Brand-Inwash, Mencuci Otak Konsumen



P : “Pokoknya gua ga mau minum produk X, itu kan buat cowok. Nanti badan gua jadi berotot lagi!”.
L : “Lho kok bisa kamu mikirnya gitu, padahal dari kandungannya kan netral, fungsinya untuk membantu metabolism tubuh dan mempercecpat proses perbaikan sel, ga ada hubungannya dengan badan cewek jadi berotot, dari sisi biologis aja jelas beda hormon perempuan dan laki-laki. Perempuan gak akan bisa berotot kayak Arnold Swecheneger J gara-gara minum susu.
P : “Lha itu dibilangin diiklan dan tulisan yang ada di kemasan !”

Pembicaran ini terdengar saat saya sedang nge-gym antara sepasang perempuan dan laki-laki yang sedang ngobrol selepas mereka berlatih. Fenomena yang menarik, karena setahu saya produk yang sedang mereka bicarakan sebenarnya memang aman dikonsumsi baik perempuan maupun laki-laki, bahkan bagus buat mendukung aktivitas olahraga mereka.

Kalau memang begitu, kok bisa ya si perempuan di gym tadi bisa punya asosiasi yang demikian kuat, Sebenarnya ada 3 hal yang menjadikan celah buat Brand untuk bisa menanamkan asosiasi di benak masyarakat dan target marketnya, yaitu :

1.Masyarakat biasanya kurang memiliki pengetahuan yang dalam tentang banyak hal yang ada disekitar mereka. Dengan padatnya aktivitas dan berbagai informasi yang masuk mereka tidak punya waktu atau bahkan sengaja membatasi informasi yang masuk untuk dipelajari secara detil
2.Maunya disuapin dengan cerita dan malas menggali informasi, sehingga jika informasi yang didapat pertama kali dari sumber yang salah biasanya akan dijadikan pedoman dalam menjalani hal yang  berkaitan
3.Kecenderungan untuk percaya terhadap Brand terkenal sangat besar.

Lha setelah kita tahu potensi yang bisa kita manfaatkan dalam membangun asosiasi brand, selanjutnya ada beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk memanfaatkan peluang tersebut.

1.Bangun Brand image Anda
Semakin terkenal brand kita, tingkat kepercayaan konsumen terhadap apa yang kita ungkapkan semakin tinggi. Coba bersama-sama kita pikirkan pertanyaan ini : “sepatu nike mengeluarkan sebuah data tentang teknologi yang dimiliki sepatu terbarunya, bahwa sepatu dengan tipe x memiliki kemampuan meredam getaran akibat benturan dengan tanah saat berlari dan dapat mengurangi 80% kemungkinan cedera ada selain statement di atas ada juga sebuah perusahaan sepatu cap rusa mengatakan hal yang sama, menurut Anda siapa yang lebih dipercaya pernyataannya?

2.Pahami karakteristik dan kebutuhan dari calon konsumen Anda
Saat sebuah asosiasi ingin di bangun, tahap awal yang penting adalah bagaimana asosiasi tersebut dapat menjawab kebutuhan pasar. Tidak akan ada supply jika tidak pernah ada demand dari pasar!! Kita bisa mengembangkan sebuah asosiasi produk berdasarkan existing kebutuhan yang sudah target market kita sadari atau bisa juga dari kebutuhan yang tidak mereka sadari sebelumnya. Insight ini bisa kita dapat jika kita memang betul-betul memahami konsumen kita secara benar

3.Buat aktivitas komunikasi yang tepat dan konsisten
Terakhir jika kita sudah tahu betul apa yang diharapkan oleh konsumen dan secara produk kita sudah siap, saatnya menyebarkan berkomunikasi. Saat kita bekomunikasi ke targe market, gunakan bahasa yang tepat sesuai dengan karakter yang sudah kita pelajari sebelumnya. Karena penggunaan bahasa komunikasi yang salah akan menjadi blunder bahkan mungkin akan menghancurkan brand kita. Yang tak kalah penting komunikasi yang kita bangun ini haruslah dijankan secara berkelanjutan dan intensitasnya konsinten baik content maupun context nya.

Bagaimana para pemilik brand, siap mencuci otak target market mu ?

Comments

terbias said…
Keren.. Cuma dari dengar percakapan bsa ngembangin

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Push & Pull Marketing Via Online