Skip to main content

Social Media – The Rise Of Digitalpreneur

Saya ada pertanyaan nih, benar setuju nggak kalo keberadaan Social Media saat ini menjadi bagian dari momentum Rise Of Digitalpreneur? well mungkin temen-temen pembaca ada yang setuju ada juga yang nggak, keluar dari konteks setuju atau tidak menurut saya pribadi kebangkitan digitalpreneur nampaknya sudah ada sejak dulu diawali munculnya media internet.

Karena kemunculan media internet itu saya nilai menjadi pemicu awal bermunculannya para digitalpreneur, melalui media internet para digitalpreneur ini membuka dan membangun jaringan bisnisnya lewat website berbasis e-commerce, blog, hingga forum-forum jual beli seperti salah satunya kaskus.

Nah dalam tulisan kali ini saya lebih menekankan pada pembahasan kemunculan Social Media yang saat ini semakin memicu bermunculannya digitalpreneur masa depan, kalo ditanya kenapa? sudah jelas nampaknya jawabannya karena Social Media disebut sebagai salah satu media “low cost high impact” yang sangat cocok untuk startup, Social Media juga menawarkan pangsa pasar yang sangat luas, yang terpenting Social Media memungkinkan terbentuknya Community Base yang bisa kita enggage untuk membuka komunikasi dua arah hingga menghasilkan efek viral.

Nah sekarang saya akan coba bahas sedikit mengenai Social Media yang disebut sebagai bagian dari Another Rise Of Digitalpreneur? monggo dibaca saja.

1. Flatform Yang Beralih Fungsi

Point pertama yang akan saya coba bahas adalah mengenai konteks flatform Social Media yang di awal kemunculannya diperuntukan sebagai jaringan pertemanan, nampaknya menghasilkan sebuah fenomena baru dimana kini Social Media merupakan bagian penting dalam terbentuknya online community based (netizen) dan bermunculannya pelaku bisnis (digitalpreneur) yang memaksimalkan media internet salah satunya kini Social Media, sehingga fungsi Social Media tidak hanya sebagai media eksistensi dan jaringan pertemanan saja, namun lebih dalam juga sebagai media membangun community based dan bisnis bagi sebagian orang.

Nah sudah disebutkan sebelumnya bahwasannya Social Media ini kini merupakan flatform yang beralih fungsi, walaupun memang main fuction Social Media sebagai media eksistensi diri dan jaringan pertemanan tetap menjadi fokus utama, namun tak jarang bagi sebagian orang menjadikan Social Media sebagai media membentuk online community based dan media untuk berjualan (bisnis) sebagai fokus utamanya.

Nah mungkin salah satunya disini prosesnya adalah ketika sejak awal mereka muncul di Social Media sebagai eksistensi diri dan membangun pertemanan baru, namun tidak jarang karena dilandasi ketertarikan (minat) yang sama secara tidak langsung membangun community based, dari keteratikan yang sama muncul obrolan ngaler ngidul sampai akhirnya, Social Media ini memang dijadikan sebagai media jualan (bisnis) yang sangat efektif.

Well itu mungkin salah satu contoh saja, karena mungkin dalam realitanya banyak pelaku bisnis yang sudah muncul bahkan sebelum adanya Social Media ini memilih menjadikan Facebook & Twitter sebagai salah satu media pendukung tools jualan mereka pada awalnya, hingga akhirnya menjadi media utama dalam berjualan. Begitupun dengan kemunculan para startup business yang pintar melihat celah peluang besar yang diberikan oleh Social Media sebagai media berbisnis.

2. Match With Costumer Behaviour
Point kedua yang menjadi pembahasan saya adalah, model bisnis online memaksimalkan Social Media ini sangat cocok dengan karakteristik konsumen saat ini khususnya yang didominasi usia muda dan produktif. Kenapa?

Pertama karena kondisi ini secara tidak langsung sudah meruba consumer behaviour masyarakat menjadi #lazy costumer, #instant, #maunya praktis and its real. Kedua Social Media juga secara tidak langsung menjadi stimulus bagi karakter konsumen kita yang sangat rajin share sama teman-temannya, kira-kira ada update atau info baru yang menarik rasanya gatel kalo nggak dishare mau itu foto, video, cerita, gambar, anything. Ketiga gaya jualan visual tag (facebook) twitpic (twitter), atau instagram juga sangat disukai oleh karakter konsumen kita saat ini, secara visual jelas detail produk stratight to the point nggak terlalu banyak informasi yang tidak penting, dan yang penting bisa di share, udah deh viral jadinya.

Diluar ketiga hal itu tentunya online memberikan variasi produk yang dibutuhkan konsumen dari segi harga yang lebih miring dan varian produk yang lebih variatif dibandingkan apa yang ditawarkan bisnis konvensional.

3. Success Role Model
Point terakhir sekaligus menjadi penutup dari tulisan ini adalah, banyaknya success role model yang berhasil menjadi digitalpreneur yang mungkin menjadi stimulus sekaligus motivasi bermunculannya new comers digitalpreneur, nah menariknya banyak sosok-sosok sukses bisnis online ini kini cukup aktif muncul sebagai pembicara diberbagai seminar bernamakan entrepreneurship, sebut saja Peter Firmansyah sang juragan yang sukses membawa nama Peter Says Denim hingga kancah internasional, dan Sang Presiden Axl yang berhasil membangun bisnis dengan omzet milyaran melalui Social Media, bahkan kini unit bisnisnya bertambah merambah industri yang berbeda.

Eitts itu Cuma point pertama kira-kira apa point selanjutnya? Nah dari banyaknya role model yang memberikan inspirasi dan motivasi kepada para calon digitalpreneur adalah model bisnis melalui Social Media yang sangat mudah diduplikasi sistemnya, memang dari segi konteks bisnisnya butuh effort namun nampaknya kalo dari segi aplikasi bisnis melalui Social Media kini semua orang bisa koq saya yakin, setuju? setuju atau tidak mari kita sama-sama akhiri tulisan ini dengan senyuman semoga bisa menjadi inspirasi.

Comments

Anonymous said…
kalo boleh sedikit menambahkan, era digitalpreneur ini juga membawa gelombang "banjir start up digital" semua anak muda berlomba-lomba jadi pengusaha dadakan lewat digital.

Tapi mungkin sisi negatifnya adl banyak juga mahasiswa2 yang kuliah di programming jadi rame2 bikin website dan ga mau kerja sama orang, padahal kadangan bukan masalah bikin website atau apps nya, tapi seorang entrepreneur wajib memiliki 2 keahlian: produksi (bikin apps &website) dan kemampuan memasarkan.

Kalau hanya bisa produksi aja, mungkin harus nyari partner yang jago dalam bikin planning bisnis dan pemasaran.

But, setuju banget sama tulisan ini, emang sekarang jamannya digital, so bisnis menjadi lebih mudah, dan akses lebih lebar

Shinta Margaret
Anonymous said…
bagus banget artikelnya ini, makasih ya, ini bisa jadi inspirasiku buat benerin beberapa konsep yang kurang matang di instagram.

visual is a king, absolutely agree! khususnya untuk instagram, ini adalah media utama yang menarik konsumen untuk mau dan tertarik dengan konten yang dibangun

- Ratu Indah -

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…