Hujan Duit dari Langit


Kontan, saya tertawa mendengar salah satu berita siang ini, Minggu 1 Juni 2008. Bagaimana tidak salah seorang motivator terkenal di Indonesia, Tung Desem Waringin melakukan aksi pembagian uang secara massal di daerah Serang, Banten dengan menjatuhkannya dari pesawat terbang setinggi 70 m (ada-ada saja orang ini, heboh banget!). Gerombolan warga yang datang dan telah mengetahui hal ini sebelumnya telah bersiap-siap menangkap dan berebut uang kaget itu.

Dalam rangka memperingati kelahiran Pancasila? Mmh..bukan! Dalam rangka mendukung pemerintah program BLT? Mmhh.. bukan juga!

Jadi karena apa donk? Ya tentu saja tidak jauh-jauh dari profesinya. Tung Desem melakukan hal yang sangat menarik perhatian tersebut dalam rangka meluncurkan buku terbarunya dan turut mengundang dalam seminar mengenai buku terbarunya tersebut. Nga nyambung banget yah! Jika diamati semua pendatang yang hadir pada saat pembagian uang di sana tentu saja bukan target marketnya, boro-boro membeli buku Tung Desem yang biasanya harganye ratusan ribu rupiah atau mendengarkan seminarnya yang berjute jute, mencari makan aja mereka kerepotan. Tapi mengapa Tung Desem berkomunikasi, mengarah atau bahkan mengambil hati mereka? Jawabannya ya tidak ada! Karena semua itu hanyalah alat, hanya menjadi strategi. Supaya apa? Supaya media meliput!

Aktivitas seperti ini dapat kita kategorikan sebagai salah satu aktivitas PR-ing, yaitu memanfaatkan fungsi PR yaitu mengundang/mengumpulkan/membuat media meliput. Bayangkan saja apabila ia harus memasang iklan secara normal di seluruh media televisi, berapa banyak yang harus dikeluarkan? Sedangkan dengan cara menyebar uang “ribuan” dan menyewa pesawat terbang saja, sudah langsung diliput berbagai media, termasuk televisi. Pada saat aktivitas ini akan dilakukan, berbagai media di undang untuk meliput berita yang memiliki nilai jual ini, dan para wartawan diberi informasi yang cukup tentang mengapa dan apa latar belakang aktivitas ini dilakukan. Dengan begini, baru saja Tung Desem melakukan publikasi “gratis” mengenai peluncuran buku terbarunya kepada seluruh warga Indonesia.

Strategi serupa sangat bisa Anda lakukan untuk mendapatkan publisitas “gratis” dari media. Hal inilah yang menjadi salah satu strategi andalan kami untuk membantu klien kami meminimalisasi budget yang keluar pada suatu event tertentu, peluncuran produk baru atau aktivitas branding lainnya, baik secara corporate maupun produk. Bekerjasama dan menjalin hubungan dengan media adalah hal yang mutlak dilakukan oleh sebuah perusahaan, selain hubungan ini adalah aset yang sangat berharga terutama dalam kesempatan publisitas, informasi penting juga seringkali kita dapatkan dari rekanan pers.

Apakah mudah mendapatkan publisitas gratis? Ya tentu saja tidak! Itulah mengapa sebuah konsep aktivitas yang ingin ditawarkan untuk menjadi liputan harus memiliki nilai jual yang tinggi. Nilai jual disini diartikan menjadi layak untuk menjadi sebuah berita. Syaratnya ya harus unik, relevan dan memiliki tujuan yang positif. Hal paling mudah yang selama ini selalu dilakukan berbagai merk terkenal (maupun yang tidak terkenal) adalah dengan menggunakan MURI sebagai “media pemecah rekor”. Berbagai rekor yang sangat mudah dipecahkan menjadi andalan untuk mendapatkan publisitas gratis. Hal serupa baru saja dilakukan oleh Supermi yang dalam rangka menyambut ultah Jakarta (padahal masih lama banget kan boo!! Bilang aja mau promosi! J ) mengadakan pemecahan rekor MURI dengan makan bersama mie instan sebanyak 40.000 bungkus. Woooww.. spektakuler yah! Sudah dapat dipastikan donk aktivitas branding ini kuat sekali untuk membangun awareness Supermi yang sudah mulai menurun. Bayangkan! Tidak hanya melalui televisi, tapi berapa banyak lagi WOM yang akan menyambut berita-berita heboh seperti 2 contoh di atas, termasuk saya yang membahas hal ini dan menyampaikannya pada Anda, dan belum lagi terhitung nanti Anda yang menceritakan hal ini kepada orang lain.

Publisitas gratis sungguh mengasyikkan tentunya, yah terlepas banyaknya nada negatif yang hadir dari kegiatan seperti contoh diatas (Tung Desem) yah yang menyatakan tidak peka terhadap kondisi masyarakat saat ini dan berbagai alasan lainnya biarlah bagian politik dan yang terkait membahasnya, saya hanya ingin mengedepankan bagaimana kreatifitas itu bisa diciptakan tentu ada baiknya kreatifitas itu hadir dengan menghargai norma dan moral yang ada dalam sebuah lingkungan dan budaya tentunya.

Comments

Popular posts from this blog

30 Creative Sales Ideas Untuk Cafe/ Resto

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Push & Pull Marketing Via Online