Jul 25, 2014

Google Salesmanku

Ada percakapan yang menarik beberapa waktu lalu dengan sahabat saya ketika asik kongkow di Warunk Indomie UpNormal Bandung, beliau bertanya "Bro situ khan akhir-akhir ini sering banget nolak klien, btw kok bisa yah terus ada yang kontak ke perusahaanmu padahal dari ceritamu sama sekali tidak ada bagian sales yang berkerja seperti telemarketing, sales dor to dor ataupun melakukan aktivitas yang biasa dilakukan seperti kirim proposal dan sebagainya". Hmm pertanyaan ini sebetulnya menarik juga secara yang nanya sebetulnya jagoan dalam bidang online wkwk.

Telemarketing, sales dor to dor, kirim proposal cetak, hahh jadi teringat masa-masa di mana ketika saya mendirikan perusahaan beberapa tahun silam, semua itulah yang dilakukan setiap hari ini, cari sana sini database seperti lewat internet, B2B Directory sampe buka-bukan Yellow Pages untuk sekedar mendapatkan nama dan nomor telepon kemudian di prospek melalu telemarketing, kirim proposal sampe kalo perlu di sms terlebih dahulu, senyum-senyum sendiri saya kalo inget semua itu apalagi kalo diingat-ingat semua proses itu dijalankan tidak kurang dari 4-5 orang, hasilnya? Tebak sendiri deh hehe.

Sekarang, 5 orang tersebut sudah saya gantikan dengan google, biaya hanya 1/4 nya tapi efektivitas jauh sekali untuk dibandingkan. Coba bayangkan, kalo dulu telemarketing melakukan tugasnya yg ditelepon adalah orang yang belum tentu butuh, biaya telepon bisa 2-3 juta karena yang telepon bisa jadi ke HP, bisa jadi luar kota dll dan bagus ga pake diomelin karena menelepon tanpa permisi, namun dengan google sebaliknya, kita di telepon oleh orang yang butuh dengan kita, yah catat orang yang BUTUH dgn kita.


Jul 17, 2014

Gratis buat yang NYOBLOS, Buruan ....

Moment Pemilu Presiden tahun ini jujur saja menyita sangat banyak sekali energi dan perhatian baik dari masyarakat awam, timses dan juga para kader partai. Jika ingin di ingat-ingat, 5 tahun dan 10 tahuin yang lalu kondisi persaingan antar calon dan juga eufopria dukungan untuk para jagoan rasanya tidak se fanatik dan sekeras saat ini, teman-teman di beberapa komunitas yang saya coba ikuti bahkan ada jadi bermusuhan hanya gara-gara berbeda pilihan calon presiden. Padahal “ribut” nya panjang (kurang lebih sebulanan CMIIW), nyoblos nya sebentar ya hehehehe…..

Tapiiii karena saya hanya rakyat biasa dan bukan pengamat politik, maka untuk tulisan saya kali ini tidak akan membahas soal siapa calon pilihan saya dan analisa dan prediksi kedepannya siapa yang akan menang… lah wong saya nda ahli blasss banget kalo ngomongin soal politik hahahaha….. pingin nya membahas yang ringan-ringan saja apa yang dilakukan para brand-brand baik F&B dan industry service memanfaatkan moment Pemilu Presiden kali ini (maklum Pemilu pemilihan Presiden haya terjadi 5 tahun sekali, jadi Pemilu yang kali ini istimewa tentunya).

Seperti yang pernah saya singgung di artikel saya yang lalu (Baca Nih …. Gratis Stabucks) mengenai moment marketing dan persiapan untuk melakukannya, di bahasan kali ini saya masih ingin mengupas sedikit analisa dan kira2 apa saja sih persiapan yang sebaik nya dilakukan untuk memeriahkan moment Pemilu kali ini

1. Planning & forecasting

Jul 11, 2014

Konsumen "Die Hard"

Sepanjang suasana pemilu ini ada banyak hal yang sangat menarik untuk diamati khususnya soal pendukung kedua calon presiden RI, eh tapi digaris bawahi dulu yah, saya sedang tidak membahasa dari sisi politik tapi ingin membahas dari sisi marketing terlepas dari dukung mendukung capres.

Ada tidak diantara anda yang sampai bersitegang karena membela masing-masing calon dengan sahabat, keluarga, teman kerja dan bahkan orang yang belum Anda kenal sebelumnya? Banyak mungkin yah wkwk, saya sendiri termasuk bagian di atas karena situasi yang memang sedang hot-hotnya sering kali terlibat diskusi yang tajam mengenai masing-masing wapres. Hebatnya semua seperti merasa benar, memiliki data yang konkrit dan punya alasan yang sangat kuat bahwa apa yang mereka pikirkan soal capresnya adalah yang paling benar.

Di Social media juga lebih hebat lagi, berhamburan link artikel, komen, gambar dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan pemilihan calon presiden ini, entah betul entah salah pokoknya hantam bleh, sampai-sampai beberapa "tokoh" masyarakat  kebabalasan dalam membela capresnya dengan mengorbankan kredibilitasnya karena mengangkat isue-isue yang tidak relevan. Beberapa teman saya bahkan berujar "gua sampe musuhan sama teman gua wkwk" WOW, tapi bisa juga sih, saya juga sampai harus unfollow beberapa orang yang menurut saya sudah cukup anoying "nyampah".

Media cetak dan TV? apalagi, sudah bingung mau yang mana yang ditonton wkwk, yah kalo pendukung Jokowi pasti suka nonton Metro TV dan Kompas TV tapi akan sangat enek nonton TV One dan MNC mungkin haha pun sebaliknya karena masing-masing terjebak pada pusaran dukung mendukung

Kok bisa sampai segitunya yah? Banyak sekali Die hard yang muncul untuk membela kedua pasangan ini baik itu yang memang tulus muncul untuk menjadi die hard maupun yang memang dibayar. Ah kalo dibayar sih ga menariklah buat dibahas, kita coba lihat bagaimana Die Hard-Die hard "Ikhlas" muncul dan sangat agressive membela dan mempromosikan brand yang mereka bela, asik bener khan kalo sampai brand kita punya Die hard-Die Hard seperti ini.

1. Merasa terwakili

Jul 4, 2014

Konsumen Dalam 10 Jari

Sering kali saya mendengar komentar bahwa sosial media seperti twitter tidaklah efektif untuk digunakan sebagai tools dalam membangun bisnis apalagi meningkatkan penjualan, "twitter itu cuma untuk iseng" "Twitter itu cuma sebentar ajah impactnya dan ga terlalu penting untuk bisnis" "mana bisa jualan menggunakan twitter di bisnis ini" dan berbagai komen lainnya yang sangat meng under estimate twitter.

Saya beritahu Anda, jika Anda masih berpikir dengan pemikiran-pemikiran di atas hanya ada dua kemungkinan yang ada, pertama memang bisnis Anda tidak cocok menggunakan twitter sebagai media yang bisa digunakan untuk membangun bisnis Anda atau kedua Anda tidak mengerti bagaimana media ini bekerja sehingga bisa digunakan sebagai media untuk membantu pengembangan bisnis Anda.

Dan kalo boleh sedikit sharing, cukup banyak yang berpikir bawah twitter tidak akan memberikan impact yang positif apalagi sampai ke wilayah sales hanya karena sebetulnya yang bersangkutan tidak mengerti bagaimana cara memanfaatkannya dengan maksimal atau sometime dibeberapa kesempatan saya suka bilang "mungkin terlalu jadul dan males belajar" untuk mau mencoba mengerti.

Ok pada satu sisi saya setuju bahwa ada memang bisnis di mana twitter tidak bisa memberikan advantage atau KPI sampai wilayah sales, untuk hal ini tidak ada yang perlu dibahas, rasanya pasti betul, namun melakukan generalisasi bahwa twitter tidak bisa memberikan impact untuk bisnis adalah sesuatu pemikiran yang salah besar, mengapa?

Yah tapi karena pada kenyataannya banyak juga bisnis yang bisa besar, penjualan bisa sukses karena memanfaatkan media twitter, ambil contoh yang paling fenomenal Ma Icih, dengan media twitter produk kripik ini sukses melakukan penjualan yang konon omsetnya mencapai milirian setiap bulan atau salah satu brand di mana saya terlibat dari 0 membangun bisnisnya yaitu @NasGorMafia yang fokus berjualan nasi goreng, saya bisa bilang karena twitternya brand ini bisa berkembang menjadi besar sampai 8 cabang hanya dalam waktu 6 bulan.

Bagaimana bisa? Yah mungkin saya bisa sharing beberapa hal yang membuat media twitter bisa maksimal memberikan kontribusi pada bisnis kita bahkan sampai sales tentunya.

1. Ubah pola pikir, ini investasi bukan biaya

Jul 1, 2014

Businesman dan Rasa "Galau"

Sering sekali saya bertemu dengan pebisnis yang "curhat" bawah begitu lama sudah berbisnis tapi rasanya bisnisnya seperti jalan di tempat, ga maju-maju bahkan beberapa merasa malah bisnisnya malah bergerak ke belakang. Kadang kalo sudah berhadapan dengan kondisi seperti ini saya sering tersenyum sendiri karena jangankan para pebisnis yang "curhat" tersebut, sayapun kadang merasakan hal yang sama sejak berbisnis dari tahun 2003, kadang bagus, kadang stagnan dan bahkan mengalami kemunduran dan kebangkrutan.

Normal tidak sih pertanyaannya karena di sisi lain kadang kita sering sekali melihat ada pebisnis yang sepertinya masih "pemain baru" tapi tidak butuh waktu bertahun-tahun bisnisnya sudah menghasilkan omset yang bahkan belum pernah kita capai selama ini dan yang bersangkutan bisa mencapainya hanya dalam hitungan bulan atau tahun sementara kita yang sudah "asam garam" eh bisnis masih segini-segini ajah, kadang rasanya ingin berhenti dan meninggalkan dunia bisnis.

Ok berdasarkan pengalaman pribadi kalo saya boleh saya menjawab sebetulnya hal ini bisa dikatakan "wajar" dan memang dialami oleh sebagian besar pebisnis dan bahkan mungkin banyak yang berlarut-larut sampai akhirnya "ajal" bisnisnya datang atau tiba-tiba yang bersangkutan menemukan "petunjuk" dan kemudian bangkit untuk bisa sukses akhirnya.

Nah tentu kita sebagai pebisnis tidak ingin mengalami pengalaman seperti ini secara berlarut-larut, maksudnya ok lah kita berasumsi sudah mengalaminya atau sedang mengalami situasi seperti di atas, tapi dengan cepat kita bisa membalikan arah untuk menjadi lebih baik tentunya, bagaimana?

1. Check your passion

Jun 4, 2014

Bosan Ala Marketer

Dunia bisnis yang sangat dinamis membuat kita pelaku di dalamnya baik itu business owner maupun professional yang berkerja di dalamnya terus menerus dihadapkan pada sesuatu yang baru dan bergerak sangat cepat, yah bagi yang mencintai duni ini hal ini sih malah jadi "candu" yang membuat kita makin ketergantungan dan menikmati setiap waktu yang terjadi di dalamnya.

Tiap hari kita sebagai owner bisnis atau professional dituntut untuk terus bisa memberikan kontribusi besar dan mencapai target yang dibuat dengan ide-ide yang outstanding, eksekusi yang lugas dan cepat dan pemikiran-pemikiran yang terus dipacu sehingga bisa mencapai objectives yang dibuat dan memenangkan kompetisi pasar yang Ada.

Tapi pernahkah di satu titik Anda merasa Jenuh? Bosan? Dan bahkan malas sekali untuk berpikir urusan bisnis? Situasi di mana sehebat apapun Anda tiba-tiba menjad have no idea apa yang harus dilakukan karena pikiran dan otak Anda menjadi sangat lelas karena semua kedinamisan tadi? Secara pribadi saya jawab Ya, ada satu waktu saya mengalami hal seperti ini, termasuk ketika saya menulis saat ini wkwk. Nah tentu sebagai business owner atau professional kita harus bisa mencari jalan keluar untuk mengatasi hal ini karena bisnis terus berputar dan tidak menunggu kita untuk kembali siap.

Bahasan kali ini saya tidak ingin sharing soal case study atau hal-hal yang terlalu berbau marketing deh karena saya lagi merasa Bosan haha, kali ini saya ingin coba sedikit sharing bagaimana mengatasi hal tersebut ala Gue tentunya sehingga tidak butuh waktu lama mengembalikan apa yang biasa kita sebuat passiona dan atusias kita untuk kembali di dunia yang kita cintai ini yaitu bisnis dan marketing


May 29, 2014

6 Tips Untung Gede Tapi Harga Murah

"JIka saya ingin bermain di harga murah tapi tetap dengan margin keuntungan yang bagus di bisnis cafe ini apa yang harus saya lakukan?".

Pertanyaan seperti ini sudah beberapa kali ditanyakan kepada saya di beberapa kesempatan bertemu dengan beberapa calon client khususnya di bidang kuliner dan selalu berakhir dengan jawaban "wah saat ini saya tidak cukup competence menjawab pertanyaan Bapak/ Ibu karena menyangkut proses internal yang sangat dalam" dan bisa ditebak biarpun yang bersangkutan tertarik menjadi client, saya selalu menolak dengan "halus" untuk menangani hal ini. Kalo ditanya gimana naikin profit doang sih gampang mahalin ajah harga hehe, tapi kalo bicara harga murah kemudian untung bisa tinggi dan bahkan porsi bisa banyak, wah bentar dulu bukan perkara mudah melakukan taktik marketing seperti ini.

Nah 6 bulan ke belakang, menyalurkan keinginan untuk memiliki bisnis kuliner, saya mendirikan sebuah warung nasi goreng dengan brand Name Nasi Goreng Mafia, nasi goreng dengan konsep differensiasi kaya akan rempah berbeda di setiap menunya. Kebetulan strategy utama yang diangkat selain rempahnya adalah soal quantity yang banyak dan harga yang murah, di sini akhirnya pertanyaan "Jika saya ingin bermain di harga murah tapi tetap dengan margin keuntungan yang bagus di bisnis kuliner apa yang harus saya lakukan?" akhirnya tidak bisa saya hindari lagi dan harus dijawab karena sudah kecemplung di dalamnya hehe.

Ok singkat kata, setelah 6 bulan jalan, sedikit banyak saya sudah melihat pola bahwa harga murah, quantity (Porsi) banyak bisa menjadi sebuah nilai lebih bagi sebuah brand namun sekaligus tentu dari sisi margin bisa memberikan keuntungan yang susuai dengan harapan kita, bagaimana bisa? Kuncinya adalah Operational Excellent. Sebuah pilihan strategy dimana perusahaan berfokus pada biaya rendah untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga jual murah tapi menguntungkan. (Bisa juga sebetulnya dengan memperbanyak quantity penjualan, kita akan bahas lain waktu).

May 22, 2014

Komplain? Buat Konsumen Menang dan Akhirnya Senang

"Gimana caranya bro,tuh yang tadi pagi komplain sampe nulis artikel terus malah jadi temen ngobrol, ngasih masukan, nulis hal yang positif buat nimpah komplain yang dibuat sebelumnya terus malah bilang bakal merekomendasikan produk ke temen-temennya?"

Obrolan ini muncul ketika saya sempat sharing bagaimana membuat komplain di social media menjadi impact positive bagi brand alih-alih malah menimbulkan impact negatif. Jika keseharian Anda ngurusin banyak brand di social media, komplain jelas sudah jadi sarapan yang bakal selalu terhidang di meja kita hehe, tidak ada ceritanya semua konsumen puas dengan produk Anda, pasti ada satu waktu di mana akan muncul komplain terhadap apapun yang berkenaan dengan produk Anda, apalagi ingat ini JAMANNYA SOSMED.

Jaman dulu ketika belum ada sosmed mungkin komplain hanya bisa disampaikan melalui koran atau radio dan pasti capek dan males lah komplain hehe kecuali udah keselnnya di ubun-ubun, tapi jangam sekarang, hadohh misalnya Anda punya cafe, liat karyawan Anda mukanya minyakan ajah tiba-tiba muncul tweet "Ih karyawannya di @CafeApaAjah mukanya ga bisa apa di cuci sebentar" wkwk, ini baru contoh yang ga penting, apalagi kalo sudah menyangkut kecewa dengan produk ato layanan bisa lebih sadis lagi boo.

Kembali lagi, kali ini mungkin ke sekian kalinya saya ingin sharing dengan topik komplain dengan sudut pandang yang sedikit berbeda bagaimana Coverting Complain to Recommendation, mengapa? karena hal ini sangat penting bagi bisnis dan brand kita dalam persaingan dan mempertahankan pelanggan dan juga yang sangat perlu diingat sekarang channel ketika komplain datang tidak bisa ditebak dampak dan spreadingnya sehingga butuh sekali setiap brand bersiap berhadapan dengan komplain. Tentu paling ideal kita bisa men convert komplain tersebut menjadi rekomendasi, namun setidaknya pada tahap membuat komplain tersebut tidak menyebar juga sudah cukup.

1. Standart Operating Procedure

May 19, 2014

Turning Your Idea Into Business

Berapa sering kita memiliki ide yang berakhir dengan lupa dan tidak menjadi apa-apa selain kumpulan ide yang pernah terpikir atau terucap? Sejujurnya jika bertanya ke diri sendiri maka jawabnnya adalah Sering, dan bahkan sering sekali apalagi dunia yang saya jalani di brand & marketing consultant ini berkaitan erat sekali dengan produksi ide hampir setiap hari.

Lebih parah, kadang ide-ide yang kita pernah pikirkan, ucapkan dan simpan malah dijadikan bisnis oleh orang lain dan bisnis tersebut ternyata sukses, kalo sudah begini rasanya seperti di samabar petir di siang bolong haha (lebay), hari cuma bisa berguman "sial, padahal gua udah punya ide kaya gitu dari dulu, eh malah dia yang ngejalani dan sukses pula". Hal seperti ini bukan satu dua kali saya alami  dan mungkin Andapun pernah mengalami hal yang sama, ketika ide yang kita pikir "punya kita" dijalankan oleh orang lain dan sukses pula.

Nah kali ini saya ingin sedikit sharing bagaimana agar ide yang kita pikirkan atau bahkan orang lain pikirkan bisa kita jadikan sebuah action business yang pada akhirnya membuat kita menghasilkan uang dari ide tersebut, sehingga tidak ada lagi kelak kita menyesali di dalam hati "padahal dulu gua kepikir, kenapa kaga gua jalanin yah idenya". Yah tentu seperti biasa, ini dari point of view saya dan pengalaman yang sudah saya jalankan sebelumnya tentang bagaimana berkeja dengan dengan dan Turning Idea into Business.

1. Cari teman diskusi

May 3, 2014

Ide itu Mahal Bung

Berapa sering kita kadang menertawakan bahkan meremehkan sebuah ide? Pertama kali Kripik Ma Icih muncul dan dibuat mungkin banyak orang yang tersenyum menertawakan ide tersebut "jualan kripik pedes?" bukannya sudah biasa, dari jaman dulu juga sudah banyak yang jual kripik pedas, dan bahkan mungkin kalo saat itu kita mendengar harga jualnya bisa lebih geleng-geleng kepala lagi kita, yang di warung 1 bungkus cuma 500 - 1 ribu rupiah tiba-tiba di jual belasan ribu "sepertinya kurang masuk akal" mungkin dalam pikiran kita.

Contoh lain, ketika saya ingin berbisnis nasi goreng, banyak sekali yang "mempertanyakan" kalo tidak mencemooh ide bisnis ini, "ga salah bro nasi goreng?", bahkan ada yang mempertanyakan ngapain ajah belasan tahun jadi konsultan brand dan marketing eh malah bisnisnya nasi goreng haha, sebuah ide yang mungkin terlalu sederhana dan "biasa" untuk level seorang brand consultant mungkin menurut beberapa rekan saya tersebut

Ada lagi temen yang komen ketika saya punya ide untuk jual Susu Murni, "lah segitu banyak yang jual susu murni di pinggir jalan bandung dengan harga hanya kisaran 5000-8000 terus mau buka susu murni juga?" "Susah dong bersaingnya sama lagian marginnya juga ga gede-gede amat, di mana sisi prospeknya bro"?. Hehe kalo kita melihat bisnis dari kaca mata awam marketing yah semua ide bisnis pasti sulit ajah "scaleable" dan selalu punya point yang kurang menariknya, apa artinya cuma jual tutup botol dgn untung Rp.5, tapi ceritanya akan lain kalo tutup botol yang dijual quantity nya 1 juta tutup botol per hari, masih mau bilang ga menarik?

Belajar dari banyak kesempatan dan melakukannya sendiri akhirnya saya mengerti mengapa jargon bahwa "Ide itu Mahal" adalah betul adanya, terlepas ide itu terlihat sangat sepeleh atau terkesan sangat luar biasa, pada intinya tetap saja ide itu mahal, asal ... yah tentu ada syaratnya, beberapa hal yang akhirnya membuat sebuah ide itu menjadi sangat mahal.

1. Ada yang bekerja untuk merealisasikannya