Avenger, Iron Man Jualan Kebab


Shawarma....  hanya karena diucapkan oleh Tony Stark dalam film The Avenger, tiba2 kata-kata ini “menjelma” menjadi sebuah “magnet profit” untuk beberapa restaurant di Hollywood. Ya, bagi kita yang sudah menonton film “The Avenger” mungkin ada yang sadar atau “ngeh” pada saat Iron Man mengucapkan sebaris kata2: “Have you ever tried Shawarma? There’s a shawarma joint about two blocks from here” kepada Captain America pada salah satu scene nya. Sangat menarik menurut saya, bahkan yg lebih mengejutkan pada akhir film The Avenger setelah credit title nya muncul sebuah scene pendek dimana semua anggota Avenger tersebut bersama-sama dalam sebuah restoran menyantap makanan bernama Shawarma.



Shawarma sendiri merupakan sebuah makanan yang berasal dari Arab, terdiri dari irisan daging ayam, sapi, domba, kalkun, atau campuran dari semua daging2 tersebut yang disajikan berbalut dengan sebuah “pocket bread” atau lembaran mirip roti seperti kulit pangsit. Di Indonesia shawarma ini dikenal dengan nama Kebab.

Apa yang dilakukan oleh shawarma dalam film The Avenger ini telah kita kenal dengan istilah product placement dalam marketing, dimana penempatan/penyisipan produk dalam sebuah film, baik dalam bentuk visual maupun verbal. Product placement sendiri pada awalnya muncul untuk mengantisipasi konsumen yang sudah mulai jenuh dengan tayangan2 iklan pada televisi, saya sendiri terkadang juga melakukan switch channel ketika commercial break, bahkan di luar sana terdapat sebuah alat yang bisa “menyaring” tayangan televisi dari serbuan iklan. Maka untuk mensiasati konsumen/pemirsa yang enggan melihat iklan/tvc, dibuatkan sebuah strategi baru, product placement, dimana informasi ttg produk baik itu secara visual, maupun verbal di “placement”/ditempatkan ke dalam sebuah tayangan, baik itu berupa film, sinetron, ataupun acara televisi.

Tipe dari product placement ini juga bermacam-macam, secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian besar:

1. Visual
Visual disini dalam arti ditempatkan secara gambar, baik itu berupa banner, billboard, ataupun background sebuah tayangan. Atau bisa juga dengan membuat adegan dimana si aktor/aktris mengkonsumsi produk, sering kan pada saat menonton film atau acara Indonesian Idol misalnya, kita melihat scene yang memang dibuat si finalis memasak mie instan, atau menelpon saudara menggunakan HP maupun layanan sebuah provider,

2. Verbal
Secara verbal, inilah yang dilakukan oleh film Avenger ini, dimana tokoh Tony Stark mengajak Captain America untuk mengkonsumsi shawarma.

Namun, sebagai pemasar berikut beberapa hal yang harus dipertimbangkan pada saat melakukan product placement:

1. Target market film sesuai dengan target market film
Faktor ini sangat penting untuk diperhatikan karena walau bagaimanapun juga product placement merupakan sebuah bentuk komunikasi produk kepada target market nya, maka pemilihinan tema dan cerita film diusahakan harus sesuai dengan target market yg diinginkan. Contohnya apa yang dilakukan oleh WRP ketika melakukan placement pada film “Quickie Express”, salah satu adegan nya Lila (diperankan oleh Sandra Dewi) melakukan konsumsi WRP, personalisasi Lila sesuai dengan dengan personalisasi yang diinginkan oleh WRP (wanita dewasa), dan juga audience  film tersebut cocok dengan target yang dibidik oleh WRP

2. Disadari oleh penonton
Faktor ini yang seringkali dilupakan, product placement memiliki fungsi yang “mirip” seperti iklan, dimana peletakan informasi ttg produk dimasukkan didalam sebuah tayangan, tentu saja suatu bentuk tindakan tersebut sebaik nya memang di desain untuk disadari/diperhatikan oleh audience, dalam kasus Shawarma ini, hal ini menjadi sangat disadari oleh audience, terbukti dengan “booming” nya angka penjualan Shawarma di restoran2 Hollywood yang menjual makanan tersebut.

3. Kesesuaian tema cerita dengan produk
Tema cerita memiliki alur dan kemampuan untuk membentuk opini penonton, maka produk yang memiliki personalisasi/pencitraan tertentu mau tidak mau harus menyesuaikan dengan tema cerita yang ada. Maka untuk personalisasi tersebut harus mempertimbangkan kesesuaian tema cerita dengan produk, misalkan yang dilakukan oleh brand produsen kerudung Rabbani yang melakukan placement pada film “Ketika Cinta Bertasbih”, cukup sesuai karena dari tema cerita yang sangat Islami tersebut sangat sesuai dengan produk yang memang memiliki makna religius juga.

4. Penyisipan brand/ produk yg proporsional dan smooth
Kuncinya ada di experience, dimana cara mengkonsumsi produk menciptakan experience yang kuat pada saat dikonsumsi oleh aktor/aktris dalam sebuah tayangan, contohnya pada saat jam tangan Omega melakukan product placement pada film James Bond, dimana tokoh James Bond adl agen rahasia yang dalam melakukan pekerjaan nya membutuhkan pengaturan waktu (timing) yang tepat, maka memang terdapat sejumlah scene yang meng close up product, dan hal ini tidak menggangu kenikmatan penonton, karena memang alur cerita nya juga memungkinkan untuk melakukan zoom dan take pada product dengan jumlah yang cukup banyak sesuai dengan cerita yang dibawakan.

Sumber gambar: 
http://www.huffingtonpost.com/2012/05/08/avengers-shawarma-scene-i_n_1500762.html
http://cellophane-s.deviantart.com/art/Shawarma-Avengers-300354922

Comments

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Push & Pull Marketing Via Online