Jun 26, 2016

Everyone is Profit Makers



"Setiap divisi harus menghasilkan profit sehingga pertumbuhan perusahaan akan sehat" ini salah satu kalimat yang sangat menarik ketika minggu lalu saya meeting dengan salah satu pengusaha besar di Bandung, kok bisa semua divisi harus menghasilkan profit, bukannya pada umumnya biasanya profit dihasilkan oleh tim sales? sehingga sering khan kita denger becandaan, "ah situ mah enak bagian marketing/ admin/ atau bagian lainnya cuma ngabisin duit. kita nih capek2 dilapangan buat jualan dan menghasilkan profit untuk perusahaan".

Ketika kita misalnya bekerja di divisi branding sebuah perusahaan, bukannya lazimnya yah kerjaannya ngabisin uang yang artinya malah mengurangi profit perusahaan? Ato contoh ekstrim, bagaimana mungkin seorang satpam perusahaan bisa menghasilkan profit karena pekerjaannya yang seputar keamanan, bukan melakukan penjualan?

"Kok bisa pak tanya saya?" "yah bisa rex, tergantung bagaimana kita memahami terminologi profit dalam bisnis, ingat yah dalam bisnis bukan dalam terminologi akuntansi". Oh ok, saya paham maksudnya, dan hal ini sangat menarik karena cukup banyak pengusaha yang tidak betul-betul memahami hal ini, saya berikan 1 contoh yang sederhana ajah misalnya, ketika kita bagian produksi mencoba berbagai cara untuk menekan harga pokok produk HPP, bukankah hal ini akan punya impact peningkatan profit perusahaan?

logika sederhananya, dulu modal 500 rupiah, di jual 1000 rupiah untung 500, kemudian kurangin semua biasa katakanlah 300 rupiah, makah profit bersih 500-300 adalah 200 rupiah, nah bagaimana jika bagian riset kemudian menemukan cara yang lebih efisien sehingga harga pokok yang tadinya 500 bisa ditekan ke 300 rupiah? punya impact bukan ke profit perusahaan. Jadi pejaran apa yang bisa kita ambil dari kalimat singkat di atas "Setiap divisi harus menghasilkan profit sehingga pertumbuhan perusahaan akan sehat"?

Mindset dalam pemahaman profit

Apr 3, 2016

Inovatif, Kata Elo ato Kata Siapa?


"Wuih inovatif banget yah cafe baru itu, konsepnya beda banget dengan yang lain, blom pernah ada sebelumnya di bandung yang seperti itu" ............ Beberapa kali 10 tahun ke belakang kalimat seperti ini sering sekali saya dengar, inovatif karena berbeda dan unik, namun ironi nya mostly tempat-tempat yang dikatakan inovatif tersebut sudah tidak terdengar lagi namanya dengan membukuhkan kerugian bisnis yang lumayan besar, kebetulan saya kenal dengan beberapa pemilik bisnisnya.

Or sering juga dibidang teknologi dan starup (yang lagi naik daun banget nih) kita melihat, membaca dan mendengar muncul teknologi-teknologi dan startup baru yang sangat inovatif bahkan kadang sampe kita sendiri bingung nawarin apa sebenernya teknologi dan startup tersebut, heboh di awal tahun dengan budget komunikasi dan media yang luar biasa besar namun akhirnya redup ditelan waktu.

Inovatif kha cafe-cafe yang sangat kreatif (kata orang), or teknologi or startup tersebut sebetulnya? Apa sebetulnya defininya sehingga seseorang, product, jasa ataupun apapun yang terkait dengan bisnis (karena bahasannya bisnis) bisa dikatakan inovatif? Apakah hanya karena Absoluttly Outstanding, Luar biasa keren, Amazing or sesuatu yang sangat baru bisa dikatakan sudah memenuhi syarat untuk dikatankan inovatif?

Ide Baru yang Butuh Validasi
Yap inovatif bukan hanya bicara menciptakan sesuatu yang baru di dunia ini menurut saya, ketika kita men kreasikan sebuah proses, produck atau apapun itu kemudian muncullah sebuah Ide baru yang bisa diimplementasikan di dalam bisnis kita itulah syarat awal sesuatu bisa dikatakan inovatif atau bahkan sesuatu yang sudah ada kemudian kita kembangkan dengan pendekatan yang lebih baru, lebih modern atau lebih kreatifpun bisa dikata inovatif kok, tapi kembali lagi itu baru syarat awal.


Mar 31, 2016

Perubahan Adalah Sahabat Pebisnis


Akhir-akhir ini heboh banget soal Uber, Gojek dan Grab di pro dan kontra hadirnya layanan Aplikasi Sharing ketiga brand di atas memberikan dampak sangat besar baik bagi yang pro (yah tentu khususnya kita konsumen) dan yang kontra (kompetitor yang lahan sawahnya jadi ikut tergarap).

Baca sana sini, lihat ulasan pakar-pakar hebat membahas dari berbagai sudut seperti Sharing Economy, Wajah Kapitalisme sampai yang membahas soal aturan hukup dan asas keadilah sepertinya jadi bacaan wajib yang seru untuk dilewatkan hehe. Dari saya pribadi punya pandangan yang sangat sederhana dalam hal ini, itulah perubahan, suka tidak suka titik. Apakah kita akan mencoba ikut dan memanfaatkan perubahan ini atau mengambil sikap menolak perubahan ini entah sampai kapan dan dengan konsekensi seperti apa.

Yap, alih-alih sibuk pro dan kontra, mari kita lihat dari kacamata pebisnis seperti saya misalnya di bidang kuliner, perkembangan aplikasi seperti Gojek justru membukan pintu/ peluang yang luar biasa bagi bisnis kita tentunya, dahulu untuk membentuk 1 tim delivery makanan misalnya, setidaknya minimal membutuhkan 5 motor, 5 karyawan dengan keterbatasan jumlah yang bisa dilayani, loh kok bisa? lah coba ajah dipikir sendiri kapan biasanya order makanan masuk? Makan siang dan makan malam, 5 motor paling maksimal bisa melayani 2-3x pesanan, itupun kalo tidak jauh-jauh yang pesan dan alamatnya gampang ditemukan.


Menulis Itu Ibadah



Hampir 1 tahun sudah tidak pernah menulis lagi karena kesibukan di bisnis yang dijalankan saat ini membuat saya bingung sendiri mau menulis dari mana haha. Keinginan menulis ini timbul lagi gara-gara beberapa waktu lalu ada seorang sahabat yang mengucapkan terimakasih atas tulisan-tulisan yang pernah saya buat, sangat menginspirasi "katanya" dan bermanfaat untuk banyak orang, "ayo nulis lagi mas".

Jujur saja cukup lama saya kehilangan pijakan mengapa saya harus terus menulis, dulu karena saya seorang konsultan Brand dan Marketing menulis jadi seperti kewajiban, sejak "insaf" dan memulai bisnis kuliner saya seperti kehilangan tujuan untuk tetap menulis di blog ini sampai entah datang kata-kata dari seorang teman "menulislah untuk amal bro, khan itung-itung ibadah karena banyak yang mendapatkan manfaatnya".

Jadi, sejak sekarang Insya Allah saya akan kembali rutin menulis dengan 1 niat utama, ibadah, melalui tulisan-tulisan semoga banyak yang mendapatkan manfaat dan syukur-syukur inspirasi dari semua tulisan yang dibuat. Insya Allah. Bismillah.


(Pinjem imagenya yah bro @DewaEkaPrayoga

Apr 6, 2015

Senyum Manis + kalimat sakti = tambahan penjualan

Suatu malam ketika saya masuk & mendekati showcase berisi makanan di Starbucks:

Barista  : Malam mba, mau pesan makanan apa?
Saya     : Oh, iya ini lagi agak bingung mau pilih2 dulu
Barista  : Sudah pernah coba quiches?
Saya     : Belum, apa ya itu?
Barista : Semacam adonan kue yang dipanggang........ (dan penjelasan ttg produk)
Saya     : Hmmmmm.......
Barista  : Mba suka nya yang manis atau yang asin?
Saya     : lebih suka asin sih, saya tertarik dengan cake nya
Barista  : kalau cake sih jatoh2 nya jadi manis juga sih, kalau quiches asin
Saya     : Boleh deh, saya coba quiches nya yang cheese satu ya

Barista  : Makan disini ya? Baik, akan saya hangatkan dulu ya

Dan setelah itu terciptalah pembelian kue bernama bernama quiches yang saya baru tahu kalau ada kue dengan nama itu.

Sepenggal transaksi dialog itu sebenernya suka atau tidak suka sering kita alami, dan secara sadar atau tidak sadar sebenarnya kita sebagai konsumen sedang di arahkan untuk membeli sebuah produk oleh tenaga penjual, dalam hal ini sang barista yang tentu saja dilengkapi dengan wajah ramah dan senyum manis. 

Pernah satu kali dalam sebuah seminar ada speaker yang menanyakan: “ Apakah mungkin meningkatkan penjualan tanpa ada nya peningkatan budget promosi?” Sebagian besar peserta mengatakan TIDAK, tapi ternyata sang speaker memberikan contoh nyata bahwa ternyata meningkatkan penjualan tidak melulu bicara peningkatan budget promosi, contoh nyata nya yang sudah dilakukan oleh perusahaan skala dunia: McDonald, pernah kah kita sadar pada saat transaksi di McD diakhir transaksi sang kasir selalu menanyakan: “Kentang nya tidak sekalian?” NAH!! Hanya dengan kalimat ini, McD menciptakan tambahan penjualan sebesar 35jutadollar 


Rahasia Penting Bisnis Menjadi Besar, Wajib Baca

Jika Anda memutuskan untuk membuat bisnis bakso, kira-kira bayangan Anda berapa besar income yang akan Anda dapat dalam 1 tahun? Dalam 5 Tahun atau bahkan dalam 10 tahun ke depan? Ok pertanyaan berikutnya, bagaimana dan dari mana income itu bisa Anda peroleh?

Jika pertanyaan saya di atas tidak bisa Anda jawab mungkin salah satu alasannya karena Anda belom mengerti salah satu ilmu yang sangat penting dalam bisnis yaitu Revenue Stream. Apa itu, dalam bahasa yang sederhana Revenue Stream adalah sumber pendapatan yang mungkin didapatkan oleh seorang pengusaha dalam rangka menjalankan bisnisnya.

Contoh ketika Anda memutuskan untuk berbisnis ba kso, nah sumber padapatan yang mungkin bisa didapat adalah:
  1. Pendapatan Warung/ Gerobak. Pendapatan yang terjadi karena ada yang membeli bakso Anda di warung/ gerobak. Baik itu membeli Bakso, minuman atau bungkus baksonya.
  2. Pendapatan Jualan Bakso Beku. Nah selain punya warung, karena Anda produksi bakso sendiri, Anda memutuskan untuk menjual bakso beku juga ke warung-warung bakso lain, hotel dan ke masyarakat.
  3. Pendapatan Franchisee/ Mitra Cabang. Anda juga sudah berpikir nih akan mengembangkan bakso Anda dengan mengandeng investor melalui mekanisme franchisee atau mitra.
  4. Pendapatan Catering. Anda juga mengembangkan bakso Anda ke bisnis catering, di mana Bakso Anda bisa mobile datang ke acara-cara pesta, ultah dsb.
Revenues Stream merupakan salah satu yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap pebisnis karena dengan mengetahui Revenue Stream bisnis yang dijalankan, seorang pengusaha dapat menentukan dengan baik beberapa hal dibawah ini yaitu

1. Fokus Bisnis
Hal ini berhubungan dengan Revenues Stream apa yang akan dikembangkan menjadi sumber pendapatan perusahaan dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Hal ini sangat penting karena berhubungan dengan kapabilitas kita sebagai pemilik bisnis (Biaya, SDM, Infrastuktur dll), sebagai contoh jika modal sedikit mungkin kita bisa fokuskan bisnis kita pada warung terlebih dahulu sembari mengumpulkan modal untuk mulai mengembangkan rumah produksi.

Jan 13, 2015

Aussie Vs Bekasi

"Liburan ke Aussie lebih mudah dibanding ke bekasi."

Iklan tersebut sebetulnya hanya mencoba mendriving tren-tren an soal lelucon Bekasi yang konon macetnya luar biasa, namun siapa yang menyangka iklan yang di"pikir" mungkin bakal menjadi lucu dan pay attention ini malah menjadi blunder buat perusahaan.

Pertama kali saya melihat iklan ini di posting facebook, saya sempat memberikan komen bahwa secara corporate untuk perusahaan sebesar itu menggunakan lelucon yang menyangkut nama daerah bukanlah strategi marketing yang tepat karena bisa memberikan impact yang negative ke perusahaan. Rasanya banyak ide/ konten kreatif lainnya yang bisa dijadikan bahan untuk menyampaikan pesan iklan dengan menghindara konten/ ide yang punya resiko seperti Bekasi.

Banyak juga yang mengangap keberatan banyak orang yang mengatasnamakan warga bekasi perupakan tindakan lebay sih, buat saya bukan di sana pointnya, ketika kita membuat sebuah campaign yang akhirnya malah mendapatkan liputan negatif yang mendorong sentimen serta menjadi konsumsi publik itu hal tersebut bisa dikatakan sebagai blunder marketing apalagi hal ini menyangkut sebuah daerah.

Nah muter dikit, kemarin saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu  komisaris perusahaan besar, beliau bercerita cukup banyak soal Good Corporate Governance, basically saya belom terlalu paham soal ini cuma dari case Bekasi tersebut saya mungkin bisa share beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan topik bahasan dan komisaris tersebut, yah tentu dia ga ngebahas case bekasi ini hehe, ini saya coba sambungkan sendiri

Seperangkat Norma Tidak Tertulis

Jan 9, 2015

Statement dan Kaizen

Ga kerasa sudah hampir 3 bulan belom di update blognya karena sibuk sekali dengan pengembangan bisnis dan project menulis buku Creative marketing, nah menyambut tahun baru 2015 kita akan mulai kembali mengisi halaman-demi halaman dengan artikel yang bermanfaat, selamat menikmati yah. yuk mulai dengan sedikit berbau motivasi mupung awal tahun hehe.

Dari Mario Teguh sampai Jordan Belfort jika ditanya tentang apa sih yang mendasari seseorang sukses atau tidak, sebagian besar akan menjawab keyakinan diri. Tapi kadang keyakinan diri itu susah untuk dibangun. Udah berbagai seminar motivasi diikuti, berpuluh-puluh buku motivasi dibeli (ada yang dibaca sampai habis ada yang 5 halaman awal saja), beratus-ratus akun Twitter motivasi di follow, tapi tetep aja koq susah ya buat merubah diri sendiri.

Di sini saya ingin share tentang 2 hal mudah yang bisa langsung Anda lakukan untuk menciptakan keyakinan diri tersebut. Satu adalah Statement dan yang kedua adalah Kaizen.

1. Statement
Teori bahwa Statement merupakan modal dasar kesuksesan, dipopulerkan oleh Jordan Belfort, seorang praktisi dunia saham yang menjadi super sukses dan saat ini berprofesi sebagai seorang motivator.

Beliau mengatakan bahwa untuk meraih sesuatu, misal dalam hal ini keberhasilan Anda dalam bisnis atau karir, atau keinginan Anda menjadi kreatif, harus diawali dari sebuah statement, yaitu pernyataan sederhana yang Anda sering ucapkan contoh “Saya pasti bisa menjadi orang kreatif” atau “Saya adalah orang sukses. Orang Sukses tidak menyerah di tengah jalan”, dll.


Oct 27, 2014

Marketing Club Gathering, Ilmu Mahal Nih

Minggu lalu saya berkesempatan untuk referesh Ilmu dengan menghadiri acara Marketing Club di markas besar Google Indonesia di Jakarta, jujur saja kadang dengan berbagai kesibukan yang ada setiap hari mungkin cukup banyak pebisnis seperti saya yang sampai tidak ada waktu untuk terus belajar secara teknis mengenai berbagai ilmu bisnis yang ada saat ini, yah tentu dalam konteks pebisnis bukan kemudian tidak belajar sama sekali namun referensi ilmu yang ada mungkin saat ini lebih banyak memenuhi kepala karena pengalaman setiap hari dengan bisnis dan bertemu dengan banyak orang yang finally ilmunya secara tidak langsung ikut terserap. Nah kesempatan berkumpul dengan teman-teman marketing club ini sesuatu yang cukup "mahal" menurut saya apalagi pembicaranya Bpk. Godo yang sudah sangat terkenal di dunia marketing Indonesia blom lagi tempatnya di Google yang keren hehe.

Seminar ini dibuka dengan sebuah kalimat yang menurut saya cukup menarik, "Apa yang berubah dari Marketing? Dari dulu, sekarang ataupun di masa yang akan datang" ... coba pejamkan mata dan jawab pertanyaan di atas. Sudah? Yah ada 2 hal yang selalu berubah di dalam dunia marketing yaitu KONSUMEN dan TOOLS dan pada sisi inilah salah satu hal yg sangat menarik dalam dunia marketing dan inilah pulah yang membuat ilmu marketing selalu dinamis sampai kapanpun karena kita tidak akan atau mungkin bisa dikatakan jarang akan bertemu kondisi yang sama saat ini dibandingkan dengan masa lalu.

Cara berjualan mobil ke ayah saya mungkin akan sangat berbeda dengan cara berjualan mobil kepada saya atau bahkan generasi setelah saya. Dulu harapan orang membeli HP mungkin disebabkan oleh kebutuhan untuk melakukan telepon dan SMS, sekarang coba saya tanya berapa banyak yang Anda dari tadi pagi melakukan SMS atau bahkan menelepon? Mungkin sebagian besar kita selalu mengenggam dari tadi tapi aktivitas yang kita lakukan mungkin sudah berubah dari 5 tahun lalu yaitu Social media works (Whatsapp, facebook, twitter, path) dan sebagainya. Ini contoh bagaimana konsumen itu berubah dan hal ini menjadi PR penting bagi setiap marketer untuk bisa "menebak/ memprediksi" ke arah mana konsumen akan berubah dan kemudian bergerak mengisi kebutuhan dari konsumen tersebut.


Sep 21, 2014

Your Brand Name is Your Business

"Pak seberapa penting menentukan nama brand dalam sebuah bisnis?" Pertanyaan ini mendadak muncul ketika saya mengisi sebuah seminar dengan Topik Strategi Marketing Kuliner. "Khan kita sering liat juga tuh pak ada yang namanya simple-simple ajah bahkan pake nama yang punya tapi bisnisnya lancar dan sukses".

Ok pertanyaan seperti ini memang cukup asik buat dijadikan diskusi, toh dulu membuat rokok dengan brand name Gudang Garam, Djarum Super, atau brand Kopi Kapal Api, bisa tetap besar dan menjadi brand yang luar biasa seperti hal nya nama-nama keren A Mild, Clavo dan sebagainya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya melanjutkan dengan sebuah pertanyaan "Bapak kalo sekarang bawa ingin membuat brand rokok, percaya diri tidak memberi nama Rokok Bapak tersebut dengan nama Gudang Peluru?" Suasana hening sebentar dan kemudian saya melanjutkan sharing dengan sebuah argumentasi,

"apa yang bisa dilakukan dahulu mungkin sudah tidak relavan dengan kondisi sekarang karena konsumen, pesaing, pasar selalu berubah mengikuti jaman dan setiap pebisnis harus bisa dealing dengan kondisi tersebut jika ingin sukses".

Dulu memberi sebuah nama brand mungkin bukanlah bagian proses penting dalam membangun kegiatan sales dan marketing karena perusahaan dan juga mungkin konsumennya saat itu fokus/ beroreintasi pada PRODUK. istilah bahasa teman saya "lu punya barang bagus, harga cocok, gua beli". Yang punya Gudang Garam mungkin berpikir saat itu 'ah ini ajah namanya" tanpa perlu melakukan riset konsumen, mempelajari kompetitor dsb karena focusnya adalah membuat produk yang disukai oleh konsumen, tapi jika Anda bicara kondisi dulu disama ratakan dengan kondisi sekarang mungkin sekali brand Anda berakhir dengan tragis hanya karena sebuah nama.

Jadi setelah panjang lebar saya jawab "Penting sekali" untuk memberikan nama Brand bagi bisnis kita dengan benar dan direncanakan dengan baik jika kita bicara kondisi saat ini. Nah mungkin sudah cukup banyak yang bahas tapi it's ok lah kita ulang lagi, apa ajah sih yang penting diperhatikan dalam memberi nama brand bagi bisnis kita.

1. Siapa target market Anda