Posts

Showing posts from November, 2008
Promosi Terus,
Respon Pasar Bagaimana??


Saya mengambil dua botol minuman mineral dalam kemasan saat berbelanja di sebuah mini market dekat kantor. Sudah tahu harga minuman tersebut, saya pun mengeluarkan uang pas saat membayar di kasir, namun kasir ternyata kasir tersebut malah memberikan kembalian pada saya. “Sedang promo Mba, jadi kalau beli ini satu gratis satu!”, ujar si kasir ramah seolah dapat menebak kebingungan muka saya. Hhmmm…lagi promosi ya…kok saya bisa tidak tahu ya? Saya tidak menemukan media yang memberitahukan konsumen bahwa produk minuman mineral merek tersebut sedang dalam program promosi. Ah tapi bodo amat lah ya, sebagai konsumen saya sudah senang kok tahu bahwa promo produk tersebut sangat menguntungkan bagi saya! Heheee! Yang pasti, sejak saat itu saya menjadi lebih loyal dengan selalu membeli produk merek tersebut jika hendak membeli minuman mineral.

Setiap program promosi biasanya pasti bertujuan untuk menciptakan brand equity dan salles (baik di masa sekarang mau…
Brand Berserakan,
Curi-Curi Perhatian Donk!


Luch time at my office…Seperti biasa sambil makan saya dan teman-teman menonton televisi apapun itu programnya (kadang berita biar kelihatan gaya, kadang infotainment biar up to date, kadang pindah-pindah biar variatif). Sedang asik-asiknya nonton gossip perceraian Pasha Ungu (jangan komentar! Saya juga sadar ini sangat “nggak banget deh lo!”, tapi apa daya…voting kali ini berpihak ke acara infotainment!), tiba-tiba iklan muncul dengan semena-mena.

Normalnya sih ‘acara’ iklan sama sekali tidak menarik perhatian kami, tapi iklan yang kami lihat tadi cukup menarik perhatian. Bukan karena iklannya yang agak (super) “nggak banget deh lo!” karena menampilkan model non-profesional atau keyakinan bahwa iklan tersebut dibuat dengan budget yang sangat minimalis sekali. Kami (eh lebih tepatnya saya sih! Hehee!) langsung berkomentar ketika melihat iklan layanan masyarakat yang dikeluarkan oleh salah satu departemen pemerintah di Indonesia tersebut. Kok? N…
Word of Mouth
Is It Killer App?


Bagi para praktisi marketing atau pelaku bisnis, pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Word-Of-Mouth Marketing alias WOM. Marketing dengan menggunakan rekomendasi ini memang banyak memberikan keuntungan dibanding membuat iklan, apalagi jika dilihat dari segi biaya. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan WOM untuk memasarkan produknya. Sebut saja Gmail, Tupperware, Sunlight Pencuci Piring, Toyota Avanza, iPod, dan sebagainya. Tanpa kita sadari, kita pun sering melakuakan aktivitas WOM, salah satu contoh ketika kita merekomendasikan teman atau kerabat dekat untuk mencoba makan di restoran favorit kita. Atau merekomendasikan menggunakan produk yang cocok dan biasa kita gunakan. Bahkan dalam iklan-iklan yang sering kita tonton, aktivitas yang biasanya dilakukan adalah aktivitas merekomendasikan barang kepada seseorang.

Dalam WOM, perbincangan membentuk saluran yang kemudian ditransmisikan. Disini yang memberikan pesan adalah orang yang …
Membangun Brand
Bukan Pekerjaan Semalan


Kemarin pagi, ketika hendak ke kantor saya menyempatkan diri untuk menonton acara berita di salah satu televise swasta nasional. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah masalah yang menimpa salah satu Bank Swasta Nasional di Indonesia. Bank tersebut mengalami penurunan asset dan terpaksa diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Setelah sempat ditutup untuk beberapa hari, operasional dibuka kembali dengan manajemen baru.

Untuk tetap mempertahankan Bank tersebut, LPS mengeluarkan tiga langkah, antara lain:
1. Mengatasi masalah likuiditas
2. Meningkatkan rasio kecukupan modal
3. Mengembalikan kepercayaan nasabah.

Tiga langkah tersebut diharapkan mampu memulihkan kondisi yang dialami oleh Bank tersebut. Kasus ini jadi mengingatkan saya pada dilikuidasinya beberapa Bank karena krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998. Tapi kali ini tidak seperti tahun 1998, karena yang saya tahu (cmiiw), Bank tersebut kena masalah karena mengala…
MOHON MAAF

(Jika ada tulisan didalam blog ini yang ternyata salinan atau tidak mencantumkan sumber tulisannya padahal merupakan tulisan pihak lain mohon segera diinformasikan kepadarexmarindo@yahoo.com, isi blog ini merupakan kumpulan tulisan dari teman-teman di creasionbrand jadi mohon maaf jika ternyata ada lolos posting artikel seperti Trend Baru Pemasaran yang ternyata merupakan copy-an tulisan dari blog Mas Bambang tanpa mencantumkan sumber asli dari artikel tersebut).
Tulisan Trend Baru Pemasaran sudah kami hapus dari Blog ini karena merupakan karya dari Mas Bambang yang disalin oleh salah satu penulis tanpa mencantumkan sumbernya. Untuk membaca artikel Trend Baru Pemasarn tersebut silahkan langsung kunjungi alamat aslinyahttp://www.bambangsukmawijaya.wordpress.com
http://www.komunikasiana.comKami selalu menunggu kritik dan sarannya. Terimakasih.
TERNYATA KONSUMEN KITA BER-POLIGAMI


Silahkan percaya atau tidak. Anda silahkan memikirkannya. Tetapi saya berani mengatakan inilah faktanya. Meskipun poligami merupakan salah satu isu hangat dalam beberapa tahun terakhir ini, pengamatan terhadap perilaku konsumen yang poligami relatif kurang dikaji secara mendalam. Tentu saja maksud tulisan saya ini bukan membahas sikap saya sebagai pihak yang pro atau yang kontra. Saya tidak memiliki pretensi kearah tersebut.

Justru sebaliknya, saya akan membahas fenomena ini dari kacamata marketing, khususnya buyer behavior dan brand management. Tetapi percayalah, jangan berprasangka yang bukan – bukan dengan judul tulisan ini (he he he …). Well, saya akan buka tulisan ini dengan mengajukan pertanyaan kepada Anda? Apakah Anda orang yang setia ? Seberapa kesetiaan Anda? Jika Anda menemukan sesuatu yang lebih baik, menarik, atau bahkan ketika pilihan pertama Anda tidak ada , apa yang Anda lakukan? Yup, mungkin berganti pilihan atau pasti berganti?.

Kena…
Menjala Ikan di Lautan
Beginikah Pemasaran Anda?


Pastinya kita sudah sangat akrab dengan istilah segmentasi, tapi mari kita bertanya pada diri sendiri, terutama Anda para pelaku bisnis yang seringkali dikejar target penjualan. Apakah seringkali Anda masih berpikir bahwa Anda ingin menguasai seluruh pasar yang ada dan membuat mereka semua mengkonsumsi produk Anda? Jika ya.. maka Anda sama seperti pejala ikan di lautan, tapi Anda bukanlah seorang pemasar.

Mengapa demikian? Karena pada masa sekarang ini hampir tidak ada produk yang bisa dijual kepada siapa saja. Semua produk memiliki segmen nya masing-masing, dan sepertinya saya harus memaksa Anda menyerah untuk memaksa semua orang mau mengkonsumsi produk Anda. Sekalipun produk-produk kebutuhan pokok, memiliki segmen nya masing-masing. Jika bukan karena faktor demografis, seringkali segmen terbagi karena faktor ekonomi. Contohnya saja minyak goreng yang katanya semua orang membutuhkannya : segmen ditentukan faktor demografis dan ekonomi.

Men…
Mengapa Sulit Sekali
Memuaskan Pelanggan?


“Untuk apa sih pren kita riset konsumen segala? Nyari tau needs, wants, sama expectation konsumen kaya yang lo bilang itu sebenernya biar kita bisa bikin produk atau jasa yang mereka suka ya? Trus?”. Pertanyaan salah seorang sahabat yang sering saya ‘cekoki’ dengan ilmu-ilmu yang saya dapat selama bekerja di bidang branding cukup membuat saya juga menelaah kembali apa inti dari semua itu. Kepuasan pelanggan kah pada akhirnya?

Bukankah memang pada saat kita dapat mengetahui apa yang dibutuhkan, diinginkan dan diharapkan oleh konsumen, kita jadi mengetahui celah-celah untuk memuaskan konsumen secara maksimal. Namun jawaban saya itu memunculkan ‘curhat colongan’ dari sahabat saya tersebut. “Ah, gw ngerasa udah maksimal banget ngusahain biar konsumen yang datang ke toko gw dapet kepuasan, tapi tetep aja nggak pernah cukup. Orang tuh emang nggak pernah ada puasnya tau pren! Susah!”.

Hmm…memang sih kalau dipikir-pikir usaha memuaskan pelanggan memang ti…
Ketik Reg (spasi) JAWA
Anda tidak cocok kerja di air,
Cocok nya bekerja sebagai pedagang!!!


Jika Anda mendengar kata tersebut, maka Anda akan langsung berpikir itu adalah Mbah Roso. he....he Fenomena konsultasi atau apapun namanya via sms saat ini sedang cukup ramai muncul di layar TV, untung saja belum ada konsultasi branding via sms seperti ini ha....ha kalo ada wah bisa gawat nih buat konsultan-konsultan saat ini. Sebetulnya, apa yang tersembunyi di balik itu semua?? Dan mengapa hingga Flexi provider telepon selular pun mengikuti iklan tersebut dengan versi parodi ??

Mungkin pada awalnya tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa iklan tersebut akan menarik perhatian konsumen begitu besar? Dengan target market orang yang memiliki HP dan ingin mencoba mengikuti sms tersebut. Tapi kata-kata itulah yang membuat orang semua mengingat. Bahkan seorang Deddy Kobuzer, Mamah Lauren dan Ki Joko Bodo pun telah hanyut terbawa trend yang sedang berkembang ini.

Sepenting itu kah suatu tag line dalam…
Buat Apa Sih Membangun brand,
Emang Penting Gitu?


Walaupun masih belum banyak orang yang mengerti benar apa sesungguhnya brand itu, namun saya yakin hampir dari semua yang membaca tulisan ini tahu bahwa brand, bagaimana pun juga, memiliki peranan yang sangat penting bagi sebuah produk atau jasa yang dimiliki perusahaan. Teman saya pernah berkeluh kesah karena ternyata cukup rumit juga mematenkan merek produk yang dia miliki. “Kenapa sih susah banget pengen punya hak paten buat brand gw? Ribet bener dah ah!”, keluhnya. Saya sih Cuma senyum-sentum saja karena walaupun dia mengeluh itu ribet, susah dan sebagainya, toh dia tetap ‘berjuang’ mendapatkannya.

Saya malah memancingnya dengan pernyataan “Ya udah, nggak usah dipatenin aja lah pren!”. Reaksinya sudah bisa saya prediksi, “Ya nggak bisa gitu juga lah mamen, merek (brand) kan penting banget buat produk gw. Kalau dibajak gimana?....Weitz, lo ngetes gw ya? Kan lo kerja di perusahaan in house branding. Ya lo pasti faseh banget lah gimana …
MUSIK DANGDUT
KISAH SUKSES BRAND REJUVENATION


Begadang jangan begadang
Kalau tiada artinya
Begadang boleh saja
Asal ada perlunya

Anda mungkin sudah familiar dengan lirik diatas. Yup, lagu yang didendangkan oleh Rhoma Irama memang menjadi hits dizamannya. Lagu Begadang, undoubtedfully, adalah lagu yang merajai dasawarsa 80-an. Penikmat dangdut bak dibius dibuatnya. Terlebih dinyanyikan oleh “Sang Raja Dangdut”. Tepat sekali, musik dangdut begitu digemari, dan begitu merakyat. Tidak salah kalau musik ini dianggap musik rakyat kelas bawah.

Kondisi berbeda justru terjadi di tahun 90-an yang menjadi eranya musik pop. Apa kabar musik dangdut? Anda tahu jawabannya. Musik ini kian terpinggirkan. Terlebih musik dangdut ini dianggap musik “kelas dua” atau musiknya “rakyat jelata”. Tidak difavoritkan dan telah kehilangan “wibawanya” dalam “rimba” musik Indonesia.

Jika Anda bertanya kepada teman Anda di tahun 1990-an, bagaimana pendapatnya tentang musik dangdut? Mungkin jawabannya kurang menyenangkan.…
Jangan Cuma CSR-CSRan!


Beberapa tahun terakhir program CSR (Corporate Social Responsibility) seakan menjadi booming. Begitu banyak perusahaan yang berlomba-lomba menyisihkan dana mereka untuk melakukan aktivitas yang katanya “sosial” ini. Sejauh mana tingkat kepentingan sosial dibandingkan komersialismenya? Mungkin bisa jadi sama besar, ditilik dari anggarannya, bisa jadi alokasi publisitasnya memakan budget yang juga tidak sedikit.

Beberapa klien kami, di beberapa tahun belakangan ini pun melakukan aktivitas serupa. Dari yang terencana hingga yang dadakan, dari yang mengundang publisitas heboh, sampai yang tidak ingin dipublikasi. Di Indonesia, kemunculan konsep CSR kadang saya pikir sering mengalami salah kaprah. Pembahasan CSR bahkan masuk di kolom strategi memoles citra perusahaan atau lebih parahnya lagi hanya masuk dalam program Public Relations. Judulnya saja “sosial” yang artinya, tidak memiliki embel-embel tujuan lain seperti peningkatan awareness apalagi profit. Tetapi dalam d…
Manajemen Krisis -
Berusahalah untuk Selalu Paranoid


Di tengah krisis global yang terjadi saat ini, tiap perusahaan dituntut untuk melakukan efisiensi agar tetap bertahan dan tidak tenggelam. Namun melonjaknya harga bahan-bahan baku menyebabkan banyak perusahaan seolah “tercekik”, belum lagi mereka harus menyesuaikan harga jual kepada konsumennya. Dan yang banyak dihadapi oleh perusahaan adalah daya beli konsumen yang terus menurun akibat krisis ekonomi global ini.

Perusahaan juga dihadapkan pada peliknya masalah karyawan, karena beberapa perusahaan berencana untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada beberapa karyawannya akibat tidak sanggup membayar upah karyawan. Memang sulit menghadapi krisis, apalagi bagi perusahaan yang focus pada produksi saja. Memikirkan untuk bertahan di masa krisis saja sudah sulit apalagi kalau harus memikirkan strategi mengembangkan merek.

Pada kenyataannya tiap perusahaan berharap tidak mengahadapi krisis yang bisa mengguncang aktivitas mereka, kare…
Menggarap Target Market -
Kalau Bisa Dua Kenapa Harus Satu?


“Baju anak di showroom Esprit lucu-lucu banget lho! Nanti kita liat kesana yuk? Siapa tau ada yang nggak begitu mahal, buat kado anak temen gw yang ulang taun minggu depan nih!” ujar salah seorang teman saya semasa kuliah kemarin. Bukannya bilang hayu atau nggak, saya malah berkata “Hah?” sambil dalam hati bertanya sendiri “Emang Esprit ada yang buat anak-anak??”. Yah ternyata memang saya yang kuper (kurang pergaulan), ternyata memang ada ya sekarang produk kids Esprit (jadi malu sayah!Hehee!).

Saya terkadang bingung ya melihat beberapa perusahaan yang begitu berani menggarap beberapa target market dengan segmentasi yang sangat berbeda dan menggunakan brand yang sama khususnya. Tidak kah hal tersebut justru akan membuat mereka tidak focus terhadap bisnis yang dijalankan? Sebutlah beberapa brand di Indonesia: Konidin, ada Konidin Dewasa ada Konidin anak. Hi Low, ada Hi Low Teen ada Hi Low dewasa. Apakah keputusan seperti itu hany…
DOUBLE JEOPARDY


Apa yang muncul di benak Anda ketika membaca judul diatas? Yup, saya bisa pastikan bahwa Anda mengatakan salah satu judul film. Tidak keliru memang, karena istilah Double Jeopardy (DJ) ini populer lewat salah satu yang digarap Bruce Beresford dan diperankan oleh Tommy Lee Jones, Benjamin Weir dan Ashley Judd. Tapi Anda keliru ketika menilai saya akan mendiskusikan film tersebut dalam tulisan ini. Sebaliknya saya akan membicarakan tentang merek.

Lalu apa kaitannya dengan film tersebut? Keterkaitannya terletak pada judul film tersebut ternyata juga terjadi dalam bisnis.Tidak percaya? Saya akan menguraikannya lebih dalam.Perhatikan kondisi berikut ini. Dari data riset ditunjukkan bahwa misalnya merek X memiliki pangsa pasar 6 %, jauh tertinggal dari market leader merek Y dengan pangsa pasar 55 %. Kemudian, dari data tersebut menunjukkan bahwa frekuensi pembelian ulang merek X jauh lebih rendah dari merek Y.

Dua kondisi diatas adalah fakta bahwa DJ dapat terjadi dalam bisnis.…
Creating a Brand Name


Salah seorang teman semasa kuliah meminta bertemu dengan saya beberapa hari yang lalu. Ah sudah GR (Gede Rasa) saja saya rasanya karena diajak dinner oleh mantan gebetan (Ups! Hehe!). Namun apa daya sodara-sodara, dinner yang saya bayangkan akan sangat romantis ternyata diisi dengan perbincangan mengenai bisnis. Hohoo, malu sendiri rasanya saya dalam hati. Dia bercerita bahwa dia sedang merintis sebuah usaha, baru saja akan dipublish, namun dia mempunyai sedikit kesulitan dalam pemilihan nama untuk produk atau jasa yang akan dia luncurkan. Dia bilang sebagai orang yang bekerja di perusahaan in house branding tentunya saya adalah orang yang paling tepat untuk dimintai pendapat. (Tuh kan, jadi ini alasan dia ngajak saya dinner! Hix! ;p)

Sambil menutupi ke-salting-an saya karena sudah ke-GR-an, saya pun berusaha memberikan beberap pandangan kepadanya tentang hal-hal yang sebaiknya diperhatikan dan dipertimbangkan dengan baik dalam mimilih nama untuk produk atau jasa…
Sudahkah Anda “Memecat”
Pelanggan Anda


Mungkin ini pertanyaan bodoh yang pernah Anda dengar. Bagaimana tidak konsumen adalah raja, begitu kira – kira pameo yang lazim kita dengar dalam bisnis. Konsumen juga yang “mendarahi” bisnis Anda untuk tetap sustain. Tapi, jangan emosi terlebih dahulu. Perhatikan pertanyaan saya ini: Apakah Anda mengenali semua konsumen Anda dan menghitung kontribusi mereka terhadap bisnis Anda?

Saat Anda mendengar hal ini Anda mungkin diam dan mulai berpikir. Baik, memang itulah yang sebaiknya Anda lakukan. Beberapa saat kemudian, Anda juga mulai menjawab, “Ayolah, ini terlalu sulit. Konsumen saya banyak dan ini akan membuang-buang waktu saya”. Maka saya jawab, “Jika Anda tidak melakukannya, apa anda ingin mempertaruhkan bisnis Anda dalam jangka panjang, bagaimana?"

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengintroduksi paradigma yang widely happened but little known. Namanya Customer Profitability Analysis (CPA). Anda mungkin akan sedikit “alergi” mendengar kons…