Kerennya ABG jaman sekarang...


Karakteristik kelompok ABG memang sangat menarik untuk diperhatikin, bukan hanya keinginan mereka yang beragam, tapi juga karena kelompok ini tergolong “baru” terbentuk dan memiliki pengaruh yang sangat besar sekali terhadap konsumsi merek secara keseluruhan.

Mengapa dikategorikan baru? Istilah dan kelompok ABG itu sendiri terbentuk sejak arus informasi terasa lebih terbuka luas, dibandingkan era sebelumnya. Di mana online seperti membuka mata di pagi hari dan mencari arti kata yang dulu dilakukan di kamus menjadi tinggal beberapa detik saja. ABG menjadi kelompok yang sangat sulit dipahami sekaligus yang sangat dicari oleh pemasar.

Mengapa sangat besar pengaruhnya terhadap konsumsi merek? Mereka terletak pada peralihan antara anak kecil dan remaja, di mana posisi mereka sebagai anak-anak sangat didengarkan oleh orang tua mereka, di mana konsumsi merk rumah tangga ditentukan oleh anak-anak (dan iklan yang mereka lihat di TV). Di sisi lain, mereka sudah mulai memiliki pengaruh yang besar dalam mempengaruhi tidak hanya orang tua mereka, tetapi teman sebaya mereka dan bayangkan berapa keluarga yang terpengaruh berikutnya?!!

Kemarin sewaktu saya berjalan-jalan di supermarket (seperti biasa saya senang memperhatikan gelagat konsumen terhadap merk), banyak keluarga yang sedang berbelanja, dan tidak sedikit dari yang saya lihat, yang memasukkan barang ke keranjang adalah anak mereka dengan usia ABG, dari menentukan sereal pagi yang mereka makan untuk diri mereka sendiri “Nga.. saya nyarinya Simba Poppies bukan yang itu!” atau sampai kecap untuk ibunya “Mahh.. sedap aja mahh.. sedaaapppp!” Coba saja kalau anda iseng ke supermarket perhatikan gejala tersebut.

Siapa sebenarnya para ABG ini dan seperti apa karakter mereka? Selama bertahun-tahun belakangan ini, sepertinya kelompok ABG tidak asing lagi bagi kami, karena salah satu klien kami yang memegang awareness nomor satu di produk retail fashion ABG, membuat kami mempelajari karakteristik mereka dengan tidak main-main. Hanya saja selama kami sering melakukan interaksi yang sangat dekat dengan mereka, perubahan cukup signifikan pun terjadi. Dulu para usia ABG ini memiliki pola pikir yang sederhana, tidak sekompleks sekarang, dan tentu saja arus informasi yang sangat deras itu membuat mereka semakin “pintar”. Saya sempat kaget beberapa hari yang lalu sewaktu membuat janji dengan salah seorang ABG untuk diinterview mengisi rubrik bulanan klien kami, dan saya menjelaskan prosedur pengisian rubrik tersebut, yaitu salah satunya mereka akan kami interview untuk menjawab beberapa pertanyaan. Dengan santainya ABG tersebut menjawab “Wah... pertanyaan apa dulu nih, bisa kasih petunjuk ga? Kalau susah-susah saya ga mau ah!” walahhh.. kontan saya agak kaget mendengarnya.. buset ABG jaman sekarang, keren amat jawabnya kayak artis kondang! Haha lucu juga yah... tapi hal tersebut membuat saya sadar, bahwa ABG jaman sekarang memang jauh lebih kritis.

Berkaitan pula dengan pengetahuan mereka terhadap merk. Mereka sudah sangat aware dengan yang namanya promosi, mereka dengan sigap (tidak usah diminta orang tua) sudah bisa memilah-milah mana yang benar dan mana yang buruk. Merk mana yang terpercaya dan patut mereka konsumsi dan merk mana yang beriklan bohong-bohongan belaka. Itulah sebabnya juga pelaku selular di kalangan ABG cukup kewalahan melakukan berbagai kampanye iklan, lantaran konsumennya tidak bergerak kemana-mana.

Bicara mengenai hirarki sosial, ABG terbagi menjadi beberapa golongan :

Trendsetter
Sudah sering dengar istilah ini kan pastinya. Yup! Trendsetter adalah mereka yang cenderung memiliki kemamuan keras, tidak mengikuti tren dan ingin menjadi lebih berbeda dari orang lain. Mereka adalah orang-orang yang berhati keras, cuek dan sedikit atau bahkan nakal sekali. Mereka memiliki nyali yang tinggi untuk keluar dari kemajemukan teman-teman sebaya mereka. Trendsetter inilah yang dicari media dan siap untuk mengatakan pada dunia siapa mereka dan apa yang mereka sukai atau tidak sukai. Tapi trendsetter memiliki kecenderungan tidak berkelompok atau terkesan terpisah dari kelompok kebanyakan. Mereka memilih bersikap individualis didukung karakteristik mereka yang keras.

Pembujuk
Pembujuk adalah kelompok yang mengambil keuntungan dari trendsetter. Para pembujuk ini mengikuti apa yang menarik dari para trendsetter dan menularkannya kepada banyak orang. Sebenarnya siapa yang biasa kita anggap sebagai trendsetter di masyarakat adalah sebenarnya para pembujuk ini. Seperti contohnya adalah para selebriti atau kelompok gaul di satu sekolah, mereka adalah para pembujuk. Para pembujuk bersifat jauh lebih sosial dibanding trendsetter, sehingga mereka banyak ditiru oleh orang-orang. Tapi Pembujuk tidak pernah menjadi orang yang melakukan pertama kali, karena mereka tidak memiliki nyali untuk mencoba hal yang baru.

Follower
Adanya pembujuk, tentu saja didukung dengan banyaknya follower. Jika anda sering menonton serial atau film ABG, pasti di sekelompok gank remaja putri ada yang perannya menjadi follower, dan pasti jumlah nya lebih banyak dari Pembujuk. Follower ini adalah yang jumlah nya paling banyak di antara kelompok hirarki sosial lainnya. Follower ini adalah orang kebanyakan yang ada di mana-mana. Terutama di mal! Follower ini adalah orang-orang yang memakai rompi warna warni dan short pendek (walaupun kaki mereka pendek), karena para pembujuk melakukannya. Follower tidak pernah mencoba hal yang baru, mereka sangat mencintai tren dan senang menjadi identik dengan yang lainnya.

Refleksif
Orang-orang di kategori ini adalah yang sering diejek “freak” di sekolah. Mereka mati-matian ingin bergabung dengan kelompok, tapi ternyata tidak. Mereka jarang mengikuti tren fashion dan jarang keluar rumah. Seperti Follower mereka tidak pernah melakukan gebrakan baru, dan sibuk mencari penerimaan sosial.

Dari penjabaran hirarki sosial yang ada di kelompok ABG tersebut, anda bisa memilah-milah di mana produk anda tepat untuk ditempatkan. Ada banyak produk yang diciptakan bagi para trendsetter, ada bagi Pembujuk, Follower dan Refleksif. Jangan sampai anda salah menempatkan produk, dan anda juga perlu sangat berhati-hati dalam menyampaikan bentuk komunikasinya, karena bahasa antar kelompok tersebut berbeda. Jangan berbicara sesuatu yang inovatif kepada para follower, tapi berbicaralah sesuatu yang trendi kepada mereka. Jangan beriklan tentang produk yang dipakai di mana-mana kepada para trendsetter, karena mereka tidak akan mau memakainya karena so not original!

Sama seperti yang kami lakukan terhadap brand ABG yang selama ini kami tangani, kami selalu fokus pada kelompok Pembujuk untuk memasarkan produk baru, dan kelompok Follower pada regular items. Seru kan mempelajari para ABG jaman sekarang ini? Selain seru pastinya juga membuka peluang pasar yang sangat besar. Dengan karakteristik mereka yang memiliki lebih banyak kekuatan personal, lebih banyak uang dan lebih banyak perhatian tercurah pada mereka dibanding generasi manapun sebelumnya, mempengaruhi pembelanjaan uang sampai 600 milyar dolar per tahun dan mempengaruhi 60% dari semua keputusan pemilihan merek oleh orangtua mereka. Bukan hal yang mengejutkan jika mereka diterpa sekitar 4.000 iklan per tahun. Angka yang membuat para pebisnis semakin bersemangat untuk menggarap mereka. Bagaimana dengan anda?

Comments

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Push & Pull Marketing Via Online