"JIka saya ingin bermain di harga murah tapi tetap dengan margin keuntungan yang bagus di bisnis cafe ini apa yang harus saya lakukan?".
Pertanyaan seperti ini sudah beberapa kali ditanyakan kepada saya di beberapa kesempatan bertemu dengan beberapa calon client khususnya di bidang kuliner dan selalu berakhir dengan jawaban "wah saat ini saya tidak cukup competence menjawab pertanyaan Bapak/ Ibu karena menyangkut proses internal yang sangat dalam" dan bisa ditebak biarpun yang bersangkutan tertarik menjadi client, saya selalu menolak dengan "halus" untuk menangani hal ini. Kalo ditanya gimana naikin profit doang sih gampang mahalin ajah harga hehe, tapi kalo bicara harga murah kemudian untung bisa tinggi dan bahkan porsi bisa banyak, wah bentar dulu bukan perkara mudah melakukan taktik marketing seperti ini.
Nah 6 bulan ke belakang, menyalurkan keinginan untuk memiliki bisnis kuliner, saya mendirikan sebuah warung nasi goreng dengan brand Name Nasi Goreng Mafia, nasi goreng dengan konsep differensiasi kaya akan rempah berbeda di setiap menunya. Kebetulan strategy utama yang diangkat selain rempahnya adalah soal quantity yang banyak dan harga yang murah, di sini akhirnya pertanyaan "Jika saya ingin bermain di harga murah tapi tetap dengan margin keuntungan yang bagus di bisnis kuliner apa yang harus saya lakukan?" akhirnya tidak bisa saya hindari lagi dan harus dijawab karena sudah kecemplung di dalamnya hehe.
Ok singkat kata, setelah 6 bulan jalan, sedikit banyak saya sudah melihat pola bahwa harga murah, quantity (Porsi) banyak bisa menjadi sebuah nilai lebih bagi sebuah brand namun sekaligus tentu dari sisi margin bisa memberikan keuntungan yang susuai dengan harapan kita, bagaimana bisa? Kuncinya adalah Operational Excellent. Sebuah pilihan strategy dimana perusahaan berfokus pada biaya rendah untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga jual murah tapi menguntungkan. (Bisa juga sebetulnya dengan memperbanyak quantity penjualan, kita akan bahas lain waktu).
May 29, 2014
May 22, 2014
Komplain? Buat Konsumen Menang dan Akhirnya Senang
"Gimana caranya bro,tuh yang tadi pagi komplain sampe nulis artikel terus malah jadi temen ngobrol, ngasih masukan, nulis hal yang positif buat nimpah komplain yang dibuat sebelumnya terus malah bilang bakal merekomendasikan produk ke temen-temennya?"
Obrolan ini muncul ketika saya sempat sharing bagaimana membuat komplain di social media menjadi impact positive bagi brand alih-alih malah menimbulkan impact negatif. Jika keseharian Anda ngurusin banyak brand di social media, komplain jelas sudah jadi sarapan yang bakal selalu terhidang di meja kita hehe, tidak ada ceritanya semua konsumen puas dengan produk Anda, pasti ada satu waktu di mana akan muncul komplain terhadap apapun yang berkenaan dengan produk Anda, apalagi ingat ini JAMANNYA SOSMED.
Jaman dulu ketika belum ada sosmed mungkin komplain hanya bisa disampaikan melalui koran atau radio dan pasti capek dan males lah komplain hehe kecuali udah keselnnya di ubun-ubun, tapi jangam sekarang, hadohh misalnya Anda punya cafe, liat karyawan Anda mukanya minyakan ajah tiba-tiba muncul tweet "Ih karyawannya di @CafeApaAjah mukanya ga bisa apa di cuci sebentar" wkwk, ini baru contoh yang ga penting, apalagi kalo sudah menyangkut kecewa dengan produk ato layanan bisa lebih sadis lagi boo.
Kembali lagi, kali ini mungkin ke sekian kalinya saya ingin sharing dengan topik komplain dengan sudut pandang yang sedikit berbeda bagaimana Coverting Complain to Recommendation, mengapa? karena hal ini sangat penting bagi bisnis dan brand kita dalam persaingan dan mempertahankan pelanggan dan juga yang sangat perlu diingat sekarang channel ketika komplain datang tidak bisa ditebak dampak dan spreadingnya sehingga butuh sekali setiap brand bersiap berhadapan dengan komplain. Tentu paling ideal kita bisa men convert komplain tersebut menjadi rekomendasi, namun setidaknya pada tahap membuat komplain tersebut tidak menyebar juga sudah cukup.
1. Standart Operating Procedure
Obrolan ini muncul ketika saya sempat sharing bagaimana membuat komplain di social media menjadi impact positive bagi brand alih-alih malah menimbulkan impact negatif. Jika keseharian Anda ngurusin banyak brand di social media, komplain jelas sudah jadi sarapan yang bakal selalu terhidang di meja kita hehe, tidak ada ceritanya semua konsumen puas dengan produk Anda, pasti ada satu waktu di mana akan muncul komplain terhadap apapun yang berkenaan dengan produk Anda, apalagi ingat ini JAMANNYA SOSMED.
Jaman dulu ketika belum ada sosmed mungkin komplain hanya bisa disampaikan melalui koran atau radio dan pasti capek dan males lah komplain hehe kecuali udah keselnnya di ubun-ubun, tapi jangam sekarang, hadohh misalnya Anda punya cafe, liat karyawan Anda mukanya minyakan ajah tiba-tiba muncul tweet "Ih karyawannya di @CafeApaAjah mukanya ga bisa apa di cuci sebentar" wkwk, ini baru contoh yang ga penting, apalagi kalo sudah menyangkut kecewa dengan produk ato layanan bisa lebih sadis lagi boo.
Kembali lagi, kali ini mungkin ke sekian kalinya saya ingin sharing dengan topik komplain dengan sudut pandang yang sedikit berbeda bagaimana Coverting Complain to Recommendation, mengapa? karena hal ini sangat penting bagi bisnis dan brand kita dalam persaingan dan mempertahankan pelanggan dan juga yang sangat perlu diingat sekarang channel ketika komplain datang tidak bisa ditebak dampak dan spreadingnya sehingga butuh sekali setiap brand bersiap berhadapan dengan komplain. Tentu paling ideal kita bisa men convert komplain tersebut menjadi rekomendasi, namun setidaknya pada tahap membuat komplain tersebut tidak menyebar juga sudah cukup.
1. Standart Operating Procedure
May 19, 2014
Turning Your Idea Into Business
Berapa sering kita memiliki ide yang berakhir dengan lupa dan tidak menjadi apa-apa selain kumpulan ide yang pernah terpikir atau terucap? Sejujurnya jika bertanya ke diri sendiri maka jawabnnya adalah Sering, dan bahkan sering sekali apalagi dunia yang saya jalani di brand & marketing consultant ini berkaitan erat sekali dengan produksi ide hampir setiap hari.
Lebih parah, kadang ide-ide yang kita pernah pikirkan, ucapkan dan simpan malah dijadikan bisnis oleh orang lain dan bisnis tersebut ternyata sukses, kalo sudah begini rasanya seperti di samabar petir di siang bolong haha (lebay), hari cuma bisa berguman "sial, padahal gua udah punya ide kaya gitu dari dulu, eh malah dia yang ngejalani dan sukses pula". Hal seperti ini bukan satu dua kali saya alami dan mungkin Andapun pernah mengalami hal yang sama, ketika ide yang kita pikir "punya kita" dijalankan oleh orang lain dan sukses pula.
Nah kali ini saya ingin sedikit sharing bagaimana agar ide yang kita pikirkan atau bahkan orang lain pikirkan bisa kita jadikan sebuah action business yang pada akhirnya membuat kita menghasilkan uang dari ide tersebut, sehingga tidak ada lagi kelak kita menyesali di dalam hati "padahal dulu gua kepikir, kenapa kaga gua jalanin yah idenya". Yah tentu seperti biasa, ini dari point of view saya dan pengalaman yang sudah saya jalankan sebelumnya tentang bagaimana berkeja dengan dengan dan Turning Idea into Business.
1. Cari teman diskusi
Lebih parah, kadang ide-ide yang kita pernah pikirkan, ucapkan dan simpan malah dijadikan bisnis oleh orang lain dan bisnis tersebut ternyata sukses, kalo sudah begini rasanya seperti di samabar petir di siang bolong haha (lebay), hari cuma bisa berguman "sial, padahal gua udah punya ide kaya gitu dari dulu, eh malah dia yang ngejalani dan sukses pula". Hal seperti ini bukan satu dua kali saya alami dan mungkin Andapun pernah mengalami hal yang sama, ketika ide yang kita pikir "punya kita" dijalankan oleh orang lain dan sukses pula.
Nah kali ini saya ingin sedikit sharing bagaimana agar ide yang kita pikirkan atau bahkan orang lain pikirkan bisa kita jadikan sebuah action business yang pada akhirnya membuat kita menghasilkan uang dari ide tersebut, sehingga tidak ada lagi kelak kita menyesali di dalam hati "padahal dulu gua kepikir, kenapa kaga gua jalanin yah idenya". Yah tentu seperti biasa, ini dari point of view saya dan pengalaman yang sudah saya jalankan sebelumnya tentang bagaimana berkeja dengan dengan dan Turning Idea into Business.
1. Cari teman diskusi
May 3, 2014
Ide itu Mahal Bung
Berapa sering kita kadang menertawakan bahkan meremehkan sebuah ide? Pertama kali Kripik Ma Icih muncul dan dibuat mungkin banyak orang yang tersenyum menertawakan ide tersebut "jualan kripik pedes?" bukannya sudah biasa, dari jaman dulu juga sudah banyak yang jual kripik pedas, dan bahkan mungkin kalo saat itu kita mendengar harga jualnya bisa lebih geleng-geleng kepala lagi kita, yang di warung 1 bungkus cuma 500 - 1 ribu rupiah tiba-tiba di jual belasan ribu "sepertinya kurang masuk akal" mungkin dalam pikiran kita.
Contoh lain, ketika saya ingin berbisnis nasi goreng, banyak sekali yang "mempertanyakan" kalo tidak mencemooh ide bisnis ini, "ga salah bro nasi goreng?", bahkan ada yang mempertanyakan ngapain ajah belasan tahun jadi konsultan brand dan marketing eh malah bisnisnya nasi goreng haha, sebuah ide yang mungkin terlalu sederhana dan "biasa" untuk level seorang brand consultant mungkin menurut beberapa rekan saya tersebut
Ada lagi temen yang komen ketika saya punya ide untuk jual Susu Murni, "lah segitu banyak yang jual susu murni di pinggir jalan bandung dengan harga hanya kisaran 5000-8000 terus mau buka susu murni juga?" "Susah dong bersaingnya sama lagian marginnya juga ga gede-gede amat, di mana sisi prospeknya bro"?. Hehe kalo kita melihat bisnis dari kaca mata awam marketing yah semua ide bisnis pasti sulit ajah "scaleable" dan selalu punya point yang kurang menariknya, apa artinya cuma jual tutup botol dgn untung Rp.5, tapi ceritanya akan lain kalo tutup botol yang dijual quantity nya 1 juta tutup botol per hari, masih mau bilang ga menarik?
Belajar dari banyak kesempatan dan melakukannya sendiri akhirnya saya mengerti mengapa jargon bahwa "Ide itu Mahal" adalah betul adanya, terlepas ide itu terlihat sangat sepeleh atau terkesan sangat luar biasa, pada intinya tetap saja ide itu mahal, asal ... yah tentu ada syaratnya, beberapa hal yang akhirnya membuat sebuah ide itu menjadi sangat mahal.
1. Ada yang bekerja untuk merealisasikannya
Contoh lain, ketika saya ingin berbisnis nasi goreng, banyak sekali yang "mempertanyakan" kalo tidak mencemooh ide bisnis ini, "ga salah bro nasi goreng?", bahkan ada yang mempertanyakan ngapain ajah belasan tahun jadi konsultan brand dan marketing eh malah bisnisnya nasi goreng haha, sebuah ide yang mungkin terlalu sederhana dan "biasa" untuk level seorang brand consultant mungkin menurut beberapa rekan saya tersebut
Ada lagi temen yang komen ketika saya punya ide untuk jual Susu Murni, "lah segitu banyak yang jual susu murni di pinggir jalan bandung dengan harga hanya kisaran 5000-8000 terus mau buka susu murni juga?" "Susah dong bersaingnya sama lagian marginnya juga ga gede-gede amat, di mana sisi prospeknya bro"?. Hehe kalo kita melihat bisnis dari kaca mata awam marketing yah semua ide bisnis pasti sulit ajah "scaleable" dan selalu punya point yang kurang menariknya, apa artinya cuma jual tutup botol dgn untung Rp.5, tapi ceritanya akan lain kalo tutup botol yang dijual quantity nya 1 juta tutup botol per hari, masih mau bilang ga menarik?
Belajar dari banyak kesempatan dan melakukannya sendiri akhirnya saya mengerti mengapa jargon bahwa "Ide itu Mahal" adalah betul adanya, terlepas ide itu terlihat sangat sepeleh atau terkesan sangat luar biasa, pada intinya tetap saja ide itu mahal, asal ... yah tentu ada syaratnya, beberapa hal yang akhirnya membuat sebuah ide itu menjadi sangat mahal.
1. Ada yang bekerja untuk merealisasikannya
Apr 27, 2014
Hotel Internet Marketing, 5 Things is a must
Minggu lalu saya berkesempatan untuk memberikan inhouse traning di salah satu hotel berbintang 4 di Bandung mengenai Online Marketing for Hotel Industry. Sejujurnya 11 tahun bergelut di dunia konsultasi brand dan marketing , blom sekalipun saya dan team menjadi konsultan sebuah hotel, dan inilah bagian menariknya ketika tiba-tiba bagian sales perusahaan mengabarkan bahwa minggu depan kita diminta memberikan training Online Marketing di hotel tersebut.
Kebiasaan saya jika berhadapan dengan klien selalu mencari sebanyak mungkin data dan fakta mengenai industri dan produk klien tersebut, karena ini tujuannya untuk meningkatkan pemesanan di hotel tersebut (sales) ini menjadi menarik sekali buat dipelajari lebih dalam. Di mulai dari sebuah pertanyaan, "Bagaimana saya mendapatan informasi mengenai sebuah hotel?" Nah ini menarik, dari sisi pandangan subjektif saya ketika bicara bagaimana saya mendapatkan informasi hotel, jawabannya hampir pasti "Online". Yah saya selalu mencari informasi menginap melalui situs online kemananapun saya pergi khususnya TripAdvisor dan Agoda. Googling? Enggak sih karena sudah tau ujung-ujungnya juga arahnya Trip Advisor, Agoda, Hotels dan situs-situs lainnya yang sejenis. Jadi sederhana ajah buat saya, kalo tidak ketemu di Trip Advisor atau Agoda jangan harap menginap di hotel tersebut.
Kemudian ada bahasan yang menarik di dalam training tersebut, sebuah pertanyaan ketika Anda pergi ke bandung coba perhatikan banyak sekali billboard hotel yang bertebaran di sepanjang Tol menuju Bandung, saya pribadi bahkan tidak ingat apa saja pesan komunikasi yang disampaikan hotel-hotel tersebut kecuali 1 hotel yang sangat ingat yaitu Horizon dgn promo Nginep dapet Mobil, sisanya No, pertanyaannya apakah keputusan seseorang menginap di hotel bandung di tentukan ketika di tol atau di bandung atau sebetulnya sebelum pergipun mereka bahkan sudah booking hotel? Menarik karena semua peserta menjawab bahkan jauh-jauh hari sebelum pergi pasti sudah melakukan pemesanan hotel yang dicari lewat online, lah kalo begitu apa gunanya pasang billboard di Tol?
Apr 25, 2014
Creative Mainstream
"Bos, kalo bisnis jangan mainstream, harus kreatif dong biar unik dan keren" "Lagian susahlah kalo mainstream khan udah banyak yang kerjain bisnisnya, so gua ga mau mainstream kalo lo mau ajak gua bisnis" Percakapan ini kebetulan saya dengar ketika bersantai di Starbucks Bandung, hmmm kalo bisnis jangan mainstream. Jangan-jangan jargon ini juga menjangkiti banyak newbie bisnis atau calon pebisnis yang ingin dan akan terjun ke dunia bisnis.
Beberapa tahun kebelakang saya mengamati banyak bisnis baru yang muncul yang bisnisnya kadang "luar biasa", aneh dan bahkan kadang muncul pertanyaan "Nih orang lagi jualan apa yah?" haha, mungkin karena begitu kreatifnya sampe saya yang mungkin saja calon konsumennya sampe bingung mengenai apa yang dijual, hebatnya lagi karena unik dan "tidak Mainstream" ada media yang sibuk melakukan liputan, menjadi bahan pembicaraan karena "tidak mainstream" tapi setelah 1 tahun kemana bisnisnya? Game over. Beberapa contoh juga sering kali mainstream ini diimplementasikan dengan nama-nama yang sangat luar biasa aneh, menggunakan nama-nama dunia gaib yang mengesankan tidak "mainstream" namun yang itu akhirnya berakhir dengan bisnisnya KO.
Apa yang salah dengan bisnis yang "mainstream"? Anda pernah tahu penjual Ayam goreng yang sukses? Penjual bakso yang sukses? BANYAK. Hampir disetiap daerah ada penjualan ayam goreng dan bakar serta penjual Bakso yang ramai dengan pengunjung, mainstream bukan jualan ayam dan bakso? Kalo defini "mainstream" adalah bisnis yang totally berbeda dengan yang sudah-sudah menurut saya siap-siap saja dengan resiko gagal yang tinggi dan biaya yang besar. Lantas bagaimana? Tidak masalah sebetulnya melakukan bisnis yang "mainstream" asal dilakukan dengan Creative Mainstream, bahkan mungkin peluang untuk bisnisnya bisa lebih sukses karena memang sudah "biasa" bagi konsumen dan juga mungkin sudah banyak yang sukses di bisnis tersebut.
Jadi bagaimana sih Creative Mainstream itu? Nah kali ini saya ingin sharing soal ini bagaimana kita bisa sukses dengan melakukan sesuatu yang Mainstream tapi dengan cara yang kreatif, melakukan bisnis yang mungkin sudah dilakukan banyak orang namun tetap punya peluang untuk bisa sukses dan besar.
1. Lihatlah apa yg sudah sukses
Beberapa tahun kebelakang saya mengamati banyak bisnis baru yang muncul yang bisnisnya kadang "luar biasa", aneh dan bahkan kadang muncul pertanyaan "Nih orang lagi jualan apa yah?" haha, mungkin karena begitu kreatifnya sampe saya yang mungkin saja calon konsumennya sampe bingung mengenai apa yang dijual, hebatnya lagi karena unik dan "tidak Mainstream" ada media yang sibuk melakukan liputan, menjadi bahan pembicaraan karena "tidak mainstream" tapi setelah 1 tahun kemana bisnisnya? Game over. Beberapa contoh juga sering kali mainstream ini diimplementasikan dengan nama-nama yang sangat luar biasa aneh, menggunakan nama-nama dunia gaib yang mengesankan tidak "mainstream" namun yang itu akhirnya berakhir dengan bisnisnya KO.
Apa yang salah dengan bisnis yang "mainstream"? Anda pernah tahu penjual Ayam goreng yang sukses? Penjual bakso yang sukses? BANYAK. Hampir disetiap daerah ada penjualan ayam goreng dan bakar serta penjual Bakso yang ramai dengan pengunjung, mainstream bukan jualan ayam dan bakso? Kalo defini "mainstream" adalah bisnis yang totally berbeda dengan yang sudah-sudah menurut saya siap-siap saja dengan resiko gagal yang tinggi dan biaya yang besar. Lantas bagaimana? Tidak masalah sebetulnya melakukan bisnis yang "mainstream" asal dilakukan dengan Creative Mainstream, bahkan mungkin peluang untuk bisnisnya bisa lebih sukses karena memang sudah "biasa" bagi konsumen dan juga mungkin sudah banyak yang sukses di bisnis tersebut.
Jadi bagaimana sih Creative Mainstream itu? Nah kali ini saya ingin sharing soal ini bagaimana kita bisa sukses dengan melakukan sesuatu yang Mainstream tapi dengan cara yang kreatif, melakukan bisnis yang mungkin sudah dilakukan banyak orang namun tetap punya peluang untuk bisa sukses dan besar.
1. Lihatlah apa yg sudah sukses
Apr 11, 2014
Baca nih ...... Gratis Starbucks
Dari kemarin sampai hari ini
timeline socmed saya banjir, tumpah dan luber banget sama postingan jari ungu,
vote, vote caleg cerdas, sampe promo pemilu. Rupanya promo di hari Pemilu
sekarang sudah jadi “agenda wajib” buat beberapa brand, kalau dulu-dulu
palingan hanya Starbucks saja yang saya lihat paling rajin untuk ikutan bikin
promo kopi gratis di hari Pemilu, maka di Pemilu tahun ini telah diramaikan
oleh banyak brand yang ikut memanfaatkan moment pemilu ini untuk promote
produk.
Sebenarnya bukan hal baru
memanfaatkan moment tertentu untuk campaign promo tertentu, seperti Tahun Baru,
Lebaran dan Natal, tapi yang menarik kali ini adalah bagaimana moment pemilu
dimanfaat kan sebagai tema besar untuk campaign, padahal moment pemilu ini
bukanlah moment 1 tahun 1 kali, tapi moment langka yang hanya terjadi 5 tahun 1 kali di Indonesia. Dikutip dari http://www.marketingweek.co.uk/analysis/essential-reads/live-in-the-moment/4006738.article,
moment marketing adalah sebuah teknik campaign yang mendorong konsumen
berinteraksi satu sama lain dan berinteraksi dengan brand dalam sebuah
pembicaraan secara real time, tentang topik tertentu.
Strategi melibatkan konsumen seperti ini sangat terbantu sejalan dengan makin booming nya fenomena smartphone dan social media, dan hal ini sangat mungkin sekali dibuat viral dalam kondisi saat ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita cermati, karena moment marketing ini sebenarnya by design, bukan terjadi dengan sendiri nya
Strategi melibatkan konsumen seperti ini sangat terbantu sejalan dengan makin booming nya fenomena smartphone dan social media, dan hal ini sangat mungkin sekali dibuat viral dalam kondisi saat ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita cermati, karena moment marketing ini sebenarnya by design, bukan terjadi dengan sendiri nya
1. Planning.. planning.. planning..
Walaupun kelihatannya spontan
tapi percayalah, meng create sebuah “gulungan” buzz ataupun viral butuh
planning yang matang, misalnya: cerita tentang bagaimana Ellen DeGeneres yang
spontan saja mengajak para bintang Hollywood melakukan selfie di perhelatan Oscar
26 Maret 2014 lalu, selidik punya selidik ternyata Samsung (brand ponsel yang
digunakan Ellen untuk selfie) memang ternyata adalah salah satu sponsor dalam
acara Oscar saat itu.
Apr 1, 2014
Jaman "Lebay"
Social media saat ini memang memberikan akses yang sangat luar biasa luas buat setiap orang untuk ber ekspresi baik secara positif maupun negatif setiap harinya, coba saja liat mulai dari status BBM, Facebook, Twitter, Instagram dan sampai Path sering sekali kita mendapati semua yang di post lebih bersifat "pribadi" alih-alih informatif dan sometimes bisa dikatakan "lebay'.
"yah ela gitu ajah pake di tweet, lebay amat sih" mungkin kalimat ini sering sekali meluncur di setiap perbincangan bahkan saya salah satu yang sering mengucapkan hal ini wkwk, seolah-olah saat ini domain pribadi yang seharusnya stop di pribadi ajah malah dengan sengaja dijadikan domain umum di mana dengan "sengaja" di share di social media agar semua orang tau dan mungkin malah mengharapkan orang lain komen dan memberikan respon terhadap masalah tersebut.
Nah bagaimana implikasinya dengan Brand? Prilaku "Lebay" ini punya dampak cukup besar terhadap brand yang masuk di dalam social media tentunya baik dari sisi positif maupun negatif. Sebagai contoh, brand restaurant yang pernah di handle social medianya oleh Dixgital (social media agency), cukup banyak komplain yang muncul berhubungan dengan layanan, produk dan berbagai hal yang intinya konsumen merasa "tidak puas" karena satu dan lain hal dan masalahnya semua ketidakpuasan itu di Tweet, di path dan bahkan di share di facebook, bahkan kadang nampak "lebay" karena sebenernya ga penting juga sih di share seperti "Mas pelayannya gaya rambutnya aneh" dsb.
Yah tentu banyak juga dampak positifnya di mana di jaman "lebay" ini muncul banyak brand advocate yang sama sekali tidak dibayar atau dikondisikan oleh sebuah brand tapi membelah brand tersebut habis-habisan, pada kondisi ini adalah tantangan brand untuk bisa menjangkau orang-orang seperti ini di rangkul kemudian difasilitasi agar terus menjadi advocate dari brand tersebut.
"yah ela gitu ajah pake di tweet, lebay amat sih" mungkin kalimat ini sering sekali meluncur di setiap perbincangan bahkan saya salah satu yang sering mengucapkan hal ini wkwk, seolah-olah saat ini domain pribadi yang seharusnya stop di pribadi ajah malah dengan sengaja dijadikan domain umum di mana dengan "sengaja" di share di social media agar semua orang tau dan mungkin malah mengharapkan orang lain komen dan memberikan respon terhadap masalah tersebut.
Nah bagaimana implikasinya dengan Brand? Prilaku "Lebay" ini punya dampak cukup besar terhadap brand yang masuk di dalam social media tentunya baik dari sisi positif maupun negatif. Sebagai contoh, brand restaurant yang pernah di handle social medianya oleh Dixgital (social media agency), cukup banyak komplain yang muncul berhubungan dengan layanan, produk dan berbagai hal yang intinya konsumen merasa "tidak puas" karena satu dan lain hal dan masalahnya semua ketidakpuasan itu di Tweet, di path dan bahkan di share di facebook, bahkan kadang nampak "lebay" karena sebenernya ga penting juga sih di share seperti "Mas pelayannya gaya rambutnya aneh" dsb.
Yah tentu banyak juga dampak positifnya di mana di jaman "lebay" ini muncul banyak brand advocate yang sama sekali tidak dibayar atau dikondisikan oleh sebuah brand tapi membelah brand tersebut habis-habisan, pada kondisi ini adalah tantangan brand untuk bisa menjangkau orang-orang seperti ini di rangkul kemudian difasilitasi agar terus menjadi advocate dari brand tersebut.
Mar 25, 2014
8 Tips Membuat Landing Pages
Nah kemudian yang sering sekali menjadi permasalahan dalam menggunakan landing pages ini adalah bagaimana kita mendapatkan market yang tepat, dengan biaya yang efektif dan tingkat konversi yang tinggi karena bukan rahasia lagi kadang landing pages yang dibuat oleh sebuah perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan "klien/Buyer" pada akhirnya hanya sukses sampai mendapatkan "Leads" yang artinya pada tahap ini baru bicara soal biaya bukan hasil.
Secara umum dari pengalaman saya menggunakan landing pages untuk mendapatkan leads yang kemudian bisa dikonversi menjadi "klien" sangat tergantung dari jenis bisnis dan objective dari landing pagesnya itu sendiri, ada yang tingkat konversinya kecil sekali bahkan 0 koma persen namun ada juga yang bisa diatas 50 persen, yah kembali lagi tergantung bisnis dan tujuannya apa. Minggu lalu sempat bincang-bincang dengan 2 industri, e commerce dan financial, bahkan konversi menjadi kliennya hanya berkisar 1-3 persen, tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis khususnya yang cukup mengandalkan online dan landing pages dalam menggarap marketnya.
Mar 18, 2014
Dumb Starbucks
Awal Februari 2014 ini publik Los Angeles Amerika dikejutkan dengan kehadiran sebuah kedai kopi bernama “Dumb Starbucks”, dari nama nya saja sudah cukup membuat yang membaca nya terkaget kaget, karena mirip sekali dengan jaringan kopi Starbucks. Tidak hanya nama nya saja, tapi juga logo, menu dan semua atribut nya juga persis sama dengan yang dimiliki Starbucks, pembeda nya hanyalah penambahan tulisan “Dumb” pada bagian depan Starbucks. Bahkan dalam rangka pembukaan gerai nya yang pertama Dumb Starbucks membagikan kopi gratis bagi pengunjung yang lewat, maka hal ini tentu saja menjadi pembicaraan yang cukup heboh, apalagi sekarang sudah ada social media yang cakupan nya luas, bukan hanya regional, tapi juga global.
Oke, masih di bulan Februari 2014 ini, masyarakat dunia maya Indonesia, Bandung khusus nya juga dihebohkan dengan postingan blog yang berjudul: “Bandung, The City of Pigs" yang juga cukup membuat heboh jagat dunia maya. Diposting oleh seorang expat yang memang sudah bermukim dan tinggal lama di kota Bandung. Inti dari tulisan ini hanyalah sebuah tulisan pribadi yang dibuat oleh seorang asing yang hidup di Indonesia, hanya saja dengan judul yang provokatif membuat tulisan wanita expat ini tiba-tiba menjadi WOM dan viral di social media. Tapi saya patut acungi jempol untuk Inna Savova, nama wanita expat ini, untuk memanfaatkan traffic yang begitu banyak nya ke blog nya menjadi sebuah ajakan untuk ber sama-sama berkumpul dan membersihkan sampah di sebuah taman di kota Bandung, posting nya bisa dilihat di: “Tetap Semangat"
Oke, masih di bulan Februari 2014 ini, masyarakat dunia maya Indonesia, Bandung khusus nya juga dihebohkan dengan postingan blog yang berjudul: “Bandung, The City of Pigs" yang juga cukup membuat heboh jagat dunia maya. Diposting oleh seorang expat yang memang sudah bermukim dan tinggal lama di kota Bandung. Inti dari tulisan ini hanyalah sebuah tulisan pribadi yang dibuat oleh seorang asing yang hidup di Indonesia, hanya saja dengan judul yang provokatif membuat tulisan wanita expat ini tiba-tiba menjadi WOM dan viral di social media. Tapi saya patut acungi jempol untuk Inna Savova, nama wanita expat ini, untuk memanfaatkan traffic yang begitu banyak nya ke blog nya menjadi sebuah ajakan untuk ber sama-sama berkumpul dan membersihkan sampah di sebuah taman di kota Bandung, posting nya bisa dilihat di: “Tetap Semangat"
Subscribe to:
Posts (Atom)









