Skip to main content

Belajar Marketing dari Crime Scene Investigation

"He is a liar. I just don't know what the lie is yet" – Horatio Caine

Apakah ada yang seperti saya yang menjadi penggemar CSI: Crime Scene Investigation, serial drama televisi CBS Amerika yg bercerita tentang keseharian tim forensik dalam mengungkap kasus kriminal dan pembunuhan dari kacamata forensik? Saking sukanya saya dengan serial ini, sampai saya setia mengikuti nya sejak serial yang pertama CSI: Las Vegas (tayang sejak tahun 2000), dan kemudian diikuti 2 buah serial spin-off nya: CSI: Miami (mulai tayang tahun 2002) & CSI: New York (mulai tayang tahun 2004). CSI merupakan serial drama kriminal yang menceritakan cara kerja dan keseharian tim forensik kepolisian dalam mengungkap kasus2 pembunuhan, tim ini memiliki leader yang aktif dalam mengarahkan dan juga “turun kelapangan” pada saat sebuah kasus terjadi.

Serial pertama, CSI: Las Vegas lebih banyak menceritakan pembunuhan dan juga kasus2 yang terjadi di wilayah Las Vegas, dikepalai oleh Gil Grissom, seorang pemimpin yang lebih suka berinteraksi dengan barang bukti, buku, serangga dan mikroskop, yang dalam memimpin tim nya lebih banyak mendapatkan bantuan Katherine Willow, rekan nya dalam tim CSI, uniknya Gil Grissom adalah satu2nya pemimpin CSI yang dikecualikan dalam “laporan tembak-menembak”, karena ketidaksukaan dirinya membawa senjata api.

Sedangkan spin-off pertama nya memilih lokasi di Miami, memiliki leader yang lebih “lapangan” bernama Horation Caine, dengan gaya “menggunakan kaca mata hitam” nya yang sudah menjadi signature khas Horatio Caine. Caine memiliki karakter yang berbeda dengan Gil Grissom, Caine mahir dan tidak segan2 untuk menggunakan senjata api nya ketika bertugas di lapangan. Sedikit berbeda dengan Las Vegas yang lebih banyak menampilkan kehidupan malam Las Vegas, Miami banyak menyuguhkan kasus yang berlatar belakang lebih terang, pantai, gurun pasir dan rawa.


Serial Spin-off selanjutnya adalah CSI: New York, dikepalai oleh Mac Taylor, setting CSI New York banyak mengambil tema2 keseharian masyarakat urban di New York, dengan latar belakang gedung perkantoran yang menjulang. Jika di CSI: Las Vegas, Gil Grissom memiliki Katherine Willow yang lebih bisa dibilang seperti partner, di CSI: New York, Mac Taylor memiliki Stella Bonasera, partner sekaligus rekan kerja yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Mac, bahkan mendukung nya untuk urusan asmara.

Sederhana nya semua serial CSI ini menarik untuk diikuti, apalagi bagi yang menyukai dunia forensik dan kepolisian, yang juga memiliki kemiripan prinsip dengan menjalankan bisnis dan perusahaan. Berikut beberapa prinsip dalam CSI yang bisa juga diterapkan dalam menjalankan bisnis:

1. Evidence (barang bukti)
“I don't trust people, they tend to lie. Evidence nevers lies”, sepotong kalimat ini diucapkan oleh Gil Grissom (Leader di CSI Las Vegas), karena dalam menyelidiki sebuah kasus, tim CSI juga melengkapi aktifitas forensik nya dengan cara wawancara dengan saksi-saksi yg terkait ataupun org2 yang dicurigai terlibat dalam kasus kejahatan. Kalimat tersebut bisa diartikan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk berbohong (dalam kondisi terdesak), namun bukti tidak pernah berbohong (karena tidak memiliki kecenderungan untuk berubah dan berbohong seperti manusia).

Dalam menyelidiki sebuah kasus, tim CSI biasanya mengedepankan pengumpulan barang bukti dan mengeksplorasi nya, dibandingkan hanya mempercayai testimoni saksi. Dalam beberapa episode, mereka bukan hanya mengumpulkan bukti di Crime Scene (TKP – Tempat Kejadian Perkara), tapi sampai dengan mencari studi literatur dan mempelajari keterkaitannya dengan barang bukti sampai dengan kemungkinan terkecil.

Sama juga dalam berbisnis, dalam memulai ataupun melakukan inovasi, sebaiknya didasari dengan sebuah penemuan insight dan riset, baik terhadap produk yang sudah ada, produk competitor, persepsi & ekspektasi konsumen, dan juga kapasitas internal. Tidak ketinggalan evaluasi dari kinerja produk dan tim sales & distribution kita, karena biar bagaimanapun juga hanya data dan fakta yang bisa dijadikan dasar menarik kesimpulan dan merumuskan strategi bisnis kedepan. Mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan data dan fakta yang ada, sama saja dengan “accused innocent people based on circumstantial evidence”, atau jika diartikan kurang lebih seperti menuduh warga sipil yang belum tentu bersalah dengan bukti yang hanya dalam status berhubungan (tidak langsung).

2. COD – Problem definition (not symptom)
“What is the COD (note: Cause Of Death)?” kalimat ini adalah kalimat pertama yang selalu ditanyakan oleh tim CSI kepada kepala Lab ataupun petugas Lab yg memproses korban pembunuhan (biasanya berupa mayat) baik itu di lokasi kejadian maupun saat korban sudah berada di kamar mayat (morgue). Seringkali penyebab kematian baru bisa disimpulkan setelah petugas lab (medical examiner) melakukan “penggalian” lebih dalam pada mayat, misal: pada suatu kasus hangus nya mayat pada saat terbakarnya sebuah apartment, ternyata penyebab kematiannya bukan karena menghirup asap kebakaran tapi karena pukulan benda tajam di kepala korban.

Dalam menjalankan bisnis, pebisnis seringkali dihadapkan pada gejala-gejala masalah, yang bisa jadi membingungkan, namun yang harus dirumuskan adalah penyebab dari masalah yang sedang dihadapi, misal: pada saat angka penjualan stagnan atau turun, yang harus diselidiki adalah berbagai aspek, sisi internal perusahaan (produk, sumber daya, dll), situasi persaingan (produk & skala pesaing, trend produk, banyaknya pemain dalam sebuah industri, dll), dan konsumen (apakah sudah jenuh atau belum, dll)

3. Focus on evidence
Dalam memproses sebuah item bukti, tim CSI selalu berusaha membagi tugas dan fokus pada 1 atau beberapa leads (petunjuk) ataupun evidence (barang bukti), misal jika 1 org menangani senjata pembunuh (misal berupa pisau ataupun pistol), fokus utama tetap pada senjata pembunuh tersebut, baik dari sisi bagian luar (sidik jari, nomor seri, apakah ada noda ataupun benda yang menempel), maupun bagian dalam nya (apakah alat bisa dibuka, apakah memiliki isi ataupun object yang merangkai senjata tersebut), dan masing2 bagian ditest apakah mengandung unsur tertentu ataupun meninggalkan sidik jari pengguna nya. Mereka berbagi tugas agar masing2 anggota tim bisa fokus untuk meneliti dengan detail barang bukti nya tanpa terganggu konsentrasi nya dengan hal lain.

Pada saat kita memulai bisnis kita seringkali “tergoda” untuk menyediakan semua jasa/produk untuk semua jenis konsumen, “palu gada” istilah nya “apa lu mau gue ada”, konsep inilah yang seringkali justru menghancurkan semua bisnis yang sudh dibagun, semua unit bisnis hanya dibangun tidak dengan sumber daya dan konsentrasi yang maksimal, akibatnya justru spesialisasi dan positioning kita menjadi bias, dan menjadi kalah bersaing di semua bidang. Kalah dengan pesaing yang memang fokus untuk pengembangan dan inovasi di satu bidang tertentu.

4. Define motive & hypothesis (based on theory)
Kebiasaan tim CSI dalam menangani sebuah kasus adalah mencoba mencari motif dari pembunuhan dan juga menyusun hipotesis sementara dari bukti2 dan fakta2 yang telah dikumpulkan. Kemudian berusaha untuk membuktikan hipotesis tersebut dengan mencari dan melihat lebih dalam lagi bukti2 di lapangan yang ada. Bahkan terkadang untuk mencari keterkaitan seseorang tersangka dengan hipotesis, tim CSI tidak segan2 untuk membongkar ulang file lama ataupun kembali lagi ke TKP untuk mencari bukti lebih lanjut.

Jika kita menemui hambatan dalam mencetak angka penjualan, mungkin sudah saat ya untuk mereview ulang apakah strategi yang kita jalankan mesih relevan dengan kondisi saat ini, bahkan bisa dicoba untuk melakukan riset ulang, baik itu bersifat preferensi konsumen ataupun trend konsumsi sebuah produk. Jangan2 memang produk ataupun strategi kita yang sudah ketinggalan jaman

5. Every detail is important
Pada saat mengumpulkan barang bukti, seringkali tim CSI dihadapkan pada keanehan, atau mungkin anomali dalam sebuah kasus, misal dalam sebuah episode CSI Las Vegas, mereka menghadapi pembunuhan serial dimana ditemukan 4 korban, dimana 3 orang dibunuh dan yang satu dibiarkan dalam keadaan koma. Pandangan umum adalah, mungkin pelaku terburu-buru sehingga tidak sempat menyelesaikan pembunuhan, namun tim CSI justru melakukan penelitian lebih lanjut, dan ternyata pelaku memang sengaja membiarkan salah satu korban dalam keadaan koma, untuk mencerminkan kondisi “Limbo”, yang terinspirasi dari sebuah cerita berjudul “Dante Inferno” dimana di dalam nya menceritakan perjalanan seseorang bernama Dante melewati neraka. Neraka tersebut digambarkan sebagai sembilan lingkaran penderitaan yang terletak di dalam Bumi (Nine Circles of Hell). Lingkaran penderitaan pertama adalah Limbo, yaitu dimana kondisi seseorang tidak diterima di neraka maupun di surga.

Hal ini mencerminkan bahwa pembunuh memang sengaja membuat korban nya dalam keadaan koma (tidak meninggal, namun juga tidak hidup). Salah satu prinsip yang dipegang teguh oleh CSI adalah tidak ada sesuatu yang kebetulan, semua detil pasti terhubung satu sama lain, dalam mengarahkan sebuah bisnis, kita dituntut untuk dapat melihat semua elemen dan permasalahan dalam helicopter view, dan mencoba untuk melihat dan menyelidiki lebih dalam semua hal yang terkait dengan kondisi perusahaan kita, sehingga bisa merumuskan langkah ke depan dengan lebih terarah.

6. Keluarkan kepentingan pribadi 
Pada serial CSI NY season pertama, Mac Taylor dengan berat hati mengeluarkan salah satu tim nya, Aiden Burn, karena melakukan manipulasi terhadap barang bukti dalam kasus pemerkosaan. Karena terobsesi untuk menghubungkan tersangka dengan kasus pemerkosaan kedua (yang dilakukan oleh pelaku yang sama, dan di kasus pertama tidak bisa dibuktikan karena kurang bukti yang kuat), Aiden mengambil barang bukti dalam kasus pertama untuk di masukkan dalam kasus kedua. Hal ini tentu saja menyalahi dan melanggar protokol yang ada.

Dalam berbisnis pun seringkali kita tergoda untuk memasukkan unsur kepentingan / idealisme pribadi kedalam kepentingan bisnis. Sebenarnya hal ini sah2 saja sejauh tidak merugikan kepentingan perusahaan dalam skala yang lebih luas, misal: menempatkan personil yang dapat dipercaya untuk menangani keuangan perusahaan, hal ini baik jika personil tersebut memang memiliki kemampuan untuk menangani keuangan, namun jika personil tidak memiliki kemampuan keuangan, mungkin penempatan ini justru awal mula hancurnya perusahaan anda.

Jadi, adakah yang mau menemani saya nonton CSI? :) #Loh

Comments

Riefa said…
This comment has been removed by the author.

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…