Posts

Showing posts from November, 2009

Menjadi Brand yang Kuat Butuh Proses

Sampai sekarang saya kadang masih berpikir bagaimana mulanya sampai suatu produk bisa diidentikkan dengan suatu brand. Maksud saya begini, sampai sekarang, masih banyak sekali kita temui orang yang hendak membeli air mineral berkata, “Bang beli Aqua botol donk 1!”. Saat si pedagang memberinya sebotol air mineral dengan merek B, si pembeli tersebut sama sekali tidak merasa terjadi “kesalahan”. Kenapa? Karena sebenarnya dia memang hanya ingin beli air mineral, dan secara sadar atau tidak, menganggap bahwa Aqua = air mineral, dan air mineral = merek apapun asal isinya air putih. Heheee! Lucu ya! Dan hal ini tidak hanya terjadi pada Aqua lho! Sebutlah Rinso (= detergent), Supermie (= mie instant), Chiki (=snack makanan ringan), dan masih banyak brand lain yang telah begitu melekat dengan jenis produk mereka.

Kalau dipikir-pikir, hebat ya! Saya pribadi merasa bahwa brand-brand tersebut telah menjadi brand yang sangat kuat dalam jenis produknya masing-masing (tentu perpektif yang bahas saat…

Marketing adalah Kepuasan Pelanggan

Pernah ada satu masa dimana saya, sebagai brand associate, merasa “stuck” dalam bekerjasama dengan perusahaan klien untuk memajukan bisnisnya. Jika sudah begitu, saya biasanya ‘berkonsultasi’ dengan salah seorang atasan saya di kantor (hehee…konsultan juga butuh konsultasi kadang-kadang!;p). Setelah mendengarkan cerita saya, dia berkata, “Untuk memahami dengan benar bagimana mengembangkan bisnis dan brand perusahan klien kamu, kamu harus benar-benar tahu dan paham dengan “ngolotok” (melekat dan mengerti sekali, Red.) dasar dari bisnis kita. Branding dan Marketing!”. Iya juga ya! Kadang saya melupakan hal-hal “kecil” yang ternyata “besar” seperti itu. Walaupun saya sudah ada di industry ini selama hampir dua tahun, tapi memang tidak ada salahnya (bahkan harus mungkin ya) saya membaca lagi apa itu marketing dan apa itu branding.

Ok, untuk langkah pertama, saya memutuskan untuk mencari-cari di rak perpustakaan kantor, dan saya pun menemukan dan mengambil buku berjudul “Marketing”. Baru m…

Pengikut yang Disukai Pasar

Agak sulit memang menciptakan suatu produk atau jasa yang memang sama sekali belum ada di pasaran. Apa yang tidak ada sekarang ini? Jika pun mau, yang bisa kita lakukan adalah memodivfkasi produk atau jasa yang sudah ada menjadi sesuatu yang berbeda, yang mempunyai value tersendiri yang berbeda dibandingkan produk atau jasa yang telah ada tersebut. Tidak perlu takut disebut pengikut, toh memang kenyataannya kita tidak selalu bisa menjadi pioneer kan? Well, bukan tidak bisa mungkin ya bahasanya, tapi belum bisa! Hehee! Lagipula apa yang salah dengan menjadi follower?

Banyak yang berpikir menjadi follower adalah sebuah tindakan “memalukan”. Lho, dilihat dari sisi mana ya? Dimana-mana sudah hukum alam dimana ada gula disitu ada semut. Apa semut yang baru mencium ada gula lalu jadi malu dengan semut yang datang lebih dulu terus mengurungkan niat untuk datang dan menikmati manisnya gula tersebut? Rugi amat! Memang dinilai tidak kreatif sih itu pasti. Tapi kata siapa akh menjadi follower at…

Cara Menangani Komplain = Kategori Perusahaan

Hal yang paling mempengaruhi keputusan pembelian atau bahkan loyalitas pelanggan terhadap sebuah produk atau jasa bukan saja hanya tergantung pada kualitas produk atau jasa tersebut, tapi juga dari sisi service atau pelayanan yang perusahaan berikan pada pelanggan. Yeah, saya yakin kamu semua juga mengetahui dengan pasti hal ini, tapi percayalah, tidak semua perusahan mengerti dengan benar seberapa pentingnya memberikan kepuasan pelanggan dari berbagai sisi terutama dari sisi kualitas produk atau jasa dan service perusahaan kepada pelanggannya.

Perusahaan kebanyakan lebih focus pada kualitas produk; bagaimana produknya bisa sesuai dengan ekspektasi pelanggan, bagaimana bisa terus berinovasi, dan lain-lain, tapi seringkali mereka “mengabaikan” service atau pelayanan sebelum, saat ataupun sesudah pelanggan melakukan pembelian. Padahal percaya atau tidak complain mengenai service peringkatnya jauh lebih tinggi dari produk atau jasa itu sendiri.

Saya dan pasangan pernah mengunjungi sebuah…

Kendalikan Mutu Jasa, Pelanggan pun di Tangan Anda!

Dulu, (dan mungkin masih sampai sekarang) orang-orang seringkali menganggap bahwa servis, jasa atau apapun istilahnya adalah sesuatu yang cenderung “abstrak”. Maksudnya, segala sesuatu yang berhubungan dengan jasa terlalu “kabur” untuk dilihat, dinilai, diukur, dikendalikan, dan sebagainya. Benarkah? Tentu saja tidak kan! Segala sesuatu itu pasti ada jalan untuk mengukurnya, untuk menilainya, bahkan untuk mengendalikannya.

Saya mau cerita dulu ya! Saya dan teman-teman di kantor termasuk orang-orang yang sering sekali menggunakan taksi saat akan bertemu dengan klien atau keluar kantor untuk urusan apapun. Bisa tebak brand taksi apa yang menjadi favorite kami? Hehee…tidak perlu saya sebutkan mungkin ya, kita sebut saja taksi A ! Yang jelas, brand taksi A tersebut adalah pilihan pertama yang ada di benak kami setiap butuh taksi. Bukannya kami tidak tahu brand taksi yang lainnya, tapi karena kami sangat puas saat menggunakan taksi A. Mutu atau kualitas jasa yang mereka berikan sangat maks…

Tak Ada Komunikasi Tanpa Seleksi

Pasti kita semua menjumpai atau dibombardir oleh ratusan bahkan ribuan iklan setiap harinya, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali (lebih parah kalau mimpi kita juga ada iklannya! Hehee!). Pertanyaannya adalah, seberapa banyak iklan yang masih bisa kita ingat di penguhujung hari? Sepuluh? Lima? Satu? Atau bahkan tidak ada sama sekali? Hehee…taruhan ya, kalaupun ingat banyak, belum tentu kita ingat betul pesan yang dikomunikasikan oleh iklan tersebut!

Ever wonder why para agency atau advertiser itu harus menyisihkan waktu khusus untuk memikirkan dan mendiskusikan bahkan sampai berdebat saat merumuskan komunikasi yang akan disampaikan kepada target? Bukan alasan sesuai keinginan klien atau agar memenangkan pariwara award semata tentunya (yah walaupun kadang jadi pertimbangan juga! Hehee!), tapi lebih pada pemikiran komunikasi seperti apakah yang tepat bagi target market dan komunikasi macam apakah yang dapat berkesan hingga diingat oleh target market dalam waktu yang panjang? Per…

Pintu darurat menghadapi perang harga

Kondisi perekonomian yang kiat tidak menentu banyak mempengaruhi pola pemasaran suatu produk. Hal perekonomian tersebut cukup signifikan dalam mempengaruhi daya beli para konsumen. Apa dampak dari menurunnya daya beli tersebut? Tentu saja preferensi konsumen terhadap produk dengan harga murah lebih tinggi dibandingkan dengan produk dengan kualitas tinggi. Kecenderungan pergeseran ini tidak hanya terjadi pada segmen konsumen menengah hingga menengah bawah, tetapi juga pada konsumen menengah atas.

Di awal abad 21, sebelum terjadinya krisis global, produk dengan kualitas tinggi, mewah dan premium menjadi tonggak perusahaan mengeruk keuntungan. Tetapi dalam kondisi perekonomian dunia yang sedang bergejolak, harga menjadi salah satu elemen pertimbangan yang kuat dalam keputusan pembelian konsumen.

Apa yang harus kita lakukan sekarang dalam menghadapi kondisi tersebut? Apakah brand yang selama ini dibangun dan menawarkan value yang begitu tinggi bagi konsumen harus kita korbankan demi menye…

Bisnis Unpolular yang Menggiurkan

Banyak dari teman-teman saya yang memutuskan untuk berbisnis membuka suatu usaha. Macam-macam jenis usaha yang mereka geluti, mulai dari bisnis distro, aksesories perempuan, out bond, sampai catering. Senang sekali rasanya melihat mereka begitu semangat, tekun dan ulet dalam mengembangkan bisnisnya. Banyak dari mereka yang sukses tapi banyak juga yang terpaksa harus gulung tikar dan menghentikan bisnisnya. Sayang ya! Tapi itulah bisnis! Kemauan dan minat saja tidak cukup untuk membekali amunisi kita dalam “berperang” di dunia bisnis. Ada banyak hal yang harus kita pikirkan bahkan sebelum kita memutuskan bisnis apa yang akan kita geluti.

Memang menyenangkan melihat bisnis popular yang bisa begitu mudah dan banyak menghasilkan keuntungan, tapi apakah bisnis seperti itu worthed untuk kita masuki? Salah-salah jika kita tidak “kuat”, maka belum apa-apa kita akan terlibas oleh para pebisnis yang sudah eksis atau bahkan telah merajai bisnis tersebut terlebih dahulu.

Saya pernah membaca sebua…