Skip to main content

Meretas Segmentasi Konsumen Di Social Media

Tema yang akan kita bahas kali ini kebetulan membahas mengenai Segmentasi, nah kalo ngomongin aktifitas bisnis apapun itu, tentunya nggak lepas dari yang namanya Segmentasi, kenapa? karena bisa dibilang Segmentasi merupakan salah satu fondasi awal dari kebijakan Strategi Marketing atau Branding yang akan kita eksekusi, nggak hanya itu Segmentasi juga merupakan salah satu bagian pertama yang diperhatikan ketika kita sebuah bisnis menghasilkan sebuah produk.

Kenapa membahas Segmentasi dalam konteks konsumen di Social Media? tentunya dalam tulisan-tulisan sebelumnya banyak dibahas mengenai Digital Marketing, bagaimana sebuah aktifitas marketing dari yang sebelumnya vertikal menjadi horizontal dengan adanya media digital seperti internet dan Social Media, sebuah media yang turut memunculkan Digitalpreneur menjadi para pelaku bisnis online yang sukses. Mungkin melalui tulisan ini saya hanya ingin membahas sedikit mengenai gambaran bagaimana meretas Segmentasi di Social Media khususnya.

Sebelum mulai pembahasan ada baiknya kita membahas sedikit mengenai apa itu Segmentasi? sederhananya sih Segmentasi itu merupakan sebuah upaya kita (baik sebagai pelaku bisnis, marketing, atau branding) dalam mengkategorikan pasar (konsumen). Misalkan Segmentasi berdasarkan social economic status (S.E.S) atau mengklasifikasi konsumen berdasarkan tingkat pendapatan dan status social seperti SES A, B, C1, C2, D, dan E, atau Segmentasi berdasarkan usia remaja, dewasa, dan orang tua.


Namun intinya dua hal tersebut merupakan contoh pendekatan Segmentasi berdasarkan faktor Static Attribut (pendekatan berdasarkan faktor geografis & demografis seperti domilisi, usia, pendidikan, dan pekerjaan) dan Dynamic Attribut (pendekatan berdasarkan human character seperti minat, bakat, sikap, perilaku, keyakinan), selain dua pendekatan tadi ada juga pendekatan berdasarkan Individual Attribut (pendekatan berdasarkan sikap dasar yang sudah dimiliki seseorang sejak lahir).

Nah itu tadi sedikit gambaran mengenai Segmentasi, selanjutnya yang akan kita bahas adalah bagaimana mengkategorikan konsumen di beberapa channel Social Media dengan pendekatan Static Attribut dan Dynamic Attribut Segmentation. Dalam hal ini bagaimana kita memilih karakteristik konsumen yang sesuai dengan Segmentasi yang sudah ditetapkan, sehingga impact dari aktifitas campaign, promosi, atau penjualan yang kita lakukan melalui Social Media bisa maksimal karena menyasar market yang tepat. Oke, tanpa panjang lebar langsung saja dibaca gan.


1. Facebook
Facebook sebagai social media populer pertama di Indonesia yang kini di akses oleh hampir 48 Juta orang ini nggak cuma populer sebagai jaringan pertemanan saja namun juga sebagai jaringan bisnis online, kenapa karena melalui facebook kita bisa mendisplay produk jualan kita (visual photo bahkan video) dengan tambahan konten copywriting.

Selanjutnya bagaimana kita mengkategorikan Segmen pasar yang sesuai dengan karkater bisnis atau konsumen kita di Social Media Facebook? oke sebenarnya secara platform Facebook sudah mendukung yang namanya pengkategorian secara static, dalam hal ini adalah domisili, usia, pendidikan, bahkan pekerjaan. Koq bisa? pertama kali kita daftar Facebook apa yang dilakukan? adalah mengisi biodata yang berhubungan dengan hal-hal yang sudah saya sebutkan. Nah hal ini secara tidak langsung membuat Facebook bisa mengsistematiskan user berdasarkan kategori-kategori tertentu, misalkan berdasarkan range usia 18 – 20.

Jadi buat yang mau pasang Facebook Ads, static database yang di provide oleh Facebook bisa dijadikan acuan kita sehingga iklan yang dipasang langsung menyasar Segmen yang tepat. Faktor Dynamic juga bisa kita gunakan dalam hal ini kita cari individu yang memiliki ketertarikan pada hal-hal tertentu, misalkan kita mau jualan produk naik gunung nih, di kolom search enggine Facebook kita bisa mencari komunitas naik gunung atau individu yang memiliki ketertarikan dengan naik gunung, kalo udah ketemu tinggal aja temenan dan tag mereka deh dengan konten promo yang sudah dibuat.

2. Twitter
Nah kalo yang satu ini agak sedikit berbeda dengan karakteristik Facebook yang menyediakan static database, kalo berdasarkan pengalaman saya Twitter ini lebih cocok menggunakan pendekatan Dynamic Attribut dalam hal ini fokus pada aspek Human Interest. Bagaimana aplikasinya? Misalkan kita berjualan jilbab (hijab), kita bisa search account-account komunitas yang memang berhubungan dengan jilbab, kenapa karena orang-orang yang follow account tersebut sudah kemungkinan besar memiliki ketertarikan pada jilbab dengan demikian kita bisa promo langsung di account tersebut atau follow beberapa yang memang followers dari komunitas tersebut baru selanjutnya kita approach secara personal.

Hal lainnya kita juga bisa gunakan search enggine Twitter dengan kyword-keyword tertentu, misalkan jilbab maka akan otomatis Twitter akan memunculkan nama-nama yang membahas kata jilbab secara realtime, nah itu Target Market potensial tuh tinggal approach saja. Walaupun lebih condong pendekatan Dynamic Attribut, secara Static juga Twitter bisa digunakan misalkan dengan melihat account-account tertentu, sebut saja misalkan @AreaCewe yang kemungkinan besar followernya bergender wanita.

3. Instagram
Instagram yang kini juga cukup dilirik oleh para pebisinis online, karkateristiknya hampir sama dengan Twitter, kita bisa mengkategori Segmentasi dengan pendekatan Dynamic (berdasarkan human interest), misalkan kita jualan celana jeans denim maka kita bisa cek account-account yang berhubungan dengan demin wardrobe, atau kita bisa menggunakan jasa hastag (#) untuk search enggine misalkan #DenimLovers untuk mengetahui siapa saja individu yang menyukai wardrobe denim.

Bagaimana dengan pendekatan Static Attribut? menurut saya pribadi hampir sama dengan Twitter kita bisa cek account-account tertentu yang memang memiliki karakteristik spesifik misalkan berdasarkan minat dan usia.

Comments

Anonymous said…
Wah.. ternyata media sosial juga mengenal segmentasi ya.
Tadi nya saya kira semua media sosial sama saja segmentasinya

Shinta Margaret

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…