Skip to main content

Teori Lama vs Media Digital

Mark Krenn, founder dari Coastal Creative Reprographics di Amerika sempat mengangkat isu ini di salah satu tulisannya. Pada bahasan tersebut sangat menarik sekali, bagaimana ia mengingatkan kita bahwa sejak tahun 1960, ilmu Marketing mengajarkan kita untuk fokus pada 4P : Product, Price, Place dan Promotion.

Kemudian di era 1990an disambung dengan C’s area dengan fokus kepada para konsumen. Sedangkan sekarang memasuki era Digital? Apakah semua teori tersebut masih relevan? Atau ada teori baru yang harus diterapkan? Berikut ada 3 poin yang menarik untuk dibahas, untuk menjawab hal tersebut.

1. Ciptakan pengalaman Offline dan Online
Experience merupakan salah satu bentuk output dari semua perancangan konsep marketing tersebut. Mau media tradisional atau digital, experience merupakan suatu hal yang penting. Experience itu sendiri tidak hanya berkutat hanya di level “konteks” tapi juga “konten” yaitu elemen-elemen experience yang melekat pada produk secara langsung.

Di buku yang lagi saya baca (The Power of Habit by Charles Duhigg) menceritakan bahwa jika kita mengira Starbucks jualan kopi, sebenarnya Starbucks tidak hanya jualan kopi. Seperti yang diungkapkan Howard Behar (the former president of Starbucks) : “We’re not in the coffee business serving people, We’re in the people business serving coffee.” 


Atau dengan kata lain bahwa yang dijual Starbucks adalah experience yang tidak hanya sebatas konteks tapi juga melekat dalam konten (produk) mereka. Experience adalah produk yang benar-benar mereka jual. Begitu juga dengan berjualan melalui media Digital/Online. Para pebisnis tidak bisa hanya berhenti sampai menjual produk, namun harus dapat menjual experience itu sendiri melalui media Digital.

Keterbatasan menciptakan experience melalui media Digital tentu lebih besar karena terbatas pada indra yang dapat dijangkau. Maka langkah yang harus dilakukan adalah memaksimalkan visualisasi dan ciptakanlah interaksi yang dapat membuat target market kita mendapatkan experience dalam berkomunikasi dengan brand melalui media Digital.

Beruntunglah saat ini begitu banyak media social yang dapat men-share konten video, karena selain gambar, video dapat menciptakan experience yang mendalam dari sekedar teks. Karena melalui video indra yang dapat dilibatkan tidak hanya visual namun juga pendengaran.

Berbagai konsep aktivasi yang mendorong respon dari target market juga menciptakan experience, seperti kuis berhadiah, kompetisi foto atau video dan game.

2. Customer Service
Kata siapa customer service ga bisa dilakukan melalui Online? Malahan sejak ada media Digital, Customer Service menjadi begitu mudah bahkan cenderung no cost!

Sebut saja era telepon, dimana Customer Service maksimal hanya melalui telepon. Konsumen Anda harus repot-repot angkat telepon (bahkan bayar, waktu belum ada layanan bebas pulsa) itupun harus menunggu lama jika operator sedang sibuk. Sedangkan sejak ada era texting atau sms, semakin mudah melalui sms, namun tetap membutuhkan usaha yang cukup dari para konsumen. Namun sekarang? Dengan adanya media social seperti facebook dan twitter, Customer Service sangat mudah diberikan kepada konsumen.

Layanan kepada konsumen tidak hanya berbentuk layanan setelah terjadinya transaksi, namun berbagai layanan konsumen bahkan bisa menjadi nilai jual untuk mendorong /semakin menarik calon konsumen mau membeli produk kita.

Penjualan melalui media Online contohnya, jika Anda berpikir bahwa begitu sulit memberikan layanan konsumen karena tidak dapat bertemu langsung, Anda salah besar. Contohnya saja layanan antar, itu sudah menjadi sebuah “Customer Service.” Apakah pesaing Anda sudah memiliki layanan antar juga? Tingkatkanlah nilai layanan Anda, misalnya layanan tanpa biaya (dengan min. purchase tertentu) atau pembayaran saat barang sampai, atau layanan antar dengan waktu yang lebih cepat, dengan kemasan yang tahan rusak, dengan asuransi, dll. Pikirkan hal lain yang dapat menjadi “layanan” Anda bahkan untuk mendorong konsumen membeli kepada Anda dibandigkan pesaing Anda.

Jadi.. terkait Customer Service, mau jualan Offline mau jualan Online, tetap berlaku mutlak hukumnya!

3. Brand Presence
Mau offline mau online, untuk membuat brand Anda muncul dilihat konsumen sudah sama-sama sulit! Lihat saja di jalanan begitu banyak billboard, plang nama, stiker bus, stiker angkot, dst, dst. Lihat di Online : iklan banner di Detik, Kompas, portal media, juga begitu banyak, bahkan tidak jarang banyak yang merebut paksa perhatian Anda dengan pop up yang tidak bisa di close atau iklan yang mengikuti kemanapun Anda menggerakkan kursor!

Lalu bagaimana untuk brand Anda supaya tetap bisa terlihat kehadirannya? Jawabannya adalah gunakan media dengan lebih smart. Bisa jadi brand Anda bukan sekelas brand yang bisa membayar billboard di jalan protocol. Atau brand Anda tidak mampu membeli iklan banner harga ratusan juta di portal berita online. Nah.. jika memang demikian, manfaatkan audiens yang sama, namun dengan cara yang berbeda.

Untuk media offline, Anda bisa menggunakan media yang lebih murah, stiker contohnya. Namun gunakan copywriting dan desain yang eye catching. Jika harus menggunakan signage, desainlah semenarik mungkin, bisa dengan inovasi bentuk yang tidak harus 2D tapi bisa juga 3D. Buatlah berbagai ambient media yang menarik perhatian, unik bahkan aneh! Agar dapat menarik perhatian mata target market Anda.

Berbeda dengan media Online, gunakan media berbayar yang relative lebih murah, bisa disesuaikan dengan budget Anda dan tepat sasaran! Contohnya saja Anda bisa beriklan di Facebook yang jelas-jelas Anda bisa memilih iklan Anda mau dilihat sama segmentasi yang memang sesuai. Misalkan Anda berjualan make up, tentu Anda mau iklannya hanya muncul di kelompok target market Anda, wanita (misalnya usia sekian hingga sekian, tinggal di kota besar, dst). Dan jika Anda pelajari lebih jauh, unggulnya media Online adalah Anda dapat membayar atas hasil yang Anda dapatkan (pay per click, pay per impression, dll).

Nah.. jadi mau Online atau Offline, prinsip-prinsip mendasar tersebut tetaplah penting. Ingat! Bahwa media hanyalah jalur kita untuk dapat berkomunikasi dengan target market dan konsumen kita. Ingat! bahwa yang terpenting adalah bukan medianya, tapi apa yang kita sampaikan melalui media itu sendiri. Pilihlah media yang sesuai dengan “dimana target market kita menghabiskan sebagian besar waktu mereka” dan berkomunikasilah dengan prinsip USP : Unique Message, Strong Visual dan Push to Action! Selamat berjuanggggg!!!!!

Comments

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…