Bahasan yang selalu menarik untuk dibahas bagi setiap pebisnis khususnya yang bermain di bisnis kuliner seperti saya adalah tentang bagimana meningkatkan profit perusahaan tanpa perlu ada kenaikan penjualan, instilahnya penjualan yah wess mentok to the max hehe jadi harus ada cara-cara lain untuk bisa meningkatkan profit perusahaan.
Barusan saya menonton sebuah video dimana perusahaan distribusi di china menciptakan inovasi robot untuk melakukan sortir 200 ribu barang setiap harinya sehingga mereka bisa menekan biaya human dan error dengan sangat signifikan sehingga pada akhirnya keuntungan perusahaan meningkatkan karena cost menjadi lebih rendah dan kecepatakan delivery menjadi lebih baik.
Kemarin, di sebuah cafe saya lihat sebuah hal yang sangat inspiratif, bagaimana 1 lantai dilayani oleh hanya 1 orang dengan jumlah kursi hampir 80 kursi tanpa mengurangi kualitas dan kecepatan layanan di tempat tersebut, nah ini jadi sebuah insight penting untuk kita di mana dengan sistem ini cafe tersebut tentu menghemat biaya karyawan dalam jumlah cukup signifikan, apakah sebuah kebetulan? tentu tidak, ini bagian dari strategi yang ujungnya Naikin Profit tanpa harus Naikin Penjualan.
Ok, coba yuk kita bahas singkat beberapa ide yang bisa diimplemtasikan sehingga profit bisa naik tanpa harus penjualan naik terus, yah spesifik saya bahas untuk teman-temann di bisnis kuliner tentunya, tapi konsep ini juga bisa diimplemtasikan di berbagai bisnis dengan customenisasi tentunya. Siapp? Yukk.
1. Tekan Opex
Apr 10, 2017
Apr 6, 2017
Kopi, Melbourne, Idealisme & Industrialisasi
"Jika ingin melihat idealisme dan kualitas bersatu di dalam Kopi pergilah ke Melbourne"
..... Di satu hari masuklah kalimat ini di FB Messenger saya dari seorang teman di Melbourbe, mungkin karena sangat sering saya memposting tentang Kopi di Warunk Upnormal sehingga sahabat saya terpikir untuk memberikan informasi tersebut.
Warunk Upnormal, sejak 2014 dibangun dan terus berkembang menjadi hampir 40 cabang di akhir april ini memang sangat indentik dengan tempat nongkrong asik dengan "senjata" andalannya variasi Indomie yang khas, tidak banyak memang yang tau jika Idealisme tentang kopi juga tumbuh di kalangan ownernya khususnya salah satu sahabat saya, jadi jangan kaget kalo saya beritahu bahwa biarpun kelas warung, kopi yang ada di roasting sendiri dengan menggunakan Mesin Probat Jerman seharga mobil mewah dan mesin-mesin espresso yang digunakan bahkan dibeberapa outlet sudah memakai Black Eagle seharga total kurang lebih 200 juta per mesin, blom lagi bean nya didatangkan langsung dari petani kopi yang menjual Grade terbaik dan semua itu ada di warung Indomie.
Nah kembali lagi, bulan lalu kebetulan sekali saya mendapatkan kabar ada pameran Kopi di Melbourne, berbekal rasa ingin tahu yang lebih besar soal Idealisme dan Kualitas di Melbourne akhirnya kita memutuskan untuk menjelajah Australia, ini perjalan ke 2 ke "pusat kopi dunia" setelah sebelumnya tim Warunk Upnormal ke Italia demi membangun knowledge untuk dapat digunakan membangun industri kopi di Indonesia dan bisnis warunk upnormal tentunya.... idealis sekali yah hehe.
Idealisme
..... Di satu hari masuklah kalimat ini di FB Messenger saya dari seorang teman di Melbourbe, mungkin karena sangat sering saya memposting tentang Kopi di Warunk Upnormal sehingga sahabat saya terpikir untuk memberikan informasi tersebut.
Warunk Upnormal, sejak 2014 dibangun dan terus berkembang menjadi hampir 40 cabang di akhir april ini memang sangat indentik dengan tempat nongkrong asik dengan "senjata" andalannya variasi Indomie yang khas, tidak banyak memang yang tau jika Idealisme tentang kopi juga tumbuh di kalangan ownernya khususnya salah satu sahabat saya, jadi jangan kaget kalo saya beritahu bahwa biarpun kelas warung, kopi yang ada di roasting sendiri dengan menggunakan Mesin Probat Jerman seharga mobil mewah dan mesin-mesin espresso yang digunakan bahkan dibeberapa outlet sudah memakai Black Eagle seharga total kurang lebih 200 juta per mesin, blom lagi bean nya didatangkan langsung dari petani kopi yang menjual Grade terbaik dan semua itu ada di warung Indomie.
Nah kembali lagi, bulan lalu kebetulan sekali saya mendapatkan kabar ada pameran Kopi di Melbourne, berbekal rasa ingin tahu yang lebih besar soal Idealisme dan Kualitas di Melbourne akhirnya kita memutuskan untuk menjelajah Australia, ini perjalan ke 2 ke "pusat kopi dunia" setelah sebelumnya tim Warunk Upnormal ke Italia demi membangun knowledge untuk dapat digunakan membangun industri kopi di Indonesia dan bisnis warunk upnormal tentunya.... idealis sekali yah hehe.
Idealisme
Apr 4, 2017
Masalah = Solusi = Bisnis
"Masalah adalah sumber utama ide bisnis yang potensial sejauh tersedia solusi untuk masalah tersebut"
Ada beberapa common things yang sangat penting diperhatikan ketika kita memutuskan untuk membangun sebuah bisnis. Sangat tidak disarankan ketika kita memutuskan untuk membangun sebuah bisnis hanya didasarkan pada karena saya "suka", "sepertinya ok", "cocok nih dengan passion saya" ato "lagi ada modal nih, jadi mumpung" or "kepepet banget, mau ga mau harus".
Gaya berbisnis seperti di atas, punya kencenderungan akan membuat kita sulit menjalankan bisnisnya dan tidak menguasai kondisi dan kemampuan yang dibutuhkan sehingga ujung-ujung sangat sulit membuat bisnis berkembang, modal keburu habis duluan atau lebih buruk bisnis jalan tapi terus merugi, boro-boro bicara menjadikan bisnis lebih besar dengan profit yg besar, sekedar untuk menggaji karyawan dan operasional day to day ajah mungkin harus hutang sana sini, gestun, gali lubang tutup lubang sampai menggunakan dana pinjaman tambahan dari bank or sejenisnya.
"Bukannya wajar mas Rex hal tersebut untuk setiap pemula bisnis?" Betul wajar karena biasanya kita melakukan common mistake yang sama, apakah ada yang berbisnis tidak melalui hal tersebut? yah pasti ada, tentu ada challenge tapi biasanya akan lebih terkait dengan bisnis growthnya bukan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dialami jika sejak dari awal melakukan bisnis dengan tuntunan yang tepat.
Contoh, dulu ketika memutuskan untuk berbisnis ketika belum lulus kuliah, karena begitu cintanya dan sukanya saya dengan dunia marketing, maka saya memutuskan untuk menjadi konsultan marketing dan advertising, hasilnya 8 tahun berakhir dengan menumpuk hutang biarpun klien banyak, bingung juga saya kalo ditanya kok bisa bertahan hehe, finaly akhirnya melakukan Pivot ke bisnis kuliner dan menjadikan 8 tahun lebih sebagai kuliah "Harvard" hehe. Mengapa bisa demikian? Yah karena ketika memutuskan terjun ke dalam bisnis alasannya sangat sederhana "passion", pasar? Waduh kira2 ajah kayanya banyak sih, berapa besar? yah besar kali yah, memang orang butuh? Yah pastilah siapa sih yang ga butuh konsultan? ... get my point?
Ada beberapa common things yang sangat penting diperhatikan ketika kita memutuskan untuk membangun sebuah bisnis. Sangat tidak disarankan ketika kita memutuskan untuk membangun sebuah bisnis hanya didasarkan pada karena saya "suka", "sepertinya ok", "cocok nih dengan passion saya" ato "lagi ada modal nih, jadi mumpung" or "kepepet banget, mau ga mau harus".
Gaya berbisnis seperti di atas, punya kencenderungan akan membuat kita sulit menjalankan bisnisnya dan tidak menguasai kondisi dan kemampuan yang dibutuhkan sehingga ujung-ujung sangat sulit membuat bisnis berkembang, modal keburu habis duluan atau lebih buruk bisnis jalan tapi terus merugi, boro-boro bicara menjadikan bisnis lebih besar dengan profit yg besar, sekedar untuk menggaji karyawan dan operasional day to day ajah mungkin harus hutang sana sini, gestun, gali lubang tutup lubang sampai menggunakan dana pinjaman tambahan dari bank or sejenisnya.
"Bukannya wajar mas Rex hal tersebut untuk setiap pemula bisnis?" Betul wajar karena biasanya kita melakukan common mistake yang sama, apakah ada yang berbisnis tidak melalui hal tersebut? yah pasti ada, tentu ada challenge tapi biasanya akan lebih terkait dengan bisnis growthnya bukan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dialami jika sejak dari awal melakukan bisnis dengan tuntunan yang tepat.
Contoh, dulu ketika memutuskan untuk berbisnis ketika belum lulus kuliah, karena begitu cintanya dan sukanya saya dengan dunia marketing, maka saya memutuskan untuk menjadi konsultan marketing dan advertising, hasilnya 8 tahun berakhir dengan menumpuk hutang biarpun klien banyak, bingung juga saya kalo ditanya kok bisa bertahan hehe, finaly akhirnya melakukan Pivot ke bisnis kuliner dan menjadikan 8 tahun lebih sebagai kuliah "Harvard" hehe. Mengapa bisa demikian? Yah karena ketika memutuskan terjun ke dalam bisnis alasannya sangat sederhana "passion", pasar? Waduh kira2 ajah kayanya banyak sih, berapa besar? yah besar kali yah, memang orang butuh? Yah pastilah siapa sih yang ga butuh konsultan? ... get my point?
Mar 28, 2017
Bisnis Kuliner Apa yang Potensial?
Ini pertanyaan yang mungkin sudah ga terhitung jumlah ditanya oleh temen-temen yang tertarik untuk terjun ke dalam bisnis kuliner, mungkin salah satu pertanyaan bisnis terbanyak yang saya temui selama ini hehe, karena mungkin saya juga orang kuliner kali yah or memang kalo mau start bisnis sepertinya bisnis kuliner "terlihat" lebih mudah dimasuki dan cukup menjanjikan.
Nah untuk menjawab pertanyaan di atas, saya jadi terpikir untuk dituliskan ajah jawabannya sehingga mudah untuk siapapun yang ingin tahu mendapatan jawabannya secara gamblang dan tentu lumayan itung-itung traffic ke blog yang udah lama banget saya tulis ini meningkat lagi hehe, maklum berat sekali rasanya untuk rajn nulis ditengah kesibukan yang luar biasa saat ini.
Ok balik lagi, bisnis kuliner seperti apa sih yang potensial dan punya peluangan yang masih sangat besar untuk digarap? Bisnis kuliner apa sih yang cukup menjanjikan untuk bisa jadi masa depan hidup kita dan jadi tumpuan ketika kita memutuskan untuk menjadi pengusaha kuliner?
Ok coba saya sharing point-point nya tapi sebelum itu perlu sekali untuk dipahami bahwa it is not easy world, dunia usaha termasuk di dalamnya kuliner bukanlah "golden tickets" untuk kita bisa sukses, banyak sekali tantangan, masalah dan peluang untuk gagal, so saran saya, jika sudah melihat peluangannya (What) maka kita perlu membekali diri dengan (how) nya. Ok let's go.
Jan 4, 2017
Perusahaan Banyak Keluarga
Hehe judul sudah cukup verbal bukan, dan ini sesuatu yang sangat lazim terjadi di dunia bisnis, BANYAK KELUARGA di dalam bisnis. Salah? Yah tentu saja tidak salah, kenapa harus salah? Asal keluarga yang berkerja di dalam perusahaan bekerja secara professional dan sesuai dengan aturan perusahaan.
Masalahnnya .....? hehe, yah pada prateknya keluarga yang berkerja di dalam perusahaan sering kali menjadi sumber masalah yang sulit untuk ditangani mulai dari karena orang tersebut kebetulan juga pemegang saham keluarganya, kurang kompeten dalam pekerjaan, unsur enak tidak enak di level management untuk memberikan teguran yang biasa diterapkan di karyawan non keluarga atau prilaku yang terpaksa "dimaklumi" karena .... "yah ga enak lah keluarga sendiri".
Hal ini jika dibiarkan dalam jangka panjang malah akan menjadi potensi yang membuat perusahaan kita malah menjadi tidak produktif, tidak berjalan secara profesional dan yang paling buruk kemungkinan yang bisa terjadi malah mejadi bumerang perpecahan yang punya impak buruk terhadap perusahaan di masa yang akan datang, rasanya jika harus memberikan contoh cukup banyak bisnis yang akhirnya pecah dan berakhir dengan keributan keluarga, either itu bisnisnya masih terus jalan dengan rusaknya hubungan keluarga atau bahkan bisnisnya bubar akibat keluarga.
Namun disisi lain tidak kita pungkiri bahwa Keluarga juga menjadi faktor competitive advantage yang sangat sulit ditiru jikalau mereka memang berkerja secara professional, punya kompetensi kerja yang tinggi, loyalitas yang luar biasa serta dedikasi yang sulit ditemukan di level karyawan non keluarga pada umumnnya, dan satu hal yang juga sangat penting keluarga bisa DIPERCAYA, jargon yang sudah lama ada dan hidup di dalam dunia bisnis.
Jadi, bagaimana kita membangun bisnis yang Banyak keluarga di dalamnya?
1. Competence di Bidangnya
Masalahnnya .....? hehe, yah pada prateknya keluarga yang berkerja di dalam perusahaan sering kali menjadi sumber masalah yang sulit untuk ditangani mulai dari karena orang tersebut kebetulan juga pemegang saham keluarganya, kurang kompeten dalam pekerjaan, unsur enak tidak enak di level management untuk memberikan teguran yang biasa diterapkan di karyawan non keluarga atau prilaku yang terpaksa "dimaklumi" karena .... "yah ga enak lah keluarga sendiri".
Hal ini jika dibiarkan dalam jangka panjang malah akan menjadi potensi yang membuat perusahaan kita malah menjadi tidak produktif, tidak berjalan secara profesional dan yang paling buruk kemungkinan yang bisa terjadi malah mejadi bumerang perpecahan yang punya impak buruk terhadap perusahaan di masa yang akan datang, rasanya jika harus memberikan contoh cukup banyak bisnis yang akhirnya pecah dan berakhir dengan keributan keluarga, either itu bisnisnya masih terus jalan dengan rusaknya hubungan keluarga atau bahkan bisnisnya bubar akibat keluarga.
Namun disisi lain tidak kita pungkiri bahwa Keluarga juga menjadi faktor competitive advantage yang sangat sulit ditiru jikalau mereka memang berkerja secara professional, punya kompetensi kerja yang tinggi, loyalitas yang luar biasa serta dedikasi yang sulit ditemukan di level karyawan non keluarga pada umumnnya, dan satu hal yang juga sangat penting keluarga bisa DIPERCAYA, jargon yang sudah lama ada dan hidup di dalam dunia bisnis.
Jadi, bagaimana kita membangun bisnis yang Banyak keluarga di dalamnya?
1. Competence di Bidangnya
Dec 30, 2016
Corporate Collaboration, Membangun Kekuatan Secara Berjamaah
Beberapa hari yang lalu saya sempat bertemu dengan beberapa pengusaha kuliner yang kebetulan juga sahabat-sahabat baik saya di bandung, ada beberapa topik menarik yang sempat kita bahas salah satunya tentang Corporate Collaboration di mana hal ini akan menjadi sangat penting dalam setiap bisnis saat ini dan dimasa yang akan datang.
Seperti apa sih Corporate Collaboration itu? Saya ambil contoh sederhana ajah, jika kamu pengusaha Mie Ayam, pesaing kamu juga pengusaha mie ayam dan mungkin juga temen kamu yang lain bisnisnya juga menggunakan Mie yang sama, di sini muncul pertanyaan mengapa kamu, pesaing kamu dan teman kamu tidak berkolaborasi saja untuk mendapatkan harga terbaik untuk Mie nya? Misal kamu memiliki 5 cabang dengan pengambilan 3 ton per bulan, Pesaing kamu memiliki 3 cabang dengan pengembalian 1 ton per bulan dan temen kamu yang kebetulan juga pake Mie mengambil 1 ton per bulan.
Pertanyaannya? kira-kira dari 3 pihak (kamu, pesaing dan temen) dapat harga yang berbeda tidak? Bisa jadikan mungkin karena hubungan dekat dengan supplier mie, atau kontrak dll, pertanyaan selanjutnya, jika pembelian (kamu, pesaing dan temen) digabung artinya ada 5 ton per bulan, bisa tidak dijadikan bahan negosiasi ke supplier tersebut? Atau coba sekali waktu hitung HPP, bagaimana jika (kamu, pesaing dan temen) buat ajah sekalian perusahaan produksi Mie, bisa jadi bisnis baru, harga jual ke (kamu, pesaing dan temen) bisa lebih murah karena bisnis sendiri dan secara kualitas juga mungkin lebih terjaga, masuk akal?
Coba sedikit kita diskusikan, sisi manfaat besar dari Corporate Collaboration yang mungkin bisa menjadi bahan renungan buat pebisnis khususnya yang belum punya daya tawar yang kuat dan malah mungkin dalam beberapa hal menjadi beban karena dalam hal ini katakanlah memang perusahaan masih kecil dan blom di"anggap" oleh pihak2 di mana kita cukup bergantung dengan pihak tersebut.
1. Reduce Cost
Seperti apa sih Corporate Collaboration itu? Saya ambil contoh sederhana ajah, jika kamu pengusaha Mie Ayam, pesaing kamu juga pengusaha mie ayam dan mungkin juga temen kamu yang lain bisnisnya juga menggunakan Mie yang sama, di sini muncul pertanyaan mengapa kamu, pesaing kamu dan teman kamu tidak berkolaborasi saja untuk mendapatkan harga terbaik untuk Mie nya? Misal kamu memiliki 5 cabang dengan pengambilan 3 ton per bulan, Pesaing kamu memiliki 3 cabang dengan pengembalian 1 ton per bulan dan temen kamu yang kebetulan juga pake Mie mengambil 1 ton per bulan.
Pertanyaannya? kira-kira dari 3 pihak (kamu, pesaing dan temen) dapat harga yang berbeda tidak? Bisa jadikan mungkin karena hubungan dekat dengan supplier mie, atau kontrak dll, pertanyaan selanjutnya, jika pembelian (kamu, pesaing dan temen) digabung artinya ada 5 ton per bulan, bisa tidak dijadikan bahan negosiasi ke supplier tersebut? Atau coba sekali waktu hitung HPP, bagaimana jika (kamu, pesaing dan temen) buat ajah sekalian perusahaan produksi Mie, bisa jadi bisnis baru, harga jual ke (kamu, pesaing dan temen) bisa lebih murah karena bisnis sendiri dan secara kualitas juga mungkin lebih terjaga, masuk akal?
Coba sedikit kita diskusikan, sisi manfaat besar dari Corporate Collaboration yang mungkin bisa menjadi bahan renungan buat pebisnis khususnya yang belum punya daya tawar yang kuat dan malah mungkin dalam beberapa hal menjadi beban karena dalam hal ini katakanlah memang perusahaan masih kecil dan blom di"anggap" oleh pihak2 di mana kita cukup bergantung dengan pihak tersebut.
1. Reduce Cost
Dec 19, 2016
Telor 1/2 Matang
"Mas rex ada waktu untuk bisa ngobrol-ngbrol soal bisnis, ada temen saya yang mau "curhat" soalnya dia sudah pasrah mau nutup bisnisnya, udah jalan beberapa bulan cuman ga ada hasil ajah dan udah bingung banget harus seperti apa membangun bisnisnya"
Percaya tida percaya sudah lebih dari 3 orang dalam satu bulan ini yang kurang lebih minta konsultasi dan diskusi dengan permasalahan yang sama dengan yang diatas, dan saya yakin diluaran sana masih banyak sepertinya temen-temen pengusaha yang juga memiliki masalah yang sama dengan sedikit cerita saya di atas, betul khan?
Singkatnya saya bertemu dengan salah satunya untuk ngobrol lebih dalam untuk bisa mencari tahu dan kemudian mungkin bisa memberikan sedikit masukan mengenai bisnisnya. Oh iya karena ga enak biarlah kali ini kita panggil dia dengan nama Dinda yah.
Saya "Dinda, ini produk bumbu nasgor dinda tahan berapa lama?"
Dinda "Tahun sekitar 1 bulan mas rex"
Saya "Ini nama brandnya apa sudah di cek HAKI nya? Apa sudah di survey kalo namanya punya konotasi yang kurang baik?"
Dinda "Blom mas rex"
Saya "Dinda mengerti tentang marketing? Business Plan? Revenue Stream?"
Dinda "Enggak mas rex, dinda hanya sukanya masak, dan dinda yakin buatan dinda pasti enak"
Saya "Ohh. Lah blom ngerti ilmu bisnis kok nekat masuk ke dalam dunia bisnis? Berani keluarin uang buat produksi bumbu, bayar karyawan dan sewa lokasi produksi? dasarnya apa?
Dinda "Semangat mas rex, kata guru dinda dan beberapa pembicara seminar, jalani ajah dulu, nyemplung dulu, nanti juga akan ada waktunya kita akan berhasil asal semua dijalankan dengan penuh keyakinan"
Saya "&*****#%#^&" Mau Tak gebok ini gurunya haha.
Percaya tida percaya sudah lebih dari 3 orang dalam satu bulan ini yang kurang lebih minta konsultasi dan diskusi dengan permasalahan yang sama dengan yang diatas, dan saya yakin diluaran sana masih banyak sepertinya temen-temen pengusaha yang juga memiliki masalah yang sama dengan sedikit cerita saya di atas, betul khan?
Singkatnya saya bertemu dengan salah satunya untuk ngobrol lebih dalam untuk bisa mencari tahu dan kemudian mungkin bisa memberikan sedikit masukan mengenai bisnisnya. Oh iya karena ga enak biarlah kali ini kita panggil dia dengan nama Dinda yah.
Saya "Dinda, ini produk bumbu nasgor dinda tahan berapa lama?"
Dinda "Tahun sekitar 1 bulan mas rex"
Saya "Ini nama brandnya apa sudah di cek HAKI nya? Apa sudah di survey kalo namanya punya konotasi yang kurang baik?"
Dinda "Blom mas rex"
Saya "Dinda mengerti tentang marketing? Business Plan? Revenue Stream?"
Dinda "Enggak mas rex, dinda hanya sukanya masak, dan dinda yakin buatan dinda pasti enak"
Saya "Ohh. Lah blom ngerti ilmu bisnis kok nekat masuk ke dalam dunia bisnis? Berani keluarin uang buat produksi bumbu, bayar karyawan dan sewa lokasi produksi? dasarnya apa?
Dinda "Semangat mas rex, kata guru dinda dan beberapa pembicara seminar, jalani ajah dulu, nyemplung dulu, nanti juga akan ada waktunya kita akan berhasil asal semua dijalankan dengan penuh keyakinan"
Saya "&*****#%#^&" Mau Tak gebok ini gurunya haha.
Nov 26, 2016
Inovasi = .................
"Keren yah inovasi Gojek mas, ga kepikir saya dari hanya jasa penyedian gojek eh tau-tau bisa masuk ke applikasi dan menjadi "perusahaan" gojek terbesar di indonesia bahkan dunia, blom lagi layanan-layanan juga inovatif banget, go-food, go-tix, go-massage dll, kok bisa yah kepikiran membuat ide inovasi seperti itu". Gimana menurut mas Rex, seperti apa sih biar dalam bisnis kita bisa berinovasi dan menghasilkan hal yang luar biasa seperti Gojek.
Buset, nanyanya seperti salah alamat ini "guman saya" haha, lah wong saya ajah ga kebayang bagaimana caranya gojek bisa menjadi sebesar itu dan setinggi itu nilainya, istilahnya bukan level saya menjawabnya, belom competen haha.
Ngobrolin GoJek dalam konteks hari ini memang ga akan ada habisnya, satu kata Amazing Innovation, bagaimana tidak, dalam waktu singkat Gojek menjadi penyedian layanan ojek terbesar di dunia,m layanan antar makanan yang katanya juga terbesar di dunia sampai menjadi salah satu Unicorn Startup di indonesia (unicorn, valuasi mencapai 1.2M $ atau kurang lebih 15 Triliun rupiah).
Nah balik lagi pertanyaan bagaimana menurut saya? Saya tidak akan menjawab bagaimana Gojek tentunya karena keterbatasan informasi berkaitan dengan strategi inovasi yang dilakukan oleh gojek, tapi izinkan saya sharing dari sisi pendapat pribadi saya base on bisnis yang sudah pernah saya jalankan tentang bagaimana caranya kita berinovasi dan menghasilkan hal yang "luar biasa" dalam konteks bisnis yang kita jalankan.
By the way sebelum How melakukan inovasi, sedikit kita singgung apa sih Inovasi itu? nah ini jangan salah kaprah yah, tidak semua hal yang "baru" atau "Keren" atau "Wow" bisa dibilang sebuah inovasi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi (menurut beberapa devinisi para ahli) sebuah ide. gagasan atau penemuan bisa dikatakan sebuah inovasi. apa ajah berikut dalam point singkat (maybe next time kita bahas yah)
Ok kembali lagi bagaimana (How) kita bisa menciptakan INOVASI dalam bisnis kita?
Buset, nanyanya seperti salah alamat ini "guman saya" haha, lah wong saya ajah ga kebayang bagaimana caranya gojek bisa menjadi sebesar itu dan setinggi itu nilainya, istilahnya bukan level saya menjawabnya, belom competen haha.
Ngobrolin GoJek dalam konteks hari ini memang ga akan ada habisnya, satu kata Amazing Innovation, bagaimana tidak, dalam waktu singkat Gojek menjadi penyedian layanan ojek terbesar di dunia,m layanan antar makanan yang katanya juga terbesar di dunia sampai menjadi salah satu Unicorn Startup di indonesia (unicorn, valuasi mencapai 1.2M $ atau kurang lebih 15 Triliun rupiah).
Nah balik lagi pertanyaan bagaimana menurut saya? Saya tidak akan menjawab bagaimana Gojek tentunya karena keterbatasan informasi berkaitan dengan strategi inovasi yang dilakukan oleh gojek, tapi izinkan saya sharing dari sisi pendapat pribadi saya base on bisnis yang sudah pernah saya jalankan tentang bagaimana caranya kita berinovasi dan menghasilkan hal yang "luar biasa" dalam konteks bisnis yang kita jalankan.
By the way sebelum How melakukan inovasi, sedikit kita singgung apa sih Inovasi itu? nah ini jangan salah kaprah yah, tidak semua hal yang "baru" atau "Keren" atau "Wow" bisa dibilang sebuah inovasi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi (menurut beberapa devinisi para ahli) sebuah ide. gagasan atau penemuan bisa dikatakan sebuah inovasi. apa ajah berikut dalam point singkat (maybe next time kita bahas yah)
- Implementasi sesuatu yang "baru" bagi perusahaan dan konsumen
- Ada efek "wow" terhadap ide, gagasan atau penemuan tersebut
- Relevan dengan focus dan arah bisnis perusahaan
- Nilai tambah kepada konsumen dalam memenuhi need, want dan expectation
- Nilai tambah kepada perusahaan dalam bentuk nama baik, omset, profit dan nilai perusahaan
- Sustain dalam jangka panjang ide, gagasan atau penemuan tersebut
Ok kembali lagi bagaimana (How) kita bisa menciptakan INOVASI dalam bisnis kita?
Nov 22, 2016
Brand Adalah Tentang Nilai
Topik soal brand dalam dunia bisnis seperti merupakan topik yang tidak pernah habis-habis dan selalu menarik untuk dibahas, sejak kuliah sampai hari ini rasanya topik soal brand hampir tidak pernah ada kata kata kadaluarsa,terus relevan dan berkembang sesuai jamannya. Pun di keseharian kita sebagai pebisnis, brand adalah perbincangan setiap hari yang selalu jadi bahan pemikiran dan diskusi yang menarik.
Dalam banyak kesempatan kita lihat ada "brand" yang muncul, jadi heboh dan mungkin tidak berapa lama hilang or bahkan sukses besar, yg hari ini baru keluar eh tiba-tiba tahun depan udah jadi market leader, ato yg hari ini heboh banget eh tahun depan sudah hilang ditelan bumi,
Lantas apa itu Brand? Apakah bisnis yang kita jalankan saat ini punya Brand? Wuih nampak seru yah sepertinya membahas hal ini, walaupun saya bukan pakar brand, izinkan saya berbagi mengenai apa yang saya pahami tentang brand.
Buat saya Brand adalah kumpulan "Nilai" yang dibangun untuk setiap Stake Holder di dalam bisnis yang kita jalankan. Jadi ketika kita menyebut Apple Computer maka akan muncul sekumpulan nilai yang membentuk Apple Computer tersebut baik itu "keren" "Tempat kerja yang luar biasa" "Return bisnis yg besar" dan sebagainya tergantung stake holder mana yang memberikan "nilai" tersebut. Coba kita sedikit ulik stake holder siapa saja yang memiliki peran "nilai" terhadap brand.
Dalam banyak kesempatan kita lihat ada "brand" yang muncul, jadi heboh dan mungkin tidak berapa lama hilang or bahkan sukses besar, yg hari ini baru keluar eh tiba-tiba tahun depan udah jadi market leader, ato yg hari ini heboh banget eh tahun depan sudah hilang ditelan bumi,
Lantas apa itu Brand? Apakah bisnis yang kita jalankan saat ini punya Brand? Wuih nampak seru yah sepertinya membahas hal ini, walaupun saya bukan pakar brand, izinkan saya berbagi mengenai apa yang saya pahami tentang brand.
Buat saya Brand adalah kumpulan "Nilai" yang dibangun untuk setiap Stake Holder di dalam bisnis yang kita jalankan. Jadi ketika kita menyebut Apple Computer maka akan muncul sekumpulan nilai yang membentuk Apple Computer tersebut baik itu "keren" "Tempat kerja yang luar biasa" "Return bisnis yg besar" dan sebagainya tergantung stake holder mana yang memberikan "nilai" tersebut. Coba kita sedikit ulik stake holder siapa saja yang memiliki peran "nilai" terhadap brand.
Oct 25, 2016
Calon Pengusaha, Jangan Takut dengan Angka
"Mas Rex, apa yang harus dilakukan ketika pertama kali ingin memulai bisnis, bisa share ga pengalamannya?" Ini sejujurnya pertanyaan yang paling banyak ditanya setiap orang yang mau memulai bisnis dan jawabannya ini yang bikin bingung sebetulnya, kenapa? karena nanyanya share pengalaman, jujur ajah kalo pertanyaan berdasarkan pengalaman yah jawaban saya "yah mulai ajah, liat ntar gimana yang penting udah niat",
Yah gitulah kira-kira ketika saya memulai bisnis di tahun 2003 sembari masih kuliah, pengennya ajah berbisnis, yg lain sih ga terlalu dipikirin karena antusias untuk memulai bisnis, ujungnya yah bertahun-tahun rugi, utang sana sini, stress dan tentu ada juga happynya hehe, butuh kuat2 mental dan iman kalo mau bisnis dengan konsep "yah mulai ajah dulu".
Subscribe to:
Posts (Atom)









