Skip to main content

Cowok sekarang cowok feminin

Wah.. bentar lagi saya disamperin sama banyak cowok-cowok yang ga terima sama judulnya nih hehe.. tapi judul ini sebenarnya hanya gambaran perubahan karakteristik target market pria terutama di kota-kota besar. Seperti apakah perubahan itu? Dan apakah ada dampaknya bagi Anda? Terutama Anda yang memiliki produk dengan target market yang sesuai?

Sebenarnya ide awal saya menuliskan artikel ini adalah saat saya jalan-jalan ke toko olahraga Adidas dan melihat-lihat model terbaru dari berbagai sepatu futsal. Wah.. jadi saya yang suka sama model-model sepatu futsal cowok-cowok jaman sekarang ini. Mengingat Adidas merupakan salah satu brand besar di industri pakaian olahraga, sudah tentu Adidas merupakan salah satu trendsetter dari sisi style. Dan kenapa saya bisa suka? Karena permainan warna dari sepatu-sepatu model terbaru tersebut mempermainkan warna-warna feminin : pink, putih, oranye, hijau muda dan jika ada warna biru pun adalah biru “gonjreng” dipadukan dengan oranye yang ga kalah “gonjreng”nya. Perpaduan permainan warna yang berani dan material sepatu yang berkualitas baik menjadikan totally sepatu itu keren.

Kemudian saya berpindah melihat-lihat ke toko pesaingnya, yang lebih trendsetter lagi yaitu Nike. Dan serupa dengan style yang diemban Adidas, Nike juga berani memadukan warna-warna terang atau bisa disebut dengan “warna neon” atau “warna skotlight” di berbagai produk mereka, tidak hanya untuk wanita tapi juga untuk target market pria.

Sekitar 1 tahun lalu saya pernah menulis di blog ini pula tentang fenomena pria metroseksual yang membuka peluang “pasar yang baru” untuk produk-produk kecantikan. Berbagai produk perawatan tubuh dan wajah khusus untuk pria mulai bertebaran di mana-mana. Pria-pria cantik mulai merasa perlu merawat kulitnya dan memastikan tubuhnya senantiasa wangi . Tapi apa yang saya lihat sekarang ini lebih dari sekedar fenomena pria metroseksual, tapi perubahan karakter segmentasi pria dalam mengkonsumsi berbagai produk, terutama produk lifestyle. Olahraga yang diidentikkan dengan “cowok banget” pun sekarang unjuk gigi untuk tampil “jreng” juga. Beberapa respon saat saya “ngetweet” tentang sepatu Adidas pink ini, semua yang komentar adalah laki-laki dan mereka tidak antipati tapi malah memberikan alasan kenapa sepatu “pink” ini keren, ya salah satunya tentu saja supaya tampil menarik di lapangan.

Dari dulu pria terkenal sekali dengan logic nya. Jika membeli produk yang diperhatikan adalah fiturnya. Dari dulu strateginya jika jualan ke target market pria, tekankan kecanggihan atau keunggulan fiturnya, karena “gengsi” mereka terletak di fitur. Tapi itu kan dulu, cowok-cowok jaman sekarang, terutama di kota besar sudah tidak bisa tergiur hanya karena fitur. Pesaing yang menawarkan fitur yang sama tapi dengan “style” yang lebih keren, sudah pasti mereka akan berpaling. Industri mobil, gadget, health center, produk elektronik; semua yang awalnya “industri laki-laki” kian memperhatikan “style” dalam produk-poduk yang dikembangkan, dengan pertimbangan bahwa “cool” is an important word when men buy products.

Sudah pasti hal ini berimbas tidak hanya di product development, tapi juga cara berkomunikasi dan cara berjualan dengan target market ini. Sebut saja Zara, Top Men yang cenderung berkomunikasi melalui context dibanding content. Apa yang mereka komunikasikan adalah “hasil output” kalau kalian pakai Zara, pakai Top Men, kalian akan jadi keren seperti model-model di poster. Nyaris jarang sekali kita melihat mereka mengkomunikasikan dari fitur produk seperti bahan pakaian, dll. Namun tentu dalam produk-produk lainnya fitur merupakan keharusan karena value dari produk ditentukan dari fitur, seperti mobil dan produk elektronik.

Sebut saja Samsung Galaxy SIII yang menghadirkan “peran ayah” dalam Video Commercialnya yang beredar di YouTuBe berikut ini. Fitur dikomunikasikan bersama dengan “hasil output” yang akan didapatkan saat memakai produk, keluarga harmonis, anak bahagia, dan berbagai “context” lainnya yang berusaha untuk menyentuh “hati” si pria.


Jadi,  jika Anda memiliki target market pria, terutama jika produk Anda berhubungan dengan lifestyle, saya punya 3 tips sederhana yang bisa Anda ikuti.

1. Pelajari sisi emosional pria
Target market pria tentu beragam dari sisi usia, geografis, latar belakang pekerjaan, dll. Pelajari segmentasi di industri Anda dan pelajari lebih seksama kelompok yang menjadi target market Anda. Cari tahu hal-hal apa yang penting bagi mereka, apakah keluarga, gengsi, status sosial, dll. Anda bisa melakukan pendekatan komunikasi dari hal-hal yang penting bagi mereka. Hal ini adalah salah satu strategi yang banyak dimanfaatkan dalam penyusunan konsep dan materi dalam periklanan.

2. Libatkan mereka dalam desain produk
Dalam menciptakan produk baru tentu Anda bisa saja menerka-nerka. Jika Anda punya “feeling” yang jitu, produk Anda akan sukses di pasaran, tapi jika tidak? Anda sudah habis di biaya investasi produk baru tersebut. Jika Anda ingin melakukan perubahan atau inovasi dalam produk kenapa tidak melibatkan target market Anda? Para pria-pria yang menjadi target market Anda, terutama apabila mereka memiliki passion di industri Anda, tentu mereka memiliki ide dan masukkan yang dapat bermanfaat. Tidak hanya produk-produk berteknologi tinggi seperti mobil atau barang elektronik, tapi restoran pun bisa melibatkan target marketnya dalam menentukan inovasi produk. Lakukan survey berupa kuisioner atau Focus Group Discussion untuk melibatkan konsumen Anda.

3. Jangan anggap remeh visual
Dengan semakin berubahnya karakter pria yang menjadi target market Anda tersebut, jangan main-main dengan visual. Semua elemen visual Anda bisa menjadi kunci target market Anda tertarik atau malah kabur. Perihal fitur memang penting ya, tapi jika Anda tidak mampu mengkomunikasikan “fitur” tersebut dengan visual yang menarik, lantaran pesaing Anda dengan cerdas mengemas visual sehingga sampailah “context” dari si produk, tentu target market Anda akan meninggalkan Anda. Dari bisnis keripik sampai mobil balap, jangan anggap remeh visual. Profesionalitas produk Anda akan dengan mudah dinilai oleh target market Anda melalui visual yang Anda tampilkan. Dari pencitraan melalui logo, warna-warna yang Anda pilih, desain poster/media komunikasi yang Anda buat, desain website Anda, mobil operasional, semua elemen visual hingga ke ID card/seragam karyawan Anda adalah jendela para target market menilai Anda. Jika dulu Anda bisa mentolerir karena target market Anda pria, jadi pria tidak peduli yang penting harga dan fitur, di masa sekarang dalam menghadapi karakter pasar pria yang kian berubah, sepertinya Anda harus berpikir dua kali untuk bertahan dalam kondisi tersebut.

Nah.. semoga jika Anda memiliki produk dengan para pria sebagai decision makernya, Anda sudah bisa mulai terbayang seperti apa perubahan yang terjadi pada mereka. Bagi para pria di luar sana, boleh minta input tambahannya, apa saja yang penting untuk dipertimbangkan para brand dalam mengelola target market pria metropolitan saat ini. Mari berdiskusi..


Sumber gambar: Ofshoes.net

Comments

Agus Iskandar said…
The article really hit us, men on the spot :) Yes, I admit we, men are getting a little more emotional now but I am curious whether women think that man who is getting a little emotional isn't "manly" enough. What do u think?
Hi gus, thanks for your feedback. Wah gw bisa jadi responden donk ya, karena gw cewek :)

Anyway menurut gw pribadi sih sama sekali tidak mengurangi "kecowokan" pria-pria sama sekali, karena yang dinilai bukan semata-mata penampilan kan, tapi prestasi, kepribadian, karakter, sikap and so on.

Jadi kalo David Beckham or yang lokal Bambang Pamungkas pakai sepatu bola warna pink, malah jadi makin keren :) dan pasti malah jadi tren.

Gw jadi inget waktu itu pernah ada klien gw (dia cewek) bilang "cuma cowok berani yang punya nyali pakai baju pink", karena suaminya punya dan pakai baju pink :) So.. it's kinda statement that women sometimes marked guys from how they have sense of fashion indeed :)

Hubungannya sama marketing, pelajari terus perkembangan "dunia tren itu di masing-masing target market", we'll never know what's next on the "trend" list :)

Hv a great day!
Roy Armstrong said…
kalo menurut saya seh, sepanjang saya bermain futsal, kalo saya lihat, warna sepatu itu tidak selalu harus sama/ sesuai dengan warna baju.

walau begitu warna sepatu tadi sangat berpengaruh pada gestur/gerakan orang ketika bermain futsal. bisa juga berkaitan dengan psikologis warna.

sepertinya ada perbedaan antara fashion sebagai pakaian sehari2 dan fashion dalam sport.

dan dalam sport ada kemungkinan seperti ini.
pria tetap merasa gagah walaupun memakai sepatu berwarna cerah.

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…