Jul 13, 2011
Advertising, Dulu dan Sekarang
Coba kita ingat-ingat lagi, berapa banyak iklan yang kita temui dalam sehari? Dari mulai bangun tidur, kita mungkin sudah ketemu dengan iklan saat kita cek berita lewat BlackBerry, iPad, atau nyalain TV. Sarapan gak lengkap rasanya tanpa baca koran, bermacam iklan pun muncul di sana. Beranjak keluar rumah menuju kantor atau sekolah, yang punya mobil gak jarang nyalain radio buat mendengarkan musik yang diselingi cuap-cuap penyiar dan apalagi kalau bukan iklan.
Sementara yang pada naik angkutan umum, motor, dan para komunitas sepeda, juga gak luput dari sasaran iklan. Setiap jalanan yang dilewati selalu dihiasi dengan billboard segede gaban, spanduk membentang, bahkan sampai tempelan iklan badut, sulap, musik, di tiang lampu lalu-lintas, jadi bagian dari keseharian kita sampai kita kembali ke rumah dan tidur kembali. Iklan gak pernah lepas dari kehidupan kita. Pernahkah Anda membayangkan dunia tanpa iklan?
Jul 6, 2011
Lionel Messi dan Dunia Kreatif
Akhir-akhir ini weekend jadi kurang seru karena liga-liga sepakbola dunia baru aja selesai. Sebagai gantinya, di sela-sela libur musim kompetisi ini kita disuguhi 3 kejuaraan yang cukup bergengsi, Euro Cup U21 yang melahirkan Spanyol sebagai juaranya, Gold Cup (dulu lebih tenar disebut Piala Concacaf) dengan juaranya Mexico, dan yang terakhir yaitu Copa America yang saat ini masih berjalan.
Copa America ini ibarat “Piala Eropa”nya untuk Amerika Latin. Tentunya kejuaraan ini jadi ajang bergengsi bagi negara-negara Amerika Latin untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik. Bicara Amerika Latin, apalagi sepakbola, ya pasti ngga bisa jauh-jauh dari Brazil dan Argentina. Diantara negara-negara Amerika Latin lainnya, tentu 2 negara ini yang menjadi pusat perhatian pecinta sepakbola dunia. Terutama kemunculan sinar baru dari sosok seorang Neymar dari Brazil, dan “bocah ajaib” Argentina dengan predikat pemain terbaik dunia selama 2 tahun berturut-turut, yaitu Lionel Messi.
Jul 4, 2011
Up Selling, Jual dan Jual Lagi
Sebenarnya saya harus berterima kasih kepada mas yang ngeramasin saya tadi pagi di salon, karena dia saya jadi terinspirasi menulis artikel ini.
Kenapa dia bisa menginspirasi? Gimana nga, dari pertama saya duduk dan dia mulai bekerja, dia ga henti-hentinya menawarkan produk-produk tambahan dan pelengkap, dari mulai shampo : “Mbak, shamponya mau apa? Untuk kulit kering rontok, kulit kering ketombe, berminyak rontok atau berminyak ketombe?” (lalu saya jawab dengan mmhh... apa aja deh mas) “oh berminyak rontok?” (oh iya boleh) “kalau itu nambah 5000 mbak” (oh yang biasa aja deh mas) “oke”
Jun 29, 2011
Brand Influencer
Melakukan pemasaran atau pembangunan brand di online memang banyak hal yang berbeda dibandingkan dengan cara-cara pemasaran offline yang selama ini dilakukan. Salah satunya adalah perihal yang namanya influencers. Kalau di offline influencers bisa terdiri dari orang terkenal atau orang biasa yang punya pengaruh besar terhadap komunitasnya, intinya adalah mereka yang bisa membantu kita (company) membangun brand atau bahkan membantu kita menjual produk kita.
Namun di offline, cara “menggarap” influencers ini cenderung sulit, karena biasa membutuhkan biaya dan effort yang besar. Contohnya saja di tayangan infotainment sering ada testimoni dari artis yang menggunakan satu produk tertentu. Nah, artis ini berfungsi sebagai influencer yaitu orang yang mempengaruhi target market (biasanya ibu-ibu lagi yah yang mau dipengaruhi oleh ibu-ibu artis :D). Untuk memakain slot tersebut, produknya ditestimoni-kan oleh artis dan menggunakan media televisii sebagai media informasinya tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Begitu juga apabila adanya garapan terhadap influencers non-artis.
Stay Foolish, Stay Hungry
Hidup di industri kreatif itu enak enak nyebelin..hehe. Agak absurd ya kedengarannya, enak tapi kok nyebelin, tapi memang begitulah adanya. Cuma di industri ini kita bisa ke kantor pake kaos oblong, jins bolong-bolong, atau sendal jepit, malah kadang muka bantal tanpa make up pun bisa jadi pemandangan biasa. Ya, buat orang yang ngga terlalu suka dengan batasan-batasan atau aturan, industri inilah yang musti dijajal. Kita sebut sajalah pelaku-pelaku umum dari industri kreatif ini, yaitu orang-orang agency, desainer, dan para marketer.
Kerjaannya pun bisa dibilang ngga ada batasan, dalam arti kita bebas berimajinasi dan menciptakan output sehebat-hebatnya. Mungkin Anda sering dengar “think out of the box”, ya inilah salah satu istilah umum di dunia kreatif, yaitu bagaimana para pelakunya bisa berpikir sesuatu yang outstanding, sesuatu yang tidak terpikirkan banyak orang tapi bisa memberikan efek positif terhadap pencitraan brand atau produk yang ditawarkannya. Kita bisa lihat ini semua dalam iklan dan juga packaging bermacam brand yang sering kita temukan di super market. Iklan maupun packaging yang bagus bukan cuma dinilai secara visual saja, tapi lebih jauh lagi yaitu mengundang orang untuk membeli brand atau produk tersebut. Itulah yang jadi tugas berat para pelaku di industri kreatif ini.
Jun 26, 2011
Wani Piroo?
Saya bener-bener tergelitik untuk menulis topic ini walaupun bukan seorang pakar iklan, yah setidaknya saya ingin membagikan pemikiran dan pengalaman saya mengenai topic ini. Dimulai beberapa waktu yang lalu, saya, sahabar saya dan adit saya sedang berkendaraan bersama, pada suatu pembahasan yang saya lupa sedang membahasa apa tiba-tiba saya nyeletuk “Wani Piroo?”. Entah kenapa kata-kata iklan ini begitu lekat diingatan saya dan pada saat itu juga kami semua tertawa mendengar celetukan saya tersebut.
Jun 23, 2011
Corporate Value, Kumpulan Kata Kosong atau Kata Penuh Makna?
Masih hangat dalam pikiran saya saat awal-awal saya masuk perusahaan yang sekarang, saat kantor kami dapat klien baru. Sebuah perusahaan berskala internasional . Diantara semua pekerjaan yang kami tangani dari klien baru ini, ada satu hal yang sangat menarik sekaligus baru bagi saya, yaitu corporate values. Sudah sejak lama perusahaan ini memiliki corporate values, tapi kemudian sang owner ingin mengupgrade kembali nilai-nilai perusahaannya. Dari situ muncullah pertanyaan di benak saya, sebetulnya buat apa sih corporate values ini? Bukankah nilai ini cuma sekumpulan kata-kata yang diberi makna sesuai visi dan misi perusahaan (owner)?!
Untuk lebih gampangnya, coba ingat-ingat perusahaan-perusahaan yang sudah mendunia, yang statusnya bukan sekadar market leader tapi sudah jadi top of mind, sebut saja Sony, Apple, Disney, Toyota, McD, dan lain sebagainya. Pernah membayangkan berapa nilai keberadaan brand ini? Tak perlu diukur dengan angka, bayangkan saja dunia ini tanpa tayangan kartun-kartun dari Disney, gadget/ alat elektronik dari Sony, atau tanpa makanan cepat saji semacam McD.
Jun 22, 2011
DeMarketing, Ketika Marketing Menjadi "Evil"
Salah satu cara saya dan teman-teman untuk selalu ter-re-charge isi kepalanya adalah dengan seringkali bertemu dan berdiskusi dengan pendahulu-pendahulu kami di bidang pemasaran tapi kemarin adalah momen yang spesial karena saya bisa bertemu lagi dengan coach marketing saya pak Godo Tjahjono yang 1 tahun terakhir berada di Australia.
Yang menarik dari apa yang kami obrolkan kemarin adalah tren marketing yang berkembang di Indonesia saat ini, di mana seringkali para business owner, para pemasar atau pengelola merk seringkali terjebak dengan apa yang disebut dengan atribut. Hal-hal yang bercirikan kehebohan atau short-term hit activities seringkali sudah diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang berhasil. Padahal jika mau dilihat lebih dalam aktivitas pemasaran terkait berbagai aspek yang menyeluruh hingga ke aspek keuangan, termasuk di dalamnya apakah merk yang kita kelola memiliki feasibility untuk sustain dalam jangka waktu yang lama.
Jun 20, 2011
Community, Conversation, Consistency, Cuan (4C)
“Gile, kemaren pas nganter anak gua ke sekolah, temen-temennya udah pada pake I Pad buat mainan sambil nunggu jam sekolah masuk, alhasil siangnya anak gue ngerengek minta dibeliin I Pad kayak temen-temen di sekolahnya. Pas gua Tanya buat apa, jawabannya, keren aja bisa dipake maen dan internetan.”
Cerita lain dari rekan saya, yaitu saudaranya yang berusia 17 tahun sudah bisa menjalankan bisnis jual beli kaos lewat facebook yang saat dari bisnis onlinenya sudah bisa meraup keuntungan 20 juta/bulannya. Wow untuk anak muda seuisa itu !!!
Resegmentation
Baru saja mengunjungi KFC di Jl. Merdeka seberang BIP, kembali mengenang kejayaan dari gedung tersebut yang dulunya adalah Bank Danamon yang besar, kemudian di sebelahnya masih dikomplek yang sama ada Dunkin Donuts yang nampak seperti fosil, tapi dulu terdiri dari 3 lantai dan menjadi salah satu pusat nongkrong warga Bandung.. wah koq bisa ya sekarang udah seperti sepi pengunjung, namun menurut informasi warga Bandung.. hal ini terjadi saat McD membuka gerainya di BIP, maka orang-orang berpindah tongkrongan dari Dunkin Donuts ke McD yang memang sangat populer di masa itu, dan menjadi McD paling ramai sekota Bandung yaitu di Bandung Indah Plaza.
Namun kerumunan tongkrongan orang jelas terlihat berpindah, saat McD selama beberapa waktu tutup dan digantikan oleh Tony Jack’s, sebuah gerai fast food yang hadir berlambang bajak laut dan beridentitas warna hitam itu. Sepertinya KFC yang memang dari beberapa tahun terakhir cukup agresif dalam mengemballikan kedudukan market leader nya dengan sigap memanfaatkan kondisi kurang populernya Tony Jack’s tersebut. KFC membuka restoran yangsangat besar di gedung bekas Bank Danamon tersebut, dan menjadikannya pusat tongkrongan yang berlangsung hingga sekarang.
Subscribe to:
Posts (Atom)







