Mar 7, 2013

Abang Satu Harga


“Ayo! Ayo! Bapak-Ibu, Abang-Uni, Akang-Teteh! Semuanya satu harga! Lima belas ribu aja! Mau gelas, kalender, dompet, bahkan sepatu juga satu harga! Lima belas ribu! Lima belas ribu!”

Nah loh, kalau kamu denger ada yang jualan teriak-teriak kayak gitu, tertarik gak sih buat mampir ke lapaknya? Kalau saya sih pasti mampir, hehehe.. secara gituloh abang yang jualannya bilang kalau ada dompet seharga lima belas ribu, kan pas banget momennya. Maklumlah, dompet saya udah kayak gigi, banyak lubangnya, hehehe. Hm, oke, untuk selanjutnya mari kita sebut abang yang berteriak itu dengan sebutan “abang satu harga”

Sebenarnya saya juga bertanya-tanya loh, kok abangnya pukul rata harga macem-macem barang yang dia jual ya? apa gak ada yang rugi ya? dompet ama sepatu aja bisa dijual dengan harga yang sama dengan satu cangkir gelas. Ada apa ini sebenarnya? Penasaran?! Yuk, simak hasil analisa saya berikut ini :

1. Attracting people

Wiiih, ngeri ya bahasanya?! Tapi emang bener loh, sales script abang satu harga itu emang bikin orang jadi tertarik dan rasanya tuh pengen banget nyamperin dan liat semua barang yang abangnya jual. Coba bayangkan kalau misalnya kita lagi ada di sebuah tempat berbelanja yang ngederet panjang dan seperti tak berujung, duh rasanya pengen menuju satu tempat yang semuanya serba ada aja deh, biar gak usah muter-muter lagi.

Hm, itu sih saya maksudnya. Nah, hal inilah yang ternyata dimanfaatkan “abang satu harga”. Dengan sales scriptnya yang menarik, suaranya yang lantang, dan beraneka ragam barang yang dia jajakan. Jadi, mari buat promosi yang membuat orang tertarik dan masuk ke zona kita.

2. Jangan sampai rugi
“abang satu harga” sudah mempertimbangkan masing-masing harga pokok produksi dari masing-masing barang nih, karena pedagang mana sih yang mau rugi? Misalnya saja satu buah cangkir itu harga pokoknya 8.000, otomatis kalau berhasil terjual, wah profit 7.000 nih. Tapi jangan salah, ada juga yang profitnya lebih kecil dari itu, kayak sepatu yang dijual seharga 15.000 itu ternyata hanya meraup profit sebesar 1.000 karena harga pokoknya yang sebesar 14.000.

itu artinya, “abang satu harga” menggunakan taktik demikian untuk memberikan kesan unik dan kesan so simple to sell, ya karena itu tadi, semuanya satu harga, jadi jangan tanyakan harga kalender berapa, karena abangnya udah bilang, semuanya satu harga. Bahkan taktik seperti ini akan sangat jarang untuk ditawar sama konsumen, hehehe.

Untuk mendapatkan profit yang lebih besar, “abang satu harga” bisa saja menjajakan lebih banyak kuantitas cangkir dibandingkan kuantitas sepatu yang marginnya lebih kecil. Tapi ingat, lihat seperti apa kebutuhan pasar. Barang mana yang lebih banyak laku, barang mana yang lebih banyak dicari, terus-menerus berulang-ulang sampai akhirnya kita bisa menentukan strategi penjualan kita selanjutnya.

3. Kemudahan transaksi
Pernah gak, kamu belanja sebuah produk nih di pasar yang harganya Rp. 16.250?! kalau kamu kasih penjualnya dengan uang Rp.50.000, artinya sang penjual harus memberikan kembalian sebanyak Rp.33.750, yang berarti mengeluarkan 1 lembar uang 20rb, 1 lembar uang 10rb, 1 lembar uang 2rb, 1 lembar uang seribu, dan jumlah recehan sebanyak 750 rupiah.

Ribet gak sih? Kalau saya menilai sih iya, harganya nanggung. Dan ternyata, “abang satu harga” sudah memikirkan kemudahan transaksi. Cukup mengeluarkan uang 10rb dan 5rb saja, kamu bisa mendapatkan barang yang abang jual dengan sepenuh hati.

4. Kualitas tetap jadi andalan
Ups, kualitas emang paling jadi sorotan orang-orang nih. Gak mau dong beli sepatu di “abang satu harga” tapi ternyata solnya rusak. Atau beli cangkir, tapi gagangnya retak atau bahkan pecah. Duuuuh, bisa jadi omongan negatif tuh ke calon customernya. Nah, untuk hal yang satu ini, kualitas harus tetap terjamin ya.

Ok deh teman-teman, semoga cerita “abang satu harga” tadi bisa jadi bekal untuk pemasaran produknya teman-teman yaaa.. mari membuat produk kita Dikenal, Diingat, Dipilih, dan akhirnya Dibeli, apalagi Direkomendasikan, hihihi mau doooong.

Marketing Consultant

No comments: