Aug 12, 2011

Criminal Marketing



Minggu lalu, timeline twitter saya dipenuhi dengan beberapa komentar yang membahas sinetron Indonesia. Yah.. sebagian besar dari komentar2 tersebut memang bernada negative. Tidak terlalu menyukai kualitas dari acting para pemainnya dan juga alur cerita yang mudaj sekali ditembak ending nya. Hmmmm… tapi mari kita tidak menambah pembahasan negative untuk ‘produk ‘ tayangan televise yang cukup disukai di Indonesia ini. Saya lebih tertarik untuk membahas “sinetron” ala luar negeri, ya.. yang saya maksud dengan sinteron ala luar negeri adalah “serial” yang jika dihitung jumlahnya cukup banyak, dan terbagi dalam beberapa “genre”. Untuk kali ini saya ingin membahas salah satu serial yang sebenarnya menjadi favorit saya, yaitu CSI: Crime Scene Investigation.

Sesuai namanya, jika kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia, serial ini berkisah tentang kisah seputar divisi forensik, yaitu penelitian yang menyelidiki dan menarik kesimpulan penyelesaian sebuah kasus melalui bukti-bukti fisik, baik itu sidik jari, DNA, golongan darah, dll. Serial yang di buat oleh Anthonny E. Zuiker ini awalnya hanya terdiri dari 1 buah serial, yaitu CSI yang bersetting lokasi kehidupan malam Las Vegas, tentu saja juga berlatar belakang kehidupan orang-orang di Las Vegas. 

Sampai saat tulisan ini dibuat CSI: Las Vegas sudah sampai pada Season 11, dimana setiap season nya terdiri lebih dari 20 episode. Bahkan karena secara rating cukup bagus, sampai-sampai serial ini dibuat spin off nya, yaitu CSI: Miami dan CSI: New York, yang saat ini juga sudah sampai dengan season 9 (untuk CSI: Miami) dan season 7 (untuk CSI: New York).

Secara garis besar CSI memang “memotret” kisah tentang polisi yang juga berperan menjadi peneliti, bagaimana cara mereka bekerja, metode dan analisa seperti apa yang mereka lakukan sangat lengkap dan mudah dipahami bahkan oleh orang awam seperti saya. Nah pertanyaan kemudian kok menarik dan laku yah? (ya saya berasumsi laku tentunya bila melihat Spin off dan jumlah seasonnya yang luar biasa lama). Coba yuk kita diskusikan dari sudut pandang marketing.

1.   Pendekatan yang unik (Differentiation)
Dalam membuat dan memasarkan sebuah brand terkadang kita perlu untuk mengambil sudut pandang yang cukup signifikansi berbeda dari brand yang sudah ada di pasar. Begitu juga yang di lakukan oleh creator CSI ini, disaat sebagian besar serial mengambil pendekatan drama, kepolisian, dll, sang creator menggabungkan peran kepolisian dan forensik. Sebuah pendekatan yang unik menurut saya karena saat itu belum ada yang bercerita penyelesaian kasus kejahatan ditarik dari sudut pandang forensik. Yah walaupun memang cukup ribet memahami istilah-istilahnya hehe.

2.    Tema yang cukup fokus (Single Message)
Jika ingin brand bertarung di sebuah “kolam” besar, maka untuk merebut perhatian kita butuh pembedadan konsisten melakukan perbedaan yang kita miliki. Saya kira serial ini sangat fokus dan konsisten untuk menjada sudut pandang dari forensic, sehingga dia sangat fokus dan dapat meningkatkan keterikatan penonton setia nya untuk selalu menunggu-nunggu kelanjutan dari serialnya.

3.     Alur cerita yang tidak dipaksakan memanjang (Content)
Saya kira hal ini sangat penting untuk dicermati, mengingat terkadang demi kepentingan bisnis jangka panjang, sebuah serial yang cukup sukses seringkali dibuat lebih panjang agar dapat meraup keuntungan lebih banyak tanpa memperhatikan kualitas cerita nya. Saya kira CSI cukup cermat untuk tidak membuat cerita nya terlalu memanjang. Di beberapa episode memang ada yang bersambung dan juga ada beberapa kasus yang menggantung, namun biasanya tetap akan diselesaikan kasus nya, dan tidak dibiarkan menggantung terlalu lama

Nah balik lagi bagaiamana dengan serial/ sinetron di indonesia? (ngomong-ngomong sama ga sih antara serial dan sinetron istilah di indonesia?).

Creative Sales Copyright

Sumber gambar:
buddytv.com 

No comments: