Skip to main content

5 Alasan Menggunakan Bonus Untuk Tingkatkan Penjualan

Menjadi sales consultant itu selalu mendatangkan tantangan sendiri buat saya dan tim, bagiamana tidak, beda industri, beda jenis produk beda pula cara menjualnnya sehingga tidak ada pendekatan yang sama untuk industri yang berbeda, dan ini luar biasa menarik walaupun kadang mendatangkan strees (yang nikmat) bagi saya pribadi dan tim yang menangani klien tersebut.

Saya ambil contoh industri berjangka, pertama kali terjun menghandling klien di industri ini saya sampai terkagum-kagum bagaimana mungkin dengan gaji yang relatif kecil namun perusahaan-perusahaan di bidang ini punya salesperson segitu banyaknya, dulu 5 tahun lalu, bukan pemandangan aneh masuk ke kantor klien melihat puluhan atau bahkan ratusan salesperson yang ada di dalam kantor, sibuk melakukan telemarketing dan traffic mobil yang keluar untuk mengunjungin calon nasabah begitu banyaknya. "kok mau orang-orang ini di gaji sekecil itu buat kerja di perusahaan ini yah, mana jualan produknya susah lagi".

Setelah di perdalam dan dipelajari ternyata hampir semua perusahaan pialang berjangka memberikan gaji kecil kepada karyawannya namun dengan potensi Bonus yang luar biasa jika salesperson tersebut sukses menjual produk mereka dan memantain investornya untuk buy often (transaksi lebih sering), buy more (transaksi lebih banyak) serta buy recommedation (merekomendasi marketingnya). Berapa incomenya, bisa geleng-geleng kepala sampai saya sempat berpikir buat jadi marketing juga haha.

Dalam Creative Sales Credo, taktik seperti yang dipraktekan oleh klien tersebut masuk ke dalam people tactic dengan kombinasi beberapa dimensi seperti Bonus, incentive, target dan sebagainya, ok kali ini kita akan fokuskan lebih ke dimensi bonus agar lebih spesific. Pada banyak industri Bonus ini merupakan hal yang biasa dan juga senjata yang sangat ampun dalam meningkatkan sales perusahaan.

Mengapa saya katakan Bonus merupakan senjata yang sangat ampuh? walaupun tentu tantangannya adalah Anda harus menciptakan budaya dan melakukan rekruitment yang tepat untuk bisa menerapkan sistem bonus  yg mempu menunjang keberhasilan sales di perusahaan. Ok coba kita bahas mengapanya yah. Contoh dibawah lebih mengarah ke industri finance, namun secara umum tentu bisa dimodifikasi untuk setiap industri yang cocok menerapkan Bonus di perusahaannya.

1. Mendorong Pencapaian Target yg tinggi

Sistem bonus memungkin terjadinya penjualan yang eksponensial bagi perusahaan apalagi di bidang finance di mana profile investor dan produk yang dijual sangat beragam nilainya, katakanlah bulan ini target penjualan anda 10 M, bukan tidak mungkin terjadi penjualan 100 M (hampir 1000 persen) pada bulan berikutnya karena misal tiba-tiba Anda investor besar yang masuk melalui salah satu "marketing" Anda.

Akan sulit tentu jika mendorong "marketing" untuk menjual secara maksimal dan melebihi target penjualan jika tidak ada sistem bonus karena secara natural tentu sajah "buat apa jual tinggi2? kalo hasil sama ajah", jgn khan ga pake sistem Bonus, menggunakan sistem Bonus saja belom tentu bisa mencapai penjualan yang tinggi dan melebih target bila tidak dibuat sistem yang sangat menarik dan men trgigger "marketing" untuk lebih agressive.

2. Melekat dgn funishment
Nah Bonus, diterapkan di manapun biasanya akan melekat funishment (hukuman) yang secara sadar dan sukarela di maklumi oleh "salesman" perusahaan, sehingga hal ini akan memacu setiap salesman untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk bisa mencapai target atau bahkan melebihi target yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.

Ini juga akan mempermudah perusahaan untuk melakukan evaluasi dan pengukuran kinerja setiap salesperson sehingga mempermudah perusahaan mengambil langkah dan menyusun kebijakan dalam mencapai target penjualan secara kontinue.

3. Lebih terukur secara Cost
Bonus dalam People Tactic juga merupakan pilihan strategi yang paling reasonable bagi perusahaan yang khususnya cekak atau sangat terbatas dari sisi budget, kerena setiap pengeluaran Bonus yang dilakukan sudah dihitung secara detail sebagai cost sehingga sangat mudah mengukur efektivitas pengeluaran dibandingkan dengan penjualannya karena variable yang mempengaruhinya sudah fix. Contoh Jual 10 juta Bonus 1 juta, yah tentu ada cost lain seperti transportasi dan telekomunikasi, namun ini juga bisa diukur per salesperson.

Ceritanya akan berbeda jika penjualan mengandalkan taktik promosi dan menggunakan media seperti tv atau billboard, pengeluaran yang terjadi akan lebih sulit terukur karena muncul banyak dimensi yang terlibat yang mempengaruhi penjualan perusahaan, katakanlah misalnya beriklan di TV 10 milliar, tapi ketika konsumen ingin membeli eh produknya tidak bisa didapatkan karena terlambat didistribusikan karena berbagai faktor misalnya.

4. Low promotion cost
Yah untuk beberapa industri khususnya finance, cost promosi jauh lebih murah dengan menggunakan Bonus sebagai taktik untuk mendorong penjualan oleh tim sales. Penjualan lebih banyak tergantung pada salesperson yang pada dasarnya "tidak dibiayai" oleh perusahaan ketika mereka mencoba menjual produk perusahaan.

5. Tenaga sales bisa sangat banyak dgn cost rendah
Nah dengan cost yang rendah, perusahaan bisa merekruit tenaga pemasaran yang sangat banyak sehingga opportunity terjadinya penjualan juga sangat tinggi, yah tentu jadi tantangan sendiri bagi HRD bagaimana merekruit orang tanpa dibayar atau dengan gaji kecil dan mau kerja di perusahaan.

Itu beberapa kelebihan dgn sistem Bonus khususnya di industri finance, namun juga dari pengalaman saya beberapa tahun kebelakang, ada beberapa challenge dalam menerapkan sistem seperti ini di perusahaan

1. Ketergantungan Terhadap Salesperson
Salah satu PR penting yang juga menjadi masalah tersendiri dengan sistem Bonus yang besar apabila perusahaan tidak fokus juga dalam membangun brand (dalam rangka mempertahankan cost tentunya), karena dengan demikian perusahaan menggantungkan penjualannya kepada "manusia" bukan kepada "brand". Ini tidak sehat tentunya bagi perusahaan karena konsumen membeli "people" bukan brand dgn begitu jika si "people" ini katakanlah pindah ke pesaing kemungkinan besar "konsumen" juga akan ikut pindah.

Ketergantung terhadap "people" ini harus dikurangi secara kontinue dan terencana sehingga faktor konsumen membeli bergeser dari people ke brand, nah balik lagi d zinilah dilemanya karena dengan begitu akan muncul Biaya Baru selain Bonus yaitu brand building budget, namun apapun resikonya menurut saya jika ingin membangun perusahaan dalam jangka panjang membangun brand adalah pilihan yang paling reasonable dan terbaik.

2. Pengolahan manusia
Karena Bonus menyangkut manusia, jelas ini mendatangkan tantangan tersendiri juga bagi perusahaan mulai dari sistem rekruitmen yang harus tepat sehingga menghasilkan orang yang juga tepat dengan sistem bonus tersebut. Apalagi rekruitment, budaya ingin gaji biasanya menjadi tantangan tersendiri untuk menghasilkan sales dgn sistem Bonus seperti ini karena tidak banyak yang yg "tertarik" karena memang biasanya jauh lebih sulit dalam pekerjaannya walaupun secara penghasilkan bisa jauh lebih besar "tapi tidak fix".

Belom lagi masalah training dll, sistem bonus memang mudah penerapan namun membutuhkan banyak faktor pendukung seperti hal nya training karyawan yang terlibat langsung dengan sistem tersebut, secara berkala perusahaan harus memberikan pelatihan, motivasi dan training untuk bisa menumbuhkan semangat dan agresivitas dari sales person tersebut.

3. Bad Competition
Yah ini juga menimbulkan potensi di mana kompetisi menuju ke arah yang kurang sehat karena ujung-ujungnya perusahaan akan bersaing dengan meningkatkan Bonus bagi sales person, dibeberapa kasus malah ada perusahaan yang kantornya kosoong karena tim salesnya pindah ke perusahaan lain yang menawarkan bonus lebih besar, lah kalo sudah begini yg diuntungkan salespersonnya dan perusahaan ujung2nya bisa buntung dgn strategi bonus ini.

So itu sekelumit people taktik dengan dimensi bonus, bisa sangat powerfull namun khususnya industri finance harus betul-betul diperhatikan dampak terhadap brand dan perusahaan dalam jangkan pendek apalagi jangkan panjang, begitupun industri lain. Selamat mencoba, salam Creative Sales.

Baca juga Popular Post:

Brown & Cony: Is it love?
Pempek WAR
Ayam dan telor akhirnya terjawab mana duluan
Galau Market, Aku Tanpamu Butiran Debu
7 Bisnis Sampingan Dashyat Lewat Twitter

Creasionbrand I Creative Sales & Brand Consultant

Comments

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…