Skip to main content

Pembela Brand, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Kebetulan saya member salah satu group chat marketing terbesar di Indonesia yaitu Marketing Club, tempat di mana kita banyak mengenal marketers-marketers handal dari berbagai industri baik itu B2B maupun B2C. Di group ini banyak sekali dibahas kasus-kasus marketing terbaru yang tentu saja selalu menarik untuk diikuti, kadang pembahasannya sangat seru kadang juga agak Garik hehe karena yang komen sedikit. (kalo mau join silahkan mention @marketerclubber atau moderatornya @saritasutedja).

Ok kembali lagi, dari sekian banyak diskusi group yang selalu menarik untuk diikuti adalah ketika pembahasan mengarah pada 1 brand yang sangat besar di dunia yaitu Microsoft, mengapa saya katakan menarik? Karena setiap kali pembahasan di mulai salah satu member group (@RonaldSipahutar) selalu akan membela Microsoft apapun bahasan dan mengarah kemanapun bahasannya. Ketika kebanyakan member mem"bully" Tablet dari Microsoft, si abang satu ini kan muncul dengan "pembelaan" terhadap tablet tersebut dengan berbagai advantage yang memang baliau rasakan sendiri sebagai usernya. Itu baru tablet, blom lagi soal Operating System, MS Store, IE dan all other MS Products mungkin hehehe.

Apakah beliau pegawai Microsoft? BUKAN, tapi pengetahuannya mengenai product Microsoft dan perkembangan produknya cukup mumpumi untuk seorang individu yang bukan pegawai Microsoft, dan juga "perjuangannya" untuk membela MS dalam suka maupun "duka" tentunya hehe.

Saya sering berpikir alangkah beruntungnya brand jika secara natural muncul "pembela-pembela" brand yang akan memberikan informasi secara gratis, menjawab banyak pertanyaan dan sindirin orang lain terhadap brand tersebut dan bahkan selalu merekomdasikan sebuah brand secara "gratis" tanpa brand tersebut sadari. Dan juga saya selalu berpikir seharus brand-brand punya mekanisme untuk mengidentifikasi para "Pembela" brand ini agar bisa di data kemudian di engage untuk kepentingan brand tersebut tentunya. Bagaimana caranya?

  1. Cara yang paling sederhana untuk mengidentifikasi para pembela brand ini adalah melakukan pantauan secara manual maupun sistem di social media dengan menjaring kata kunci utama sehubungan dengan brand tersebut, bisa melalui twitter, tulisan di blog ataupun percakapan di social chatt seperti line dan twitter.
  2. Cara kedua kita juga bisa pantau dari komen yang beredar di media, forum, milist ketika brand kita diberitakan atau dibicarakan. Secara kasat mata akan terlihat secara natural individu-individu yang muncul ketika "membela" brand atapun men "deskreditkan" brand tersebut.

Ok selanjut tentu akan muncul pertanyaan mengapa "pembela" brand ini perlu diidentifikasi dan kemudian di engage oleh sebuah brand?


1. Cost
Secara cost melakukan engage dengan "pembela" brand jauh lebih murah dibandingkan membentuk "pembela" secara sistematis apalagi berbayar mengapa? Yah sederhana ajah, ketika brandnya belom kenal dengan merekapun mereka sudah membela brand tersebut diberbagai kesempatan. Jadi istilah mereka mencintai Brand tersebut dengan sepenuh hati tanpa harapan balas jasa hehe, apalagi kemudian brand tersebut melakukan engage dengan mereka, wah bisa jadi makin semangat mereka melakukan pembelaan terhadap brand Anda.

2. Selling Power
Biasanya pembela brand ini adalah juga pengguna product yang memang puas sekali dengan brand tersebut, sehingga mereka punya "selling power" yang besar dalam merekomendasikan brand Anda. Ingat rekomendasi adalah cara jualan yang sangat efektif apalagi produk yang membutuhkan informasi lebih mendalam seperti teknologi dan berharga tidaklah murah. Betul tidak jika Anda pasti bertanya dahulu dengan pengguna Iphone ketika memutuskan untuk membeli iphone? Jika yang Anda tanya kemudian malah merekomendasi menggunakan Samsung dengan segudang cerita positifnya ada kemungkinan tidak Anda tidak jadi membeli Iphone? Yah itu setidaknya yang saya alami sendiri.

Pembela brand bisa membangun opini yang dilihat pihak lain lebih netral daripada brand itu sendiri yang membangunnya. Katakanlah Anda punya brand, berkoar2lah Anda bahwa brand Anda bagus, percayakah orang lain? Ceritanya akan berbeda bila kemudian brand tersebut di tulis oleh media atau tulis oleh "pembela" opini/ image bisa dibentuk dengan lebih mudah tentunya.

3. Konsitensi
Pembelaan yg konsisten. "pembelaan" oleh individu-individu seperti di atas biasaya konsisten dalam jangka waktu panjang, lain cerita jika anda menggunakan media massa atau blogger, yah ketika diadakan pers gathering mereka akan tulis, atau ketika dijanjikan hadiah kepada blogger mereka akan menulis tentang brand Anda, tapi ketika hadiah sudah dibagikan apakah mereka akan terus menulis? Saya punya teman yang bbrp kali mendapatkan gadget keren karena dia seorang programer, yang berakhir dengan gadgetnya di JUAL karena dia ga mau pakai, ironi bukan, tapi yah itu salah brandnya sendiri, bukan melakukan identifikasi terlebih dahulu apakah ini real Loyalis atau Loyalis bayaran.

Terakhir bagaimana kita membangun "pembela" brand secara sistematis dan terencana agar kemudian "pembela-pembela" ini akan menjadi corong komunikasi yang powerfull bagi brand untuk mendorong orang lain melakukan pembelian/ konsumsi/ dan tentu saja pembelaan terhadap brand kita?

1. Komunitas
Membangun komunitas adalah cara yang cukup efektif untuk membangun "pembela" brand baik itu komunitas online maupun komunitas offline. JIka ingin efektif membangun komunitas mulailah dari melakukan identifikasi "pembela" loyal yang sudah ada di berbagai media online maupun offline, jangan memulai membangunn komunita berdasarkan "iming-iming" seperti misalnya Anda ingin membangun follower twitter atau fans facebook dengan "dapatkan hadiah/ uangan tunai dengan follow or like" that's not a real Community.

Real community itu individu yang memang bergabung karena persamaan interest dan tujuan yang kemudian bergabung, seperti Milis Marketing Club, Harley Davidson ataopun contoh yang suka saya gunakan SR bergerak (sedekah rombongan) atau Akber (Akedemi Berbagi).

2. Percakapan
Yah ketika komunitas mulai terbentuk bangunlah percakapan dan sharing yang relevan, dalam hal ini adalah penting brand memiliki "admin" yang mememang mengerti brand luar dalam baik dari sisi fungsi maupun emosional brand, jangan admin2 an yang misalnya cuma bisa "ngetweet". Paling mudah sih rekruit ajah dari "pembela" brand yang bisa Anda indentifikasi sebelumnya.

Melalui percakapan ini brand berkesempatan untuk memberikan banyak informasi baru yang bisa disebarkan oleh pembela brand tersebut atau juga sebaliknya, brand bisa menggali informasi-informasi bahkan kritik yang bermanfaat untuk menambah nilai brand tersebut.

3. Apresiasi
Walaupun "pembela" biasanya membela brand dengan free, tidak ada salahnya tentu jika Brand jika mempun mengidentifikasi mereka memberikan apresiasi kepada individu tersebut, dalam bentuk apa? yah banyaklah, sebagai contoh di group chatt ada yang sering membahas Evernote, nah Evernote sampai mengundang si penulis tersebut ke US untuk menghadari conference mereka, atau setidaknya memberikan product secara free, merchandise atau apapun yang intinya memberikan apresiasi untuk "pembela" tersebut.

Ga di kasih apresiasi ajah udah belah habis-habisan hehe, apalagi kalo brand sadar dan kemudian melalukan engage dan memberikan apresiasi terhadap individu "pembela" brand tersebut, wah bisa KAMIKAZE buat brand tersebut kali yah hehehe (becanda).

4. Fasilitasi
Yah "pembela" brand perlu untuk difasilitasi secara kontinue misalnya melalu gathering atau kopdar untuk sekedar update product ataupun bentuk apresiasi terhadap mereka. Dengan demikian perusahaan dapat membangun hubungan jangka panjang dengan mereka, bukan sekedar diidentifikasi, kasih apresiasi kemudian dilupakan.

Fasilitasi ini tentu sajah bukan hanya dengan gathering/ kopdar as usual komunitas lain sering buat, namun juga misalnya Anda fasilitasi mereka dengan product Anda sehingga akan selalu mereka gunakan dan bahkan pada kondisi yang tepat bisa Anda rekruit sebagai bagian dari tim komunikasi Anda, daripada capek-capak buka rekruitment, edukasi orang baru, belom tentu juga sebenernya loyal menggunakan produk Anda, kenapa tidak si "pembela" ada yang Anda rekruit, bener ga? hehe.

Ibu saya sering bilang,"hiduplah sama orang yang "mencitai kita" jika memang harus memilih bukan orang yang kita cintai tapi belom tentu dia mencintai kita dengan tulus *apa hubungannya ini sama tulisan yah??

Bagaimana dengan Brand Anda? Apakah ada orang2 yang mencitai dengan sepenuh hati dan sudahkan kita melakuna engage dan "memanfaatkan" orang tersebut?

Baca Popular Post Lainnya

Tingkatkan Leads dan Sales Via Affiliate Marketing
Tingkatkan Penjualan dgn Speak-Speak Dewa (SSP)
Ayam dan telor akhirnya terjawab mana duluan
Brown & Cony: Is it love?

Creasionbrand I Creative Sales & Marketing Consultant

Sumber Gambar:
Satmetrix

Comments

Ricky Setiawan said…
Wah menarik, kebetulan saya lg tertarik ini juga ko. Thanks for sharing!
Anonymous said…
Wah... hebat sekali ya orang2 yang menjadi "pembela brand"
Sebenarnya mau di produk apapun rasanya akan sama aja, mau di software ataupun brand2 konsumsi yang lain

Shinta Margaret

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…