May 26, 2008

Ini Tentang Pertumbuhan Perusahaan Bos


Sebuah pertanyaan yang sangat mengelitik muncul ketika salah satu klien saya mempertanyakan “lu repot-repot mengajukan planning yang terencana mengenai internal marketing buat apa sih boo? Toh semua sistem sudah ada baik itu gaji, hak dan tanggung jawab maupun aturan-aturan lainnya yang mengikat” Ha kemudia saya bertanya balik, “ok bos” berapa persen dari karyawan ente yang mau ngasih ide buat pengembangan bisnis perusahaan? Berapa banyak karyawan ente yang pulang kerja lembur tanpa menuntut bayaran? Dan berapa persen dari karyawan ente yang tahu mau kemana perusahaan ini 1, 3, 5 dan 10 tahun kedepan? Gimana tau ga?

Gaji, aturan dan prosedur kerja yang jelas memang merupakan salah satu point penting dalam membangun internal marketing di dalam perusahaan, namun tentu masih ada lagi beberapa hal lagi yang harus dibangun oleh sebuah perusahaan untuk sukses dalam melakukan internal marketing tentunya. Ok sebelum lebih jauh sedang ngobrol apa sih? Apa sih internal marketing itu?. Jika anda melakukan ekternal marketing, hasil yang anda harapkan tentunya penjualan dalam hal ini profit dan mungkin ekuitas merek, namun coba pertanyakan mungkinkan hal ini bisa dilakukan atau berjalan secara konsisten tanpa dukungan internal perusahaan? Yah kemungkinan besar tidak mungkin, karena itulah perusahaan harus memperhatikan pelanggan yang satunya lagi yaitu pelanggan yang ada di dalam perusahaan itu sendiri yaitu karyawannya. Dengan melakukan internal marketing katakanlah “jualan internal” diharapkan kemudian perusahaan dapat mengambil untuk dalam bentuk kualitas kerja yang dapat diandalkan, motivasi kerja yang tinggi, tingkat loyalitas yang tidak diragukan lagi, produktivitas yang tinggi dan sangat produktif yang kesemuanya akan bermuara pada keuntungan financial perusahaan.

Coba sajah bayangkan jika karyawan anda sangat loyal dan memiliki motivasi yang sangat tinggi, ketika ia berhadapan dengan klien perusahaan misalnya tentu saja semangat positif dan melayani akan muncul, keramahan dalam menghadapi klien akan timbul dan pada akhirnya akan membuat klien perusahaan tersebut merasa puas tentunya. Ini akan berbeda sekali bila karyawan perusahaan Anda tidak memiliki motivasi dan semangat kerja, ketika bertemu klien, yang dipasang adalah muka badak, prilakukanya tidak menyenangkan dan ujung-ujungnya klien tersebut kecewa dan hal yang terburuk tentunya tidak ada transaksi. Atau coba bayangkan jika karyawan Anda tidak loyal? Berapa banyak uang yang sudah terbuang mulai dari memasang iklan di koran, memberikan training dan pelatihan produk dan sebagainya dan tiba-tiba ia pindah? Belum lagi knowledge dan rahasia perusahaan yang juga ikut pergi ke pesaing Anda tentunya. Yah tentu banyak sekali contoh seperti ini yang sering Anda jumpai baik itu ketika menjadi klien sebuah perusahaan lain ataupun di dalam perusahaan Anda sendiri.

Lantas bagiamana perusahaan membangun internal marketing sehinggal karyawan-karyawannya kelak memberikan tenaganya dengan kualitas yang baik, memiliki motivasi kerja yang tinggi, lowalitasnya tidak perlu diragukan lagi, tingkat produktivitasnya sangat tinggi dan selalu berusaha memberikan lebih dari target yang ditetapkan? Sulit, betul sekali. Bahkan inilah kesulitan sesungguhnya dalam membangun perusahaan dalam jangka panjang, pada tulisan saya terdahulu soal kepemimpinan saya sedikit banyak pernah membahas ini, bahwa kesulitas terbesar bagi perusahaan dan seorang pemimpin adalah membangun manusia, sangat kompleks dan membutuhkan tenaga dan dana yang tidak sedikit tentunya, namun jika Anda berhasil, hmmm jangan tanya sebesar apapun yang ingin Anda capai bukan sekedar impian lagi tentunya. Untuk membangun internal marketing, sebagaimana ekternal marketing tentunya kita harus memahami terlebih dahulu karakteristik masing-masing segmen karyawan yang ada di dalam sebuah perusahaan sehingga kegiatan internal marketing yang dilakukan dapat fokus pada sasaran yang tepat dengan program yang tepat pulah tentunya. Secara garis besar kita kategorikan terlebih dahulu kebutuhan karyawan secara garis besar, misalnya:

Gaji (Sesuai dengan kualitas kerja dan jenis pekerjaan dan mungkin Lebih baik dari pesaing perusahaan), Pengembangan diri (Program-program pelatihan yang diberikan oleh perusahaan dan kesempatan untuk kedudukan yang lebih tinggi), Lingkungan kerja (Suasana kerja yang kondusif dan Infrastruktur kerja yang memadai dan menunjang serta aturan dan budaya perusahaan yang tepat), Penghargaan kerja/ Bonus (Diberikan sesuai dengan tenaga dan pikiran yang dicurahkan dan diberikan juga dengan pertimbangan diluar job desc seperti ide-ide yang disumbangkan, pekerjaan tambahan), Job description (Diberikan sesuai dengan keahlian yang dimiliki dan Hak dan tanggung jawab tertulis dan terkomunikasi dengan jelas).

Nah dari segmentasi ini kita dapat menciptakan bentuk-bentuk internal marketing yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing segmen, ambil contoh untuk tingkat office Boy, mungkin masalah gaji dan bonus akan sangat memiliki peran penting agar mereka menghasilkan “produk” yang diinginkan oleh perusahaan (Produk dalam hal ini loyalitas, kualitas, produktivitas, dan sebagainya), berbeda tentunya untuk level management, selain gaji dan bonus tentunya yang sangat dominan, hal-hal lain seeprti lingkungan kerja, pengembangan diri untuk menjadi lebih baik, kesempatan untuk memimpin juga sangat penting bagi level ini, cukup banyak perpindahan professional dengan kualitas SDM yang sangat bagus dilatar belakangi oleh masalah-masalah seperti lingkungan kerja, kesempatan untuk berkembangan lebih baik.

Dengan mengetahui karateristik masing-masing segmen ini perusahaan kemudian dapat menyusun program-program internal marketing yang tepat dan terarah sesuai dengan kebutuhan masing-masing segmen tersebut. Dengan kata lain jika disatu segmen katakanlah OB tidak membutuhkan pelatihan kepemimpinan yah ndak perlulah dibuat pelatihan semacam itu untuk membuat mereka merasa bangga, jangan-jangan nanti malah timbul dibenak mereka “ah ini janji-janji palsu doang, mana mungkin kita yang tamatan SMP ini bisa jadi pemimpin” yah walaupun siapa yang tahu nasib hidup seseorang. Daripada seperti itu, lebih baik mereka sering-sering diberi bonus bila kerjanya memenuhi kriteris perusahaan, karena itulah yang mereka butuhkan.

Lantas bagaimana menciptakan kegiatan internal marketing yang tepat, pertama tentu hal yang sudah kita bahas sebelumnya, harus sesuai dengan karateristik dari masing-masing segmen yang ada di dalam perusahaan dan yang kedua yang paling penting adalah internal marketing yang dilakukan harus terukur secara jelas dan transparan sehingga ini akan menjadi effort tersendiri bagi karyawan di dalam perusahaan untuk dapat mencapai hal tersebut. Mengenai apa sajah kegiatannya tentu banyak sekali seperti pelatihan dan training, outing dan sebagainya. Terakhir, yah tentunya selain memberi perusahaanpun harus menuntut, untuk inilah penilaian terhadap kinerja dan performance perusahaan menjadi sangat penting untuk diterapkan. Masalah penilaian kinerja dan performace ini memang memerlukan pembahasan tersendiri dalam penerapannya yang mungkin akan kita bahas dilain waktu, namun satu hal yang penting dalam penerapannya adalah masalah tranparansi pengukuran dan kualitas pengukurnya. Sulit tentunya namun tidak ada salahnya perusahaan Anda memulainya dari sekarang untuk dapat terus tumbuh secara sustain ke depannya. So ini masalah pertumbuhan perusahaan bos, karena itulah gua repot-repot meributkan ini he.....he.

HD (Healing Device)


Turut berduka cita atas kembalinya artis senior Sophan Sophian ke Penciptanya. Begitu banyak yang bisa dipelajari dari beliau, baik kiprah nya di bidang perfilman hingga politik.

2 hari ini seluruh stasiun televisi seperti berlomba-lomba menceritakan siapa Sopan Sophian yang sebenarnya, dan dari berjam-jam saya menonton baik yang bertajuk infotainment sampai berita siang, ada hal yang sangat menarik yang saya temukan, terutama tentang hubungan rahasianya dengan HD.

Yup.. HD yang dimaksud adalah kekasih nya moge Harley Davidson. Beliau dan ribuan anggota HDI lainnya di Indonesia merupakan contoh hubungan konsumen yang mengandalkan HD sebagai "religion" mereka. Saya seringkali mendengar atau membaca pembahasan hubungan HD dengan para konsumennya, tapi jujur saya ini kali pertama saya mendengarnya langsung dari mulut para konsumennya sendiri.

Sejak tahun 2004, Alm Sophan Sophian menjadi salah satu konsumen motor gede buatan Amerika ini. Kala itu beliau mengakui membelinya karena banyak teman-temannya yang berkata bahwa HD bisa menghilangkan stres. Di kalangan para konsumen, motor Harley tidak dikenal hanya sebagai motor, tapi juga sebagai “istri” bagi para pemiliknya, dan mereka juga menganggap bahwa motor Harley adalah Healing Device, atau alat penyembuh. Dan peryataan ini disetujui oleh Alm Sophan Sophian, karena beliau adalah salah satu yang mengalaminya. Di tahun 2004 tersebut, di mana ia sedang mengalami masa-masa stres berat karena idealisme nya dikecewakan di kursi parlemen dan akhirnya beliau mengundurkan diri. Sejak membeli dan 2 bulan mengendarainya, motor kesayangannya menjadi hal yang menyembuhkannya dari stres. Beliau juga bercerita dari para konsumen HD lainnya, banyak yang sebelumnya sakit parah, sudah akut, mencari penyembuhan di mana-mana tapi tidak sembuh, tapi setelah membeli dan mengendarai motor Harley, mereka menjadi sembuh dan mulai menikmati hidupnya lebih dari yang sebelumnya.

Aneh ya... karena tidak ada kesembuhan yang tidak diberikan oleh Tuhan, inilah yang dinamakan sebagai Brand Religion. Mereka percaya bahwa kesembuhan yang datang dari Tuhan tersebut, “datang melalui motor Harley”, dan pada saat mereka mengendarainya di jalan, itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup mereka. Sebuah brand yang sangat kuat tertanam di benak konsumennya.

Selain dari hubungan nya dengan konsumen yang menciptakan Religion tersendiri, hal yang bisa kita pelajari dari pemasaran HD, adalah caranya melakukan penetrasi yang luas melalui komunitas. Motor HD bukanlah produk yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan, tapi dibeli untuk sarana eksistensi. Keberadaan motor Harley di Indonesia khususnya sangat segmented sekali, karena tidak semua orang “niat” membeli motor berharga ratusan juta tersebut. Mereka yang benar-benar merasa bahwa kepribadiannya adalah HD-lah yang membelinya, dan tentu saja mereka melakukannya dengan bangga dan menceritakannya kepada orang-orang di sekitarnya. WOM inilah yang menjadikan penetrasi motor HD di Indonesia dapat dikatakan cukup pesat, ditambah lagi berbagai aktivitas komunitas yang benar-benar cowo.. dan merajai jalanan, membuat laki-laki ingin tampil lebih macho lagi dengan membeli motor Harley dan bergabung dengan komunitasnya.

Jadi hampir dapat dipastikan, 1 komunitas akan tersebar kecintaan terhadap Harley bagaikan virus yang menyebar di antara manusia. Context dari diferensiasi yang dimiliki produk sangat unggul. What a fantastic brand.. bravo.

Merek dan Cinta


Dahulu kala orang melakukan perdagangan tanpa merk. Di mana produk yang dijual masih bersifat umum, berkisar dalam kategori bahan pokok, sehingga masyarakat tidak kesulitan untuk mencari atau menyebutkan suatu produk tertentu, karena sifatnya yang generik. Lambat laun jumlah pedagang bertambah banyak dan jumlah varian produk pun bertambah ragamnya. Setiap penjual ingin menjadi berbeda dibandingkan yang lainnya, yang akhirnya mereka menamai produk atau toko mereka. Nama ini lah yang sekarang kita kenal dengan merek atau bahasa kerennya brand!

Setelah para pedagang senang dengan “perbedaan” mereka melalui merek yang mereka miliki, ternyata lambat laun masih kurang juga. Pesaing semakin bertambah banyak, dan walaupun produk telah diberi nama, produk hanyalah tinggal produk, yang terkadang sama satu sama lain antar pesaing. Akhirnya timbullah apa yang disebut sebagai emotional values yang dijual bersama dengan produk.

Apa itu emotional values? Emotional values adalah sesuatu yang tidak nyata, sebuah ilusi yang turut anda beli pada saat membeli produk. Emotional values ada di sebuah produk, diciptakan melalui iklan atau packaging atau bentuk komunikasi lainnya. Emotional values tidak berbentuk, tidak dapat dilihat tapi dapat dirasakan. Emotional values adalah sebuah cinta.

Emotional values dewasa ini menjadi sangat penting. Tidak hanya pada produk yang dipasarkan kepada segmen atas, tapi juga semua produk menawarkan emotional values. Pada saat kita menyikat gigi dengan oral B, sepertinya sikat gigi itu adalah yang paling tepat dan paling lembut dan paling amaannnn untuk gigi anda yang sensitif. Sepertinya semakin lama semakin banyak orang yang bergigi sensitif yah.. termasuk mereka yang memang divonis dokter, atau mereka yang memvonis diri mereka sendiri (karena ingin turut serta pakai oral B). Perasaan aman pada saat menyikat oral B inilah yang dinamakan dengan emotional values. Anda merasa aman dibuatnya.

Yang sangat ekstrim adalah emotional values yang dewasa ini ditawarkan produk, yang mungkin kalau dipikir pakai logika tidak ada relevansinya, tapi kalau dirasa pakai perasaan ada juga sih hubungannya. Produk-produk yang emotional valuesnya jauh berhubungan seringkali dalam kategori produk wanita. Hal ini sudah tidak aneh lagi (saya adalah salah satu buktinya karena saya juga perempuan), karena sejak anak-anak, ABG, remaja, hingga dewasa, wanita selalu dihantui dengan yang namanya cinta. Dongeng-dongeng sejak kecil yang selalu menjanjikan pameran tampan berkuda putih atau Ken yang bermobil BMW atau sekarang apa yah? Saya juga kurang up date! Dengan latar belakang tersebutlah, wanita selalu senang diombar oleh cinta, termasuk juga merek-merek yang memberi ilusi untuk mereka.

Contohnya adalah kampanye produk Sunsilk beberapa waktu lalu dengan vairan produk anti rontok, dengan endorser Shanty. Mereka mengkampanyekan message yang seakan-akan bilang seperti ini : “Jika memakai produk ini, anda akan menjadi wanita yang kuat, tidak mudah menyerah dan mampu keluar dari kesulitan apapun juga!” terlihat dari beberapa serial iklannya yang menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang mengalami kesulitan, putus asa tapi kembali menemukan harapan dan kekuatan dirinya setelah menggunakan Sunsilk, dan menyebut diri mereka UNBREAKABLE! Tapi seperti jutaan perempuan di luar sana, saya tergugah melihatnya! Walaupun saya membeli produk itu bukan karena iklannya (atau jangan-jangan tanpa sadar iya!)

Contoh lainnya yang sekarang sedang berlangsung kampanye juga, adalah Pond’s yang mengusung message menemukan cinta dalam hidup melalui Pond’s. Seakan-akan kalau tidak pakai Pond’s kita ga akan dapet jodoh! Lagi-lagi saya (dan jutaan perempuan di luar sana) tersentuh dengan iklannya (yang berseri dan berlagu Andra and the Backbone). Tapi saya belum pakai produknya... karena pada dasarnya saya memang bukan yang mudah tergugah karena iklan, tapi at least, saya memiliki persepsi positif terhadap brand, karena seakan-akan mereka (Sunsilk dan Pond’s) “ada di pihak saya” yang sangat mengerti perempuan. Dan saya yakin jutaan perempuan di sana pun demikian.

Banyak sekali produk yang mengatasnamakan cinta. Kontroversial memang, di satu sisi masyarakat semakin dihantui oleh ilusi kesempurnaan, di mana jika kita ingin bahagia kita harus mengkonsumsi produk A, B, C, D... sampai Z, dan masih kurang kayaknya kalau kita ga pakai produk nomor 1, 2, 3.... dst. Tetapi begitulah yang terjadi sekarang ini. Di tengah riuhnya pesaing dalam menjajakan produk, sebuah brand berlomba-lomba menciptakan hubungan yang sangat dekat, hingga keterikatan emosional dengan masyarakat, terutama target marketnya. Seperti Conello Love Version dengan target market ABG, dengan endorser Gita Gutawa mengedepankan cinta dari mulai desain, naming, dan packaging produknya sampai iklan dan soundtracknya. Benar-benar menyentuh bagi para anak ABG yang sedang berbunga-bunganya merasakan cinta pertama.. First Love (yang buat kita-kita udah jadi kayak anak-anak banget! Tapi pengen ngerasain lagi kan?!?!?!)

Dipandang dari strategi pengembangan merek untuk mengikat target market, emotional values adalah mutlak. Emotional values berupa cinta memang sangat tepat untuk produk dengan target market perempuan, karena pada dasarnya perempuan memang hidup berlandaskan cinta. Jika produk anda memiliki target market perempuan, jangan ragu untuk mulai menciptakan emotional values berlandaskan cinta ini. Jangan terlalu sempit mendiskripsikan makna cinta itu sendiri. Cinta tidak hanya sepasang kekasih, tapi cinta bisa diperluas menjadi banyak hal, seperti persahabatan, soldaritas, cinta kepada orang tua, cinta yang universal atau bahkan cinta kepada diri sendiri (seperti kampanye Unbreakable Sunsilk). Seperti yang kami lakukan untuk membangun brand klien kami yang memiliki target market remaja perempuan. Di sana kami membangun bahwa Friendship do means a lot. Dari mulai setiap kampanye yang kami keluarkan, brand icon, hingga activationnya berbau persahabatan (seperti acara se-Jawa Barat yang akan kami gelar di liburan nanti bertajuk pemilihan icon persahabatan, dengan judul Friendship Queens). Sebenarnya di balik itu semua tentu saja bukannya tanpa strategi atau asal comot cinta, tapi kami memfokuskan membidik remaja putri sekaligus per kelompok (gank) supaya pengembangan jumlah konsumen lebih cepat dibandingkan per individu. Gank atau persahabatan sudah menyangkut lebih dari 4 orang, dan kalau 1 mengkonsumsi produk, pastinya yang lainnya wajib ikutan juga! Itu adalah salah satu contoh mengatasnamakan cinta untuk menarik para perempuan. Tapi ini bukan berarti membohongi mereka lho... karena pada dasarnya produk diciptakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dan inilah bentuk nyata sebuah brand cintaaaa terhadap konsumennya J Selamat bercinta!

Apr 29, 2008

Service is Love


Jadi perlakukanlah pelanggan layaknya teman anda, agar iapun menganggap anda temannya. “Dengarkanlah” apa yang dia ceritakan, niscaya iapun akan bercerita hal-hal yang baik tentang anda.

Begitulah kira-kira apa yang disampaikan Hermawan Kertajaya berkaitan dengan Service. Service menjadi pembahasan tersendiri yang selalu menarik. Bayangkan saja perusahaan yang begitu established nya bisa saja hancur karena servis yang buruk, dan juga sebaliknya, perusahaan yang masih kecil bisa cepat menjadi besar dan terkenal dikarenakan servis yang baik.

Apa sebenarnya yang disebut sebagai servis? Dengan berkembangnya jaman, makna servis pun kian berubah. Seperti halnya jaman baheula, pas jaman kuda gigit besi, dan begitulah pola pikir para pebisnis, bahwa servis adalah “tambahan” pelayanan dari produk yang telah kita beli. Servis dianggap sebagai nilai plus dalam menjual sebuah produk. Pola pikir seperti inilah yang membuat para pemasar atau owner kian kali terjebak dalam “stagnansi” bisnis, di mana sepertinya apa yang ia lakukan sudah maksimal, tapi konsumen terasa tidak bertambah atau malah berkurang. Mungkin saja tidak ada yang salah dengan produknya, tetapi mereka harus melihat ke dunia luar, ke para pesaing, servis seperti apa yang mereka berikan.

Perkembangan jaman membuat servis yang kita pahami tidak lagi menjadi tambahan tapi sebuah komoditas, dikarenakan semua, baik kita ataupun kompetitor melakukan hal yang sama. Atau malah kita ketinggalan jauh dibelakang mereka. Dalam keadaan seperti sekarang, masyarakat atau konsumen yang memiliki begitu banyak pilihan selalu berpikir tentang value! Siapa yang mampu memberikan value yang sesuai dengan keinginan mereka, sesuai atau bahkan lebih dari pada ekspektasi mereka, itulah yang akan mereka pilih. Dan kondisi penawaran yang sudah sangat crowded memberi keuntungan bagi perusahaan, jika para konsumen sudah jatuh hati, maka mereka akan setia karena sudah terlalu letih untuk memilih.

Hal inilah yang harus dimanfaatkan oleh para pebisnis. Berkaitan dengan konteks servis yang kian berkembang, jangan “stuck” di pemahaman bahwa servis adalah nilai lebih, karena ke”komoditasannya” sekarang ini, maka kita harus memberikan sesuatu yang lebih dari para kompetitor berikan. Pola umum yang terjadi dalam menghadapi pesaing, adalah mengamati apa yang pesaing lakukan dengan seksama, lalu mencoba mengembangkan lebih dari mereka sehingga bisa mencuri hati konsumen. Seperti apa yang sedang terjadi di dunia industri selular sekarang ini, semua berteriak banting harga dan siapa yang lebih murah pasti menang... eits.. siapa bilang?!?! Nampaknya para konsumen sudah terlalu pusing membedakan tarif mana yang lebih murah, dan mereka tinggal menikmati saja iklan-iklan keluaran para pelaku industri yang kian kreatif dan malah jadi hiburan. “Winning in business today is not about being number one –it’s about who gets the future first!”. Jangan sampai kita meniru apa yang sudah terjadi di dunia persaingan selular tersebut, seperti kalimat barusan, janganlah kita terfokus untuk menjadi nomor satu, tapi fokuslah apa yang bisa kita ciptakan untuk masa depan. Invoasi adalah satu gebrakan tersendiri di pasar, di mana konsumen sudah pasti akan menengok dan mencoba. Dalam hal ini inovasi dalam servis adalah sesuatu yang mutlak.

Kalau anda pencinta game, pernah main serial Dinner Dash? Atau Burger Rush? Atau Jane’s Hotel? Atauuuu... Carie Playground? Inti dari game tersebut adalah satu! Memuaskan konsumen! Di game-game tersebut, konsumen digambarkan sebagai sosok yang banyak maunya, dan jika pelayanan kita lama mereka akan lama dan pergi. Kepergian mereka tentu saja mengurangi score kita secara signifikan dan bahkan menggagalkan kita masuk ke level berikutnya. Dari game tersebut sudah sangat jelas di mana posisi konsumen. Konsumen adalah posisi teratas, lebih atas dari top management atau owner sekalipun. Jadi jika anda ingin memuaskan seseorang dalam suatu lingkup bisnis, konsumen adalah orangnya! Bukan bos anda atau direksi! Coba bayangkan jika perusahaan anda tidak memiliki konsumen (tapi tetap memiliki bos) pasti akan bangkrut! Dari situlah posisi servis harus ditempatkan. Jangan jadikan servis sebuah kewajiban, tapi servis adalah ungkapan cinta perusahaan kepada konsumen. Jangan terpatok pada servis adalah customer service, service adalah tersenyum, service adalah kecepatan bekerja... semua itu salah! Hal-hal tersebut adalah mutlak! Service lebih dari kemutlakan yang harus anda berikan kepada konsumen. Service adalah sesuatu yang bisa mengungkapkan perasaan perusahaan “Saya butuh kamu!”, service adalah ungkapan cinta.

Di dalam game tersebut juga, terdapat nilai “service” yang sebenarnya. Seperti contohnya di Dinner Dash. Di level tertentu, service bagi para konsumen meningkat. Dari yang awalnya tersedia extra free drink bagi konsumen, hingga extra free cakes, di mana kita memberi mereka cuma-cuma supaya apa? Supaya “hati” mereka bertambah, dan ga cepet bt! Lalu bertambah lagi di area antrian terdapat meja di mana waitress bisa menemani mereka ngobrol selagi menunggu, dan hasilnya? “Hati” mereka bertambah terus... seperti itu lah makna servis yang sebenarnya, bagaimana kita menambah “hati” konsumen terus menerus.

Contoh kongkritnya? Salah satu klien kami adalah perusahaan nomor satu di industri. Setiap tahunnya jumlah konsumen bertambah, dan bahkan dengan kapasitas yang mereka miliki sekarang bisa dikategorikan “membludak”. Sekarang ini kami sebagai konsultannya malahan sedang merasa “tegang”, “khawatir” dan stresss!!! Kenapa kami tidak bersenang-senang dengan kesuksesan mereka? Karena kami tahu bertambahnya jumlah konsumen adalah beban yang jauh lebih berat yang harus ditanggung dibandingkan dengan “menambah konsumen”. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika 5% nya saja kecewa terhadap servis klien kami? 5% akan berkembang menjadi 10%, 10 menjadi 20, 20 menjadi 40, dan seterusnya... Itulah alasan mengapa di tahun ini, proporsi perbaikan servis melalui internal branding menjadi fokus utama. Salah satunya dengan melakukan brain wash terus menerus kepada para karyawan dan menyebarkan virus Cinta Konsumen. Dalam aplikasi lapangan menciptakan service yang excellence (apalagi experential!) adalah sesuatu yang sangaattttttttttt sulitttttttttt... mengapa bisa dikatakan demikian? Karena kita bekerja dengan SDM Indonesia yang memiliki mental dan pola pikir yang sangat identik : nrimo, cepat puas, dan memiliki pemahaman ambisius adalah sombong. Karena PR yang harus dikerjakan oleh kita semua tidak hanya membangun rasa cinta mereka terhadap konsumen, tapi yang paling utama adalah merubah pola pikir mereka.

Kunci nya tetap satu, yaitu komitmen yang kuat dari pemimpin perusahaan dan para owner, untuk menetapkan bahwa perusahaan mereka adalah perusahaan yang cinta konsumen dan karena itu servis adalah segala-galanya. Semakin personalized servis anda kepada tiap konsumen, semakin tersentuh hati mereka. Jadi jangan lagi memilah-milah yang mana servis yang mana yang bukan, karena semua hal yang berkaitan dengan “menambah hati konsumen” adalah servis. Termasuk juga menenangkan anak kecil yang nangis kehilangan orang tuanya di toko anda. Share the love to the customer...

Kerennya ABG jaman sekarang...


Karakteristik kelompok ABG memang sangat menarik untuk diperhatikin, bukan hanya keinginan mereka yang beragam, tapi juga karena kelompok ini tergolong “baru” terbentuk dan memiliki pengaruh yang sangat besar sekali terhadap konsumsi merek secara keseluruhan.

Mengapa dikategorikan baru? Istilah dan kelompok ABG itu sendiri terbentuk sejak arus informasi terasa lebih terbuka luas, dibandingkan era sebelumnya. Di mana online seperti membuka mata di pagi hari dan mencari arti kata yang dulu dilakukan di kamus menjadi tinggal beberapa detik saja. ABG menjadi kelompok yang sangat sulit dipahami sekaligus yang sangat dicari oleh pemasar.

Mengapa sangat besar pengaruhnya terhadap konsumsi merek? Mereka terletak pada peralihan antara anak kecil dan remaja, di mana posisi mereka sebagai anak-anak sangat didengarkan oleh orang tua mereka, di mana konsumsi merk rumah tangga ditentukan oleh anak-anak (dan iklan yang mereka lihat di TV). Di sisi lain, mereka sudah mulai memiliki pengaruh yang besar dalam mempengaruhi tidak hanya orang tua mereka, tetapi teman sebaya mereka dan bayangkan berapa keluarga yang terpengaruh berikutnya?!!

Kemarin sewaktu saya berjalan-jalan di supermarket (seperti biasa saya senang memperhatikan gelagat konsumen terhadap merk), banyak keluarga yang sedang berbelanja, dan tidak sedikit dari yang saya lihat, yang memasukkan barang ke keranjang adalah anak mereka dengan usia ABG, dari menentukan sereal pagi yang mereka makan untuk diri mereka sendiri “Nga.. saya nyarinya Simba Poppies bukan yang itu!” atau sampai kecap untuk ibunya “Mahh.. sedap aja mahh.. sedaaapppp!” Coba saja kalau anda iseng ke supermarket perhatikan gejala tersebut.

Siapa sebenarnya para ABG ini dan seperti apa karakter mereka? Selama bertahun-tahun belakangan ini, sepertinya kelompok ABG tidak asing lagi bagi kami, karena salah satu klien kami yang memegang awareness nomor satu di produk retail fashion ABG, membuat kami mempelajari karakteristik mereka dengan tidak main-main. Hanya saja selama kami sering melakukan interaksi yang sangat dekat dengan mereka, perubahan cukup signifikan pun terjadi. Dulu para usia ABG ini memiliki pola pikir yang sederhana, tidak sekompleks sekarang, dan tentu saja arus informasi yang sangat deras itu membuat mereka semakin “pintar”. Saya sempat kaget beberapa hari yang lalu sewaktu membuat janji dengan salah seorang ABG untuk diinterview mengisi rubrik bulanan klien kami, dan saya menjelaskan prosedur pengisian rubrik tersebut, yaitu salah satunya mereka akan kami interview untuk menjawab beberapa pertanyaan. Dengan santainya ABG tersebut menjawab “Wah... pertanyaan apa dulu nih, bisa kasih petunjuk ga? Kalau susah-susah saya ga mau ah!” walahhh.. kontan saya agak kaget mendengarnya.. buset ABG jaman sekarang, keren amat jawabnya kayak artis kondang! Haha lucu juga yah... tapi hal tersebut membuat saya sadar, bahwa ABG jaman sekarang memang jauh lebih kritis.

Berkaitan pula dengan pengetahuan mereka terhadap merk. Mereka sudah sangat aware dengan yang namanya promosi, mereka dengan sigap (tidak usah diminta orang tua) sudah bisa memilah-milah mana yang benar dan mana yang buruk. Merk mana yang terpercaya dan patut mereka konsumsi dan merk mana yang beriklan bohong-bohongan belaka. Itulah sebabnya juga pelaku selular di kalangan ABG cukup kewalahan melakukan berbagai kampanye iklan, lantaran konsumennya tidak bergerak kemana-mana.

Bicara mengenai hirarki sosial, ABG terbagi menjadi beberapa golongan :

Trendsetter
Sudah sering dengar istilah ini kan pastinya. Yup! Trendsetter adalah mereka yang cenderung memiliki kemamuan keras, tidak mengikuti tren dan ingin menjadi lebih berbeda dari orang lain. Mereka adalah orang-orang yang berhati keras, cuek dan sedikit atau bahkan nakal sekali. Mereka memiliki nyali yang tinggi untuk keluar dari kemajemukan teman-teman sebaya mereka. Trendsetter inilah yang dicari media dan siap untuk mengatakan pada dunia siapa mereka dan apa yang mereka sukai atau tidak sukai. Tapi trendsetter memiliki kecenderungan tidak berkelompok atau terkesan terpisah dari kelompok kebanyakan. Mereka memilih bersikap individualis didukung karakteristik mereka yang keras.

Pembujuk
Pembujuk adalah kelompok yang mengambil keuntungan dari trendsetter. Para pembujuk ini mengikuti apa yang menarik dari para trendsetter dan menularkannya kepada banyak orang. Sebenarnya siapa yang biasa kita anggap sebagai trendsetter di masyarakat adalah sebenarnya para pembujuk ini. Seperti contohnya adalah para selebriti atau kelompok gaul di satu sekolah, mereka adalah para pembujuk. Para pembujuk bersifat jauh lebih sosial dibanding trendsetter, sehingga mereka banyak ditiru oleh orang-orang. Tapi Pembujuk tidak pernah menjadi orang yang melakukan pertama kali, karena mereka tidak memiliki nyali untuk mencoba hal yang baru.

Follower
Adanya pembujuk, tentu saja didukung dengan banyaknya follower. Jika anda sering menonton serial atau film ABG, pasti di sekelompok gank remaja putri ada yang perannya menjadi follower, dan pasti jumlah nya lebih banyak dari Pembujuk. Follower ini adalah yang jumlah nya paling banyak di antara kelompok hirarki sosial lainnya. Follower ini adalah orang kebanyakan yang ada di mana-mana. Terutama di mal! Follower ini adalah orang-orang yang memakai rompi warna warni dan short pendek (walaupun kaki mereka pendek), karena para pembujuk melakukannya. Follower tidak pernah mencoba hal yang baru, mereka sangat mencintai tren dan senang menjadi identik dengan yang lainnya.

Refleksif
Orang-orang di kategori ini adalah yang sering diejek “freak” di sekolah. Mereka mati-matian ingin bergabung dengan kelompok, tapi ternyata tidak. Mereka jarang mengikuti tren fashion dan jarang keluar rumah. Seperti Follower mereka tidak pernah melakukan gebrakan baru, dan sibuk mencari penerimaan sosial.

Dari penjabaran hirarki sosial yang ada di kelompok ABG tersebut, anda bisa memilah-milah di mana produk anda tepat untuk ditempatkan. Ada banyak produk yang diciptakan bagi para trendsetter, ada bagi Pembujuk, Follower dan Refleksif. Jangan sampai anda salah menempatkan produk, dan anda juga perlu sangat berhati-hati dalam menyampaikan bentuk komunikasinya, karena bahasa antar kelompok tersebut berbeda. Jangan berbicara sesuatu yang inovatif kepada para follower, tapi berbicaralah sesuatu yang trendi kepada mereka. Jangan beriklan tentang produk yang dipakai di mana-mana kepada para trendsetter, karena mereka tidak akan mau memakainya karena so not original!

Sama seperti yang kami lakukan terhadap brand ABG yang selama ini kami tangani, kami selalu fokus pada kelompok Pembujuk untuk memasarkan produk baru, dan kelompok Follower pada regular items. Seru kan mempelajari para ABG jaman sekarang ini? Selain seru pastinya juga membuka peluang pasar yang sangat besar. Dengan karakteristik mereka yang memiliki lebih banyak kekuatan personal, lebih banyak uang dan lebih banyak perhatian tercurah pada mereka dibanding generasi manapun sebelumnya, mempengaruhi pembelanjaan uang sampai 600 milyar dolar per tahun dan mempengaruhi 60% dari semua keputusan pemilihan merek oleh orangtua mereka. Bukan hal yang mengejutkan jika mereka diterpa sekitar 4.000 iklan per tahun. Angka yang membuat para pebisnis semakin bersemangat untuk menggarap mereka. Bagaimana dengan anda?

Strategi Meningkatkan Profit


Surat Pembaca

Dear creasion brand,
senangnya melihat artikel artikel yang begitu mencerahkan dari creasion brand. pengen nanya nih, gimana sih caranya meningkatkan profit tanpa embel2 diskon dan sebagainya? actually aku sedang bikin artikel tentang hal itu dan perlu sedikit pencerahan dan pemahaman lagi.

Halo

Pertanyaan yang menarik sekali mbak, memang kadang dan seringkali malah brand manager, marketing manager atau siapapun yang sering bertanggung jawab terhadap masalah profit perusahaan ini memikirkan jalan tersingkat untuk menaikan profit adalah diskon. Padahal harus dikaji lagi bahwa kenaikan penjualan dengan adanya diskon mungkin akan menaikan revenue tapi belum tentu menaikan profit perusahaan karena tergantung dari economic of scalenya dan beberapa faktor lainnya. Makanya harusnya di dalam diskon terkandung unsur promosi untuk meningkatkan market share dari sebuah produk bukan semata-mata ditujukan untuk meningkatkan profit perusahaan.

Lantas strategi meningkatkan profit tanpa embel2 diskon ini bagimana? Ok secara singkat ada beberapa skenario yang dapat digunakan untuk meningkatkan profit perusahaan :

Cost Reduction
Ini scenario yang cukup banyak digunakan oleh perusahaan dalam meningkatkan profitnya, cost reduction ini bisa meiliputi macam-macam tentunya baik itu yang berhubungan dengan proses produksi produk tersebut, distribusinya, tenaga kerjanya dan sebagainya. Dalam beberapa kasus yang sering kita lihat, cost reduction ini kadang bisa menimbulkan konflik di dalam perusahaan, apalagi bila yang menjadi target adalah pekerja di perusahaan sehingga diperlukan sebuah skema khusus dalam penerapannya agar tidak menimbulkan onflik internal tadi.

Price Increase
Nah sebenernya ini pilihan yang paling enak he...he tapi paling beresiko karena berhubungan langsung dengan konsumen perusahaan. Apalagi jika produk yang dijual memilki segmen market yang sangat sensitif terhadap harga, bisa bisa brabe nih dan ditinggal konsumennya. Penaikan harga ini memerlukan suatu perencanaan strategi yang sangat matang meliputi riset konsumen dan reaksinya terhadap kenaikan harga, penetapan scenario kenaikan harga dan uji lapangan, evaluasi dan kemudian persiapan eksekusi kenaikan harga.

Membuka pasar baru
Hal ini bisa dilakukan jika memang penetrasi marketnya sudah demikian tinggi sehingga produk mengalami kesulitan dalam meningkatkan profit perusahaan dan pada saat yang bersamaan produk yang dijual juga sudah maksimum menjangkau market sharenya. Dengan kondisi yang demikian, marketing manager mencoba membuka ceruk pasar baru untuk menjual produknya. Nah ini bisa dilakukan misalnya dengan melakukan segmentasi secara geographis, misalnya jika dulu pasarnya hanya di daerah jawa sekarang mulai dipikirkan untuk membuka pasar di Irian Jaya.

Memperbanyak frekwensi pemakaian
Nah pernah liat iklan yang bilang “sebaiknya di konsumsi 3 kali sehari”, dahulu pertama kali keluar produk ini tidak mengatakan demikian, namun mungkin dengan pertimbangan untuk meningkatkan sales dan profit perusahaan mereka mencoba melakukan behavior construction dengan membuat kebiasaan baru mengkonsumsi tiga kali sehari atau dengan kata lain memperbanyak frekwensi pemakaian.

Menciptakan manfaat pemakaian lain
Misalnya nih odol selain berfungsi sebagai pasta gigi juga dikomunikasikan sebagai obat luka bakar, nah ini khan membuat pembelian odol meningkat karena manfaat penggunaan lain, tapi hati hati juga sih karena bisa berbahaya buat image si brand itu sendiri.

Mengeluarkan Varian dan Kemasan yang lebih Ekonomis
Sampo nih misalnya, dengan mengeluarkan varian dan kemasan yang lebih ekonomis, segmen market yang grab akan semakin besar tentunya dan ini juga berujung pada peningkatan profit.

Nah kira-kira penjelasan singkat diatas bisa bermanfaat untuk meningkatkan profit perusahaan, tentu setiap strategi yang dipilih memerlukan perencanaan lebih lanjut apakah nanti bila diterapkan di pasar akan berhasil atau tidak dan setiap strategi yang dipilih juga harus didasarkan pada data dan fakta lapangan.

Apr 9, 2008

Data...Apa Pentingnya?


Sejauh mana menurut pandangan Anda pentingnya sebuah data? Bagi banyak orang, data hanyalah angin lalu yang mungkin hanya merepotkan untuk mendapatkan dan mengelolahnya. Tapi jauh di atas fungsi tersebut, data adalah modal mutlak keberhasilan strategi sebuah bisnis.

Dan hebatnya ternyata banyak sekali perusahaan yang berjalan tanpa data, baik yang bersifat “past“, “present” atau “future”. Jadi hampir bisa dikatakan perusahaan selama ini berjalan BUTA!! Ya.. setidaknya begitulah yang kami temukan dari beberapa klien yang kami tangani, baik dalam skala lokal maupun nasional. Bagi beberapa (atau banyak) perusahaan data menjadi sesuatu yang asing dan tidak menjadi prioritas (bahkan tak terpikirkan sama sekali). Ada pula yang hampir seluruh periode kerjasama, yang kami lakukan adalah meyakinkan bahwa data itu penting dan terus menerus merributkan hal ini (dan kami belum berhasil!)

Dengan data, Anda bisa menaklukan pasar apapun yang Anda masuki, Anda bisa mengalahkan siapapun pesaing Anda, setidaknya itulah yang kami yakinin, yah tentu dengan asumsi bahwa produk dan strategi Anda tepat di pasar tersebut. Sampai-sampai kalo tidak salah dahulu Unilever dan P&G harus perperang sampai dipengadilan gara-gara hal ini.

Menurut salah satu pasar pemakaran, data adalah bentukan paling sederhana dari informasi Dan dari informasi ini lah yang menjadi point penting dalam menentukan dan menjalankan strategi bisnis. Data bisa didapatkan dari mana saja, dan terkait dengan bisnis yang kita jalani, terutama adalah mengenai perusahaan itu sendiri, pesaing, pasar dan konsumen. Atau lingkup yang sering kita bahas adalah berkisar pada 4C (costumer, competitor, company dan change). 4 lingkup yang mutlak ini harus dimiliki sebuah perusahaan, selayaknya didukung dengan sistem yang kompeten dalam mengumpulkan data akurat, baik yang mengukur masa lalu, sekarang dan masa depan. Hal ini tentu saja untuk mengetahui seberapa jauh perusahaan/produk telah berjalan, bagaimana kondisi perusahaan/produk dibandingkan dengan pesaing, bagaimana produk di mata konsumen dan peluang apa yang bisa digarap produk di masa yang akan datang. Seluruh informasi tersebut adalah sebuah tambang emas bagi perusahaan.

Jai sekali lagi, berkerjalah berdasarkan data karena dari sinilah semua inpormasi akan muncul yang kemudian menjadi fakta-fakta bisnis yang bisa anda manfaatkan untuk mengatur langkah strategis perusahaan ke depannya dan dari sinilah pula anda akan mempu menghadapi perubahan dan memprediksi masa depan bisnis perusahaan. Hal ini sepertinya terlihat sulit, padahal jika dilakukan sebagai rutinitas "strategis", proses pencarian dan pengolahan data ini tidak terlalu sulit untuk dilakukan, Anda hanya perlu tahu bagaimana cara memulainya, ketika sudah berjalan semua akan menjadi lebih mudah untuk dilakukan tentunya.

Misalnya dengan skala kecil mengukur kepuasan konsumen melalui kuisioner; atau mengukur loyalitas pegawai; atau yang paling sederhana adalah merapihkan laporan keuangan anda dan mulai membuat chart dari bulan ke bulan sejauh mana penjualan anda berkembang? Atau malah menurun? Nah jika anda menjalankan ini sebagai rutinitas strategis, Anda akan menemukan bahwa hal-hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan membantu Anda menyelesaikan dan menyusun rencana berikutnya untuk terus mempertahankan atau melakukan perbaikan terhadap proses-prose tersebut di atas, dan jangan Anda kita pesaing Anda melakukan hal ini karena hal ini sangat sederhana dan kadang dilupakan. Mereka mungkin lebih sibuk melihat rating iklan dan harus beriklan di mana, membaca data-data nasional dari lembaga riset dan sibuk dengan urusan-urusan yang "besar-besar" he....he, yah tentu ini juga sangat perlu sekali tapi mengapa tidak memulai dari urusan yang sederha tapi impacfull?

kemudian dari sana diharapkan langkah-langkah kecil tersebut bisa menjadi jalan untuk sistem informasi yang lebih luas dan bermanfaat bagi perkembangan bisnis anda. Maka dari sekarang... jangan lengah terhadap informasi, karena informasi adalah kuncinya...

Building Corporate Brand


Dalam membangun sebuah brand, banyak faktor yang harus diperhatikan, dan tentu saja tidak mudah melainkan membutuhkan proses yang melibatkan berbagai elemen termasuk di dalamnya faktor waktu. Membangun brand sama halnya seperti mendidik seorang anak, Brand sebagai orang tua, dan masyarakat sebagai anaknya. Sebagai orang tua, Brand harus sabar dan menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya penting bagi anak-anak mereka. Dan tentu saja, bertumbuhnya pola pikir anak akan sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang ditanamkan oleh orang tua (timbulnya persepsi).

Membangun Brand dipengaruhi juga faktor seberapa luasnya posisi sebuah Brand. Menurut beberapa pakar, brand dapat dikategorikan menjadi 3 hal : Product Brand, Service Brand dan Corporate Brand. Product Brand adalah yang selama ini paling sering kita ketahui dan kita lihat iklannya, mis. Pepsodent, Sunsilk, Lux, dll. Sedangkan Corporate Brand dari Product-Product Brand tersebut adalah Unilever. Ada pula yang disebut dengan Service Brand, yang produknya berupa jasa, seperti Singapore Airlines, FedEx, dll.

Product Brand dan Service Brand seperti nya sudah sangat akrab dengan keseharian, dikarenakan banyaknya kasus yang sering dikupas. Dalam pembahasan berikut akan lebih digali mengenai hal-hal yang dapat menjadi supporting elements yang juga menjadi syarat utama pembangunan Corporate Brand. Adapun andil supporting elements tersebut adalah membangun suatu positioning yang sangat kuat berkaitan dengan Corporate Brand.




Ke-5 supporting elements tersebut adalah :

Corporate Soul&Vision
Seperti kita tahu, Visi sebuah perusahaan adalah inti dari semua pengembangan yang dilakukan. Visi sebagai jiwa (soul) yang menggerakkan seluruh perusahaan. Visi perusahaan ini harus terdeliver dengan baik dan terkandung dalam positioning yang terpersepsi di benak masyarakat

Infrastructure
Kredibilitas suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kesempurnaan infrastruktur yang dimiliki. Kesempurnaan infrstruktur membangun persepsi tersendiri bagi masyarakat, dan kepercayaan diri konsumen, bahwa mereke memilih corporate yang tepat dan terpercaya.

Service
Konsumen tidak pernah lepas dari keinginannya untuk dilayani sebaik mungkin. Kenyamanan konsumen dan persepsi kenyamanan dalam masyarakat diwujudkan melalui tingkat service yang diberikan. Apakah sebatas service biasa atau mencapai experential service, yang dapat membuat konsumen berkesan, memasukkan brand dalam hidup mereka, dan yang terpenting adalah menjadikan nya WOM ke kelompok masyarakat lainnya. Seunggul apapun produk anda, untuk membuat nya lebih bernilai dan unggul dari kompetitor adalah faktor service yang dipersembahkan untuk konsumen dengan tingkat customazation yang tinggi.

Product Quality
Kualitas produk adalah cerminan kredibilitas corporate. Ke depannya tren sebuah produk adalah solution. Produk yang akan dicari adalah produk dengan tingkat fungsional dan kualitas yang menjadi solusi bagi mereka.

CSR
Corporate Social Responsibility atau yang biasa kita kenal dengan CSR awalnya hanya menjadi sarana untuk kegiatan sosial bagi sebuah perusahaan. Tapi dikarenakan CSR sudah menjadi suatu tren, maka kredibilitas suatu corporate juga dinilai dari segi tanggung jawabnya terhadap masyarakat secara luas.

Contoh kasus yang masih hangat untuk dibahas adalah perayaan 13 tahun Telkomsel. Simbol kupu-kupu di tahun ke-13 ini menjadi sangat senada dengan pertumbuhan corporate Telkomsel di tengah masyarakat, di mana tahap metamorfosa yang dialami Telkomsel sudah pada tahap kedewasaan dan siap untuk menebarkan keindahannya. Corporate review yang ditayangkan di stasiun-stasiun TV menjadi salah satu media komunikasi pertumbuhan Brand Telkomsel, dan dapat anda nilai, di dalamnya terdapat ke-5 elemen tersebut, di mulai dengan Corporate Soul&Vision Telkomsel yang bertujuan membantu Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan bidang telekomunikasi di Indonesia.

Dilanjutkan dengan penjelasan peluasan distribusi pemancar utama di berbagai pelosok negeri sebagai simbol kredibiltas perusahaan melalui jaringan infrastruktur yang sempurna. Dari segi service dan produk, dari setiap brand produk yang dimiliki (Simpati, Halo, As, dll) mengeluarkan tarif baru untuk mendukung pemerintah dalam menurunkan tarif komunikasi di Indonesia.

Dan tentu saja yang terakhir adalah berbagai program CSR disebar di seluruh kelompok masyarakat, dari mulai beasiswa di bidang pendidikan, pembiayaan wirausaha hingga peran sertanya dalam pelestarian lingkungan. Telkomsel menjadi satu contoh Corporate Brand yang telah tumbuh dan memiliki positioning yang positif dan kuat di benak masyarakat.

Mar 31, 2008

Film Nasional, Buble atau Sustainable


Jika kita mau sedikit mengamati perkembangan perfilman Indonesia saat ini tentu kita harus angkat topi dan memberikan kredit plustersendiri. Bagaimana tidak, hampir setiap beberapa bulan bahkan bulan film-film karya anak negeri ini menjadi raja di rumahnya sendiri, jutaan penonton dan selalu penuhnya kursi-kursi di bioskop-bioskop seantero negeri memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa film nasional sudah menjadi raja di negeri sendiri. Terkahir yang paling fenomenal tentunya Ayat- Ayat Cinta yang sampai saat ini kabarnya sudah mencetak 3 juta penonton lebih di Bioskop-bioskop se Indonesia, ini baru angka pengunjung resmi, yang menonton bajakannya saya yakin bisa lebih banyak lagi. Says sendiri sampai dua minggu lebih sedikit malas untuk mencoba menonton film ini karena selalu harus mengantri dengan antrian yang selalu seperti ular ngantri beras, panjannnng sekali antriannya.

Jujur saja ide menulis artikel ini karena kemarin saya kaget luar biasa, seperti biasa setiap hari sabtu saya memberikan diri saya kesempatan untuk menikmati film-film bioskop, yah sekedar mengistirahatkan pikiran yang sudah 5 hari njelimet dengan pekerjaan dan pekerjaan. Seperti biasa juga sebelum pergi menonton ke bioskop favorit, saya menyempatkan diri untuk membuka internet dan website bioskop tersebut untuk mengecek kira-kira film apa yang akan saya tonton dan saat itu saya benabenar kaget, dari tujuh studio yang ada, enam studio menampilkan film karya anak bangsa, oh my God, mungkin ini Cuma reakasi saya saja yang berlebihan dan ketidaktahuan saya mungkin, namun ini baru pertama kalinya di bioskop kesayangan saya tersebut yang memiliki tujuh studio tersebut menayangkan enam film nasional secara bersamaan dan hanya satu film asing, dan ternyara ini tidak jauh dengan studion-studio lainnya di lokasi yang berbeda. Singkat cerita saya tidak jadi nonton ha....ha bukan tidak cinta dengan produk dan karya anak negeri tapi masalahnya saya memang kurang berselerah menonton film-film tersebut, yah katakanlah bukan segmen saya deh beres.

Mengapa film karya anak negeri saat ini sangat di gandrungi? Dalam perspectif marketing saya melihat ada beberapa alasan yang membuat film-film tersebut kemudian bisa merajai industri perfilman Indonesia. Pertama, kemampuan dalam membaca market insight dan menyesuaikan produk perfliman dengan segmen marketnya. Seperti halnya sinetron yang mengerti sekali bagaimana marketnya, film-film nasional saat ini cukup mempu membaca needs and want masyarakat Indonesia saat ini dan menterjemahkannya lewat film-film yang mereka sukai. Maka munculnya film-film dengan tema-tema komedi dan cinta yang dikemas dengan pendekatan sehari-hari yang ceritanya ringan dan mudah dimengerti, menampilakn artis-artis yang memang mewakili segmen market yang tepat dan dikomunikasikan dengan pendekatan yang sesuai dengan segmen market tersebut.

Segmen market pada dasarnya merupakan hal yang sangat basic yang harus bisa dimengerti oleh pebisnis pada saat ingin menjual produknya, apapun itu bisnisnya. Bayangkan saja jika kita mengetahui kepada siapa produk yang kita miliki untuk di jual, ha...ha kalo bukan karena beruntung, saya jamin produk tersebut tidak akan laku dipasaran, bukan karena tidak ada yang membutuhkannya tapi disebabkan di yang empunya produk tidak mengetahui untuk siapa produk tersebut dijual sehingga bisa jadi produk tersebut disampai atau tidak terdengar di telinga segmen yang memerlukannya. Begitupun juga film nasioanal saat ini, mereka pintar membaca segmen market yang ada, selain cukup besar untuk digarap, behavior dari segmen market yang ada juga secara cermat mampu diterjemahkan ke dalam produk film yang tepat sehingga segemen tersebut merasa bahwa iniah produk yang sesuai dengan gaya dan kehidupan gua and that’s why i nedd to see this movie.

Kedua the produk it self, sudah dibahas cukup singkat di atas bahwa pada akhirnya produk yang bagus pasti dicari orang apalagi produk tersebut sesuai dengan kebutuhan dan harapan dari si pencari dan dikomunikasi dengan tepat. Film nasioanl saat ini merupakan contoh produk yang bagus dan menyasar serta di komunikasi dengan bagus pula. Tema-tema film yang diangkat sedikit banyak memiliki differensiasi yang cukup unik yang tidak bisa didapatkan oleh film-film keluaran asing. Quikie Xpress, Jelangkang, Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta, Arisan jelas sekali mengangkat unsur budaya atau kehidupan orang Indonesia pada umumnya dan ini tentu hal cukup sulit didapatkan dari film-film keluaran luar negeri.

Apa jadinya jika produknya tidak diminati namun si pembuat film tetap ingin karyanya di pasarkan dengan alasan idealismen? Dua kemungkina saja, buang-buang duit atau berharaplah pertolongan Tuhan. Saya tidak bilang tidak akan ada yang menonton tentunya, pasti ada saja segmen market penikmat idealismen, namun di sini kita juga sedang melakukan penjualan dan salah satu syarat dalam melakukan penjualan adalah pasarnya cukup besar untuk digarap sehingga produk yang kita keluarkan tidak merugi tentunya. Yah sebenarnya repot jika memperdebatkan masalah idealisme ini Cuma mari kita sederhanakan sajahlah, tetapkan saja dulu tujuannya, memenuhi kubutuhan pasar dan meningalkan idealisme atau penuhi idealisme dengan mengorbankan kebutuhan pasar? Bagus kalo bisa dua-duanya Cuma khan jarang-jarang neh yang beginian.

Ketiga komunikasi. Setuju atau tidak setuju dan benar atau tidak benar, tiga juta lebih penoton film Ayat-Ayat Cinta menonton film tersebut mungkin karena “omongan”. Publikasi dan promosi yang dilakukan baik itu lewat-media-media eletronik, cetak, event-event dan word of mouth baik disengaja atau tidak memberikan peran yang sangat besar terhadap lakuknya dan meladaknya film tersebut. Rasanya mustahil tanpa komunikasi film ini dapat menjadi demikian, saya pikir kekuatan komunikasilah yang meledakannya selain tentunya produknya itu sendiri. Jika diperhatikan bentuk-bentuk komunikasi yang dilakukan pihak produser film akhir-akhir ini cukup kreatif dan inovatif sehingga film-film yang tadinya biasa menjadi sangat luar biasa. Yang paling berhasil tentunya word of mouth yang diciptakan dalam promosi film-film yang ditanyangkan, mulai dari aktris atau aktor yang kesurupan dan melihat mahluk halus, kursi bisokop tertentu yang harus dikosongkan, perjuangan produsernya untuk film tersebut bisa tanyang dan sebagainya yang di susun sedemikian rupa sehingga menjadi konsumsi masyarakat. Belum lagi dukungan pihak pertelevisian lewat acara-acara infotaiment atupun liputan khusus terhadap film tersebut.

Ok ketiga hal diatas mungkin secara umum saja mewakili rahasian sukses perfilman Indonesia saat ini, tentu banyak lagi variabel pendukung suksesnya film-film nasional saat ini, yang justru menarik untuk dibahas kemudian adalah pertanyaan yang sangat penting bagi kita seorang marketer, apakah kisah sukses perfilman saat ini akan continue atau hanya sukses sesaat?

Sebagai seorang pemasar, pertanyaan buble atau sustainable ini merupakan pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab, selain karena memang belum terjadi, dinamika dan perkembangan pasar dan pesaing selain kondisi perusahaan sendiri tentunya menjadi PR yang harus terus menerus dikerjakan untuk memastikan pertumbuhan perusahaan yang kontinue. Kembali lagi ke perfilman nasional, saya sendiri terus terang kurang bisa memprediksi bagaimana masa depannya karena tidak berkecimpung di dalam industri ini namun menurut saya diperlukan sebuah terobosan kreatif dan inovatif secara terus menurus untuk terus menggali ide-ide film maupun teknis perfilman yang disuguhkan ke masyarakat.

Budaya ikut-ikutan seperti menjamurnya film-film bertemahkan mahluk halus menurut saya malah akan merusak perfilman Indonesia itu sendiri, mencari kesempatan lewat tema-tema film yang sebelumnya laku keras sering kali dilakoni oleh insan perfilman Indonesia, jika sudah begini tentu differensiasi produknya tidak akan unik lagi sehingga dengan demikian akan membuat pasar menjadi jemuh dan beralih mencara alternatif lain, yah syukur0syukur beralih ke film Indonesia lainnya jika beralihnya ke film-film produksi negara lain khan tentu sangat disayangkan. Seperti halnya sinetron bertemah religi yang dua tahunan kemarin meledak ndak karu karuan, sekarang sudah berkurang signifikan penayangannya. Mungkin faktor-faktor differensasi dan positioning yang uniklah yang membuat Ayat-Ayat Cinta menjadi demikian hebatnya sampai lebih dari tiga juta orang yang menontonnya, film yang cukup berani mengangkat tema yang sedikit berbeda dari trand film saat ini yang lebih banyak di isi oleh film cinta komedi dan mahluk halus, terlepas dari kontroversinya tetap saja kita harus ancungkan dua jempol untuk film ini. Inilah contoh tepat untuk produk yang tepat, dijual ke segmen yang tepat. Memiliki positionig dan differensiasi yang tepat dan dikomunikasi secara tepat pulah, hasilnya? Yah anda sendiri bisa menilai dan membacanya di koran-koran, sampai-sampai presiden dan wakil presiden merasa perlu untuk menonton film tersebut, gile bener.

Bicara apa di atas barusan? Dalam perspective perusahaan diperlukan creative destrution untuk membreak situasi yang comport yang terjadi di dalam sebuah perusahaan sehingga komponen-komponen di dalam perusahaan akan di drive untuk selalu kreatif dan inovatif dalam segala hal dan tidak cepat puas untuk selalu memcoba lebih baik lagi dalam menciptakan dan melayani kebutuhan pasar. Rasa puas merupakan musuh yang sangat berbahaya di dalam sebuah perusahaan karena rasa puas akan membuat proses kreatif dan inovatif akan terlupakan dan tidak menjadi urgensi tersendiri, dalam jangka pendek mungkin tidak akan bengaruh yang berarti bagi perusahaan, namun percayalah, menurut saya semua perusahaan yang gagal di arena perang bisnis pada mulanya pasti berawal dari kurangnya proses kreatif dan inovatif yang dilakukannya dalam semua hal diperusahaan tersebut.

Tugas siapa ini? Jika bicara film tentunya ini menjadi tugas isan-isan film baik itu sutradara, badan perfilman, atris dan aktornya dan semua yang terlibt untuk melakukan creative destruction terhadap film-film yang ditanyangkan maupun teknik-teknik dan cara-cara penayangannya. Jika di dalam perusahaan, yah jika tidak semua orang, bentuklah agen pelaku creative destrution ini yang pekerjaannya terus menerus melakukan proses kreatif dan inovatif bagi perusahaan, terlepas hasil yang dibuat belum terpakai oleh perusahaan namun biarkanlah team ini terus-menerus berkerja karena bisa jadi lewat team inilah masa depan perusahaan anda mungkin kelak ditentukan. Nah sudahkah anda menonton Ayat-Ayat Cinta? Ha.....ha kok ga nyambung yah.

Launching New Product


Surat Pembaca

Saya ingin sharing dengan Bapak bagaimana cara Launching New Product yang menarik , hemat , dan efektif ? kalau tidak merepotkan mohon saran dan input dari Bapak, terima kasih...

(Creasionbrand) Nah pertanyaan ini menarik sekali karena sebelum mengadakan event apapun apalagi untuk sebuah produk yang baru kita tentu sama sekali tidak mengetahui apakah launching yang akan kita lakukan akan menarik target market kita untuk melihat dan bertindak untuk mencoba produk tersebut. Ok, sebelumnya kita harus menetapkan dahulu, launching yang sedang kita bahas adalah launching yang menggunakan media activation atau event, karena jika bicara launching tentu medianya sangat beragam dan masing-masing media memiliki strenght dan weeknessnya masing-masing tentunya.

Secara umum bagaimana membuat sebuah launching yang manarik adalah dengan cara mengerti dengan benar Tujuan dan market insight. Tujuan dari event harus tercantum, tertulis dan dimengerti dengan benar oleh semua pihak yang terkait baik itu penyelengara event maupun yang punya merek, dari awal mas harus tegaskan ke bos anda tujuan event ini apa dan apa konsekuensinya. misalnya tujuan event adalah memperkenalkan produk baru, maka ukurannya adalah berapa banyak orang yang akan mengenal produk tersebut, bukan berapa banyak sales yang terjadi, ini repot nih, si bos menurut pengalaman saya sering kali mencampur adukan tujuan event yang dilakukan padahal sudah jelas-jelas hal yang paling penting adalah memperkenal produk tersebut terlebih dahulu bukan mempush penjualan dalam jangka pendek. Atau bisa saja kedua tujuan tersebut ingin dicapai.

Market insight ini kurang lebih berhubungan dengan 3c, customer, competitor dan change. Sedikit kita bahas, untuk customer hal yang paling sederhana untuk kita ketahui adalah profile mereka yang bisa kita bagi dari sisi Geographis, demography dan psikography, atau lebih sederhananya kita harus mengetahui apa yang menjadi needs. wants dan expectation mereka tentang sebuah event produk launching dan yang terpenting tentu produknya itu sendiri. Kebanyakan event yang gagal saya perhatikan tidak bisa membaca insight dari target market mereka sehingga event mereka menjadi gagal, mereka terlalu berfokus pada kreatif eventnnya padahal pertanyaan paling mendasarnya mereka lupakan, siapa target marketnya.Jika kita mengerti insight dari target market event perusahaan maka sudah tentu segala bentuk acara, promosi, detail dan hal lainnya akan disesuaikan dengan keinginan dan ekpektasi dari target mereka, bukan asumsi pribadi si event organizer. Kedua, competitor, sederhana saja, anda harus tahu dengan pasti event-event apa dan bentuknya seperti apa yang sudah dilakukan oleh competitor anda, apa kelebihan eventnya, apa nilai-nilai yang disampaikan produknya lewat event tersebut, ramaikah dan hal-hal lainnya. Ini sangat penting untuk memastikan anda tidak membuat event yang kelak sama dengan event pesaing karena persepsi yang akan terbentuk bagi produk anda jelas tidak akan menguntungkan. Change, mencakup cukup banyak hal di dalamnya seperti budaya dan culture masyarakat setempat, hukum dan politik di daerah tempat target market dan event kita berada, tapi intinya hal ini jangan lolos dari perhatian Anda, sebagai contoh misalanya Playboy mau mengadakan launching di Aceh, wah bisa bahaya ini, mungkin saja ada target marketnya di sana namun dari sisi budaya dan culture khan ga pas, bisa bisa di garuk sama masyarakat tuh majalah he.........he.

Setelah 3c data, fakta dan insgiht di dapat barulah unsur kreatifitas bicara, event seperti apa yang ingin kita buat? ini tergantung dengan tim yang anda miliki apakah punya pemikiran-pemikiran yang out of the box untuk mencreate sebuah event. eit tapi ingat proses ini harus di dasarkan pada informasi di atas dan sudah barang tentu Tujuan dari Event Produk Launching ini tentunya, jangan sampe melenceng.

Proses creativitas pemciptaan event yang menarik dan bisa mencapai tujuan yang sudah ditetapkan ini adalah saat-saat yang menarik tentunya, biarkan semua ide terbang melayang-layang dan memenuhi langit-langit kantor kita, setelah itu data dan tinggalkan barang satu hari ajah ide-ide itu untuk dibawa pulang dan kemudian bahas kembali kesokan harinya, dan sekali lagi jangan lupa guidelinesnya adalah Insight dari 3C, Objectives dari event dan produknya itu sendiri tentunya. Oh yah, sometimes ide-ide yang in the Box juga it's ok kok asal dikemas dengan creative.

Setalah bentukan ide event di dapat baru kemudian semua detail kita jabarkan, detail ini bisa di bagi dalam tiga hal detail yaitu pertama dari sisi teknis acara (waktu promosi dan komunikasi ke target market, rundown, isi acara, izin, perlengkapan, pembawa acara, waktu acara, biaya acara dan sebagainya), kedua dari sisi brand (design, packaging, promosi di tempat, price bundling untuk event, brand character) dan ketiga dari sisi non teknis doa dan berpasrah, saya tidak ingin terlihat seperti sufi mas, namun saya selalu percaya semuanya kembali lagi kepada yang di Atas akan berhasil dan kurang berhasikah event yang kita lakukan, yang terpenting siapakn segala sesuatunya secara detail, kreatif dan sesuai dengan proses yang sudah kita sepakati, sisanya berpasrah ajah.

Yah setelah itu selamat ber event dan semoga berhasil.