Skip to main content

Strategi Add On untuk Meningkatkan Penjualan

Martabak Toblerone, Nutella, Kikat Green tea, Special Yakult Leci. Apa persamaan dari brand-brand di atas? Yah Brand tersebut ditangan pebisnis kuliner malah di jadikan "bagian produk/ add on" untuk dijual kembali dengan berbagai kreativitas. Martabak Toblerone misalnya, sekarang betul-betul sedang naik daun, di jakarta dan bandung ini merupakan salah satu martabak yang cukup digemari padahal harganya untuk ukuran dompet cukup luar biasa, di atas 100 ribu untuk 1 porsi martabak, dan pembeli ANTRI. Coba hitung sendiri berapa banyak tuh Toblerone yang dipakai kalo di beberapa kota di Indonesia Martabak dengan isi coklat Toblerone ini di jual? jangan-jangan jalur distribusi tradional yang biasa menjual coklat ini bisa kala salesnya kalo di compare 1 Store vs 1 tukang martabak, bisa puluhan kali lipat kali yah.

yakult juga sedang naik daun nih, di beberapa tempat makan besar seperti pizza hut sudah memasukan Yakulzt sebagai bagian dari pengolahan resep minuman mereka, ada berapa banyak pizza hut di Indonesia? Hitung sendiri deh, saya pun kebetulah di bandung punya beberapa cafe yang memasukan Yakuzt sebagai bagian dari olahan minuman dan bisa dibilang ordernya cukup besar harian untuk produk Yakult ini.

Sukro juga bahkan saya pernah lihat iklannya mencoba menjadi produk pendamping untuk makan bakso, terlihat mereka mencoba memposisikan produknya bisa digunakan dalam bisnis kuliner sehingga bisa menghasilkan demand dan konsumsi yang tinggi terhadap produknya dan masih banyak lagi brand yang mungkin secara "sengaja" atau "tidak sengaja" justru dikonsumsi dalam jumlah besar karena menjadi "olahan" dari produk-produk kuliner seperti keju Kraft yang jelas dari dulu sudah menggarap pasar "Warkop Indomie" dan berbagai kebutuhan kuliner lainnya.

Pertanyaan bagaimana Brand kita menjadi pilihan dan "olahan" dari Bisnis kuliner sehingga dari sisi sales bisa didongkrak dengan tajam? Yah blom tentu konsumsinya mengalahkan konsumsi rumah tangga tapi setidaknya demand produk akan lebih sustain jika industri yang dibangun oleh kuliner tersebut membesar seperti Warung Kopi yang menjual Indomie, coba saja hitung sendiri berapa banyak Indomie yang digunakan oleh warkop diseluruh Indonesia?

1. Berikan resep dan kreativitas pengolahan produk

Yah penting untuk Brand berkreatifitas dalam hal Usage produknya khususnya yang bisa menjadi olahan di bidang kuliner sehingga menimbulkan awareness bagi pebisnis kuliner untuk menggunakan produk brand tersebut. Misal saya berasumsi dulu Toblerone membuat edukasi usage produk bisa digunakan untuk membuat martabak, nah kemudian mereka approach pengusaha martabak untuk menjual martabak dengan produk mereka dan DUARR konsumsi meledak (Bener ga gini awalnya?) hehe, contoh ajah maksudnya ini kalaupun teryata inisiatifnya datang dari si Tukang Martabak yo wees.

Dari kreativitas dan komunikasi inilah market bisa terbentuk yang artinya ke depannya produk kita akan digunakan untuk menjadi bagian dari bisnis kuliner yang diajalankan oleh pengusaha kuliner tersebut, yah seperti Coklat Toblerone saya yakin konsumsi produknya akan semakin tinggi dengan menjadi bagian dari bisnis kuliner seorang pengusaha, tidak hanya martabak tapi juga bisa dijadikan banyak kreativitas seperti untuk roti bakar dan sebagainya.

Coba kita ambil es krim, peluang untuk menjadi Toblronce tentu luar biasa besar apalagi produk ini terkait sangat erat dengan bidang kuliner, sebagai contoh Es Krim Magnum misalnya, bisa khan menjadi menu roti bakar? bisa banget, nih saya lagi mau coba wkwk.

2. Product availability is a must
Nah ini juga sangat penting nih, saya juga kebetulan mencoba menggunakan beberapa brand yang untuk diolah menjadi menu, namun muncul masalah karena ternyata availabilty dari brand tersebut ternyata tidak kontinue, kadang barang ada kadang tidak dan untuk pebisnis kuliner this is bad for business sehingga akhirnya saya putuskan untuk tidak menggunakan brand tersebut.

Dalam bisnis kuliner, "ada barang" adalah PENTING, tidak lucu jika konsumen memesan sebuah menu namun menu tersebut lebih sering tidak ada atau dengan alasan yang paling umum "sold out", hebatnya lagi kadang Sold Out nya siang-siang ketika High Traffic, ini sih ngibul canggih ajah sebenernya, realnya yah lagi ga dijual dengan berbagai alasan lah tentunya. Kembali lagi ketersediaan produk, untuk menggarap market kuliner pastikan bahwa brand kita bisa men supply produk secara kontinue sehingga pebisnis kuliner juga punya kepastian yang jelas terhadap apa yang mereka jual.

3. Usage Experience is a must
Apa yang membuat saya menggunakan yakulzt di beberapa menu bisnis kuliner saya? yah to be honest karena mencoba produk Pizza Hut, dari pengalaman mencoba produk tersebut dan memang ternyata ok akhirnya kita tiru dan modifikasi penggunaan Yakulzt untuk kemudian dijual di cafe yang saya buat dan hasilnya? permintaan produknya cukup tinggi.

Di sini bisa dilihat bahwa Experince dalam hal ini mencoba adalah hal yang sangat penting untuk mendorong konsumsi dan penggunaan secara massiver terhadap sebuah Brand jadi mungkin beberapa hal perlu dilakukan oleh sebuah brand untuk merealisasikan hal ini seperti melakukan Brand Activation di Kuliner Event sehingga kesempatan untuk owner-owner bisnis kuliner dan konsumen untuk mencoba olahan produk dari brand tersebut ada yang tereaslisasi.

Saya tidak tahu kasus Toblerone dan Yakulzt di atas apakah ini inisiatif dari Brandnya untuk menciptakan demand melalui 3rd party seperti pebisnis kuliner atau terjadi karena memang hasil kreasi dari pebisnis kuliner tersebut, kalo memang dari brandnya mesti diacungin 4 jempol tuh brand managernya (2 jempol tangan dan dua jempol kaki) hehe.

4. Komunikasi & Komunikasi
Yah tentu ini menjadi sangat penting untuk membuat banyak orang mulai mencoba dan mengkonsumsi brand kita dalam berbagai variasi, paling efektif tentu melalui Brand Actioneagraphi karena bisa tercipta pengalaman dalam mengkonsumsi produk namun tidak terlalu massive sepertinya halnya iklan TV, namun jika memang secara geographis wilayah distribusi masih terbatas akan sangat tepat menggunakan media Brand Activation seperti event-event kuliner.

Yah contoh-contoh di atas memang saya fokuskan pada produk kuliner bagaiamana dengan non kuliner? Pada prinsipnya "Menjadi Bagian" bisa diaplikasikan dalam banyak bentuk bisnis, Intel Pentium misalnya menjadi bagian dari banyak brand komputer, MS Office menjadi bagian dari banyak produk komputer. Selamat mencoba

Image taken from. CulinaryBonanza


Artikel Populer yg Banyak di baca:

Ide itu Mahal Bung
Turning Your Idea Into Business
30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto
7 Bisnis Sampingan Dashyat Lewat Twitter
Hotel Internet Marketing, 5 Things is a must

Creasionbrand
(Creative Sales & Idea Consultant)

Comments

diori said…
Makasii ya mas.. mantab banget tulisannya.. saya baru 2 minggu buka kedai oancake jd terinspirasi.. saya mau ciba oancake magnum boleh ? Haha

Diori - pembaca setia creasionbrand
Hope Pancake

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

Nah edisi kali ini lebih pengen sharing soal tips-tips Creative Sales langsung yang bisa dipratekan, ga perlu teori, ga repot dan berbiaya “kecil” kali hehe. Kuncinya ketika mengeksekusi program-program di bawah harus ingat 3 W (WOW, WAW dan WUZZ), Wow begitu liat iklannya, Waw begitu baca detailnya dan langsung Wuzz menuju cafe/ Resto kita haha.

Semua ide saya rangkung dari semua tempat yang kebetulan pernah terlihat, terdengar, terbaca ataupun murni memang terinspirasi.  Sebetulnya ada sekitar 200 ide, Cuma 30 puluh dulu deh yang di posting, nanti dibuatkan ebook nya untuk di download. Selamat menikmati.

1. ½ Jam Discount
Buat program discount yang hanya berlaku setengah jam misal dari jam 5-5.30 dengan harga yang cukup ekstrim sehingga orang berbondong-bondong antri. Loh gimana ceritanya makanan ajah siap saji dalam setengah jam, nah itu urusan belakangan, yang penting rame dulu, biar orang pada antri-antri di jam 5, ntar buat kebijakan ajah yang udah pesan di jam 5 yah dapet disko…

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisn…

Push & Pull Marketing Via Online

Banyak sekali aktifitas-aktifitas marketing yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan Online, mulai dari aktivasi branding dengan promosi, reseller/ agen, kerjasama pihak ketiga dan lain-lain. Aktifitas penjualan online yang menjamur di Indonesia saat ini menjadikan atmosfer persaingan dan kompetisi yang ada dan berkembang di pasar menjadi sangat kompetitif, dan sering “sikut-sikutan”. Hal ini otomatis memaksa para pemilik brand untuk putar otak, untuk bagaimana caranya brand dan product yang diusungnya sebagai public trusted brand/ product yang secara langsung akan mempengaruhi penjualan

Strategi!! Ya, ini yang harus dilakukan, tapi jangan lupa action yang paling penting. Berbagai strategi bisa dilakukan dalam upaya menggaet pasar dan membangun brand awareness, ini menjadi hal yang sangat wajib bagi pemilik brand. Push & Pull Marketing Activities, ini dia yang akan coba saya bahas dalam artikel saya sekarang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam pada metode pus…