Showing posts with label creative sales. Show all posts
Showing posts with label creative sales. Show all posts

May 7, 2017

Jangan Jadi Pengusaha Yah

Yah ini kalimat yang sering sekali saya katakan kebanyak temen-temen yang bertanya soal menjadi pengusaha. Jadi pengusaha itu tidak mudah, bahkan klo mau jujur sangat-sangat sulit deh, butuh tenaga besar, pikiran besar, nyali besar dan banjir stress dan tekanan perasaan dan pikiran yang luar biasa edan, klo bukan karena NIAT ibadah, rasanya saya pikir2 dulu ga akan sanggup menjalankan usaha, mending kerja dengan kepastian sebenernya.

"Wuihh mas, nakut-nakutin amat, buat orang demotivasi ajah buat jadi pengusaha, hehe". Buat saya sharing soal kesulitan, kerasnya dan sulitnya jadi pengusaha adalah hal yang sangat penting untuk calon pengusaha, mengapa? Agar temen-temen bersiap dengan kondisi seperti ini, yah syukur2 ga datang (jarang sih) tapi jikapun datang MINDSET mereka sudah siap untuk bertarung dengan semua itu.

MOTIVASI bagus, gairah penting tapi siap dengan gagal juga sangat penting karena begitulah sebetulnya yang dihadapi oleh kebanyakan pengusaha ketika mereka membangun bisnisnya pertama kali, sukses sih soal gampang buat di ceritain, tapi jauh-jauh lebih penting untuk setiap kita yang ingin menjadi pengusaha siap untuk kegagalan dan persiapan itu dimulai dari sharing tetang kegagalan orang-orang yang sudah menjalankannya, dan seperti maksud saya diatas, syukur2 dengan cerita2 tersebut kita bisa menghindari kesalahan-kesalahan yang dulu pernah diperbuat sehingga bisa gagal.


May 3, 2017

It’s Not About The Coffee, 5 Differentiation Approachs

"jadilah berbeda ato brand kita tidak akan bertahan hidup lebih lama". Yah dalam dunia bisnis, differensiasi adalah mantra penting yang betul-betul harus dipahami dan dimengerti serta dieksekusi dengan tepat oleh pemilik brand untuk bisa bertahan dan terus perkembang.

Nah masalahnya, dari pengalaman saya banyak menjadi speaker dan sharing, kebanyakan pebisnis khususnya UKM sering sekali tidak betul-betul mengerti sebetulnya apa itu Differensiasi, taunya hanya sekedar menjadi berbeda, menjadi unik, to be the one atau bahkan semua umat manusia dimuka bumi ini sampai bingung dengan apa yang dia jual kecuali dia dan Tuhan yang mengerti dengan apa yang sebetulnya lagi dijual.

Kebanyakan pebisnis juga kalo saya perhatikan sering tidak tepat dalam implementasi Differensiasi brandnya sehingga alih-alih menjadi faktor pembeda yang punnya daya ungkit dan menjadi "reason to buy", differensiasi yang "dia pikirkan" malah menjadi backfire or tidak punya impact sama sekali terhadap bisnisnya.

Membangun differensiasi brand di dalam bisnis merupakan hal yang cukup kompleks dan sulit terutama di kondisi saat ini dimana arus informasi, teknologi dan pengetahuan sangat mudah didapat dan dicari oleh banyak pihak khususnya kompetitor kita. Apa yang menjadi differensiasi hari ini (menurut kita katakanlah) bisa jadi menjadi basi esok hari karena tiba-tiba kompetitor atau orang lain membuat hal yang sama bahkan lebih baik.

Jadi, ada beberapa pendekatan yang bisa dijadikan acuan untuk membangun differensiasi yang kuat sehingga punya daya saing namun sekaligus tidak mudah ditiru oleh kompetitor tentunya.

1. Customer Intimacy Approach

May 2, 2017

Hokkaido Strategi, Simple, Cepat & Menguntungkan

Minggu lalu ketika sedang cukup lama di jakarta saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk main ke Kokas jakarta, yah biasalah orang kuliner, yg dicari tentu sesuatu yang berkaitan dengan kuliner klo sudah pergi ke suatu tempat.

Cukup banyak beberapa SPOT baru ternyata yang bisa dikunjungin cuman yang bolak balik ujung-ujungnya kembali makan di tempat yang "aman" hehe, yg penting udah hafal lah rasanya, nah setelah makan kita rencana untuk kembali lagi ke hotel tempat menginap dan jalan menuju parkir berhentilah tatapan saya di suatu counter 4x4 meter mungkin dengan nama brand Hokkaido Chesee Baked.

"Buset nih brand, ga di indo, ga di malaysia, ga di Australia ketemu ajah dan rame pula, padahal harga ga bisa dibilang murah sih untuk ukuran kue sekali telan wkwk", klo tidak salah butuh duit 20 ribuan untuk sepotong kuenya, cukup 1 potong? JELAS TIDAK, jadi ajah akhirnya beli 100 rebu dapet 6, just for kue yang ga ada 2 menit lenyap ditelan, klo makan Indomie bisa di stock seminggu 100 ribu".

Hokkaido Chesee Baked ini menarik dari sisi Model Bisnis dan Marketing, jual hanya 1 variant, focus dan growth dalam waktu cepat, bertolak belakang sekali dengan pemikiran bahwa kita butuh Variant produk untuk bisa memuaskan banyak konsumen. Seperti halnya Roti Boy yang beberapa tahun belakang juga berkembang cukup cepat, brand Roti Boy ini hanya focus menjual 1 item dengan 1 rasa, berbeda dengan beberapa toko roti besar yang banyak sekali variant seperti yang kita sering lihat.

yah tentu saya tidak sedang ingin melakukan komparasi dengan dua model bisnis yang saya ceritakan di atas, karena masing-masing punya advantage dan disadvantage terhadap model yang digunakan, tapi untuk kita yang baru akan memulai bisnis dan tertarik untuk terjun di bisnis makanan baik itu cake, roti atau apapun, model bisnis seperti Hokkaido Chesee Baked atau Roti Boy bisa menjadi pertimbangan yang cukup bagus, kenapa?


Jan 4, 2017

Perusahaan Banyak Keluarga

Hehe judul sudah cukup verbal bukan, dan ini sesuatu yang sangat lazim terjadi di dunia bisnis, BANYAK KELUARGA di dalam bisnis. Salah? Yah tentu saja tidak salah, kenapa harus salah? Asal keluarga yang berkerja di dalam perusahaan bekerja secara professional dan sesuai dengan aturan perusahaan.

Masalahnnya .....? hehe, yah pada prateknya keluarga yang berkerja di dalam perusahaan sering kali menjadi sumber masalah yang sulit untuk ditangani mulai dari karena orang tersebut kebetulan juga pemegang saham keluarganya, kurang kompeten dalam pekerjaan, unsur enak tidak enak di level management untuk memberikan teguran yang biasa diterapkan di karyawan non keluarga atau prilaku yang terpaksa "dimaklumi" karena .... "yah ga enak lah keluarga sendiri".

Hal ini jika dibiarkan dalam jangka panjang malah akan menjadi potensi yang membuat perusahaan kita malah menjadi tidak produktif, tidak berjalan secara profesional dan yang paling buruk kemungkinan yang bisa terjadi malah mejadi bumerang perpecahan yang punya impak buruk terhadap perusahaan di masa yang akan datang, rasanya jika harus memberikan contoh cukup banyak bisnis yang akhirnya pecah dan berakhir dengan keributan keluarga, either itu bisnisnya masih terus jalan dengan rusaknya hubungan keluarga atau bahkan bisnisnya bubar akibat keluarga.

Namun disisi lain tidak kita pungkiri bahwa Keluarga juga menjadi faktor competitive advantage yang sangat sulit ditiru jikalau mereka memang berkerja secara professional, punya kompetensi kerja yang tinggi, loyalitas yang luar biasa serta dedikasi yang sulit ditemukan di level karyawan non keluarga pada umumnnya, dan satu hal yang juga sangat penting keluarga bisa DIPERCAYA, jargon yang sudah lama ada dan hidup di dalam dunia bisnis.

Jadi, bagaimana kita membangun bisnis yang Banyak keluarga di dalamnya?

1. Competence di Bidangnya

Dec 30, 2016

Corporate Collaboration, Membangun Kekuatan Secara Berjamaah

Beberapa hari yang lalu saya sempat bertemu dengan beberapa pengusaha kuliner  yang kebetulan juga sahabat-sahabat baik saya di bandung, ada beberapa topik menarik yang sempat kita bahas salah satunya tentang Corporate Collaboration di mana hal ini akan menjadi sangat penting dalam setiap bisnis saat ini dan dimasa yang akan datang.

Seperti apa sih Corporate Collaboration itu? Saya ambil contoh sederhana ajah, jika kamu pengusaha Mie Ayam, pesaing kamu juga pengusaha mie ayam dan mungkin juga temen kamu yang lain bisnisnya juga menggunakan Mie yang sama, di sini muncul pertanyaan mengapa kamu, pesaing kamu dan teman kamu tidak berkolaborasi saja untuk mendapatkan harga terbaik untuk Mie nya? Misal kamu memiliki 5 cabang dengan pengambilan 3 ton per bulan, Pesaing kamu memiliki 3 cabang dengan pengembalian 1 ton per bulan dan temen kamu yang kebetulan juga pake Mie mengambil 1 ton per bulan.

Pertanyaannya? kira-kira dari 3 pihak (kamu, pesaing dan temen) dapat harga yang berbeda tidak? Bisa jadikan mungkin karena hubungan dekat dengan supplier mie, atau kontrak dll, pertanyaan selanjutnya, jika pembelian (kamu, pesaing dan temen) digabung artinya ada 5 ton per bulan, bisa tidak dijadikan bahan negosiasi ke supplier tersebut? Atau coba sekali waktu hitung HPP, bagaimana jika (kamu, pesaing dan temen) buat ajah sekalian perusahaan produksi Mie, bisa jadi bisnis baru, harga jual ke (kamu, pesaing dan temen) bisa lebih murah karena bisnis sendiri dan secara kualitas juga mungkin lebih terjaga, masuk akal?

Coba sedikit kita diskusikan, sisi manfaat besar dari Corporate Collaboration yang mungkin bisa menjadi bahan renungan buat pebisnis khususnya yang belum punya daya tawar yang kuat dan malah mungkin dalam beberapa hal menjadi beban karena dalam hal ini katakanlah memang perusahaan masih kecil dan blom di"anggap" oleh pihak2 di mana kita cukup bergantung dengan pihak tersebut.

1. Reduce Cost

Sep 11, 2016

4 Tips Membuat Powerfull Content di Instagram

Kalo ditanya media apa yang sekarang lagi hot-hot nya digunakan banyak pebisnis untuk berbagai kepentingan brandnya mungkin salah satunya adalah Instagram. Untuk beberapa bisnis khususnya kuliner, instagram ini sudah seperti KEHARUSAN kalo mau brand kita dikenal oleh banyak calon konsumen dan kemudian tentu bisa mendatangkan sales bagi perusahaan, sehingga tidak aneh jika kita melihat demikian massivenya instagram yang berhubungan kuliner saat ini baik itu yang menggunakan buzzer (istilah gaul untuk pemilik akun yang bisa diajak berkerjasama untuk promosi iklan) maupun IG ads.

Nah pada kesempatan kali ini saya ingin sharing mengenai bagaimana membangun konten iklan IG yang punya impact dan bisa mencapai tujuan dari iklan yang kita pasang tentunya, karena saya perhatikan banyak sekali pebisnis yang tidak mengerti bagaimana strategi memasang iklan Instagram yang tepat, efektif dan menghasilkan, bukan sekedar pasang dan akhirnya tidak ada impact sama sekali untuk bisnis kita.

Tapi sebelulum kita mulai, selalu dingat pertanyaan saya ini. Apa ukuran sebuah iklan di IG sukses atau tidak? Dimensi jawaban ini bisa beragam, tergantung ketika kita menetapkan tujuan awal, biasanya sih UUD, ujung-ujungnya duit, namun pada sisi yang lebih advance tujuan menggunakan IG untuk beriklan juga bisa berupa Brand Building, jadi hal paling penting sebelum mendevelop content adalah menetapkan tujuan dari iklan sehingga bisa diukur hasilnya.

Ok kita mulai yuk, bagaimana membangun konten timeline maupoun iklan yang punya impact terhadap objectives yang kita inginkan di Instagram.

1. Images & Video yang Powerfull

Mau LAKU? Pahami Calon Konsumenmu

"Apa yang paling penting dalam berjualan mas biar laku?" Seringkali dalam banyak diskusi atau workshop pertanyaan ini muncul dari partner diskusi atau peserta workshop, pertanyaan yang membutuhkan jawabam Multi Dimensi haha. Mengapa, yah karena BIAR LAKU dalam bisnis itu tidak bisa berdiri sendiri atau terjadi hanya karena 1 faktor, sangat banyak faktor yang harus dipenuhi ketika produk kita ingin LAKU, misalnya saya kasih contoh apakah harga murah cukup untuk membuat produk kita LAKU? Bagaimana kalo semua orang menjual MURAH?

Atau contoh lain apakah dengan promosi yang gencar dengan budget besar akan pasti membuat produk kita akan LAKU? Kalo semudah itu tentu berlombah-lombah ajah promosi yang banyak dan gencar, tapi pada prakteknya banyak yang sudah promosi gencar produknya tetap ga LAKU dipasaran khan?

Jadi harus mulai dari mana sehingga kita bisa membuat produk yang kita jual akhirnya bisa LAKU di pasar dan bukan sekedar LAKU tapi terus LAKU dan mendatangkan keuntungan yang konsisten bagi kita?

Seperti yang sudah saya singgung, banyak tahap yang harus dilakukan oleh seorang pebisnis sehingga produknya bisa LAKU secara kontinue di pasar, namun jika ditanya, mulai dari mana maka secara pribadi saya akan memberikan jawaban mulailah dari PEMAHAMAN mengenai CALON KONSUMEN. Point jawaban ini ingin mengatakan bahwa;
  1. Bisnis itu dimulai dari menemukan dan memahami apa kebutuhan, keinginan dan ekspektasi calon konsumen. Siapa konsumen kita, berapa umurnya, tinggal di mana, ngapain ajah tiap hari dan berbagai informasi mengenai mereka.
  2. Produk diciptakan setelah tahap pertama dilalui, bukan sebaliknya, sudah ada produknya baru kemudian disesuaikan konsumennya siapa (biarpun pada prateknya inilah yang paling sering terjadi, biasanya orang sudah punya dulu ajah yang akan dijual baru kemudian mikirin konsumennya, tidak salah tapi hal ini bisa kita bahas lain kali)

Jul 1, 2016

5 Tahap Membuat Online Campaign yg Efektif untuk Brand

"Bro gimana sih biar bisa buat program online campaign yang impact full buat brand kita? Gua udah beberapa kali ngebuat program online cuma sepertinya ga terlalu impact ke bisnis gua, malah gua nilai tidak efektif, habis-habisin duit ajah".

Nah pertanyaan soal membuat kegiatan online campaign ini salah satu pertanyaan yang sering sekali ditanyakan oleh banyak temen-temen di bisnis yang ingin mengadakan online campaign untuk brandnya, soalnya memang gampang gampang susah sih dari pengalaman saya membuat online campaign apalagi kalo yang diharapkan oleh pemilik brand pengukurannya sampai ke sales.

Saya coba akan share, bagaimana tahap-tahap membuat Online campaign berdasarkan pengalaman dalam mengeksekusi brand sendiri 3 tahun kebelakang yang menurut ukuran saya cukup bisa dibilang efetif dalam membangun brand dan penjualan di bisnis saya, namun perlu saya remind, share ini ini khan menurut pengalaman saya belum tentu prosesnya cocok dengan brand dari temen-temen yang membaca ini, jadi artikel ini mungkin dijadikan inspirasi dan guideline ajah untuk kemudian di modifikasi dan kemudian idenya di eksekusi sesuai dengan kebutuhan dan strategi brand dari kita masing-masing.

Ok let's go

1. Buat Campaign Untuk Apa

Nah ini dulu hal yang paling penting dirumuskan kalo mau buat campaign untuk brand kita, TUJUANNYA apa? Mau ningkatin Awareness? Mau Ningkatin Sales? Mau memperbanyak Subscriber? Mau memperbanyak Traffic ato sekedar mau ngabisin budget promosi karena kebanyakan dan bakal ditanya bos kalo tidak habis hehe. Mengapa penting? karena tujuan akan membuat kita bisa merumuskan dengan spesific banyak hal yang terkait dengan campaign yang ingin kita lakukan mulai dari media yang digunakan, program detail yang dikeluarkan, alokasi budget yang digunakan sampai pengukuran efektivitas seperti apa yang akan dilakukan.


Apr 6, 2015

Rahasia Penting Bisnis Menjadi Besar, Wajib Baca

Jika Anda memutuskan untuk membuat bisnis bakso, kira-kira bayangan Anda berapa besar income yang akan Anda dapat dalam 1 tahun? Dalam 5 Tahun atau bahkan dalam 10 tahun ke depan? Ok pertanyaan berikutnya, bagaimana dan dari mana income itu bisa Anda peroleh?

Jika pertanyaan saya di atas tidak bisa Anda jawab mungkin salah satu alasannya karena Anda belom mengerti salah satu ilmu yang sangat penting dalam bisnis yaitu Revenue Stream. Apa itu, dalam bahasa yang sederhana Revenue Stream adalah sumber pendapatan yang mungkin didapatkan oleh seorang pengusaha dalam rangka menjalankan bisnisnya.

Contoh ketika Anda memutuskan untuk berbisnis ba kso, nah sumber padapatan yang mungkin bisa didapat adalah:
  1. Pendapatan Warung/ Gerobak. Pendapatan yang terjadi karena ada yang membeli bakso Anda di warung/ gerobak. Baik itu membeli Bakso, minuman atau bungkus baksonya.
  2. Pendapatan Jualan Bakso Beku. Nah selain punya warung, karena Anda produksi bakso sendiri, Anda memutuskan untuk menjual bakso beku juga ke warung-warung bakso lain, hotel dan ke masyarakat.
  3. Pendapatan Franchisee/ Mitra Cabang. Anda juga sudah berpikir nih akan mengembangkan bakso Anda dengan mengandeng investor melalui mekanisme franchisee atau mitra.
  4. Pendapatan Catering. Anda juga mengembangkan bakso Anda ke bisnis catering, di mana Bakso Anda bisa mobile datang ke acara-cara pesta, ultah dsb.
Revenues Stream merupakan salah satu yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap pebisnis karena dengan mengetahui Revenue Stream bisnis yang dijalankan, seorang pengusaha dapat menentukan dengan baik beberapa hal dibawah ini yaitu

1. Fokus Bisnis
Hal ini berhubungan dengan Revenues Stream apa yang akan dikembangkan menjadi sumber pendapatan perusahaan dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Hal ini sangat penting karena berhubungan dengan kapabilitas kita sebagai pemilik bisnis (Biaya, SDM, Infrastuktur dll), sebagai contoh jika modal sedikit mungkin kita bisa fokuskan bisnis kita pada warung terlebih dahulu sembari mengumpulkan modal untuk mulai mengembangkan rumah produksi.

Jan 13, 2015

Aussie Vs Bekasi

"Liburan ke Aussie lebih mudah dibanding ke bekasi."

Iklan tersebut sebetulnya hanya mencoba mendriving tren-tren an soal lelucon Bekasi yang konon macetnya luar biasa, namun siapa yang menyangka iklan yang di"pikir" mungkin bakal menjadi lucu dan pay attention ini malah menjadi blunder buat perusahaan.

Pertama kali saya melihat iklan ini di posting facebook, saya sempat memberikan komen bahwa secara corporate untuk perusahaan sebesar itu menggunakan lelucon yang menyangkut nama daerah bukanlah strategi marketing yang tepat karena bisa memberikan impact yang negative ke perusahaan. Rasanya banyak ide/ konten kreatif lainnya yang bisa dijadikan bahan untuk menyampaikan pesan iklan dengan menghindara konten/ ide yang punya resiko seperti Bekasi.

Banyak juga yang mengangap keberatan banyak orang yang mengatasnamakan warga bekasi perupakan tindakan lebay sih, buat saya bukan di sana pointnya, ketika kita membuat sebuah campaign yang akhirnya malah mendapatkan liputan negatif yang mendorong sentimen serta menjadi konsumsi publik itu hal tersebut bisa dikatakan sebagai blunder marketing apalagi hal ini menyangkut sebuah daerah.

Nah muter dikit, kemarin saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu  komisaris perusahaan besar, beliau bercerita cukup banyak soal Good Corporate Governance, basically saya belom terlalu paham soal ini cuma dari case Bekasi tersebut saya mungkin bisa share beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan topik bahasan dan komisaris tersebut, yah tentu dia ga ngebahas case bekasi ini hehe, ini saya coba sambungkan sendiri

Seperangkat Norma Tidak Tertulis

Sep 21, 2014

Your Brand Name is Your Business

"Pak seberapa penting menentukan nama brand dalam sebuah bisnis?" Pertanyaan ini mendadak muncul ketika saya mengisi sebuah seminar dengan Topik Strategi Marketing Kuliner. "Khan kita sering liat juga tuh pak ada yang namanya simple-simple ajah bahkan pake nama yang punya tapi bisnisnya lancar dan sukses".

Ok pertanyaan seperti ini memang cukup asik buat dijadikan diskusi, toh dulu membuat rokok dengan brand name Gudang Garam, Djarum Super, atau brand Kopi Kapal Api, bisa tetap besar dan menjadi brand yang luar biasa seperti hal nya nama-nama keren A Mild, Clavo dan sebagainya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya melanjutkan dengan sebuah pertanyaan "Bapak kalo sekarang bawa ingin membuat brand rokok, percaya diri tidak memberi nama Rokok Bapak tersebut dengan nama Gudang Peluru?" Suasana hening sebentar dan kemudian saya melanjutkan sharing dengan sebuah argumentasi,

"apa yang bisa dilakukan dahulu mungkin sudah tidak relavan dengan kondisi sekarang karena konsumen, pesaing, pasar selalu berubah mengikuti jaman dan setiap pebisnis harus bisa dealing dengan kondisi tersebut jika ingin sukses".

Dulu memberi sebuah nama brand mungkin bukanlah bagian proses penting dalam membangun kegiatan sales dan marketing karena perusahaan dan juga mungkin konsumennya saat itu fokus/ beroreintasi pada PRODUK. istilah bahasa teman saya "lu punya barang bagus, harga cocok, gua beli". Yang punya Gudang Garam mungkin berpikir saat itu 'ah ini ajah namanya" tanpa perlu melakukan riset konsumen, mempelajari kompetitor dsb karena focusnya adalah membuat produk yang disukai oleh konsumen, tapi jika Anda bicara kondisi dulu disama ratakan dengan kondisi sekarang mungkin sekali brand Anda berakhir dengan tragis hanya karena sebuah nama.

Jadi setelah panjang lebar saya jawab "Penting sekali" untuk memberikan nama Brand bagi bisnis kita dengan benar dan direncanakan dengan baik jika kita bicara kondisi saat ini. Nah mungkin sudah cukup banyak yang bahas tapi it's ok lah kita ulang lagi, apa ajah sih yang penting diperhatikan dalam memberi nama brand bagi bisnis kita.

1. Siapa target market Anda

Aug 22, 2014

Ide Besar = Bisnis Besar?

"Mas aku dari dulu banyak ide buat bisnis, tapi ga pernah jalan hehe, habis bingung mau di gimanain, eh kadang malah orang lain yang jalanin dan sukses ide yang kupikirkan tersebut". Di satu kesempatan lain saya pernah nge path "Damn, padahal idenya kepikir eh taunya sudah ada yang jalankan" tiba-tiba seorang teman merespon "Gua udah beberapa kali kepikir ide-ide yang akhirnya orang lain yang jalani".

IDE, rasanya setiap orang selalu punya hal ini, jika ada ungkapan "nothing new under the sun" rasanya tidak terlalu berlebihan, hanya tinggal masalah siapa yang lebih dulu menemukan/ terpikir kemudian meng EKSEKUSInya secara kreatif dan sesuai dengan keinginan pasar. Ide ide mengenai Kripik Pedas di branding mungkin sudah ada sejak dulu dan bahkan memang sudah banyak kok yang menjualnya, namun kemudian ada yang membuat Brandingnya dengan lebih baik, ide memberikan level dan kemudian mengarah ke anak muda melalui social media channel serta meledak bisnisnya, nah ini dilakukan oleh Maicih.

So bagaimana agar ide menjadi bisnis, yah menjadi big bisnis tentunya? Jadi bukan hanya sekedar ide yang terungkap, dibicarakan namun pada akhirnya malah orang lain yang menjalankan ide tersebut. Satu hal yang perlu kita selalu ingat, saat kita terpikir, percayalah ada orang lain juga yang mungkin memikirkan hal yang saya, dan kita perlu khawatir jangan-jangan orang tersebut punya ILMU dan punya kemampuan untuk ACTION.

1. How Big

Aug 17, 2014

Strategi Add On untuk Meningkatkan Penjualan

Martabak Toblerone, Nutella, Kikat Green tea, Special Yakult Leci. Apa persamaan dari brand-brand di atas? Yah Brand tersebut ditangan pebisnis kuliner malah di jadikan "bagian produk/ add on" untuk dijual kembali dengan berbagai kreativitas. Martabak Toblerone misalnya, sekarang betul-betul sedang naik daun, di jakarta dan bandung ini merupakan salah satu martabak yang cukup digemari padahal harganya untuk ukuran dompet cukup luar biasa, di atas 100 ribu untuk 1 porsi martabak, dan pembeli ANTRI. Coba hitung sendiri berapa banyak tuh Toblerone yang dipakai kalo di beberapa kota di Indonesia Martabak dengan isi coklat Toblerone ini di jual? jangan-jangan jalur distribusi tradional yang biasa menjual coklat ini bisa kala salesnya kalo di compare 1 Store vs 1 tukang martabak, bisa puluhan kali lipat kali yah.

yakult juga sedang naik daun nih, di beberapa tempat makan besar seperti pizza hut sudah memasukan Yakulzt sebagai bagian dari pengolahan resep minuman mereka, ada berapa banyak pizza hut di Indonesia? Hitung sendiri deh, saya pun kebetulah di bandung punya beberapa cafe yang memasukan Yakuzt sebagai bagian dari olahan minuman dan bisa dibilang ordernya cukup besar harian untuk produk Yakult ini.

Sukro juga bahkan saya pernah lihat iklannya mencoba menjadi produk pendamping untuk makan bakso, terlihat mereka mencoba memposisikan produknya bisa digunakan dalam bisnis kuliner sehingga bisa menghasilkan demand dan konsumsi yang tinggi terhadap produknya dan masih banyak lagi brand yang mungkin secara "sengaja" atau "tidak sengaja" justru dikonsumsi dalam jumlah besar karena menjadi "olahan" dari produk-produk kuliner seperti keju Kraft yang jelas dari dulu sudah menggarap pasar "Warkop Indomie" dan berbagai kebutuhan kuliner lainnya.

Pertanyaan bagaimana Brand kita menjadi pilihan dan "olahan" dari Bisnis kuliner sehingga dari sisi sales bisa didongkrak dengan tajam? Yah blom tentu konsumsinya mengalahkan konsumsi rumah tangga tapi setidaknya demand produk akan lebih sustain jika industri yang dibangun oleh kuliner tersebut membesar seperti Warung Kopi yang menjual Indomie, coba saja hitung sendiri berapa banyak Indomie yang digunakan oleh warkop diseluruh Indonesia?

1. Berikan resep dan kreativitas pengolahan produk

Jul 25, 2014

Google Salesmanku

Ada percakapan yang menarik beberapa waktu lalu dengan sahabat saya ketika asik kongkow di Warunk Indomie UpNormal Bandung, beliau bertanya "Bro situ khan akhir-akhir ini sering banget nolak klien, btw kok bisa yah terus ada yang kontak ke perusahaanmu padahal dari ceritamu sama sekali tidak ada bagian sales yang berkerja seperti telemarketing, sales dor to dor ataupun melakukan aktivitas yang biasa dilakukan seperti kirim proposal dan sebagainya". Hmm pertanyaan ini sebetulnya menarik juga secara yang nanya sebetulnya jagoan dalam bidang online wkwk.

Telemarketing, sales dor to dor, kirim proposal cetak, hahh jadi teringat masa-masa di mana ketika saya mendirikan perusahaan beberapa tahun silam, semua itulah yang dilakukan setiap hari ini, cari sana sini database seperti lewat internet, B2B Directory sampe buka-bukan Yellow Pages untuk sekedar mendapatkan nama dan nomor telepon kemudian di prospek melalu telemarketing, kirim proposal sampe kalo perlu di sms terlebih dahulu, senyum-senyum sendiri saya kalo inget semua itu apalagi kalo diingat-ingat semua proses itu dijalankan tidak kurang dari 4-5 orang, hasilnya? Tebak sendiri deh hehe.

Sekarang, 5 orang tersebut sudah saya gantikan dengan google, biaya hanya 1/4 nya tapi efektivitas jauh sekali untuk dibandingkan. Coba bayangkan, kalo dulu telemarketing melakukan tugasnya yg ditelepon adalah orang yang belum tentu butuh, biaya telepon bisa 2-3 juta karena yang telepon bisa jadi ke HP, bisa jadi luar kota dll dan bagus ga pake diomelin karena menelepon tanpa permisi, namun dengan google sebaliknya, kita di telepon oleh orang yang butuh dengan kita, yah catat orang yang BUTUH dgn kita.


Jul 17, 2014

Gratis buat yang NYOBLOS, Buruan ....

Moment Pemilu Presiden tahun ini jujur saja menyita sangat banyak sekali energi dan perhatian baik dari masyarakat awam, timses dan juga para kader partai. Jika ingin di ingat-ingat, 5 tahun dan 10 tahuin yang lalu kondisi persaingan antar calon dan juga eufopria dukungan untuk para jagoan rasanya tidak se fanatik dan sekeras saat ini, teman-teman di beberapa komunitas yang saya coba ikuti bahkan ada jadi bermusuhan hanya gara-gara berbeda pilihan calon presiden. Padahal “ribut” nya panjang (kurang lebih sebulanan CMIIW), nyoblos nya sebentar ya hehehehe…..

Tapiiii karena saya hanya rakyat biasa dan bukan pengamat politik, maka untuk tulisan saya kali ini tidak akan membahas soal siapa calon pilihan saya dan analisa dan prediksi kedepannya siapa yang akan menang… lah wong saya nda ahli blasss banget kalo ngomongin soal politik hahahaha….. pingin nya membahas yang ringan-ringan saja apa yang dilakukan para brand-brand baik F&B dan industry service memanfaatkan moment Pemilu Presiden kali ini (maklum Pemilu pemilihan Presiden haya terjadi 5 tahun sekali, jadi Pemilu yang kali ini istimewa tentunya).

Seperti yang pernah saya singgung di artikel saya yang lalu (Baca Nih …. Gratis Stabucks) mengenai moment marketing dan persiapan untuk melakukannya, di bahasan kali ini saya masih ingin mengupas sedikit analisa dan kira2 apa saja sih persiapan yang sebaik nya dilakukan untuk memeriahkan moment Pemilu kali ini

1. Planning & forecasting

Jul 11, 2014

Konsumen "Die Hard"

Sepanjang suasana pemilu ini ada banyak hal yang sangat menarik untuk diamati khususnya soal pendukung kedua calon presiden RI, eh tapi digaris bawahi dulu yah, saya sedang tidak membahasa dari sisi politik tapi ingin membahas dari sisi marketing terlepas dari dukung mendukung capres.

Ada tidak diantara anda yang sampai bersitegang karena membela masing-masing calon dengan sahabat, keluarga, teman kerja dan bahkan orang yang belum Anda kenal sebelumnya? Banyak mungkin yah wkwk, saya sendiri termasuk bagian di atas karena situasi yang memang sedang hot-hotnya sering kali terlibat diskusi yang tajam mengenai masing-masing wapres. Hebatnya semua seperti merasa benar, memiliki data yang konkrit dan punya alasan yang sangat kuat bahwa apa yang mereka pikirkan soal capresnya adalah yang paling benar.

Di Social media juga lebih hebat lagi, berhamburan link artikel, komen, gambar dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan pemilihan calon presiden ini, entah betul entah salah pokoknya hantam bleh, sampai-sampai beberapa "tokoh" masyarakat  kebabalasan dalam membela capresnya dengan mengorbankan kredibilitasnya karena mengangkat isue-isue yang tidak relevan. Beberapa teman saya bahkan berujar "gua sampe musuhan sama teman gua wkwk" WOW, tapi bisa juga sih, saya juga sampai harus unfollow beberapa orang yang menurut saya sudah cukup anoying "nyampah".

Media cetak dan TV? apalagi, sudah bingung mau yang mana yang ditonton wkwk, yah kalo pendukung Jokowi pasti suka nonton Metro TV dan Kompas TV tapi akan sangat enek nonton TV One dan MNC mungkin haha pun sebaliknya karena masing-masing terjebak pada pusaran dukung mendukung

Kok bisa sampai segitunya yah? Banyak sekali Die hard yang muncul untuk membela kedua pasangan ini baik itu yang memang tulus muncul untuk menjadi die hard maupun yang memang dibayar. Ah kalo dibayar sih ga menariklah buat dibahas, kita coba lihat bagaimana Die Hard-Die hard "Ikhlas" muncul dan sangat agressive membela dan mempromosikan brand yang mereka bela, asik bener khan kalo sampai brand kita punya Die hard-Die Hard seperti ini.

1. Merasa terwakili

Jun 4, 2014

Bosan Ala Marketer

Dunia bisnis yang sangat dinamis membuat kita pelaku di dalamnya baik itu business owner maupun professional yang berkerja di dalamnya terus menerus dihadapkan pada sesuatu yang baru dan bergerak sangat cepat, yah bagi yang mencintai duni ini hal ini sih malah jadi "candu" yang membuat kita makin ketergantungan dan menikmati setiap waktu yang terjadi di dalamnya.

Tiap hari kita sebagai owner bisnis atau professional dituntut untuk terus bisa memberikan kontribusi besar dan mencapai target yang dibuat dengan ide-ide yang outstanding, eksekusi yang lugas dan cepat dan pemikiran-pemikiran yang terus dipacu sehingga bisa mencapai objectives yang dibuat dan memenangkan kompetisi pasar yang Ada.

Tapi pernahkah di satu titik Anda merasa Jenuh? Bosan? Dan bahkan malas sekali untuk berpikir urusan bisnis? Situasi di mana sehebat apapun Anda tiba-tiba menjad have no idea apa yang harus dilakukan karena pikiran dan otak Anda menjadi sangat lelas karena semua kedinamisan tadi? Secara pribadi saya jawab Ya, ada satu waktu saya mengalami hal seperti ini, termasuk ketika saya menulis saat ini wkwk. Nah tentu sebagai business owner atau professional kita harus bisa mencari jalan keluar untuk mengatasi hal ini karena bisnis terus berputar dan tidak menunggu kita untuk kembali siap.

Bahasan kali ini saya tidak ingin sharing soal case study atau hal-hal yang terlalu berbau marketing deh karena saya lagi merasa Bosan haha, kali ini saya ingin coba sedikit sharing bagaimana mengatasi hal tersebut ala Gue tentunya sehingga tidak butuh waktu lama mengembalikan apa yang biasa kita sebuat passiona dan atusias kita untuk kembali di dunia yang kita cintai ini yaitu bisnis dan marketing


May 29, 2014

6 Tips Untung Gede Tapi Harga Murah

"JIka saya ingin bermain di harga murah tapi tetap dengan margin keuntungan yang bagus di bisnis cafe ini apa yang harus saya lakukan?".

Pertanyaan seperti ini sudah beberapa kali ditanyakan kepada saya di beberapa kesempatan bertemu dengan beberapa calon client khususnya di bidang kuliner dan selalu berakhir dengan jawaban "wah saat ini saya tidak cukup competence menjawab pertanyaan Bapak/ Ibu karena menyangkut proses internal yang sangat dalam" dan bisa ditebak biarpun yang bersangkutan tertarik menjadi client, saya selalu menolak dengan "halus" untuk menangani hal ini. Kalo ditanya gimana naikin profit doang sih gampang mahalin ajah harga hehe, tapi kalo bicara harga murah kemudian untung bisa tinggi dan bahkan porsi bisa banyak, wah bentar dulu bukan perkara mudah melakukan taktik marketing seperti ini.

Nah 6 bulan ke belakang, menyalurkan keinginan untuk memiliki bisnis kuliner, saya mendirikan sebuah warung nasi goreng dengan brand Name Nasi Goreng Mafia, nasi goreng dengan konsep differensiasi kaya akan rempah berbeda di setiap menunya. Kebetulan strategy utama yang diangkat selain rempahnya adalah soal quantity yang banyak dan harga yang murah, di sini akhirnya pertanyaan "Jika saya ingin bermain di harga murah tapi tetap dengan margin keuntungan yang bagus di bisnis kuliner apa yang harus saya lakukan?" akhirnya tidak bisa saya hindari lagi dan harus dijawab karena sudah kecemplung di dalamnya hehe.

Ok singkat kata, setelah 6 bulan jalan, sedikit banyak saya sudah melihat pola bahwa harga murah, quantity (Porsi) banyak bisa menjadi sebuah nilai lebih bagi sebuah brand namun sekaligus tentu dari sisi margin bisa memberikan keuntungan yang susuai dengan harapan kita, bagaimana bisa? Kuncinya adalah Operational Excellent. Sebuah pilihan strategy dimana perusahaan berfokus pada biaya rendah untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga jual murah tapi menguntungkan. (Bisa juga sebetulnya dengan memperbanyak quantity penjualan, kita akan bahas lain waktu).

May 22, 2014

Komplain? Buat Konsumen Menang dan Akhirnya Senang

"Gimana caranya bro,tuh yang tadi pagi komplain sampe nulis artikel terus malah jadi temen ngobrol, ngasih masukan, nulis hal yang positif buat nimpah komplain yang dibuat sebelumnya terus malah bilang bakal merekomendasikan produk ke temen-temennya?"

Obrolan ini muncul ketika saya sempat sharing bagaimana membuat komplain di social media menjadi impact positive bagi brand alih-alih malah menimbulkan impact negatif. Jika keseharian Anda ngurusin banyak brand di social media, komplain jelas sudah jadi sarapan yang bakal selalu terhidang di meja kita hehe, tidak ada ceritanya semua konsumen puas dengan produk Anda, pasti ada satu waktu di mana akan muncul komplain terhadap apapun yang berkenaan dengan produk Anda, apalagi ingat ini JAMANNYA SOSMED.

Jaman dulu ketika belum ada sosmed mungkin komplain hanya bisa disampaikan melalui koran atau radio dan pasti capek dan males lah komplain hehe kecuali udah keselnnya di ubun-ubun, tapi jangam sekarang, hadohh misalnya Anda punya cafe, liat karyawan Anda mukanya minyakan ajah tiba-tiba muncul tweet "Ih karyawannya di @CafeApaAjah mukanya ga bisa apa di cuci sebentar" wkwk, ini baru contoh yang ga penting, apalagi kalo sudah menyangkut kecewa dengan produk ato layanan bisa lebih sadis lagi boo.

Kembali lagi, kali ini mungkin ke sekian kalinya saya ingin sharing dengan topik komplain dengan sudut pandang yang sedikit berbeda bagaimana Coverting Complain to Recommendation, mengapa? karena hal ini sangat penting bagi bisnis dan brand kita dalam persaingan dan mempertahankan pelanggan dan juga yang sangat perlu diingat sekarang channel ketika komplain datang tidak bisa ditebak dampak dan spreadingnya sehingga butuh sekali setiap brand bersiap berhadapan dengan komplain. Tentu paling ideal kita bisa men convert komplain tersebut menjadi rekomendasi, namun setidaknya pada tahap membuat komplain tersebut tidak menyebar juga sudah cukup.

1. Standart Operating Procedure

May 19, 2014

Turning Your Idea Into Business

Berapa sering kita memiliki ide yang berakhir dengan lupa dan tidak menjadi apa-apa selain kumpulan ide yang pernah terpikir atau terucap? Sejujurnya jika bertanya ke diri sendiri maka jawabnnya adalah Sering, dan bahkan sering sekali apalagi dunia yang saya jalani di brand & marketing consultant ini berkaitan erat sekali dengan produksi ide hampir setiap hari.

Lebih parah, kadang ide-ide yang kita pernah pikirkan, ucapkan dan simpan malah dijadikan bisnis oleh orang lain dan bisnis tersebut ternyata sukses, kalo sudah begini rasanya seperti di samabar petir di siang bolong haha (lebay), hari cuma bisa berguman "sial, padahal gua udah punya ide kaya gitu dari dulu, eh malah dia yang ngejalani dan sukses pula". Hal seperti ini bukan satu dua kali saya alami  dan mungkin Andapun pernah mengalami hal yang sama, ketika ide yang kita pikir "punya kita" dijalankan oleh orang lain dan sukses pula.

Nah kali ini saya ingin sedikit sharing bagaimana agar ide yang kita pikirkan atau bahkan orang lain pikirkan bisa kita jadikan sebuah action business yang pada akhirnya membuat kita menghasilkan uang dari ide tersebut, sehingga tidak ada lagi kelak kita menyesali di dalam hati "padahal dulu gua kepikir, kenapa kaga gua jalanin yah idenya". Yah tentu seperti biasa, ini dari point of view saya dan pengalaman yang sudah saya jalankan sebelumnya tentang bagaimana berkeja dengan dengan dan Turning Idea into Business.

1. Cari teman diskusi