Dec 13, 2010

Pajak Restoran dan Konsep Change dalam Bisnis

Beberapa hari ini, media ramai memberitakan kebijakan penerapan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah yang salah satu isinya mengatur Pajak Restoran untuk 26.900 warung nasi (warteg) yang ada di Jakarta. Besaran pajak tersebut ialah 10% dari omzet dan dibayarkan setiap bulan dengan skema pajak progresif dan penghitungan oleh wajib pajak (self assessment).

Kebijakan ini segera memicu pro-kontra, dengan sebagian besar masyarakat berada di pihak yang kontra dan kelompok pendukung kebanyakan  diisi oleh pejabat pemerintah. Wajar jika banyak yang kontra , karena kebijakan ini akan semakin memberatkan hidup masyarakat. Besaran pajak 10% akhirnya akan ditanggung oleh masyarakat umum sebagai konsumen warteg dan sangat mungkin akan mengurangi omzet penjualan warteg akibat berkurangnya daya beli masyarakat.

Pajak sebagai Faktor Change dalam Bisnis

Jika dilihat dari model lansekap bisnis 4C-nya Kenichi Ohmae dan Hermawan Kartajaya, ada faktor Change atau perubahan. Ketika pemasar sudah tuntas meyusun strategi berdasarkan Company, Customer dan Competitor, ada faktor ke-4 yang bisa merubah semuanya.Change atau  perubahan itu terjadi karena perkembangan teknologi, situasi mikro dan makroekonomi, kondisi politik dan kultur sosial, ataupun perubahan dalam regulasi. Peraturan pajak ialah salah satu faktor Change yang harus diantisipasi oleh pemilik bisnis.

Anda pernah mendengar kisah sukses seorang pengusaha yang dimulai dari peristiwa PHK diri-nya dari perusahaan tempatnya bekerja?T api, dengan sikap hidup dan pola pikir positif, dia bisa mengatasi perubahan drastis dari menjadi seorang wiraswasta dan berhasil meraih kesuksesan yang jauh lebih besar daripada saat menjadi karyawan. Seharusnya, pengusaha warteg juga memandang kebijakan pajak tersebut secara positf.

Bijak Menyikapi Pajak

Ketentuan Pajak Restoran ini, seharusnya menjadi batu loncatan pengusaha warung nasi (warteg) untuk melangkah ke depan menjadi bisnis yang lebih menguntungkan dan memiliki manajemen yang profesional dan lebih terbuka. Dengan  penerapan pajak restoran secara konsisten, akan menciptakan seleksi terhadap pelaku usaha warteg. Hal ini akan menciptakan persaingan usaha yang dinamis dan positif.

Kemudian, pengusaha warteg sebaiknya mulai mengelola scara profesional, diantaranya dengan mellakukan beberapa hal berikut ini:
1.    Menyusun manajemen yang rapi dan profesional untuk membangun perusahaan yang handal.
2.    Menciptakan strategi bersaing yang tepat, tidak hanya mengandalkan keunggulan harga.
3.    Menyusun program pemasaran terpadu untuk menciptakan penjualan yang berkesinambungan.
4.    Menjalin koordinasi seluruh pegusaha warteg untuk memperjuangkan kepentingan bersama.

(sumber gambar: www.inform.com)

Strategi Bisnis UKM: Menyelaraskan Branding dengan Penjualan

Hari Senin (29/11/10) yang lalu, saya berkesempatan melakukan pendampingan ke beberapa UKM Bordir Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ada 3 UKM yang saya kunjungi dan sempat bertukar pikiran dengan pemiliknya, dan ketiganya memiliki permasalahan bisnis yang berbeda. UKM pertama, memilki keunggulan volume produksi yang besaar, sekitar 300 kodi per bulan, tapi sebagian dijual tanpa merek ke pedagang perantara. Skema penjualan seperti itu akan meminimalkan margin keuntungan produsen, dan lebih besar untuk pedagang. Tapi, produsen menganggap hal itu tidak jadi masalah, dengan alasan berbagi rejeki. Bagi saya pribadi, sebuah alasan tersebut  tidaklah salah, tapi mungkin kurang tepat.

UKM bordir kedua yang saya kunjungi, memilki konsep ekslusif untuk produk bordir yang dihasilkannya. Selain memproduksi bordir, pengusaha ini memilki butik di salah satu pusat perbelanjaan di kota Taskmalaya untuk menjual produknya. Melihat bentuk, tampilan dan harga produk, memang menyasar ke kalangan menengah ke atas. UKM terakhir yang saya kunjungi juga memiliki toko sebagai showroom produk bordirnya. Dari hasil ngobrol, ternyata keberadaan toko tidak terlalu berperan dalam penjualan produknya, karena sebagian besar penjualan berupa pesanan dari luar kota.

Penjualan vs Branding

Ketiga UKM Bordir yang saya kunjungi memiliki masalah yang serupa, yaitu minimnya pemahaman tentang branding atau merek. Semuanya sudah memiliki merek, tapi masih memandangnya sekadar label belaka, bukan sebagai bagian dari strategi pemasaran. Kegiatan branding memang dikenal sebagai sumber biaya (cost center) bukan sumber laba (profit center,) sehingga keberadaannya kurang diindahkan oleh pengusaha UKM.
Dengan kondisi UKM yang masih terbatas secara modal, jumlah produksi dan SDM, manakah yang lebih tepat, lebi banyak melakukan aktivitas penjualan ataukah membangun merek? Komprominya ialah lakukan penjualan secara eceran untuk membangun merek dan mulailah menjual ke pasar B2B untuk mendapatkan penjualan yang lebih besar. Kedua aktivitas ini idealnya dilaksanakan secara beriringan, bukan untuk saling mengalahkan. Pasar bisnis ke bisnis, lebih menghasilkan volume penjualan besar tapi dengan keuntungan tipis. Sementara, penjualan eceran akan memberikan keuntungan yang lebih besar serta memungkinkan pembangunan merek produk.

Branding sebagai investasi jangka panjang.

Membangun brand adalah sebuah proses, perlu waktu dan biasanya melalui enam tahap sebelum memungkinkan terjadinya penjualan berkesinambungan:
1.    Tahap pengenalan (aware)
2.    Tahap mengerti benefit atau positioning (understand)
3.    Tahap meyakinkan bahwa produk lebih baik dari pesaing (preference)
4.    Tahap membangkitkan semangat mencoba, membeli secepatnya (convince)
5.    Tahap terciptanya penjualan (action/selling)
6.    Tahap pembelian kembali (repeat)

Jika pengusaha UKM memandang secara jangka pendek, tentu saja branding bukan pilihan yang populer. Tapi, kalau saja bisa memikirkan jangka panjang, pengusaha UKM akan mendapatkan banyak keuntungan dari aktivitas branding. Jadi, aktivitas berbasis penjualan dan kegiatan untuk branding, sebaiknya bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Bagaimana menurut Anda?

(Sumber Gambar: www.gemssty.com)

Kekuatan “ Jingle ” Iklan


Anda pernah mengalami kejadian seperti di bawah ini ?
Pernah liat iklan bank X terbaru, Mas ?”.
Yang kaya gimana?”
Yang itu lho. Ada anak kecil lari di sawah gitu.
Ow… Yang ada petani lagi nyangkul itu.
Bukan, Mas. Itu sich, iklan bank Y yang baru.”
Aku tahu. Yang ada orang ketabrak becak kan ?”
Bukan yang itu juga. Kalo itu mah, iklannya bank Z.”
Trus, yang mana ?”
Aaargh…!

Susah njelasinnya, kan ? Coba kalo begini:
Woi, Bro…Ente udah liat iklannya bank X yang baru?
Yang kaya gimana, Coy?
Itu, lho. Yang ada orang bulan madu di pantai. Ada lagunya kaya gini,  
Dari sebutir yang kau beri, segenggam yang kudapat…Bagiku ini penuh arti, walau kau tak pernah berharap… ”
Ow…, yang itu. Bagus banget tuch iklan. Lagunya pas banget. “
Iya, ceritanya juga bagus. Tentang kebaikan yang terus mengalir. Kena banget, dech.”
Gue jadi pengin nabung di sana.”
Ane juga. Ya udah, kita pergi bareng aja, yuk!”
Kesimpulan Anda ?


(Sumber Gambar: http://ruangprakarya.blogspot.com)

Yellow Pages

Anda seorang pemilik usaha kecil menengah di bidang fashion? Atau seorang agen sebuah produk alat rumah tangga? Dan Anda perlu memasang iklan di Yellow Pages? Berikut ini, 3 hal yang harus Anda pahami untuk memaksimalkan iklan Anda di Yellow Pages:

1. Iklan Yellow Pages sangat sederhana, sehingga Anda bisa menciptakannya dengan mudah.
Begitu sederhananya, sehingga Anda tidak perlu menyewa pakar marketing atau seorang desainer grafis untuk menciptakan iklan Yellow Pages yang efektif. Anda hanya perlu tahu, siapa sesungguhnya pelanggan Anda.

Anda pasti sering melihat iklan yang cantik dan indah di majalah terkenal. Iklan itu mungkin dibuat oleh biro iklan ternama, atau minimal menyewa desainer grafis handal. Sebuah iklan yang akan mencuri perhatian pembacanya dan membuat dia berdecak kagum. Tapi, benarkah Anda hanya ingin membuat iklan yang bagus dan cantik? Atau mengharapkan pujian dari pembaca iklan Anda? Saya yakin, bukan itu tujuan Anda memasang iklan. Anda memasang iklan untuk meningkatkan penjualan produk Anda dan mengalirkan uang masuk ke kantong Anda, bukan?

Nah, bagaimana membuat iklan Yellow Pages yang bisa mendatangkan keuntungan bagi perusahaan Anda? Sangat mudah tentunya, Anda hanya perlu mempelajari bagaimana membuat judul iklan yang baik, naskah iklan yang baik dan bagaimana menciptakan penawaran yang hebat. Ciptakan judul iklan yang mampu memberi solusi permasalahan pelanggan atau bisa menjawab pertanyan pelanggan. Pasti, mereka akan membaca keseluruhan iklan Anda dengan sangat antusias.


2. Kebanyakan iklan Yellow Pages dibuat oleh pihak Penerbit Yellow Pages
 Padahal, selain Anda, ada berapa perusahaan pesaing yang iklannya dibuat oleh pihak Yellow Page juga. Jadi, sangat mungkin terjadi, iklan Anda sama persis dengan iklan pesaing Anda. Bukankah ini hal yang buruk bagi perusahan Anda?

Jangan pernah menyerahkan sepenuhnya pembuatan iklan Anda kepada orang lain. Pelajari bagaimana cara meningkatkan respon iklan dan terapkan di iklan yang Anda pasang. Ikut sertalah dalam proses pembuatan iklan, karena Anda lebih tahu tentang pelanggan Anda sendiri.

3. Iklan di Yellow Pages sangat berbeda dengan iklan di media lainnya
 Karena pembaca iklan YellowPages adalah calon konsumen yang siap membeli produk yang mereka cari. Bahkan mereka sudah menyiapkan uang untuk membayar produk Anda, jika sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

Apakah cukup dengan menulis siapa Anda dan apa yang Anda tawarkan? Jawabannya adalah TIDAK! Karena yang terpenting adalah alasan kenapa seseorang harus memilih produk Anda daripada produk pesaing. Sekedar memberitahu produk yang Anda tawarkan, sungguh sia-sia. Seorang pembaca yang membutuhkan produk pakaian, tentu langsung membuka halaman kategori pakaian, bukan yang lain. Dan ada ratusan, bahkan ribuan perusahaan yang menjual pakaian di bagian tersebut. Jadi, beritahukan kelebihan produk Anda yang tidak dimiliki produk pesaing.

diolah dari sebuah artikel di: http://www.YellowPagesProfit.com

(Sumber Gambar: http://communio.stblogs.com)






10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa DISKON!

Di usaha kuliner yang saya jalankan, ada periode tertentu yang boleh dibilang “masa panen” bisnis makanan. Ya, Lebaran Idul Fitri, itulah momen emas untuk pemilik bisnis kuliner.  Saat itu, omzet penjualan bisa meningkat 4 kali lipat dan itu merata di semua warung atau rumah makan di daerah saya. Bisa dibilang, tidak ada rumah makan yang sepi ketika itu.

Tapi, “masa panen” tidak berlangsung lama, hanya bertahan sekitar 2 pekan saja. Setelah melewati waktunya, kehidupan bisnis pun kembali berjalan normal. Pemilik usaha lagi-lagi harus memutar otak bagaimana mempertahankan laju bisnis mereka. Dan fenomena ini juga berlaku di bisnis selain kuliner, khususnya bisnis yang bergerak di bidang eceran (retail), seperti toko fashion dan sejenisnya. Atau Anda juga merasakan hal yang sama berlaku di bisnis yang Anda jalankan?

Untuk meningkatkan penjualan di waktu “sepi”, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat bisnis “sepi.” Selain diskon, sebenarnya masih banyak pilihan promosi yang bisa Anda gunakan. Anda harus jeli mengamati target pasar, untuk menciptakan promosi yang tepat sasaran. Jika anda belum punya gambaran, semoga 10 ide promosi berikut bisa membantu. Apa saja itu? Silakan simak poin-poin berikut ini:

1. Beli 1 gratis 1 – daripada Anda memberi diskon 50%, skema beli 1 gratis 1 akan terasa lebih menguntungkan kedua belah pihak. Karena, pelanggan tetap membeli produk anda dengan harga utuh, sekaligus merasa beruntung mendapatkan 1 produk secara gratis.

2. Kursus Gratis – Untuk Anda yang menjual produk dengan prosedur pemakaian tertentu, berikan kursus gratis mengoptimalkan manfaat produk Anda. Pelanggan tentu akan berterimakasih atas layanan tersebut.

3. Promosi Bersama – Kerjasama dengan pemilik bisnis lain yang relevan di sekitar Anda. Bisa dicoba kerjasama dengan bisnis yang menjual produk pelengkap produk yang Anda jual, atau bisnis yang memiliki target pasar yang sama dengan bisnis Anda. Misal, BaksoGranatz membuat promo: Beli 10 porsi BaksoGranatz GRATIS 1 jam akses internet, bekerjasama dengan warung internet terdekat.

4. Hadiah Gratis untuk jumlah pembelian tertentu – Berikan hadiah untuk pelanggan yang membeli produk minimal. Misal, BaksoGranatz memberi hadiah T-Shirt gratis untuk setiap pembelian minimal 20 porsi BGz.

5. Hadiah Kejutan untuk pembelian tertentu – Kepuasan pelanggan terjadi ketika seseorang mendapatkan lebih dari yang dia harapkan. Atau, Anda memberikan sesuatu melebihi apa yang Anda janjikan. Untuk itu, berikan hadiah kejutan untuk pembeli dengan nilai transaksi tertentu, dan buat dia terpesona dengan layanan bisnis Anda.

6. Jual Paket – Produk yang kurang laris di toko Anda, bisa dijual satu paket dengan produk yang banyak diminati pembeli. Daripada menumpuk di gudang, jauh lebih baik untuk secepatnya menjual produk yang kurang laku tersebut.

7. Berikan Voucher – Pastikan pengunjung toko Anda kembali di lain waktu, dengan memberi voucher belanja di toko Anda. Jangan lupa untuk mecantumkan masa berlaku voucher tersebut.

8. Gratis Layanan Purna Jual — Berikan layanan perawatan produk yang pelanggan beli, gratis untuk 2 pekan atau 1 bulan pertama.

9. Konsultasi Gratis – Pelanggan bisa berkonsultasi mengenai penggunaan dan perawatan produk yang dia beli di toko Anda. Selama konsultasi, Anda juga bisa menawarkan produk pelengkap untuk produk yang sudah dibeli pelanggan.

10. Gratis Desain — Jika Anda pemilik bisnis percetakan, gratiskan biaya desain untuk pemesanan dalam jumlah tertentu.

diolah dari sebuah artikel di: http://www.wordsthatsell.com.au 

(Sumber Gambar: www.speysidecooperage.com)

Merek di Era New Wave: Tunjukkan Siapa Anda Sesungguhnya

Awalnya, merek (brand) digunakan untuk membedakan sebuah produk diantara produk lain yang sejenis. Dengan menggunakan merek, sebuah produk akan keluar dari kategori produk komoditas, yang harganya ditentukan oleh hukum pasar. Oleh karena itu, produk bermerek berkesempatan memasang harga di atas rata-rata harga pasar.

Tahun 1955, di Harvard Business Review tayang sebuah artikel bertajuk “The Product and The Brand” tulisan Burleigh Gardner dan Sidney Levy, yang semakin memperjelas perbedaan antara merek dengan produk. Konsep merek, mulai dirumuskan pada tahun 1980-an, termasuk bagaimana mengukur nilai sebuah merek (brand equity). Kemudian, istilah merek pun semakin populer di tahun 1990-an, dan menjadi bahasan utama dalam bidang pemasaran.

Dulu, sebuah merek cukup dengan nama yang unik, slogan nan indah, desain logo cantik atau jingle iklan populer. Manajemen merek pun ditujukan untuk meningkatkan nilai merek, dengan program pemasaran terpadu, promo, iklan ataupun program kehumasan. Saat itu, semua merek bekerja keras untuk meraih brand value, brand strength, top of mind, brand awareness dan brand loyalty, yang ujung-ujungnya akan melipatgandakan brand equity masing-masing.

Kini, Anda sebagai pemilik merek, sepertinya harus merubah paradigma tentang merek. Mungkin benar apa yang diungkapkan Hermawan Kartajaya, di era New Wave sekarang ini, “Merek adalah Karakter”. Ya, tidak cukup hanya membangun merek, tapi juga harus membangun karakter. Merek hanyalah selubung yang membungkus karakter sesungguhnya produk atau bisnis Anda. Karakter berkaitan dengan siapa Anda yang sebenarnya, dan bagaimana masyarakat melihat Anda apa adanya. Oleh karena itu, proses membangunan karakter ini, harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan yang universal seperti kejujuran, saling menghormati, tanggung-jawab, prinsip keadilan, peduli satu sama lain, dan rasa kemanusiaan.

Dan satu hal lagi, bukan perusahaan raksasa saja yang harus membenahi karakter mereknya. Setiap pemilik merek semestinya melakukan hal yang sama, bahkan untuk level usaha kecil menengah (UKM). Di era informasi saat ini, konsumen memiliki pembanding yang sangat beragam atas layanan bisnis yang dia dapatkan. Jika merek Anda gagal memenuhi harapan konsumen, ada banyak pesaing bisnis yang akan menerima limpahan pelanggan Anda. Jadi, tanpa memiliki karakter merek yang kuat, jangan salahkan konsumen jika mereka tidak “jatuh cinta” dengan merek bisnis Anda.


Nov 11, 2010

Di Belakang SOP yang Hebat, Pasti Ada Manusia yang Lebih Hebat

Hari itu Senin pagi tanggal 22 Desember 2007, ketika saya dalam perjalanan menuju kota Solo. Terjadilah sebuah dialog yang mengalir di atas bus EKA jurusan Jogja-Surabaya via Solo, seperti berikut ini:
“Mas, ada uang pas ?”
“Ga ada, Pak”.
“Cari dulu dech”.
“Bener, ga ada”.
“Kalo gitu, Anda turun di Janti. Ikut bis belakangnya ini”
Saya ga bisa jawab apa-apa. Sampai di agen bus EKA di Janti, saya pun turun dengan perasaan sangat kecewa. Selain itu, saya jadi penasaran, bagaimana mungkin manajemen PO. EKA memiliki kebijakan sesadis ini, mengusir penumpang gara-gara tidak membayar dengan uang pas.

Saya pun duduk manis di ruang tunggu agen Janti, menunggu armada PO. EKA berikutnya yang datang jam setengah 8. Sesuai jadwal, akhirnya bus pun datang. Dari sisi waktu, boleh juga bis ini, on time. Tapi, saya masih belum habis pikir dengan kebijakan kondektur yang “membuang” saya di bus sebelumnya. Saya pun segera naik ke atas bus tersebut, dan duduk dengan manis di kursi yang tersedia. Tak lama kemudian, pak kondektur menghampiri saya.
“Turun mana, Mas?”
“Solo, Pak”. Uang 50 ribuan saya sodorkan ke pak kondektur.
“Waduuh, uang pas aja, Mas”.
“Ga ada, Pak”.
“Kembaliannya, nanti pas turun di terminal ya”.
Di balik tiket, kondektur menulis  angka 41.000. Artinya, saya masih punya piutang 41.000 yang bisa diambil nanti, pas turun di terminal. Saya pun menuruti solusi pak kondektur, daripada di usir lagi.

Dari kisah nyata yang saya alami di atas, saya belajar mengenai service atau layanan dalam sebuah bisnis. Untuk memastikan Service atau layanan bisnis berjalan baik, ternyata tidak cukup  dengan memiliki  Standard Operating Procedure (SOP) yang bagus. Lebih dari itu, sebuah layanan harus didukung oleh “orang” yang menjalankannya. Seperti kejadian saya dengan layanan PO. EKA, salah satu perusahaan bus yang kabarnya memiliki pelayanan terbaik. Saya kurang tahu SOP manajemen PO. EKA ketika tidak ada uang kembalian, tapi saya yakin, apapun yang kondektur lakukan adalah keputusan pribadinya dalam menerjemahkan SOP yang ada.
Bagaimana menurut anda?

(Smber Gambar: standardoperatingprocedure.org)

Berapa Rupiah yang Terbuang Sia-sia dari Biaya Iklan Anda?

Apakah Anda pernah mengeluarkan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk memasang iklan? Dan Anda tidak yakin berapa rupiah penjualan yang Anda peroleh dari iklan tersebut? Jangan teruskan kebiasaan buruk memasang iklan tanpa memperhitungkan hasilnya ini. Hanya dengan menguji dan mengukur efektivitas iklan, Anda bisa memaksimalkan hasil dari iklan yang Anda pasang.

Tes dan ujicoba iklan, bisa kita lakukan dengan menguji naskah iklannya, judul iklan, format iklan atau tempat dan media beriklan. Dengan melakukan tes iklan , kita bisa mengukur angka penjualan atau tingkat respon pembaca. Dan kita bisa mendapatkan format atau rumus iklan yang paling efektif. Dengan menggunakan format dan metode iklan yang sudah teruji keberhasilannya, akan meningkatkan kesuksesan iklan berikutnya.

Lalu, bagaimana caranya ya? Salah satunya, dengan menciptakan iklan yang memungkinkan respon langsung dari audience, atau biasa disebut Iklan Respon Langsung. Dengan melihat respon dari pembaca iklan, tentu sangat mudah menghitung berapa banyak iklan yang terbaca. Atau dari mana saja, datangnya respon iklan kita. Bahkan, kita bisa menciptakan beberapa versi iklan untuk menjual produk yang sama. Misal, iklan versi A dipasang di koran X. Iklan versi B dipasang di koran Y dan iklan versi C dipasang di koran Z. Kemudian, bandingkan tingkat respon dari 3 versi iklan yang kita buat. Dari hasil tes iklan ini, kita bisa mengetahui judul iklan seperti apa yang paling berhasil menarik minat pembaca. Gaya tulisan seperti apa yang paling tepat digunakan.

Kasus nyata yang pernah saya lakukan, yaitu program iklan sebuah toko buku Islam di Solo. Suatu waktu, toko buku menyelenggarakan program diskon selama 1 bulan. Untuk mengiklankan program ini, saya mengunakan brosur ¼ folio dan spanduk rentang. Saya memanfaatkan brosur sebagai media Iklan Respon Langsung. Pada brosur, ditulis “ GRATIS Souvenir Cantik untuk 10 Pengunjung Pertama, dengan Menukarkan Brosur ini “. Nah, saya bisa melihat efektivitas iklan dari pengunjung yang datang ke toko buku untuk menukarkan brosur dengan souvenir. Bahkan saya bisa tahu darimana pengunjung ini mendapatkan brosur tersebut, karena saya menulis kode untuk setiap tempat penyebaran brosur.

Masih mau buang-buang uang untuk mengiklankan produk Anda?

(Sumber Gambar: chrisandpammy.com)


10 Rahasia tentang Konsumen Anda

Sudah pernah nonton film What Women Whant-nya Mel Gibson? Film produksi tahun 2001 itu,mengisahkan seorang Creative Director di salah satu biro iklan di New York yang bisa “mendengar” kata hati wanita. Nah, setelah menonton film itu, saya jadi berpikir, pasti semua orang yang bekerja di dunia pemasaran ingin memiliki kemampuan itu.

Salah satu rahasia bagi seorang pemasar yang belum terungkap hingga saat ini adalah keinginan konsumen yang sebenarnya. Produk seperti apa yang mereka suka, apa yang tidak mereka sukai dari produk kita, berapa harga yang mereka harapkan dan banyak rahasia lain yang tersimpan rapat di benak mereka. Berikut ini beberapa hal yang bisa sedikit menguak tentang keinginan konsumen yang perlu Anda ketahui.

1. Kebanyakan orang menyukai kejutan, karena akan menciptakan perubahan pada rutinitas kehidupan mereka. Jadi, pastikan ada kejutan istimewa untuk pemesanan produk Anda.
2. Kebanyakan orang, ingin hidup lebih mudah. Jadi, sederhanakan cara pemesanan dan cara menggunakan produk Anda.
3. Kebanyakan orang menginginkan rasa aman. Beritahu konsumen, bahwa Anda memiliki sistem pemesanan yang aman dan terjamin.
4. Kebanyakan orang menyukai pujian terhadap prestasinya. Ucapkan sedikit pujian kepada calon konsumen Anda.
5. Kebanyakan orang, penasaran dengan hal yang akan merubah gaya hidupnya. Gunakan kata-kata yang membuat pembaca iklan Anda penasaran.
6. Kebanyakan orang, ingin berinventasi untuk masa depannya. Lebih baik menulis “ Investasikan uang Anda dengan produk ini…“ daripada “ Beli produk kami…”.
7. Kebanyakan orang menginginkan produk atau model terkini. Jelaskan kepada pembaca, bahwa produk Anda adalah produk terbaru di saat ini.
8. Setiap orang, pasti ingin mengatasi permasalahannya. Tuliskan masalah mereka dan tunjukkan bagaimana produk Anda bisa menyelesaikan masalah tersebut.
9. Kebanyakan orang, ingin membahagiakan orang di sekelilingnya. Tunjukkan bagaimana mereka akan membahagiakan orang di sekelilingnya dengan membeli produk Anda.
10. Kebanyakan orang, ingin mengatasi penghalang dalam mencapai tujuan hidupnya. Tunjukkan apa saja yang bisa mereka raih dengan produk Anda.

Nah, dengan mengetahui sedikit rahasia konsumen di atas, semoga Anda bisa memberikan program pemasaran yang tepat sasaran dan lebih mengena untuk konsumen Anda. 

(Sumber Gambar: http://radiotheater.blogspot.com)

Satu Ide, Beragam Warna

Bajak-membajak ide di dunia kreatif, itu sudah biasa. Praktek pembajakan ini tidak hanya di tataran ide, bahkan merambah ke brainware alias si pemilik otak pencetus ide. Ga heran, tingkat turn over karyawan di perusahaan kreatif, melonjak tajam. Contoh nyata, di dunia periklanan. Seorang Art Director atau Copywriter yang menangin award, namanya bakalan melejit. Jadilah, tawaran kerjaan datang dari mana-mana. Walhasil, dalam setahun bisa pindah 2 sampai 3 biro iklan.

Fenomena bajak membajak ide ini, terjadi pula di perusahaan yang dulu saya pernah bekerja di sana, dengan core bisnis penerbitan buku. Suatu waktu, perusahaan membuat katalog edisi 1 tahun yang buat secara serius dengan kemasan lumayan lux. Di cover, terpampang tagline Brand Lokal Rasa Global. Menurut saya pribadi, klise banget, karena sudah banyak yang menggunakan dan sedikit over promise. Tapi, secara eksekusi, keren juga siy...

Beberapa hari kemudian, rekan kerja bilang, ada penerbit buku pesaing yang niru tagline kita. Dipasang di katalog pula, jadi keliatan banget me too-nya. Meski sudah di utak-atik jadi Buku Global Serasa Lokal. Sayangnya, tampilan catalog tersebut, cukup jauh dibawah catalog yang ditiru. Jadilah, saya teringat adagium There is Nothing New Under the Sun. Intinya, ga ada yang baru di dunia ini, termasuk juga ide atau gagasan kreatif. Kalo hari ini kita menemukan sebuah ide brilian di benak kita, jangan kaget kalo suatu hari nemuin ide yang sama muncul dari belahan bumi lain. Ide kita telah dijiplak mentah-mentah? Belum tentu, Bos. Kok bisa ya, ada dua ide yang sama dalam satu waktu? Bisa banget lah. Namanya juga manusia yang serba terbatas. Termasuk kemampuan kreasi imajinasi otak kita.

Untuk menciptakan satu karya kreatif, ide saja, tidak cukup. Perlu keterampilan untuk mengolah ide tersebut menjadi sebuah produk akhir. Satu ide, bisa jadi macem-macem tampilannya. Semua orang bisa saja punya ide yang sama. Tapi, kemampuan masing-masing orang lah yang menentukan hasil akhirnya. Di dunia periiklanan, keterampilan ini biasa disebut crafting. Berbekal pondasi ide cerdas dan finishing dengan craftmanship handal, bakal menelurkan karya iklan yang luar biasa.

Pernah ikut kuliahnya dosen yang membosankan banget sampai kita tertidur pulas di kelas ? Trus, di lain waktu, mendengar isi kuliah yang sama di bawakan dosen favorit dan kita menikmatinya? Satu ide, beda cara penyampaian, ternyata beda juga hasilnya ya.

Jadi, ide boleh sama, tapi sangat mungkin menghasilkan karya yang berbeda. Kalo harus jadi nomor dua, percantik eksekusinya, harus lebih keren dari yang kita tiru. Sudah niru, ancur pula hasil akhirnya? Mending, ke laut aja...

(Sumber Gambar: http://onyeandina.tumblr.com)