pink tersebut?

1. Berbeda tapi relevan
Yah Anda harus berbeda untuk menjadi pilihan konsumen, kecuali konsumen memang tidak punya pilihan kecuali Anda, yang artinya memang cuma Anda yang mampu memberikan produk atau jasa yang dibutuhkan konsumen tersebut (lah ini khan namanya berbeda juga malah lebih abosulute haha). Tapi yah tidak banyak produk atau jasa tanpa kompetitor seperti ini, pada umumnya kita pasti punya pesaing sehingga sangat penting untuk bisa berbeda dengan pesaing kita.

Contoh Amplop Warna Pink di atas juga sangat jelas menggambarkan hal ini, si pelamar tentu punya peluang 1:10.000 pelamar untuk amplopnya dibuka, namun karena dia berani mengambil resiko rasio di atas sudah tidak relevan lagi, rasionya berubah jadi 1:1 yaitu Amplop Pink vs Amplop Coklat, hebat bukan ketika kita memutuskan untuk berbeda?

2. Berani ambil risiko = Peluang
Mengambil resiko adalah bagian hidup seorang pebisnis, selalu ada peluang di balik resiko yang diambil. Ketika meluncurkan A MIld pertama kalinya dengan produk low tar, Sampoerna mengambil resiko untuk bertaruh bahwa pasar rokok ini akan besar pada suatu saat, dengan biaya yang sangat besar mereka melakukan edukasi dan seperti yang kita lihat memang terbukti akhirnya pasarnya memang besar dan A Mild menjadi penguasa karena berani mengambil resiko, bagaimana jika gagal?

Yah coba ajah liat Chatz Mie dulu atau bubur Instant yang pernah diiklankan sangat gencar, mungkin sudah puluhan miliar yang harus digelontorkan untuk produk development dan campaign, hasilnya? Nol besar, semua brand itu sudah hilang.

3. Ciptakan pasar sendiri
Keberanian dalam dua hal di atas, berbeda dan mengambil resiko dapat membuat sebuah brand menciptakan pasar yang blue ocean, yah tentu pada akhirnya akan muncul follower yang akan mencoba mengusik dan merebut pasar tersebut. Contohnya Aqua, dulu pada awalnya siapa yang mau membeli sebotol air yang lebih mahal dari bensin?

Crazy, mungkin itu yang muncul di benak calon konsumennya, namun Aqua berani tampil berbeda dan mengambil resiko untuk meluncurkan AMDK, melakukan edukasi secara konsisten dan membangun campaign secara kontinue, hasilnya? Pengusa pasar AMDK dan mungkin hampir setiap rumah menggunakan AMDK (walaupun belum tentu Aqua) namun karena merekalah industri ini muncul dan menjadi industri yang sangat besar.

Akhirnya, percaya deh coi (gaya bahasa Mongol, stand u commedy haha) kreatifitas itu sebetulnya tidak mahal asal kita dapat membuat konten atau konteks yang unique dan berbeda namun tetap relevan dan berani mengambil resiko untuk mengeksekusi ide tersebut.

Creative Sales

Comments

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…