Brand Influencer



Melakukan pemasaran atau pembangunan brand di online memang banyak hal yang berbeda dibandingkan dengan cara-cara pemasaran offline yang selama ini dilakukan. Salah satunya adalah perihal yang namanya influencers. Kalau di offline influencers bisa terdiri dari orang terkenal atau orang biasa yang punya pengaruh besar terhadap komunitasnya, intinya adalah mereka yang bisa membantu kita (company) membangun brand atau bahkan membantu kita menjual produk kita.

Namun di offline, cara “menggarap” influencers ini cenderung sulit, karena biasa membutuhkan biaya dan effort yang besar. Contohnya saja di tayangan infotainment sering ada testimoni dari artis yang menggunakan satu produk tertentu. Nah, artis ini berfungsi sebagai influencer yaitu orang yang mempengaruhi target market (biasanya ibu-ibu lagi yah yang mau dipengaruhi oleh ibu-ibu artis :D). Untuk memakain slot tersebut, produknya ditestimoni-kan oleh artis dan menggunakan media televisii sebagai media informasinya tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Begitu juga apabila adanya garapan terhadap influencers non-artis.

Lalu apakah di online tidak butuh biaya besar dalam “menggarap” influencers tersebut?

Ya, intinya tren nya hampir serupa. Di dunia online pun ada yang disebut dengan ‘artis’ ada juga influencers yang non-artis. Tapi sebelum masuk ke cara bagaimana menggarapnya, perlu saya informasikan penting sekali! Bahwa artis di offline belum tentu artis di online. Jadi jangan sampai Anda salah ‘pakai’ yah.. yang di offline terkenal, eh ternyata dia ga pernah aktif di online, jadi aja sia-sia..

Sebelumnya saya akan paparkan sebuah data yang dikemukakan oleh Bernardo A. Huberman salah satu anggota tim di HP Social Computing, di mana mereka melakukan penelitian dalam mencari tahu collective intelligence dari seseorang terhadap sebuah grup tertentu (di Twitter) dari elemen interaksi dan informasi yang diberikan. Dalam penelitian ini mereka menemukan 10 most infulential people on brands on Twitter berdasarkan model perhitungan yang mereka rancang (HP Influence-Passive Algorithm Rangkings) dan ini adalah ke-10 orang tersebut :

  1. Mashable – Social Media Blogger with 2,093,894 followers and on 56,687  lists
  2. Jokoanwar – Film Director with 83,839 followers and on 1,067 lists
  3. Google - Google News with 2,495,743 followers and on 46,155 lists
  4. Aplusk – Actor with 5,901,482 followers and on 59,775 lists
  5. Syfy – Science Fiction Channel with 48,867 followers and on 4,145 lists
  6. Smashingmag – Online Developer Magazine with 267,379 followers and on 21,854 lists
  7. Michellemalkin - Conservative Commentator with 112,602 followers and on 5,774 lists
  8. Theonion - News Satire Organisation with 2,410,864 followers and on 37,523 lists
  9. Rww – Tech/Social Media Blogger with 1,047,141 followers and on 11,463 lists
  10. Breakingnews - News Aggregator with 1,896,899 followers and on 32,178 lists

Data tersebut hanyalah contoh saja, bahwa ke-10 account Twitter tersebut merupakan influencers bagi komunitasnya. Dan cukup menghebohkan juga salah seorang sutradara dari Indonesia : Joko Anwar berada di posisi kedua dan merupakan individu (bila dibandingkan sisanya lebih banyak berupa company). Joko Anwar merupakan salah satu influencers di dunia online khususnya Twitter, dibuktikan dengan hasil yang dihitung oleh tim HP tersebut.

Pentingnya kita mengetahui siapa yang menjadi influencers adalah pada saat akan bekerja sama mempopulerkan atau membantu pemasaran. Apakah karena Joko Anwar ada di list tersebut, maka ia cocok untuk menjadi influencers Anda? Belum tentu! Karena banyak yang harus Anda pertimbangkan saat memilih siapa influencers yang tepat bagi brand Anda.

Di Indonesia sendiri banyak para ‘selebriti online’ yang bisa kita jadikan channel pemasaran dan mereka memang secara terang-terangan memasang ‘rate’ untuk sekali tweet mereka berapa (di Twitter), namun jika arahnya untuk menciptakan engagement, tidak hanya sekedar blasting information, saya tidak menyarankan hal itu.

Berikut adalah hal-hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam memilih influencers online Anda :

1. Pastikan mereka adalah representasi yang cocok untuk brand Anda
Teori ini sama dengan saat kita akan memilih ambassador untuk produk kita di offline, jangan sampai kita memilih orang yang tidak sesuai dengan soul atau image dari produk kita, dan orang tersebut juga harus merupakan figur yang menarik bagi target market brand kita.

2. Pastikan mereka juga memiliki ketertarikan terhadap produk kita
Di dunia online terutama Twitter, passion seseorang terlihat dengan jelas, mungkin karena mereka ‘bicara’ dari kepala mereka masing-masing, dan tidak ada script di dalamnya. Jadi followers juga pasti akan bisa melihat orang ini hanya jualan atau mereka jadi brand deliver bagi produk kita.

3. Para influencers perlu mengetahui dengan detail produk yang mereka informasikan
Media online khususnya Twitter membuka conversation dengan bebas, sehingga mungkin saja followers mereka menanyakan tentang produk, dan gawatlah kalau mereka salah menjawab atau lebih parahnya lagi tidak menjawab! Jadi saat Anda bekerja sama dengan para influencers tersebut mereka paham betul apa produk Anda keunggulan-keunggulannya dan yang terpenting adalah poin no 2 di atas, bahwa mereka juga tertarik dengan produk kita. Jika tidak, sebaiknya Anda ganti influencers saja!

4. Influencers tidak selalu artis
Sekali lagi disampaikan bahwa influencers tidak selalu artis yang kita kenal di offline. Di dunia online, Twitter misalnya banyak orang-orang yang memiliki massa cukup besar (bisa Anda cek dari jumlah followers mereka) dan bisa jadi Anda bahkan tidak tau apa-apa tentang mereka. Namun jika Anda tidak tau mereka, bukan berarti mereka tidak bisa menjadi influencers yang tepat untuk target market Anda. Di online, khususnya Twitter, pengaruh seseorang terhadap kelompok masyarakat (Twitter) lebih spesifik dibandingkan di offline.

Siapa tertarik pada bidang apa, maka masyarakat Twitter tersebut hanya akan mengikuti informasi pada bidang-bidang yang mereka sukai. Jadi saat Anda beranjak untuk memutuskan siapa influencers yang akan Anda gunakan, sebaiknya Anda lebih spesifik merumuskan siapa yang menjadi target market Anda, apa ketertarikan mereka, di mana celah Anda bisa masuk dengan produk Anda, dst. Orang-orang yang bukan artis di offline ini bisa saja ternyata adalah penggerak massa yang dahsyat di online, dan Anda harus selalu aware terhadap hal tersebut.

5. Gunakan strategi small groups influencers
Menyambung dari poin sebelumnya bahwa influencers tidak selalu artis, influencers online juga ada pemetaanya. Dari yang memiliki followers jutaan, ratusan ribu, ribuan, ratusan, dst. Dan tidak selalu efektif menggunakan influencers dengan skala besar. Bahkan David Meerman Scott, pengarang buku The New Rules of Marketing &PR menceritakan tentang success project yang dilakukan oleh Cindy Gordon, seorang vice president of new media and marketing di Universal Orlando Resort tentang project pemasaran online-nya dengan produk Harry Potter.

Dalam penelitiannya disebutkan bahwa ternyata hanya terdiri dari 7 blogger (inluencers) yang memberi sumbangsih pengaruh terhadap 350 juta orang, dan data ini menjadikan jutaan dollar yang dikeluarkan oleh Universal Studios dan Warner Borthers jadi tampak sia-sia. Pesan dari mereka sederhana saja, saat kita akan memulai memilih siapa influencers kita pastikan kita telah mengetahui bagaimana para influencers ini menciptakan engagement dengan para followersnya. Tidak selalu mereka dengan followers banyak memiliki engagement yang erat, begitu pula sebaliknya, bahkan para influencers dalam komunitas kecil atau bahkan niche memiliki pengaruh yang besar, sehingga bisa menyebabkan akumulasi persebaran informasi yang lebih banyak dan berkualitas.

Jadi tidak semudah itu kan menentukan siapa yang bisa Anda gunakan sebagai influencers di dunia online. Sudah pasti tips terakhir dari saya adalah, saat Anda memutuskan untuk masuk ke pemasaran online, pastikan Anda adalah bagian dari masyarakat online, karena banyak aturan-aturan tidak tertulis yang terbentuk dan menjadi semacam tata krama dunia online yang perlu kita ketahui  salah satunya adalah cara kita menggunakan influencers sebagai tools pembangunan brand atau bahkan tools menciptakan penjualan langsung produk kita.  Selamat mencoba!

Sumber gambar:

tomfishburne.com
awesomedc.com
dapperlifestyle.com

Comments

Bayu Basayev said…
Bro .. Menurut pendapat saya Influencer sebenarnya lebih cocok kepada produk yang memang memerlukan SEKALI(PENTING BANGET) menggunakan Soft Promotion ... trims ya

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Push & Pull Marketing Via Online