Nov 11, 2010

Di Belakang SOP yang Hebat, Pasti Ada Manusia yang Lebih Hebat

Hari itu Senin pagi tanggal 22 Desember 2007, ketika saya dalam perjalanan menuju kota Solo. Terjadilah sebuah dialog yang mengalir di atas bus EKA jurusan Jogja-Surabaya via Solo, seperti berikut ini:
“Mas, ada uang pas ?”
“Ga ada, Pak”.
“Cari dulu dech”.
“Bener, ga ada”.
“Kalo gitu, Anda turun di Janti. Ikut bis belakangnya ini”
Saya ga bisa jawab apa-apa. Sampai di agen bus EKA di Janti, saya pun turun dengan perasaan sangat kecewa. Selain itu, saya jadi penasaran, bagaimana mungkin manajemen PO. EKA memiliki kebijakan sesadis ini, mengusir penumpang gara-gara tidak membayar dengan uang pas.

Saya pun duduk manis di ruang tunggu agen Janti, menunggu armada PO. EKA berikutnya yang datang jam setengah 8. Sesuai jadwal, akhirnya bus pun datang. Dari sisi waktu, boleh juga bis ini, on time. Tapi, saya masih belum habis pikir dengan kebijakan kondektur yang “membuang” saya di bus sebelumnya. Saya pun segera naik ke atas bus tersebut, dan duduk dengan manis di kursi yang tersedia. Tak lama kemudian, pak kondektur menghampiri saya.
“Turun mana, Mas?”
“Solo, Pak”. Uang 50 ribuan saya sodorkan ke pak kondektur.
“Waduuh, uang pas aja, Mas”.
“Ga ada, Pak”.
“Kembaliannya, nanti pas turun di terminal ya”.
Di balik tiket, kondektur menulis  angka 41.000. Artinya, saya masih punya piutang 41.000 yang bisa diambil nanti, pas turun di terminal. Saya pun menuruti solusi pak kondektur, daripada di usir lagi.

Dari kisah nyata yang saya alami di atas, saya belajar mengenai service atau layanan dalam sebuah bisnis. Untuk memastikan Service atau layanan bisnis berjalan baik, ternyata tidak cukup  dengan memiliki  Standard Operating Procedure (SOP) yang bagus. Lebih dari itu, sebuah layanan harus didukung oleh “orang” yang menjalankannya. Seperti kejadian saya dengan layanan PO. EKA, salah satu perusahaan bus yang kabarnya memiliki pelayanan terbaik. Saya kurang tahu SOP manajemen PO. EKA ketika tidak ada uang kembalian, tapi saya yakin, apapun yang kondektur lakukan adalah keputusan pribadinya dalam menerjemahkan SOP yang ada.
Bagaimana menurut anda?

(Smber Gambar: standardoperatingprocedure.org)

Berapa Rupiah yang Terbuang Sia-sia dari Biaya Iklan Anda?

Apakah Anda pernah mengeluarkan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk memasang iklan? Dan Anda tidak yakin berapa rupiah penjualan yang Anda peroleh dari iklan tersebut? Jangan teruskan kebiasaan buruk memasang iklan tanpa memperhitungkan hasilnya ini. Hanya dengan menguji dan mengukur efektivitas iklan, Anda bisa memaksimalkan hasil dari iklan yang Anda pasang.

Tes dan ujicoba iklan, bisa kita lakukan dengan menguji naskah iklannya, judul iklan, format iklan atau tempat dan media beriklan. Dengan melakukan tes iklan , kita bisa mengukur angka penjualan atau tingkat respon pembaca. Dan kita bisa mendapatkan format atau rumus iklan yang paling efektif. Dengan menggunakan format dan metode iklan yang sudah teruji keberhasilannya, akan meningkatkan kesuksesan iklan berikutnya.

Lalu, bagaimana caranya ya? Salah satunya, dengan menciptakan iklan yang memungkinkan respon langsung dari audience, atau biasa disebut Iklan Respon Langsung. Dengan melihat respon dari pembaca iklan, tentu sangat mudah menghitung berapa banyak iklan yang terbaca. Atau dari mana saja, datangnya respon iklan kita. Bahkan, kita bisa menciptakan beberapa versi iklan untuk menjual produk yang sama. Misal, iklan versi A dipasang di koran X. Iklan versi B dipasang di koran Y dan iklan versi C dipasang di koran Z. Kemudian, bandingkan tingkat respon dari 3 versi iklan yang kita buat. Dari hasil tes iklan ini, kita bisa mengetahui judul iklan seperti apa yang paling berhasil menarik minat pembaca. Gaya tulisan seperti apa yang paling tepat digunakan.

Kasus nyata yang pernah saya lakukan, yaitu program iklan sebuah toko buku Islam di Solo. Suatu waktu, toko buku menyelenggarakan program diskon selama 1 bulan. Untuk mengiklankan program ini, saya mengunakan brosur ¼ folio dan spanduk rentang. Saya memanfaatkan brosur sebagai media Iklan Respon Langsung. Pada brosur, ditulis “ GRATIS Souvenir Cantik untuk 10 Pengunjung Pertama, dengan Menukarkan Brosur ini “. Nah, saya bisa melihat efektivitas iklan dari pengunjung yang datang ke toko buku untuk menukarkan brosur dengan souvenir. Bahkan saya bisa tahu darimana pengunjung ini mendapatkan brosur tersebut, karena saya menulis kode untuk setiap tempat penyebaran brosur.

Masih mau buang-buang uang untuk mengiklankan produk Anda?

(Sumber Gambar: chrisandpammy.com)


10 Rahasia tentang Konsumen Anda

Sudah pernah nonton film What Women Whant-nya Mel Gibson? Film produksi tahun 2001 itu,mengisahkan seorang Creative Director di salah satu biro iklan di New York yang bisa “mendengar” kata hati wanita. Nah, setelah menonton film itu, saya jadi berpikir, pasti semua orang yang bekerja di dunia pemasaran ingin memiliki kemampuan itu.

Salah satu rahasia bagi seorang pemasar yang belum terungkap hingga saat ini adalah keinginan konsumen yang sebenarnya. Produk seperti apa yang mereka suka, apa yang tidak mereka sukai dari produk kita, berapa harga yang mereka harapkan dan banyak rahasia lain yang tersimpan rapat di benak mereka. Berikut ini beberapa hal yang bisa sedikit menguak tentang keinginan konsumen yang perlu Anda ketahui.

1. Kebanyakan orang menyukai kejutan, karena akan menciptakan perubahan pada rutinitas kehidupan mereka. Jadi, pastikan ada kejutan istimewa untuk pemesanan produk Anda.
2. Kebanyakan orang, ingin hidup lebih mudah. Jadi, sederhanakan cara pemesanan dan cara menggunakan produk Anda.
3. Kebanyakan orang menginginkan rasa aman. Beritahu konsumen, bahwa Anda memiliki sistem pemesanan yang aman dan terjamin.
4. Kebanyakan orang menyukai pujian terhadap prestasinya. Ucapkan sedikit pujian kepada calon konsumen Anda.
5. Kebanyakan orang, penasaran dengan hal yang akan merubah gaya hidupnya. Gunakan kata-kata yang membuat pembaca iklan Anda penasaran.
6. Kebanyakan orang, ingin berinventasi untuk masa depannya. Lebih baik menulis “ Investasikan uang Anda dengan produk ini…“ daripada “ Beli produk kami…”.
7. Kebanyakan orang menginginkan produk atau model terkini. Jelaskan kepada pembaca, bahwa produk Anda adalah produk terbaru di saat ini.
8. Setiap orang, pasti ingin mengatasi permasalahannya. Tuliskan masalah mereka dan tunjukkan bagaimana produk Anda bisa menyelesaikan masalah tersebut.
9. Kebanyakan orang, ingin membahagiakan orang di sekelilingnya. Tunjukkan bagaimana mereka akan membahagiakan orang di sekelilingnya dengan membeli produk Anda.
10. Kebanyakan orang, ingin mengatasi penghalang dalam mencapai tujuan hidupnya. Tunjukkan apa saja yang bisa mereka raih dengan produk Anda.

Nah, dengan mengetahui sedikit rahasia konsumen di atas, semoga Anda bisa memberikan program pemasaran yang tepat sasaran dan lebih mengena untuk konsumen Anda. 

(Sumber Gambar: http://radiotheater.blogspot.com)

Satu Ide, Beragam Warna

Bajak-membajak ide di dunia kreatif, itu sudah biasa. Praktek pembajakan ini tidak hanya di tataran ide, bahkan merambah ke brainware alias si pemilik otak pencetus ide. Ga heran, tingkat turn over karyawan di perusahaan kreatif, melonjak tajam. Contoh nyata, di dunia periklanan. Seorang Art Director atau Copywriter yang menangin award, namanya bakalan melejit. Jadilah, tawaran kerjaan datang dari mana-mana. Walhasil, dalam setahun bisa pindah 2 sampai 3 biro iklan.

Fenomena bajak membajak ide ini, terjadi pula di perusahaan yang dulu saya pernah bekerja di sana, dengan core bisnis penerbitan buku. Suatu waktu, perusahaan membuat katalog edisi 1 tahun yang buat secara serius dengan kemasan lumayan lux. Di cover, terpampang tagline Brand Lokal Rasa Global. Menurut saya pribadi, klise banget, karena sudah banyak yang menggunakan dan sedikit over promise. Tapi, secara eksekusi, keren juga siy...

Beberapa hari kemudian, rekan kerja bilang, ada penerbit buku pesaing yang niru tagline kita. Dipasang di katalog pula, jadi keliatan banget me too-nya. Meski sudah di utak-atik jadi Buku Global Serasa Lokal. Sayangnya, tampilan catalog tersebut, cukup jauh dibawah catalog yang ditiru. Jadilah, saya teringat adagium There is Nothing New Under the Sun. Intinya, ga ada yang baru di dunia ini, termasuk juga ide atau gagasan kreatif. Kalo hari ini kita menemukan sebuah ide brilian di benak kita, jangan kaget kalo suatu hari nemuin ide yang sama muncul dari belahan bumi lain. Ide kita telah dijiplak mentah-mentah? Belum tentu, Bos. Kok bisa ya, ada dua ide yang sama dalam satu waktu? Bisa banget lah. Namanya juga manusia yang serba terbatas. Termasuk kemampuan kreasi imajinasi otak kita.

Untuk menciptakan satu karya kreatif, ide saja, tidak cukup. Perlu keterampilan untuk mengolah ide tersebut menjadi sebuah produk akhir. Satu ide, bisa jadi macem-macem tampilannya. Semua orang bisa saja punya ide yang sama. Tapi, kemampuan masing-masing orang lah yang menentukan hasil akhirnya. Di dunia periiklanan, keterampilan ini biasa disebut crafting. Berbekal pondasi ide cerdas dan finishing dengan craftmanship handal, bakal menelurkan karya iklan yang luar biasa.

Pernah ikut kuliahnya dosen yang membosankan banget sampai kita tertidur pulas di kelas ? Trus, di lain waktu, mendengar isi kuliah yang sama di bawakan dosen favorit dan kita menikmatinya? Satu ide, beda cara penyampaian, ternyata beda juga hasilnya ya.

Jadi, ide boleh sama, tapi sangat mungkin menghasilkan karya yang berbeda. Kalo harus jadi nomor dua, percantik eksekusinya, harus lebih keren dari yang kita tiru. Sudah niru, ancur pula hasil akhirnya? Mending, ke laut aja...

(Sumber Gambar: http://onyeandina.tumblr.com)

Aug 27, 2010

CSR, penting yah?

Beberapa tahun belakangan, di negara kita ini seperti sedang keranjingan CSR, yaitu singkatan dari Corporate Social Responsibility. CSR awalnya berangkat dari konsep usaha pengelolaan stakeholder oleh si perusahaan yang menjadi bagian pula dalam GCG (Good Corporate Governance) mereka. Awalnya pula bahwa CSR dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan lingkungan sekitar agar kembali berdampak positif terhadap sustainability perusahaan. Namun kesini-kesini bisa jadi yang namanya CSR dilatarbelakangi oleh berbagai tujuan yang berbeda. Apabila kita perhatikan berbagai kegiatan CSR perusahaan-perusahaan sekarang ini dibedakan menjadi 3 tujuan yang berbeda, seperti dijelaskan secara singkat berikut :

CSR untuk Murni Sosial

Ada perusahaan yang memprogramkan kegiatan CSR mereka dengan tujuan murni sosial, dalam hal ini “menyumbang” mereka yang kekurangan. Kegiatan CSR dengan tujuan ini biasanya cukup tersembunyi, karena pada dasarnya tujuannya saja sudah sosial buat apa digembar-gemborkan. Proyek atau kelompok yang dibantu pun cenderung tidak selalu ada hubungannya dengan perusahaan, seperti ke panti-panti atau daerah-daerah bencana. CSR dalam koridor tujuan ini murni sebagai kegiatan sosial perusahaan untuk membantu sesama.

CSR untuk Internal

Ada juga kegiatan CSR yang ditujukan untuk membangun rasa solidaritas di dalam internal perusahaan. Suatu organisasi memang membutuhkan media/kegiatan bersama agar rasa kebersamaan dan rasa saling memiliki tumbuh lebih dalam. Berbagai perusahaan ada yang menggunakan aktivitas sosial sebagai kegiatan bersama yang dilakukan oleh para anggota organisasi. Dalam hal ini seperti kunjungan bersama ke panti atau daerah bencana. CSR dalam koridor tujuan ini mementingkan dampak yang dirasakan oleh pelaku, dalam hal ini para karyawan yang ikut terjun langsung membantu sesama atas nama perusahaan. Melalui kegiatan ini para karyawanpun dapat melihat niat baik dan solidaritas perusahaan kepada sesama, dan tentu meningkatkan cinta akan perusahaan tempat mereka bekerja.

CSR untuk Building A Good Brand Image

Yang tidak kalah banyaknya adalah CSR dengan tujuan untuk meningkatkan citra positif merk di mata masyarakat. Contohnya saja apabila kita melihat berbagai liputan bencana alam, tiba-tiba di tendanya ada nama brand tertentu terpampang besar, karena tendanya sumbangan dari mereka. Bahkan gw pernah lihat yang lebih heboh, yaitu truk penggali tanahnya dipasangkan spanduk besar terpampang logo merk tertentu, karena truk tersebut sumbangan dari mereka. Hal ini memang sah-sah saja, dan tetap memberi dampak positif terhadap orang-orang yang dibantu. Pada koridor tujuan ini, perusahaan mengorientasikan pada publisitas yang mereka dapatkan pada saat melakukan kegiatan CSR. Dalam hal ini tidak selalu berupa bantuan bencana, yang sering kita lihat misalnya adalah bantuan dana pendidikan atau kesehatan untuk kelompok masyarakat tertentu. Pada umumnya CSR dengan tujuan pembangunan citra merk ini mengandalkan publisitas media yang besar, sehingga berita kegiatan ini diharapkan menyebar semakin luas di masyarakat.

CSR untuk Promosi

Nah kalo yang ini juga ga jarang terjadi lho! Bahkan akhir-akhir ini pun kian menjamur. Tentu sering Anda mengamati, apabila Anda membeli produk kami, itu berarti Anda telah menyumbang sekian rupiah untuk anak jalanan atau fakir miskin. Nah itu dia CSR untuk promosi. Pada dasarnya sih menurut gw ini udah agak diluar batas.. dalam hal ini seperti mengkomersilkan niat orang untuk membantu. Ya tapi sekali lagi ini sah-sah saja. Pada intinya kemurnian unsur sosial dari suatu kegiatan CSR didasari pada niatannya. Kalau memang niat awalnya untuk mendongkrak penjualan maka itu bukan CSR, bisa jadi CSeMR corporate social.. eh! Marketing Responsibility! Dan sosialnya dijadikan “alat” atau hanya sebagai atribut konsep promosi semata. Yah selama konsumen juga masih mau berperan serta dan kegiatan sosial yang dijanjikan disalurkan dengan benar, why not? Karena tetap bisa membantu orang yang membutuhkan.

CSR untuk Sustainability Perusahaan Jangka Panjang

Nah menurut gw, yang paling ideal adalah tujuan yang ini.. yaitu untuk sustainability perusahaan jangka panjang. Apa maksudnya? Konsep bisnis sekarang itu sudah berubah, jadi pastikan mindset Anda juga sudah berubah. Kalau dulu orientasi bisnis pada profit jangka pendek, selama dapet chuan gede sekarang, lakukan! Tapi besok-besok masyarakatnya jatuh miskin ga bisa beli produk kita lagi. Nah konsep bisnis sekarang yang sudah dijalankan para pebisnis global seperti Unilever dan HP bahwa perusahaan harus memandang bisnis dengan jangka panjang. Bahwa kewajiban perusahaan untuk memastikan masyarakat terutama konsumen mereka juga berkembang bersama. Mengapa? Karena apabila mereka musnah maka perusahaanpun akan musnah. Kegiatan CSR menjadi salah satu media untuk menjaga sustainability masyarakat itu sendiri. Seperti pada case study yang saya presentasikan dalam sebuah theatrical di Case Study Competition MM Unpar beberapa bulan lalu mengenai CSR Indosat dengan basis tujuan utama sustainability society tersebut. Dalam strategi CSR-nya Indosat memiliki berbagai rangkaian garapan isu, antara lain IndonesiaBelajar, IndonesiaSehat, IndonesiaHijau, IndosatPeduli dan Berbagi bersama Indosat. Berbagai kegiatan riil yang Indosat lakukan melalui berbagai program tersebut dengan tujuan untuk menjaga agar masyarakat Indonesia selalu bertumbuh, karena apabila masyarakat Indonesia terutama pada area garapan produk mereka sustain, memiliki kemampuan ekonomi yang signifikan maka sustainability produk dan company Indosatpun akan terjamin. Setiap tahunnya Indosat mengangkat tema sebagai tema tahunan kegiatan CSR mereka, seperti tema ‘Indosat Cinta Indonesia’ di tahun 2008 dan ‘Satukan Cinta Negeri’ di tahun 2010 ini. Ada baiknya strategi CSR yang Anda lakukan terintegrasi dengan Business Plan perusahaan secara jangka panjang. Hal ini memberi manfaat agar dana yang Anda keluarkan pun memiliki manfaat yang selaras dengan strategi bisnis secara keseluruhan.

Banyak praktisi maupun akademisi yang kian berargumen mengenai tujuan dan penerapan CSR yang kian dinilai melenceng. Tapi apapun bentuk kegiatannya, apapun caranya, CSR hanya bisa dinilai sebagai tujuan sosial dilihat dari niat awalnya. Apabila niat awalnya sosial, tetapi diliput berbagai media ya tidak masalah. Dan selama perusahaan memiliki kepedulian untuk berbagi, alangkah perlunya kita bersyukur, dan jangan lupa suatu peribahasa, bahwa semakin banyak kita memberi semakin banyak kita menerima! Jadi jangan pernah takut untuk memberi  semoga sharing ini bermanfaat dan memberi Anda inspirasi dalam mengembangkan kegiatan CSR menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang Anda!

Aug 20, 2010

Gerbong Khusus Wanita, Here Comes The Opportunities.

Beberapa waktu lalu seperti wacana yang sudah lama muncul dari PT. Kereta Api (PT KA) bahwa akan diluncurkan gerbong khusus wanita yang sementara ini baru beroperasi pada kereta KRL Jurusan Jakarta-Bogor. Banyak tanggapan beragam dari masyarakat tentu, bagi wanita tentu saja hal ini menjadi suatu inovasi yang menggembirakan, karena melalui kebijakan ini pada saat naik, wanita akan cenderung lebih merasa aman, dan terutama bagi wanita hamil atau manula.

Namun tidak sedikit juga masyarakat yang memberikan respon negatif mengenai hal ini, seperti dicantumkan melalui situs Okezone.com, Ema Kusuma Ali, warga Perumnas Depok yang menjadi penumpang setia KRL untuk menuju kantornya di kawasan Kota, Jakarta Utara menyatakan meski menyambut dengan gembira, namun Ema pesimis gerbong khusus perempuan itu akan langgeng ditempati kaum hawa. Ema sebagai salah satu konsumen PT. KA pesimis karena bisa jadi seperti beberapa kebijakan di negara kita ini, hanya berlangsung awal-awalnya saja, apabila petugas tidak tertib maka bisa saja kebijakan ini tidak berjalan (pria tetap masuk). Namun ada baiknya kita bersikap optimis bahwa kebijakan ini memberikan kenyamanan lebih bagi konsumen.

Anyway terlepas dari kebijakan tersebut, dari isu ini kita bisa mempelajari 2 hal. Yang pertama adalah mengenai inovasi itu sendiri. Banyak yang bilang, dari pakar, motivator sampai banci twitter pun posting di status mereka bahwa tidak ada yang tetap, selain perubahan itu sendiri. Saat kita ingin bisnis kita survive kita harus selalu siap untuk berubah. Terkadang memang perubahan tidak mudah, pertentangan pasti terjadi baik di dalam badan organisasi maupun dari luar.

Seperti halnya PT KA yang siap untuk diterjang tantangan berkaitan dengan adanya perubahan ini. Landasi selalu niat baik dan tujuan untuk menjadi lebih baik, menurut saya inovasi yang dilakukan PT KA ini menjadi suatu jawaban dari hal-hal negatif yang sering muncul, seperti pelecehan seksual, copet, penculikan, dll. Dan usaha ini menjadi salah satu bentuk inovasi PT KA untuk mempertahanakan konsumen wanitanya. Fokus seperti yang dilakukan oleh PT KA bisa menjadi inspirasi bagi kita, bahwa kepentingan dan kepuasan konsumen kita sendiri bisa menjadi landasan berpikir inovasi apa lagi yang perlu kita lakukan.

Dan pelajaran kedua yang bisa kita ambil tentu adalah peluang bahwa pasar wanita merupakan pasar yang sangat potensial untuk digarap. Seperti sering disampaikan pakar-pakar marketing dunia bahwa kecenderungan pergeseran dunia pemasaran ke arah feminin, dan seperti data yang dikeluarkan oleh Euro RSCG dalam mengamati dominasi wanita dalam keputusan pembelian memperlihatkan peningkatan yang signifikan, termasuk dalam keputusan pembelian barang-barang yang awalnya didominasi pria, seperti salah satunya mobil.

Melihat pergeseran sifat pasar ini, wanita semakin menjadi suatu kelompok pasar yang potensial. Terlihat bagaimana banyak brand/bisnis yang kian mengutamakan wanita, seperti jika Anda ke tempat perbelanjaan, hampir di setiap area parkir mereka terdapat tempat parkir khusus wanita. Entah apalagi inovasi yang akan ada untuk memanjakan konsumen wanita, silakan Anda mulai melihat-lihat peluang inovasi apa yang bisa Anda lakukan untuk menyenangkan konsumen Anda yang satu ini, dan hampir dapat dipastikan konsumen wanita yang senang akan menjadi loyal customers dan bahkan merekomendasikan produk Anda. Anda belum meragukan kemampuan WOM mereka kan?

Aug 16, 2010

Old Tricks That Still Works

Apapun profesi Anda, saat Anda memutuskan untuk menjadi seorang marketer, pastikan Anda gemar dan sering melakukan apa yang disebut dengan observasi.

Kebiasaan hobi meng-observasi saya ini sudah dari kecil. Mungkin karena berada dari latar belakang keluarga yang tidak terlalu dominan dan banyak bicara, maka sebagian besar waktu saya dan keluarga habiskan untuk memperhatikan lingkungan sekitar, termasuk siapapun yang sedang berada di sekitar saya.

Misalnya saat berada di bus, angkutan umum, pesawat terbang, rumah makan, supermarket, sekolah, kelas atau rumah sakit. Di mana saja saya pergi, I do observe. Itulah mengapa hingga kini saya memiliki catatan-catatan kecil yang saya amati sendiri mengenai perilaku konsumen berdasarkan karakteristik mereka masing-masing. Berdasarkan usia, gender, pendidikan, geografis maupun ras.

Maka melalui artikel singkat ini saya akan berbagi some old tricks, terutama dalam detail aktivitas pemasaran yang berwujud dalam strategi aktivasi maupun strategi komunikasi lainnya. Beberapa hal di bawah ini tidak luput dari dasar pemikiran bahwa dalam melakukan pendekatan terhadap suatu kelompok target market (yang biasanya homogen), kita harus memperhatikan perilaku mereka, apa yang membuat mereka tertarik, apa kebutuhan dan peluang yang bisa Anda manfaatkan, kaitannya dengan tujuan aktivitas pemasaran Anda. Hal inilah yang perlu Anda lakukan sebelum Anda menetapkan strategi untuk menjual, lakukan studi terhadap “musuh” Anda yaitu konsumen anda sendiri.. enjoy!

Mothers love their husband, children, and more than that.. loves themselves.

Ibu-ibu, mau di pedesaan, di perkotaan, usia muda, usia tua, punya 1 karakteristik yang sama, mereka suka menyenangkan diri sendiri. Memang benar bahwa sebagian besar waktu yang mereka habiskan pada saat berbelanja adalah untuk beli barang-barang yang pada akhirnya tidak mereka gunakan sendiri. Bisa jadi untuk suami, maupun anak-anak mereka. Namun pendekatan yang menjadi bahan observasi saya selalu berhasil adalah pendekatan pujian. Jika Anda sering memperhatikan iklan-iklan deterjen, bumbu masak, dll iklan-iklan tersebut selalu menempatkan sang ibu sebagai objek dan jagoan. Hal ini pula yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Dengan beban yang ditanggung seorang ibu, pujian dan rasa penghargaan harus menjadi nilai utama yang di “deliver” kepada konsumen wanita yang biasa berada di usia 25 tahun ke atas ini. Hal inilah yang juga harus menjadi nilai pertimbangan Anda baik pada saat menyusun konsep kreatif komunikasi maupun skenario Front Liners Anda pada saat melakukan approaching di lapangan. Seperti contoh skenario seorang SPG susu bayi yang saya dengar di salah satu hypermarket ini...

SPG : “Eh cantik banget bayinya (sambil mencubit pipi si bayi, lalu melihat ke arah si ibu) eh ternyata dari ibunya cantiknya.. Bu, apa kabar? Kita dari susu *** lagi ada promo nih bu... bla bla..”

Pujian sekecil apapun bisa membuat perhatian si ibu bergeser dan tidak terlalu fokus ke arah produk, dan sales promotion kita menjadi memiliki beberapa detik kesempatan untuk memberi penjelasan promo produk yang menarik. Dan jangan lupa pujian ini harus dilengkapi dengan promo, karena that another old tricks also works!

Do u still asking what can make men stop for a second even hours?

Betul sekali, apa Anda masih juga bertanya apa yang membuat konsumen pria berhenti untuk mendengarkan penjelasan produk atau melihat iklan (baik iklan bergerak maupun tidak bergerak)? Jika Anda belum tahu jawabannya, Anda tentu kurang melakukan observasi. Jawabannya tentu saja lawan jenisnya yaitu wanita. Wanita yang seperti apa? Tentu tidak perlu ditanya lagi ya, tentu wanita yang cantik, berpenampilan menarik dan smart sebagai nilai tambah (tergantung produk dan target market pria Anda, karakteristik terakhir ini hanya perlu ditambahkan untuk kelompok produk dan target market pria tertentu saja). Namun Anda akan dengan mudah memperhatikan perilaku ini di tempat-tempat pameran atau supermarket. Wanita telah lama menjadi andalan kegiatan activation sebuah produk, dengan berbagai fungsinya. Sebagian besar fungsi mereka adalah “menarik traffic” di mana nantinya akan ada petugas lain yang menjelaskan produk, sedangkan mereka bertugas menjaring orang-orang yang lewat untuk mau berhenti, meluangkan waktu mereka beberapa menit untuk dijelaskan mengenai produk. Hasil observasi saya lainnya adalah pria yang lagi jalan tanpa pasangan mereka lebih sering mudah dijaring, dibandingkan yang sedang berjalan dengan pasangan mereka.

And the last one about the kids..
Kids love sounds, something colorful and dynamic.

Mungkin seperti ayahnya, anak-anak suka yang dinamis (kalau ayahnya suka wanita yang dinamis :D) nah kalau anak-anak suka hal-hal yang dinamis. Hal dinamis dapat berwujud secara audio maupun visual. Dan yang lebih baik lagi adalah kombinasi keduanya. Contoh-contoh attraction bagi anak-anak seringkali lebih mudah kita temui. Seperti stand sebuah susu buah di salah satu hypermarket yang memutar lagu ceria berulang-ulang kali, dapat membuat anak-anak menengok pada saat melewati stand, dan langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah ”do something to attract them”. Lagu yang mereka dengar terus menerus tersebut terngiang-ngiang dan tertanam dalam kepala mereka, itulah yang saya dengar pada saat mereka mengantri di kasir, dan saya mendengar sang anak terus bernyanyi-nyanyi lagu tersebut. Contoh kedua adalah sebuah gua permen yang dibangun oleh Yupi, sebuah brand permen kenyal di Pacific Place, Jakarta. Di atrium utama, mereka membangun sebuah gua dari permen-permen, dengan berbagai mahluk yang bergoyang-goyang (juga terbuat dari Yupi), penggabungan berbagai elemen audio (musik), visual (warna-warni gua) dan wangi yang menarik membaut anak-anak kian terhipnotis.. tidak heran banyak yang merengek orang tuanya untuk dibelikan Yupi, karena syarat untuk bisa masuk gua tersebut adalah memberi paket permen Yupi.

So.. jika Anda sedang mencari-cari apa yang bisa membuat target market Anda mau meluangkan beberapa menit mereka berinteraksi dengan produk Anda, jangan ragu untuk lakukan these old tricks.. tapi saya percaya bahwa masih banyak cara lain, dan bisa dibilang beberapa cara lama ini sedikit membodohi konsumen-konsumen kita, semoga dengan kemampuan Anda berobservasi, Anda dapat menemukan berbagai arahan psikologi manusia lainnya, itulah yang menarik dari bidang pemasaran ini.. it’s not just about science, but also the arts. (Sumber gambar: www.jkayedesigns.com)

Women Taxi

Beberapa bulan ke belakang entah mengapa National Geographic selalu menjadi pilihan utama ketika bersantai menonton TV, mungkin karena sudah bosan dengan banyaknya dagelan tentang politik kita, buka-bukaan aib di kalangan selebritis tanah air ataupun berita-berita yang belakangan ini lebih banyak memberitakan ketakutan, teror, keributan di sana sini dan tentu saja tayangan sinetron yang sepertinya tidak akan pernah habisnya.

Nah salah satunya seperti judul di atas, ada inovasi produk yang cukup menarik untuk dijadikan menjadi bahan diskusi untuk memperkaya khasanah marketing kita. Di satu kesempatan menghabiskan waktu sendiri, saya menonton bagaimana di sebuah negara, mereka menyiapkan taxi khusus untuk wanita dimana penumpangnya hanya boleh wanita dan sopirnyapun wanita untuk menjawab kebutuhan wanita hehe.

Hal ini dilakukan karena dewan transportasi di Negara tersebut mempelajari dan menemukan insight bahwa sering kali wanita tidak nyaman bila menggunakan taxi khususnya di malam hari dengan sopir pria. Selain itu, tingkat kejahatan juga cukup tinggi khususnya kepada penumpang wanita yang dilakukan oleh sopir pria, yah mungkin karena wanitanya kurang berdaya kali yah kalo berhadapan dengan sopir pria.

Insightnya sangat sederhana sekali bukan? Namun taxi wanita ini kemudian mampun menjawab kebutuhan terpendam (laten demand) wanita terhadap “taxi mereka” sendiri, di mana mereka merasa lebih aman, lebih percaya diri dan lebih merasa privasinya dihargai dengan keberadaan taxi wanita ini. Dan memang ternyata Women Taxi mendapatkan pangsa pasar yang cukup besar semenjak diluncurkan.

Haha, iseng abis nonton saya tweet langsung ke Blue Bird, yah entahlah pasti mereka sudah mengetahui ini saya rasa, apakah mau diluncurkan atau tidak itu sih perkara lain, karena tentu banyak faktor yang harus dipertimbangkan oleh mereka selain pangsa pasar yang saya yakin cukup besar. (jangan sampe ajah di dahului pesaing hehe)

Ngomong-ngomong kalo memang ada yang coba meluncurkan Women Taxi ini apakah secara hitung-hitungan bisnis akan menguntungkan? Saya sih berpikirnya sederhana saja.

(1)Pertama taxi premium ajah banyak padahal marketnya tentu lebih sedikit dari pada market wanita. (2)Kedua, berapa banyak wanita yang naik taxi? Entahlah saya tidak punya datanya, tapi perkiraan saya mungkin 60 persen lebih pengguna taxi adalah wanita (Correct me if i am wrong). (3)Ketiga, wanita mana yang tidak ingin dilayani lebih personal dan lebih customized?. (4)Keempat, hampir semua wanita mungkin, butuh rasa aman ketika memilih taxi.

Akhirnya, kita tunggu ajah apa ada perusahaan taxi yang berani memulainya. (Sumber gambar: www.tropeblog.com)

Model Bisnis dan Obsat

“Marketing itu adalah kerja keras, kreatif dan perpikir taktis, ga perlulah dengan semua model-model yang dibuat oleh pakar itu bro, cuma  bikin pusing ajah dan malah bikin kita banyak mikir dan lambat.” Ini orang sepertinya rada kurang waras kalo ngomong, gumam saya dalam hati hahaha.

Saya sih basically ga terlalu ingin berdebat dengan topik seperti itu apalagi memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga orang yang bisa sukses tanpa model-model marketing modern yang tumpah ruah saat ini, modalnya yang seperti yang dikatakan teman saya tadi, kerja keras, kreativitas dan taktis, walaupun tentunya banyak lagi faktor-faktor sukses lainnya yang tidak tersebut olehnya seperti SDM, system, kepemimpinan dan sebagainya. Namun bila bicara memilai bisnis, rasanya ketiga hal tersebut adalah hal yang paling relevan.

Ok coba saya lanjutkan pembicaraan saya. “Bro, khan tuh model-model juga dibikin berdasarkan pengalaman dan riset dibanyak perusahaan yang sudah sukses ataupun belajar dari yang gagal, sehingga memudahkan pebisnis-pebisnis yang baru untuk belajar bagaimana bisa sukses dan menghidari kegagalan.” “Iya sih bro, cuma khan tetap saja tanpa kerja keras, kreatifitas dan taktis mana mungkin bisnis bisa berhasil”.

Buat saya yang berkerja di dalam industri brand dan marketing, model kadang kala sangat diperlukan sebagai penunjuk arah dalam menjawab data dan fakta yang kita temui di awal sekaligus menutupi kesenjangan pengetahuan kita terhadap klien yag dihadapi. Coba saja bayangkan ketika kita berhadapan dengan orang yang sudah lama di dalam sebuah industri, sudah makan asam garam terhadap bisnis tersebut, bagaimana kita bisa mengimbangi pembicaraan yang terjadi bila kita tidak memiliki model?

Ya begitupun sebaliknya, ketika kita memulai bisnis, tentu saja di dalamnya kita akan berhadapan dengan pesaing baik langsung maupun tidak langsung, konsumen yang sulit diprediksi tingkah lakunya dan lingkungan sekitar bisnis kita kelak yang mungkin akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan bisnis kita, bagaimana kita bisa menghadapi semua itu dan bersiap dengan kemampuan terbaik kita tanpa model yang nota bene bisa dikatakan sebagai sebuah gambaran?

Anda ingin buka restaurant katakanlah, tentu saja Anda membutuhkan model-model pemasaran yang tepat untuk sebuah restaurant, konsumen, pesaing dan sebagainya sehingga dengan model tersebut kita bisa memetakan seperti apa strategi dan program restaurant kita untuk bisa sukses. Coba anda bayangkan tanpa model, yah paling-paling berakhir dengan feeling, kreatifitas, kerja keras yang tanpa arah. Sukses atau tidak yah lihat ajah ntar, seperti itu khan?

So, saya pikir akan selalu penting kita untuk belajar literaur-literatur luar yang menampilkan model-model bisnis, marketing, branding dan apapun itu untuk menjadi semacam kompas dan pijakan dalam menentukan arah dan kebijakan dalam sebuah bisnis, yah tentu jangan pulah kemudian menjadi model tersebut dijadikan patokan mati sehingga menutup kreatifitas dan inovasi hanya gara-gara tidak sesuai dengan model yang kita anut. Prinsipnya setiap bisnis pasti punya model yang tepat untuk berhasil. (Sumber gambar: www.andrinemendez.com)

Aug 6, 2010

Jadi Raja Lokal, Susah-susah Gampang.

Beberapa waktu lalu pada saat menghadiri acara salah satu klien kami di Malang, saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di kota Bunga tersebut (Pemdanya meng-claim bahwa Malang adalah kota Bunga, padahal lebih cocok sebagai kota wisata arsitektur/bangunan!).

Satu fenomena yang bisa kita tangkap dari beredarnya produk di kota-kota sub urban adalah kuatnya raja-raja lokal. Seperti contoh kasus air mineral yang beredar di wilayah-wilayah lokal. Kita semua tahu bahwa beberapa top brand air mineral di Indonesia adalah Aqua, Vit atau Ades. Namun di setiap wilayah lokal memiliki “raja-raja”nya sendiri. Seperti di Jawa Barat ada Ron88, di wilayah Jawa Timur khususnya Surabaya dan sekitarnya adalah Club dan Cheers. Seperti di kota Malang ini, di mana-mana, mau di asongan, di hotel, di restoran, di mini market, semua sedianya Cheers. Menjadi raja lokal susah-susah gampang. Susahnya adalah mengikuti standar brand nasional yang menjadi patokan kualitas masyarakat karena masuknya informasi melalui berbagai media, terutama televisi. Raja-raja lokal ini sudah tidak bisa lagi bermain dengan standarisasi mereka masing-masing dan apabila ingin tetap dipersepsikan sebagai brand yang berkualitas harus mengikuti berbagai inovasi baik dari kualitas air maupun kemasan dengan brand nasional yang memegang kendali.

Namun kemudahannya adalah brand lokal memiliki keterikatan yang lebih erat dengan masyarakat di lokasi tersebut. Dan tentu brand lokal memiliki pengetahuan dan informasi yang lebih detail mengenai cara pemasaran dan distribution channel hingga habit  masyarakat di lokasi tersebut. Sulit bagi brand nasional atau brand pendatang untuk memahami kembali “cara hidup” atau buying habit masyarakat lokal. Brand lokal memiliki modal yang kuat di koridor tersebut.

Salah satu fenomena yang ditemukan pada saat saya dan tim membantu melakukan pengembangan pasar salah satu produsen air mineral lokal tersebut adalah bahwa jaringan menjadi salah satu hal yang penting dan bisa jadi salah satu indikator kekuatan pemasaran. Masalahnya kalau sebagian besar pemilik bisnis, terutama HOREKA (hotel, restoran dan kafe) adalah teman-teman atau kenalan dari pemilik, akan dengan mudah menembus distribution channel di area tersebut. Hal inilah yang sulit untuk dilakukan brand-brand nasional. Brand nasional harus memiliki strategi yang lebih tersistematis apabila ingin menguasai jaringan tersebut pula, seperti penawaran diskon atau benefit lain yang menarik. Namun terkadang hal itu juga sulit untuk dilakukan, karena sudah kuatnya hubungan pribadi antara pemilik distribution channel dengan pemilik produsen lokal. Seperti kita ketahui bahwa cara berbisnis para pengusaha lokal seringkali adalah “bisnis hubungan baik” dan kekeluargaan.

Namun perlu diingat bahwa aktivitas branding dan usaha menanamkan brand image di masyarakat harus terus dilakukan brand lokal, jangan sampai kita terus mem-push produk ke pasar, tapi masyarakat enggan menyerap, karena “kalah pamor” dengan brand nasional yang iklannya ada di mana-mana. Penggunaan berbagai media untuk selalu dekat dengan konsumen bukan hanya sekedar kepentingan brand awareness semata, tetapi bagaimana keberadaan di berbagai media tersebut menciptakan image bahwa produk kita layak untuk dipercaya karena produsen “serius” memperkenalkan dan menanamkan persepsi di benak konsumen. Jadi, apakah Anda sudah siap mempertahankan gelar raja lokal?
(Sumber gambar: www.madore.com)