Mar 31, 2016
Perubahan Adalah Sahabat Pebisnis
Akhir-akhir ini heboh banget soal Uber, Gojek dan Grab di pro dan kontra hadirnya layanan Aplikasi Sharing ketiga brand di atas memberikan dampak sangat besar baik bagi yang pro (yah tentu khususnya kita konsumen) dan yang kontra (kompetitor yang lahan sawahnya jadi ikut tergarap).
Baca sana sini, lihat ulasan pakar-pakar hebat membahas dari berbagai sudut seperti Sharing Economy, Wajah Kapitalisme sampai yang membahas soal aturan hukup dan asas keadilah sepertinya jadi bacaan wajib yang seru untuk dilewatkan hehe. Dari saya pribadi punya pandangan yang sangat sederhana dalam hal ini, itulah perubahan, suka tidak suka titik. Apakah kita akan mencoba ikut dan memanfaatkan perubahan ini atau mengambil sikap menolak perubahan ini entah sampai kapan dan dengan konsekensi seperti apa.
Yap, alih-alih sibuk pro dan kontra, mari kita lihat dari kacamata pebisnis seperti saya misalnya di bidang kuliner, perkembangan aplikasi seperti Gojek justru membukan pintu/ peluang yang luar biasa bagi bisnis kita tentunya, dahulu untuk membentuk 1 tim delivery makanan misalnya, setidaknya minimal membutuhkan 5 motor, 5 karyawan dengan keterbatasan jumlah yang bisa dilayani, loh kok bisa? lah coba ajah dipikir sendiri kapan biasanya order makanan masuk? Makan siang dan makan malam, 5 motor paling maksimal bisa melayani 2-3x pesanan, itupun kalo tidak jauh-jauh yang pesan dan alamatnya gampang ditemukan.
Menulis Itu Ibadah
Hampir 1 tahun sudah tidak pernah menulis lagi karena kesibukan di bisnis yang dijalankan saat ini membuat saya bingung sendiri mau menulis dari mana haha. Keinginan menulis ini timbul lagi gara-gara beberapa waktu lalu ada seorang sahabat yang mengucapkan terimakasih atas tulisan-tulisan yang pernah saya buat, sangat menginspirasi "katanya" dan bermanfaat untuk banyak orang, "ayo nulis lagi mas".
Jujur saja cukup lama saya kehilangan pijakan mengapa saya harus terus menulis, dulu karena saya seorang konsultan Brand dan Marketing menulis jadi seperti kewajiban, sejak "insaf" dan memulai bisnis kuliner saya seperti kehilangan tujuan untuk tetap menulis di blog ini sampai entah datang kata-kata dari seorang teman "menulislah untuk amal bro, khan itung-itung ibadah karena banyak yang mendapatkan manfaatnya".
Jadi, sejak sekarang Insya Allah saya akan kembali rutin menulis dengan 1 niat utama, ibadah, melalui tulisan-tulisan semoga banyak yang mendapatkan manfaat dan syukur-syukur inspirasi dari semua tulisan yang dibuat. Insya Allah. Bismillah.
(Pinjem imagenya yah bro @DewaEkaPrayoga
Apr 6, 2015
Senyum Manis + kalimat sakti = tambahan penjualan
Suatu malam ketika saya masuk & mendekati showcase berisi makanan di Starbucks:
Barista : Malam mba, mau pesan makanan apa?
Saya : Oh, iya ini lagi agak bingung mau pilih2 dulu
Barista : Sudah pernah coba quiches?
Saya : Belum, apa ya itu?
Barista : Semacam adonan kue yang dipanggang........ (dan penjelasan ttg produk)
Saya : Hmmmmm.......
Barista : Mba suka nya yang manis atau yang asin?
Saya : lebih suka asin sih, saya tertarik dengan cake nya
Barista : kalau cake sih jatoh2 nya jadi manis juga sih, kalau quiches asin
Saya : Boleh deh, saya coba quiches nya yang cheese satu ya
Barista : Makan disini ya? Baik, akan saya hangatkan dulu ya
Dan setelah itu terciptalah pembelian kue bernama bernama quiches yang saya baru tahu kalau ada kue dengan nama itu.
Sepenggal transaksi dialog itu sebenernya suka atau tidak suka sering kita alami, dan secara sadar atau tidak sadar sebenarnya kita sebagai konsumen sedang di arahkan untuk membeli sebuah produk oleh tenaga penjual, dalam hal ini sang barista yang tentu saja dilengkapi dengan wajah ramah dan senyum manis.
Pernah satu kali dalam sebuah seminar ada speaker yang menanyakan: “ Apakah mungkin meningkatkan penjualan tanpa ada nya peningkatan budget promosi?” Sebagian besar peserta mengatakan TIDAK, tapi ternyata sang speaker memberikan contoh nyata bahwa ternyata meningkatkan penjualan tidak melulu bicara peningkatan budget promosi, contoh nyata nya yang sudah dilakukan oleh perusahaan skala dunia: McDonald, pernah kah kita sadar pada saat transaksi di McD diakhir transaksi sang kasir selalu menanyakan: “Kentang nya tidak sekalian?” NAH!! Hanya dengan kalimat ini, McD menciptakan tambahan penjualan sebesar 35jutadollar
Barista : Malam mba, mau pesan makanan apa?
Saya : Oh, iya ini lagi agak bingung mau pilih2 dulu
Barista : Sudah pernah coba quiches?
Saya : Belum, apa ya itu?
Barista : Semacam adonan kue yang dipanggang........ (dan penjelasan ttg produk)
Saya : Hmmmmm.......
Barista : Mba suka nya yang manis atau yang asin?
Saya : lebih suka asin sih, saya tertarik dengan cake nya
Barista : kalau cake sih jatoh2 nya jadi manis juga sih, kalau quiches asin
Saya : Boleh deh, saya coba quiches nya yang cheese satu ya
Barista : Makan disini ya? Baik, akan saya hangatkan dulu ya
Dan setelah itu terciptalah pembelian kue bernama bernama quiches yang saya baru tahu kalau ada kue dengan nama itu.
Sepenggal transaksi dialog itu sebenernya suka atau tidak suka sering kita alami, dan secara sadar atau tidak sadar sebenarnya kita sebagai konsumen sedang di arahkan untuk membeli sebuah produk oleh tenaga penjual, dalam hal ini sang barista yang tentu saja dilengkapi dengan wajah ramah dan senyum manis.
Pernah satu kali dalam sebuah seminar ada speaker yang menanyakan: “ Apakah mungkin meningkatkan penjualan tanpa ada nya peningkatan budget promosi?” Sebagian besar peserta mengatakan TIDAK, tapi ternyata sang speaker memberikan contoh nyata bahwa ternyata meningkatkan penjualan tidak melulu bicara peningkatan budget promosi, contoh nyata nya yang sudah dilakukan oleh perusahaan skala dunia: McDonald, pernah kah kita sadar pada saat transaksi di McD diakhir transaksi sang kasir selalu menanyakan: “Kentang nya tidak sekalian?” NAH!! Hanya dengan kalimat ini, McD menciptakan tambahan penjualan sebesar 35jutadollar
Rahasia Penting Bisnis Menjadi Besar, Wajib Baca
Jika Anda memutuskan untuk membuat bisnis bakso, kira-kira bayangan Anda berapa besar income yang akan Anda dapat dalam 1 tahun? Dalam 5 Tahun atau bahkan dalam 10 tahun ke depan? Ok pertanyaan berikutnya, bagaimana dan dari mana income itu bisa Anda peroleh?
Jika pertanyaan saya di atas tidak bisa Anda jawab mungkin salah satu alasannya karena Anda belom mengerti salah satu ilmu yang sangat penting dalam bisnis yaitu Revenue Stream. Apa itu, dalam bahasa yang sederhana Revenue Stream adalah sumber pendapatan yang mungkin didapatkan oleh seorang pengusaha dalam rangka menjalankan bisnisnya.
Contoh ketika Anda memutuskan untuk berbisnis ba kso, nah sumber padapatan yang mungkin bisa didapat adalah:
1. Fokus Bisnis
Hal ini berhubungan dengan Revenues Stream apa yang akan dikembangkan menjadi sumber pendapatan perusahaan dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Hal ini sangat penting karena berhubungan dengan kapabilitas kita sebagai pemilik bisnis (Biaya, SDM, Infrastuktur dll), sebagai contoh jika modal sedikit mungkin kita bisa fokuskan bisnis kita pada warung terlebih dahulu sembari mengumpulkan modal untuk mulai mengembangkan rumah produksi.
Jika pertanyaan saya di atas tidak bisa Anda jawab mungkin salah satu alasannya karena Anda belom mengerti salah satu ilmu yang sangat penting dalam bisnis yaitu Revenue Stream. Apa itu, dalam bahasa yang sederhana Revenue Stream adalah sumber pendapatan yang mungkin didapatkan oleh seorang pengusaha dalam rangka menjalankan bisnisnya.
Contoh ketika Anda memutuskan untuk berbisnis ba kso, nah sumber padapatan yang mungkin bisa didapat adalah:
- Pendapatan Warung/ Gerobak. Pendapatan yang terjadi karena ada yang membeli bakso Anda di warung/ gerobak. Baik itu membeli Bakso, minuman atau bungkus baksonya.
- Pendapatan Jualan Bakso Beku. Nah selain punya warung, karena Anda produksi bakso sendiri, Anda memutuskan untuk menjual bakso beku juga ke warung-warung bakso lain, hotel dan ke masyarakat.
- Pendapatan Franchisee/ Mitra Cabang. Anda juga sudah berpikir nih akan mengembangkan bakso Anda dengan mengandeng investor melalui mekanisme franchisee atau mitra.
- Pendapatan Catering. Anda juga mengembangkan bakso Anda ke bisnis catering, di mana Bakso Anda bisa mobile datang ke acara-cara pesta, ultah dsb.
1. Fokus Bisnis
Hal ini berhubungan dengan Revenues Stream apa yang akan dikembangkan menjadi sumber pendapatan perusahaan dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Hal ini sangat penting karena berhubungan dengan kapabilitas kita sebagai pemilik bisnis (Biaya, SDM, Infrastuktur dll), sebagai contoh jika modal sedikit mungkin kita bisa fokuskan bisnis kita pada warung terlebih dahulu sembari mengumpulkan modal untuk mulai mengembangkan rumah produksi.
Jan 13, 2015
Aussie Vs Bekasi
"Liburan ke Aussie lebih mudah dibanding ke bekasi."
Iklan tersebut sebetulnya hanya mencoba mendriving tren-tren an soal lelucon Bekasi yang konon macetnya luar biasa, namun siapa yang menyangka iklan yang di"pikir" mungkin bakal menjadi lucu dan pay attention ini malah menjadi blunder buat perusahaan.
Pertama kali saya melihat iklan ini di posting facebook, saya sempat memberikan komen bahwa secara corporate untuk perusahaan sebesar itu menggunakan lelucon yang menyangkut nama daerah bukanlah strategi marketing yang tepat karena bisa memberikan impact yang negative ke perusahaan. Rasanya banyak ide/ konten kreatif lainnya yang bisa dijadikan bahan untuk menyampaikan pesan iklan dengan menghindara konten/ ide yang punya resiko seperti Bekasi.
Banyak juga yang mengangap keberatan banyak orang yang mengatasnamakan warga bekasi perupakan tindakan lebay sih, buat saya bukan di sana pointnya, ketika kita membuat sebuah campaign yang akhirnya malah mendapatkan liputan negatif yang mendorong sentimen serta menjadi konsumsi publik itu hal tersebut bisa dikatakan sebagai blunder marketing apalagi hal ini menyangkut sebuah daerah.
Nah muter dikit, kemarin saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu komisaris perusahaan besar, beliau bercerita cukup banyak soal Good Corporate Governance, basically saya belom terlalu paham soal ini cuma dari case Bekasi tersebut saya mungkin bisa share beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan topik bahasan dan komisaris tersebut, yah tentu dia ga ngebahas case bekasi ini hehe, ini saya coba sambungkan sendiri
Seperangkat Norma Tidak Tertulis
Iklan tersebut sebetulnya hanya mencoba mendriving tren-tren an soal lelucon Bekasi yang konon macetnya luar biasa, namun siapa yang menyangka iklan yang di"pikir" mungkin bakal menjadi lucu dan pay attention ini malah menjadi blunder buat perusahaan.
Pertama kali saya melihat iklan ini di posting facebook, saya sempat memberikan komen bahwa secara corporate untuk perusahaan sebesar itu menggunakan lelucon yang menyangkut nama daerah bukanlah strategi marketing yang tepat karena bisa memberikan impact yang negative ke perusahaan. Rasanya banyak ide/ konten kreatif lainnya yang bisa dijadikan bahan untuk menyampaikan pesan iklan dengan menghindara konten/ ide yang punya resiko seperti Bekasi.
Banyak juga yang mengangap keberatan banyak orang yang mengatasnamakan warga bekasi perupakan tindakan lebay sih, buat saya bukan di sana pointnya, ketika kita membuat sebuah campaign yang akhirnya malah mendapatkan liputan negatif yang mendorong sentimen serta menjadi konsumsi publik itu hal tersebut bisa dikatakan sebagai blunder marketing apalagi hal ini menyangkut sebuah daerah.
Nah muter dikit, kemarin saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu komisaris perusahaan besar, beliau bercerita cukup banyak soal Good Corporate Governance, basically saya belom terlalu paham soal ini cuma dari case Bekasi tersebut saya mungkin bisa share beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan topik bahasan dan komisaris tersebut, yah tentu dia ga ngebahas case bekasi ini hehe, ini saya coba sambungkan sendiri
Seperangkat Norma Tidak Tertulis
Jan 9, 2015
Statement dan Kaizen
Ga kerasa sudah hampir 3 bulan belom di update blognya karena sibuk sekali dengan pengembangan bisnis dan project menulis buku Creative marketing, nah menyambut tahun baru 2015 kita akan mulai kembali mengisi halaman-demi halaman dengan artikel yang bermanfaat, selamat menikmati yah. yuk mulai dengan sedikit berbau motivasi mupung awal tahun hehe.
Dari Mario Teguh sampai Jordan Belfort jika ditanya tentang apa sih yang mendasari seseorang sukses atau tidak, sebagian besar akan menjawab keyakinan diri. Tapi kadang keyakinan diri itu susah untuk dibangun. Udah berbagai seminar motivasi diikuti, berpuluh-puluh buku motivasi dibeli (ada yang dibaca sampai habis ada yang 5 halaman awal saja), beratus-ratus akun Twitter motivasi di follow, tapi tetep aja koq susah ya buat merubah diri sendiri.
Di sini saya ingin share tentang 2 hal mudah yang bisa langsung Anda lakukan untuk menciptakan keyakinan diri tersebut. Satu adalah Statement dan yang kedua adalah Kaizen.
1. Statement
Teori bahwa Statement merupakan modal dasar kesuksesan, dipopulerkan oleh Jordan Belfort, seorang praktisi dunia saham yang menjadi super sukses dan saat ini berprofesi sebagai seorang motivator.
Beliau mengatakan bahwa untuk meraih sesuatu, misal dalam hal ini keberhasilan Anda dalam bisnis atau karir, atau keinginan Anda menjadi kreatif, harus diawali dari sebuah statement, yaitu pernyataan sederhana yang Anda sering ucapkan contoh “Saya pasti bisa menjadi orang kreatif” atau “Saya adalah orang sukses. Orang Sukses tidak menyerah di tengah jalan”, dll.
Dari Mario Teguh sampai Jordan Belfort jika ditanya tentang apa sih yang mendasari seseorang sukses atau tidak, sebagian besar akan menjawab keyakinan diri. Tapi kadang keyakinan diri itu susah untuk dibangun. Udah berbagai seminar motivasi diikuti, berpuluh-puluh buku motivasi dibeli (ada yang dibaca sampai habis ada yang 5 halaman awal saja), beratus-ratus akun Twitter motivasi di follow, tapi tetep aja koq susah ya buat merubah diri sendiri.
Di sini saya ingin share tentang 2 hal mudah yang bisa langsung Anda lakukan untuk menciptakan keyakinan diri tersebut. Satu adalah Statement dan yang kedua adalah Kaizen.
1. Statement
Teori bahwa Statement merupakan modal dasar kesuksesan, dipopulerkan oleh Jordan Belfort, seorang praktisi dunia saham yang menjadi super sukses dan saat ini berprofesi sebagai seorang motivator.
Beliau mengatakan bahwa untuk meraih sesuatu, misal dalam hal ini keberhasilan Anda dalam bisnis atau karir, atau keinginan Anda menjadi kreatif, harus diawali dari sebuah statement, yaitu pernyataan sederhana yang Anda sering ucapkan contoh “Saya pasti bisa menjadi orang kreatif” atau “Saya adalah orang sukses. Orang Sukses tidak menyerah di tengah jalan”, dll.
Oct 27, 2014
Marketing Club Gathering, Ilmu Mahal Nih
Minggu lalu saya berkesempatan untuk referesh Ilmu dengan menghadiri acara Marketing Club di markas besar Google Indonesia di Jakarta, jujur saja kadang dengan berbagai kesibukan yang ada setiap hari mungkin cukup banyak pebisnis seperti saya yang sampai tidak ada waktu untuk terus belajar secara teknis mengenai berbagai ilmu bisnis yang ada saat ini, yah tentu dalam konteks pebisnis bukan kemudian tidak belajar sama sekali namun referensi ilmu yang ada mungkin saat ini lebih banyak memenuhi kepala karena pengalaman setiap hari dengan bisnis dan bertemu dengan banyak orang yang finally ilmunya secara tidak langsung ikut terserap. Nah kesempatan berkumpul dengan teman-teman marketing club ini sesuatu yang cukup "mahal" menurut saya apalagi pembicaranya Bpk. Godo yang sudah sangat terkenal di dunia marketing Indonesia blom lagi tempatnya di Google yang keren hehe.
Seminar ini dibuka dengan sebuah kalimat yang menurut saya cukup menarik, "Apa yang berubah dari Marketing? Dari dulu, sekarang ataupun di masa yang akan datang" ... coba pejamkan mata dan jawab pertanyaan di atas. Sudah? Yah ada 2 hal yang selalu berubah di dalam dunia marketing yaitu KONSUMEN dan TOOLS dan pada sisi inilah salah satu hal yg sangat menarik dalam dunia marketing dan inilah pulah yang membuat ilmu marketing selalu dinamis sampai kapanpun karena kita tidak akan atau mungkin bisa dikatakan jarang akan bertemu kondisi yang sama saat ini dibandingkan dengan masa lalu.
Cara berjualan mobil ke ayah saya mungkin akan sangat berbeda dengan cara berjualan mobil kepada saya atau bahkan generasi setelah saya. Dulu harapan orang membeli HP mungkin disebabkan oleh kebutuhan untuk melakukan telepon dan SMS, sekarang coba saya tanya berapa banyak yang Anda dari tadi pagi melakukan SMS atau bahkan menelepon? Mungkin sebagian besar kita selalu mengenggam dari tadi tapi aktivitas yang kita lakukan mungkin sudah berubah dari 5 tahun lalu yaitu Social media works (Whatsapp, facebook, twitter, path) dan sebagainya. Ini contoh bagaimana konsumen itu berubah dan hal ini menjadi PR penting bagi setiap marketer untuk bisa "menebak/ memprediksi" ke arah mana konsumen akan berubah dan kemudian bergerak mengisi kebutuhan dari konsumen tersebut.
Seminar ini dibuka dengan sebuah kalimat yang menurut saya cukup menarik, "Apa yang berubah dari Marketing? Dari dulu, sekarang ataupun di masa yang akan datang" ... coba pejamkan mata dan jawab pertanyaan di atas. Sudah? Yah ada 2 hal yang selalu berubah di dalam dunia marketing yaitu KONSUMEN dan TOOLS dan pada sisi inilah salah satu hal yg sangat menarik dalam dunia marketing dan inilah pulah yang membuat ilmu marketing selalu dinamis sampai kapanpun karena kita tidak akan atau mungkin bisa dikatakan jarang akan bertemu kondisi yang sama saat ini dibandingkan dengan masa lalu.
Cara berjualan mobil ke ayah saya mungkin akan sangat berbeda dengan cara berjualan mobil kepada saya atau bahkan generasi setelah saya. Dulu harapan orang membeli HP mungkin disebabkan oleh kebutuhan untuk melakukan telepon dan SMS, sekarang coba saya tanya berapa banyak yang Anda dari tadi pagi melakukan SMS atau bahkan menelepon? Mungkin sebagian besar kita selalu mengenggam dari tadi tapi aktivitas yang kita lakukan mungkin sudah berubah dari 5 tahun lalu yaitu Social media works (Whatsapp, facebook, twitter, path) dan sebagainya. Ini contoh bagaimana konsumen itu berubah dan hal ini menjadi PR penting bagi setiap marketer untuk bisa "menebak/ memprediksi" ke arah mana konsumen akan berubah dan kemudian bergerak mengisi kebutuhan dari konsumen tersebut.
Sep 21, 2014
Your Brand Name is Your Business
"Pak seberapa penting menentukan nama brand dalam sebuah bisnis?" Pertanyaan ini mendadak muncul ketika saya mengisi sebuah seminar dengan Topik Strategi Marketing Kuliner. "Khan kita sering liat juga tuh pak ada yang namanya simple-simple ajah bahkan pake nama yang punya tapi bisnisnya lancar dan sukses".
Ok pertanyaan seperti ini memang cukup asik buat dijadikan diskusi, toh dulu membuat rokok dengan brand name Gudang Garam, Djarum Super, atau brand Kopi Kapal Api, bisa tetap besar dan menjadi brand yang luar biasa seperti hal nya nama-nama keren A Mild, Clavo dan sebagainya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya melanjutkan dengan sebuah pertanyaan "Bapak kalo sekarang bawa ingin membuat brand rokok, percaya diri tidak memberi nama Rokok Bapak tersebut dengan nama Gudang Peluru?" Suasana hening sebentar dan kemudian saya melanjutkan sharing dengan sebuah argumentasi,
"apa yang bisa dilakukan dahulu mungkin sudah tidak relavan dengan kondisi sekarang karena konsumen, pesaing, pasar selalu berubah mengikuti jaman dan setiap pebisnis harus bisa dealing dengan kondisi tersebut jika ingin sukses".
Dulu memberi sebuah nama brand mungkin bukanlah bagian proses penting dalam membangun kegiatan sales dan marketing karena perusahaan dan juga mungkin konsumennya saat itu fokus/ beroreintasi pada PRODUK. istilah bahasa teman saya "lu punya barang bagus, harga cocok, gua beli". Yang punya Gudang Garam mungkin berpikir saat itu 'ah ini ajah namanya" tanpa perlu melakukan riset konsumen, mempelajari kompetitor dsb karena focusnya adalah membuat produk yang disukai oleh konsumen, tapi jika Anda bicara kondisi dulu disama ratakan dengan kondisi sekarang mungkin sekali brand Anda berakhir dengan tragis hanya karena sebuah nama.
Jadi setelah panjang lebar saya jawab "Penting sekali" untuk memberikan nama Brand bagi bisnis kita dengan benar dan direncanakan dengan baik jika kita bicara kondisi saat ini. Nah mungkin sudah cukup banyak yang bahas tapi it's ok lah kita ulang lagi, apa ajah sih yang penting diperhatikan dalam memberi nama brand bagi bisnis kita.
1. Siapa target market Anda
Ok pertanyaan seperti ini memang cukup asik buat dijadikan diskusi, toh dulu membuat rokok dengan brand name Gudang Garam, Djarum Super, atau brand Kopi Kapal Api, bisa tetap besar dan menjadi brand yang luar biasa seperti hal nya nama-nama keren A Mild, Clavo dan sebagainya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya melanjutkan dengan sebuah pertanyaan "Bapak kalo sekarang bawa ingin membuat brand rokok, percaya diri tidak memberi nama Rokok Bapak tersebut dengan nama Gudang Peluru?" Suasana hening sebentar dan kemudian saya melanjutkan sharing dengan sebuah argumentasi,
"apa yang bisa dilakukan dahulu mungkin sudah tidak relavan dengan kondisi sekarang karena konsumen, pesaing, pasar selalu berubah mengikuti jaman dan setiap pebisnis harus bisa dealing dengan kondisi tersebut jika ingin sukses".
Dulu memberi sebuah nama brand mungkin bukanlah bagian proses penting dalam membangun kegiatan sales dan marketing karena perusahaan dan juga mungkin konsumennya saat itu fokus/ beroreintasi pada PRODUK. istilah bahasa teman saya "lu punya barang bagus, harga cocok, gua beli". Yang punya Gudang Garam mungkin berpikir saat itu 'ah ini ajah namanya" tanpa perlu melakukan riset konsumen, mempelajari kompetitor dsb karena focusnya adalah membuat produk yang disukai oleh konsumen, tapi jika Anda bicara kondisi dulu disama ratakan dengan kondisi sekarang mungkin sekali brand Anda berakhir dengan tragis hanya karena sebuah nama.
Jadi setelah panjang lebar saya jawab "Penting sekali" untuk memberikan nama Brand bagi bisnis kita dengan benar dan direncanakan dengan baik jika kita bicara kondisi saat ini. Nah mungkin sudah cukup banyak yang bahas tapi it's ok lah kita ulang lagi, apa ajah sih yang penting diperhatikan dalam memberi nama brand bagi bisnis kita.
1. Siapa target market Anda
Aug 22, 2014
Ide Besar = Bisnis Besar?
"Mas aku dari dulu banyak ide buat bisnis, tapi ga pernah jalan hehe, habis bingung mau di gimanain, eh kadang malah orang lain yang jalanin dan sukses ide yang kupikirkan tersebut". Di satu kesempatan lain saya pernah nge path "Damn, padahal idenya kepikir eh taunya sudah ada yang jalankan" tiba-tiba seorang teman merespon "Gua udah beberapa kali kepikir ide-ide yang akhirnya orang lain yang jalani".
IDE, rasanya setiap orang selalu punya hal ini, jika ada ungkapan "nothing new under the sun" rasanya tidak terlalu berlebihan, hanya tinggal masalah siapa yang lebih dulu menemukan/ terpikir kemudian meng EKSEKUSInya secara kreatif dan sesuai dengan keinginan pasar. Ide ide mengenai Kripik Pedas di branding mungkin sudah ada sejak dulu dan bahkan memang sudah banyak kok yang menjualnya, namun kemudian ada yang membuat Brandingnya dengan lebih baik, ide memberikan level dan kemudian mengarah ke anak muda melalui social media channel serta meledak bisnisnya, nah ini dilakukan oleh Maicih.
So bagaimana agar ide menjadi bisnis, yah menjadi big bisnis tentunya? Jadi bukan hanya sekedar ide yang terungkap, dibicarakan namun pada akhirnya malah orang lain yang menjalankan ide tersebut. Satu hal yang perlu kita selalu ingat, saat kita terpikir, percayalah ada orang lain juga yang mungkin memikirkan hal yang saya, dan kita perlu khawatir jangan-jangan orang tersebut punya ILMU dan punya kemampuan untuk ACTION.
1. How Big
IDE, rasanya setiap orang selalu punya hal ini, jika ada ungkapan "nothing new under the sun" rasanya tidak terlalu berlebihan, hanya tinggal masalah siapa yang lebih dulu menemukan/ terpikir kemudian meng EKSEKUSInya secara kreatif dan sesuai dengan keinginan pasar. Ide ide mengenai Kripik Pedas di branding mungkin sudah ada sejak dulu dan bahkan memang sudah banyak kok yang menjualnya, namun kemudian ada yang membuat Brandingnya dengan lebih baik, ide memberikan level dan kemudian mengarah ke anak muda melalui social media channel serta meledak bisnisnya, nah ini dilakukan oleh Maicih.
So bagaimana agar ide menjadi bisnis, yah menjadi big bisnis tentunya? Jadi bukan hanya sekedar ide yang terungkap, dibicarakan namun pada akhirnya malah orang lain yang menjalankan ide tersebut. Satu hal yang perlu kita selalu ingat, saat kita terpikir, percayalah ada orang lain juga yang mungkin memikirkan hal yang saya, dan kita perlu khawatir jangan-jangan orang tersebut punya ILMU dan punya kemampuan untuk ACTION.
1. How Big
Aug 17, 2014
Strategi Add On untuk Meningkatkan Penjualan
Martabak Toblerone, Nutella, Kikat Green tea, Special Yakult Leci. Apa persamaan dari brand-brand di atas? Yah Brand tersebut ditangan pebisnis kuliner malah di jadikan "bagian produk/ add on" untuk dijual kembali dengan berbagai kreativitas. Martabak Toblerone misalnya, sekarang betul-betul sedang naik daun, di jakarta dan bandung ini merupakan salah satu martabak yang cukup digemari padahal harganya untuk ukuran dompet cukup luar biasa, di atas 100 ribu untuk 1 porsi martabak, dan pembeli ANTRI. Coba hitung sendiri berapa banyak tuh Toblerone yang dipakai kalo di beberapa kota di Indonesia Martabak dengan isi coklat Toblerone ini di jual? jangan-jangan jalur distribusi tradional yang biasa menjual coklat ini bisa kala salesnya kalo di compare 1 Store vs 1 tukang martabak, bisa puluhan kali lipat kali yah.
yakult juga sedang naik daun nih, di beberapa tempat makan besar seperti pizza hut sudah memasukan Yakulzt sebagai bagian dari pengolahan resep minuman mereka, ada berapa banyak pizza hut di Indonesia? Hitung sendiri deh, saya pun kebetulah di bandung punya beberapa cafe yang memasukan Yakuzt sebagai bagian dari olahan minuman dan bisa dibilang ordernya cukup besar harian untuk produk Yakult ini.
Sukro juga bahkan saya pernah lihat iklannya mencoba menjadi produk pendamping untuk makan bakso, terlihat mereka mencoba memposisikan produknya bisa digunakan dalam bisnis kuliner sehingga bisa menghasilkan demand dan konsumsi yang tinggi terhadap produknya dan masih banyak lagi brand yang mungkin secara "sengaja" atau "tidak sengaja" justru dikonsumsi dalam jumlah besar karena menjadi "olahan" dari produk-produk kuliner seperti keju Kraft yang jelas dari dulu sudah menggarap pasar "Warkop Indomie" dan berbagai kebutuhan kuliner lainnya.
Pertanyaan bagaimana Brand kita menjadi pilihan dan "olahan" dari Bisnis kuliner sehingga dari sisi sales bisa didongkrak dengan tajam? Yah blom tentu konsumsinya mengalahkan konsumsi rumah tangga tapi setidaknya demand produk akan lebih sustain jika industri yang dibangun oleh kuliner tersebut membesar seperti Warung Kopi yang menjual Indomie, coba saja hitung sendiri berapa banyak Indomie yang digunakan oleh warkop diseluruh Indonesia?
1. Berikan resep dan kreativitas pengolahan produk
yakult juga sedang naik daun nih, di beberapa tempat makan besar seperti pizza hut sudah memasukan Yakulzt sebagai bagian dari pengolahan resep minuman mereka, ada berapa banyak pizza hut di Indonesia? Hitung sendiri deh, saya pun kebetulah di bandung punya beberapa cafe yang memasukan Yakuzt sebagai bagian dari olahan minuman dan bisa dibilang ordernya cukup besar harian untuk produk Yakult ini.
Sukro juga bahkan saya pernah lihat iklannya mencoba menjadi produk pendamping untuk makan bakso, terlihat mereka mencoba memposisikan produknya bisa digunakan dalam bisnis kuliner sehingga bisa menghasilkan demand dan konsumsi yang tinggi terhadap produknya dan masih banyak lagi brand yang mungkin secara "sengaja" atau "tidak sengaja" justru dikonsumsi dalam jumlah besar karena menjadi "olahan" dari produk-produk kuliner seperti keju Kraft yang jelas dari dulu sudah menggarap pasar "Warkop Indomie" dan berbagai kebutuhan kuliner lainnya.
Pertanyaan bagaimana Brand kita menjadi pilihan dan "olahan" dari Bisnis kuliner sehingga dari sisi sales bisa didongkrak dengan tajam? Yah blom tentu konsumsinya mengalahkan konsumsi rumah tangga tapi setidaknya demand produk akan lebih sustain jika industri yang dibangun oleh kuliner tersebut membesar seperti Warung Kopi yang menjual Indomie, coba saja hitung sendiri berapa banyak Indomie yang digunakan oleh warkop diseluruh Indonesia?
1. Berikan resep dan kreativitas pengolahan produk
Subscribe to:
Posts (Atom)









