Posts

Showing posts from October, 2008
Membangun Perusahaan Keluarga
Sebuah Ringkasan Singkat



Membangun perusahaan dan menjalankannya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Itulah mengapa jauh lebih banyak karyawan dibanding pengusaha. Jika Anda tipe orang yang ingin hidup tenang dan terhindar dari banyak tantangan, sebaiknya Anda tidak menjadi seorang pengusaha, tetapi bagaimana jika kehidupan yang memilih Anda untuk menjadi pengusaha?

Mendirikan atau membangun sebuah perusahaan membutuhkan energi dan pemikiran yang besar, terlebih untuk menjaganya unggul di pasaran. Berbeda dengan kondisi sebuah perusahaan yang sudah established secara profesional, perusahaan keluarga mengalami berbagai permasalahan berkaitan dengan sistem dan organisasi, mengingat sang pendiri harus memulainya dari awal dan mengimplementasikan bahkan ilmu yang terkadang tidak mereka kuasai.

Secara garis besar, menurut The Jakarta Consulting Group terdapat 4 fase yang dilalui sebuah perusahaan keluarga untuk mencapai titik stabilitas atau bisa dikat…
Meluncurkan Produk Baru
No Time to Failure!


Beberapa hari yang lalu saya sempat berbincang dengan seorang rekan kerja sambil menunggu hujan reda. Karena hobi kami adalah makan, maka topic obrolan pun tidak jauh-jauh dari seputar makanan. Iseng-iseng, saya mencoba melemparkan issue mengenai makanan masa kecil. Benak kami pun melayang berusaha mengingat makanan-makanan apa yang sewaktu kami kecil menjadi favorite namun sekarang ini sudah tidak kami konsumsi lagi. Entah itu karena memang sudah tidak sesuai (sadar umur!  ), atau karena produk tersebut sudah tidak ada lagi. Kami masih ingat regenerasi makanan yang kami makan dulu. Kami masih bisa merasakan keantusiasan kami saat pertama kali produk x makanan berenergi katakanlah diluncurkan. Produk baru tersebut cukup menarik hati kami yang sebagai anak dari orang tua yang dua-duanya bekerja tidak mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan sarapan pagi kami. Saat itu kemunculan produk x seperti menjadi ‘dewa penolong’ bagi kami.

Obrolan pun m…
Halo Pemilik Brand Besar
Waspadalah!



Berawal dari ke-bete-an saya karena terjebak macet di sepanjang jalan Cihampelas akhir pekan lalu, saya iseng melihat-lihat sekeliling dan menemukan sebuah lampu nama sebuah outlet “Parijs Van Java”. Hhmmm….pikiran saya langsung melayang pada sejarah nama tersebut. Setahu saya, julukan Parijs Van Java yang diberikan kepada Kota Bandung dulu sejarahnya berasal dari Jalan Braga yang ‘disulap’ oleh beberapa orang Belanda (saya lupa pastinya siapa) menjadi daerah yang mirip sekali dengan kota Paris jaman itu. Entah apakah mereka saat itu sudah dapat meramalkan situasi Bandung puluhan tahun selanjutnya atau tidak, namun coba lihat kota Bandung sekarang ini. Siapa yang tidak menempatkan kota ini sebagai salah satu kota tujuan wisata belanja fashion? Lihat puluhan atau bahkan ratusan factory outlet, distro, butik, clothing, dan sebagainya yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Bandung, kota tempat saya lahir dan besar telah tumbuh menjadi benar-benar Pari…
Shell
Iklan Tanpa Basa- Basi



Pernah lihat iklan Shell yang terbaru? Itu lho yang ada adegan mobil tengahnya dipotong dengan menggunakan gergaji berbentuk bulat? Penggambaran secara ekstrim ketika sebuah mobil dibelah dengan gergaji listrik besar untuk kemudian memperlihatkan kondisi dan tampilan mesinnya. Iklan dengan durasi kurang dari 2 menit tersebut menurut saya sangat singkat namun padat dan jelas. Intinya “Shell melindungi mesin anda dan membentuk lapisan yang membuat mesin lebih tahan lama dan memberikan performa lebih baik”. Dalam iklan tersebut juga yang diperlihatkan adalah mesin mobil bagian depan, dimana bagian tersebut benar-benar mengkilap dan terpelihara.

Menarik, karena Shell mampu memberikan ilustrasi dimana orang akan mudah mencernanya dan yang pasti to the point. Langsung pada intinya, tanpa banyak menggunakan dramatisasi berlebihan. Menurut saya masih banyak TV ads yang formatnya terlalu bertele-tele dan tidak langsung pada intinya. Kalau dihitung-hitung, satu iklan …
Laskar Pelangi
Cerita, Publisitas dan Kesuksesan
Entah ada apa dengan film laskar Pelangi sampai saya harus menonton film ini dua kali dalam 3 hari, namun buat saya hanya ada kata luar biasa dengan beberapa makna yang meliputi benak saya setelah menontonnya.Luar biasa pertama, Saya melihat persis masa kecilhidup saya dalam cerita laskar Pelangi ini, kehidupan yang kampung yang sangat indah dan damai, dipenuhi canda tawa dan persahabatan yang tak pernah hilang ditelan waktu. Mungkin jika ada yang membedahkan secara signifikan bahwa dahulu Ayah saya cukup diberikan rezeki untuk membiaya saya sampai kuliah dan hidup dengan layak dan nama group kami yang terlalu modern pada saat itu familia rose child. Nama tersebut diambil karena kami bersembilan menyukai telenovela Gadis Pemimpi yang ditayangkan setiap jam tiga sore setiap hari. Sisanya yah kira-kira seperti laskar pelangi inilah, sekolah peot, main di tempat kotor, menyukai gadis cina di pasar (nah ini pengalaman pribadi), ikut cepat tep…
Buat Tukang Komplain
Mau Komplain? Silakan!



Saya yakin Anda pasti sering (yah setidaknya pernah lah) mengunjungi sebuah departement store, supermarket, atau restoran-restoran besar. Jika Anda perhatikan, beberapa tempat tersebut suka memajang papan yang berisi foto seseorang dan bertulisan “Manager on Duty”. Dulu saya sempat berpikir “Ngapain sih majang-majang yang begituan? Narsis amat!”. Padahal setelah saya ketahui, ternyata papan tersebut dipajang untuk membuat para pengunjung atau konsumen tahu siapa yang bertanggung jawab atas keberlangsungan kegiatan di tempat tersebut. Fungsinya? Pernah dengar ada orang yang mendapatkan ketidaknyaman atas sesuatu di suatu tempat dan berkata “Saya mau bicara dengan managernya!”, atau “Siapa sih managernya??!!”. Intinya, papan tersebut memudahkan konsumen untuk melakukan complain! (kasian bener ya tuh manager! He....he).

Pertanyaan saya selanjutnya adalah “kenapa harus manager yang terima-terima complain? Bukannya udah ada bagiannya sendiri?” Coba…
WWW.OPANG.ONBUK.COM
Nasi Goreng, Teknologi dan Marketing Strategi

Alamat website di atas bukan hanya cukup unik, namun Anda akan sangat terkejut bila mengetahui pemilik alamat website tersebut, penjual nasi goreng keliling di kompleks rumah saya. Gaya khan penjual nasi goreng keliling punya website? Apalagi kalo Anda baca salah satu copynya “resep bisnis jual 100 porsi nasi goreng per hari tanpa dukun” ha....ha, saya sendiri masih tidak habis pikir, hal terpikir oleh seorang tukang nasi goreng.Ok back to topik,apa ya kira-kira keistimewaan dari Nasi Goreng Mas Opang ini? Sebagian besar pernduduk daerah tempat tinggal saya pasti kenal dengan nama yang satu ini. Kalau dari segi rasa, ya bisa dibilang lumayan, walaupun tidak ada bedanya dengan nasi goreng yang mangkal di pinggir jalan (menurut saya loh, lain dengan testimonial konsumen lain tentunya). Tapi yang namanya orang mau beli nasi goreng MAs Opang ini pasti ngantri….lho kok bisa?Kan jualannya keliling?Ngantri dimana?Ya ngantri di r…
Belanja dan Hedonisme
Bukan Salah Bunda Mengandung
“hoyong jalan-jalan ka mol!” (pengen jalan-jalan ke mall!), celoteh ponakan saya yang baru saja datang dari Gunung Puntang dua minggu lalu. Belum sempat saya menjawab, terdengar komentar ibunya, “Entong ah, rek naon? Marahal diditu mah, jang nu beunghar!” (Jangan ah, mau apa? Disana pada mahal, buat orang kaya!). Hahaaa…saya hanya bisa tertawa kecil mendengar percakapan tersebut. Bukan karena tingkah mereka lucu, tapi karena menyadari dua hal. Pertama, anak berumur lima tahun yang tingggal di desa sudah tahu tentang mall. Kedua, sepupu saya (ibu anak tersebut) yang sudah beberapa kali saya ajak ke mall ternyata mempunyai persepsi sendiri tentang mall, bahwa mall itu produknya mahal, dan karena mahal itu artinya hanya orang kaya yang bisa berbelanja disana. Hhmm…menarik juga! Jika saya pikirkan lagi, memang ada benarnya juga pendapat sepupu saya tersebut. Mall, bagaimanapun juga berbeda dengan pasar-pasar tradisional seperti Pasar Baru a…
Kepuasan Pelanggan
Antara Harapan dan Realita



Pernah nggak kamu melihat iklan baru, baik itu di media cetak maupun elektronik dan kamu langsung tergoda untuk mencoba produk atau jasa tersebut? Kalau kamu bertanya balik pada saya, saya pasti akan menjawab “Sering banget!”. “Korban iklan’ kalau Ibu saya bilang sih. Tapi jangan tanya apakah saya sering ‘tertipu’ setelah mencoba produk atau jasa tersebut atau tidak, karena saya akan menjawab “Sering banget!” (juga).

Contoh, salah satu iklan Teh? Iklannya di televisi dengan konsep yang merakyat dan lagu yang ear cathing benar-benar menarik hati saya sebagai pecinta teh untuk mencoba (sstt...bahkan saya hapal lagunya lho!). Terbayang oleh saya teh tersebut pasti sangat nikmat dan memiliki aroma serta rasa yang khas dan berbeda. Namun ketika saya membeli dan mencobanya tenyata semuanya jauh dari bayangan saya sebelumnya. Bukan kecewa dan bukan karena rasanya tidak enak, tapi mungkin ini adalah masalah selera setiap orang yang berbeda. Saya terl…
Uwo Uwo
Lagu Bokap di Jaman Modern


Mungkin dalam tahun ini, iklan Telkom (Lokal) inilah yang membuat saya tersenyum dan geleng-geleng kepala, bagaimana tidak lagu yang dijadikan backsound iklan tersebut bener-bener JADUL dan lagunya bapak gua banget, belom lagi tampilan bintang iklan yang bener-bener dah, gaya noykap gua abis pas masih mudah. Sewaktu kecil dulu ayah saya suka sekali dengan lagu ini, sampai-sampai jika diminta menyanyikannya sekarang saya masih hafal sebagian besar lirik lagunya, yah iyalah secara bokap gua nyetel tuh setiap hari lagi pas gua masih belom sekolah.

Ok kembali lagi, perkembangan industri telokomunikasi seluler saat ini memang bisa dikatakan sangat luar biasa, dahulu jangankan handphone, pager ajah sudah jadi barang mewah untuk dimiliki, tapi sekarang coba saja liat, mulai dari tungkang angkot sampe penggangguran di penggir jalan hampir sebagian besar memiliki handphone dan hebatnya lagi kadang saya sendiri sampe geleng-geleng kepala melihat tipe handphone …
Image
Klisenya Sebuah Diferensiasi


Bagi anda para pebisnis atau yang telah berada dalam dunia pemasaran dalam jangka waktu yang lumayan, pasti sudah bosan dengan istilah diferensiasi. Lagi-lagi dalih untuk menjadi berbeda disebut-sebut sebagai kunci utama memenangkan persaingan dalam bisnis. Mungkin juga bagi anda yang adalah pelaku bisnis sempat patah hati dengan diferensiasi, di mana rasanya sih anda telah melakukan sebuah diferensiasi, tetapi ternyata anda belum juga menyalip pesaing anda, dan angka penjualan anda masih berjalan di tempat. Entah ada misteri apa dibalik diferensiasi ini, di mana begitu banyak pembicara marketing yang meng-elu-elu-kannya.

Pengalaman yang mungkin banyak dialami oleh orang lain sempat dialami juga oleh orang tua saya. Menghadapi usia pensiun, di mana sudah tidak lagi ada pemasukan untuk keluarga, orang tua saya sempat membuka sebuah toko. Kebetulan lokasinya waktu itu di Glodok, Jakarta. Pada waktu itu mereka menjual produk-produk kecantikan, seperti shampo, s…