Jul 21, 2009

Salah kaprahnya Branding!

Di kalangan pebisnis, terutama bisnis yang masih tergolong konvensional, seringkali pemahaman mengenai proses pembangunan brand masih lemah. Selain kurangnya awareness mereka terhadap pentingnya pembangunan sebuah brand, mereka seringkali juga “salah kaprah” terhadap peran brand dalam perjalanan bisnis mereka. Hal inilah yang seringkali menghambat perkembangan perusahaan konvensional untuk memenangkan market, terutama menghadapi persaingan dengan para bisnis raksasa dari luar negeri yang sudah menjadikan brand sebagai ujung tombak penjualan produk mereka.

Tengok saja kiprah Unilever dan P&G yang selalu memegang pangsa pasar dominan dari kategori produk-produk mereka, sejak awal masa kemerdekaan mereka tidak pernah lepas dari program-program pembangunan brand. Mulai dari pemasangan poster-poster, iklan radio hingga iklan TV yang kini menjadi media paling berpengaruh di Indonesia, para raksasa bisnis tersebut tidak pernah berhenti membangun brand mereka.












sumber gambar:
herik.multiply.com/photos/album/11/iklan_jaman_dulu

forum.kafegaul.com/showthread.php

Lalu di sisi yang lain, para produsen lokal “megap-megap” menghadapi para raksasa bisnis ini. Memang begitu banyak faktor yang membuat para pemain lokal/nasional ini tidak mampu mengalahkan kiprah para perusahaan internasional. Salah satunya adalah permodalan, sistem distribusi yang kuat dan strategi marketing modern mereka, yaitu dengan mengedepankan pembangunan brand.

Terbukti bahwa tidak hanya brand internasional saja yang bisa sukses dari hasil jerih payah mereka membangun brand, tetapi brand lokal pun demikian. Sebut saja Cap Bintang Toedjoe dan Nyonya Meneer. Apa sebenarnya langkah pembangunan brand yang penting dan apa saja salah kaprah nya proses branding, silakan baca ulasannya berikut ini.

Di mana peran brand dalam perkembangan bisnis Anda?


Dalam “mendeliver” produk Anda kepada customer, dapat dilakukan 2 cara yaitu Push dan Pull. Aktivitas yang selama ini menjadi fokus bisnis konvensional hanya pada aktivitas Push, di mana biasanya para pemilik bisnis “mendorong” produk mereka kepada para konsumen. Contohnya adalah aktivitas mendistribusikan produk ke sebanyak mungkin toko-toko atau menciptakan sebanyak mungkin tenaga penjual untuk “menjajakan” produk Anda.

Tetapi di luar dari hal-hal tersebut, seringkali perusahaan konvensional tidak memikirkan langkah Pull yang melengkapi kekurangan langkah Push, yaitu langkah untuk “menggarap” para konsumen itu sendiri.

Kondisi pasar sekarang ini penuh dengan persaingan antar para pemain bisnis, hal inilah yang menjadi pemicu pengembangan strategi Pull, dimana produsen langsung memberikan informasi dan berkomunikasi kepada para konsumen, sehingga keputusan pembelian ada di tangan mereka sendiri (tidak lagi di tangan tenaga penjual seperti masa konvensional dulu).

Aktivitas yang memberi efek Pull, di mana konsumen sendirilah yang mencari produk adalah aktivitas pembangunan brand, di mana konsumen tidak hanya mengetahui, tetapi juga mengenal dengan baik, atau bahkan mencintai brand tersebut.

Berikut merupakan salah kaprah yang seringkali terjadi dalam pemahaman sebuah konsep pembangunan brand :

Brand adalah merk dagang
Salah satu aktivitas rutin yang sering saya lakukan adalah dengan mendamping para Brand Associate kami untuk melakukan perkenalan corporate kepada para calon klien. Berbagai karakter orang yang kami temui, dari mulai para staff, manager, profesional hingga pemilik bisnisnya sendiri. Begitu banyak kesalahan persepsi yang mereka miliki mengenai sebuah brand. Dan hampir sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa brand adalah merk dagang.

Brand yang berasal dari bahasa Inggris, memang kalau diterjemahkan adalah merk. Tetapi pengertian brand bukanlah sekedar merk/nama sebuah produk, melainkan sekumpulan nilai yang melekat pada produk tersebut.

Brand dibentuk dari begitu banyak elemen yang ada, seperti persepsi konsumen terhadap produk, keindahan desain packaging nya, wangi/rasa produknya, pelayan yang menjualnya, dll. Brand terlalu kompleks untuk disebut sebagai sebuah merk dagang.

“Ah.. kita mah belum perlu yang seperti ini… Hanya perusahaan besar yah kayaknya yang perlu gini-gini.”
Persepsi bahwa brand hanya perlu dibangun oleh perusahaan besar merupakan kesalahan terbesar ke-2. Karena perusahaan kecil bisa besar, dikarenakan adanya usaha untuk membesarkan sebuah brand. Singkat kata coba tanyakan hal ini kepada diri Anda sendiri : “Apa yang membuat Anda menilai sebuah produk/perusahaan adalah sesuatu yang besar?” Yup! Jawabannya adalah keterkenalannya. Kalau produk/perusahaan tersebut terkenal, pasti Anda akan memiliki persepsi bahwa produk/perusahaan tersebut lebih besar dibanding pesaingnya yang bahkan belum pernah kedengaran namanya. Jadi apakah Anda masih berpikir-pikir untuk membangun brand Anda mulai dari sekarang?

“wah kita udah terkenal nih mbak, ga perlu dibranding lagi!”
Branding adalah sebuah proses, bukan sebuah tujuan. Jadi seperti nya tidak ada kata berhenti untuk melakukan proses branding. Apakah Anda pernah melihat Unilever menghentikan aktivitas branding mereka? Tahapan aktivitas pembangunan brand dapat dilihat di bagan di bawah ini, di mana tahap pembangunan setelah brand tersebut mature/sukses adalah dengan memaintain/mempertahankan eksistensi brand tersebut, serta melakukan inovasi agar para konsumennya tetap loyal dan tidak meninggalkan brand tersebut.












“Kita mah jualnya ke distributor, nga ke konsumen langsung, jadi kayaknya ga perlu branding deh!”

Banyak orang yang beranggapan bahwa pembangunan brand hanya diperlukan oleh industri B2C saja. Hal ini tidaklah benar, karena industri B2B juga membutuhkannya. Salah satu contohnya adalah kasus Intel, walaupun Intel merupakan bisnis B2B, Intel terus melakukan aktivitas pembangunan brand. Hanya saja strategi pembangunan brandnya yang berbeda antara B2B dan B2C, di mana untuk B2B tidak hanya 1 jalur saja yang digunakan, tetapi dengan strategi multi-phase. Butuh tidaknya pembangunan brand tidak ditentukan dari apakah perusahaan tersebut B2B atau B2C, tetapi selama masih ada pesaing, butuh dilakukan aktivitas pembangunan brand, agar mempengaruhi konsumen untuk lebih memilih produk kita.

Tidak adanya pesaing juga tidak dapat diartikan dalam posisi aman, karena di tengah pertumbuhan bisnis yang kian “liar”, pesaing bisa muncul kapan saja, dan bisa saja saat itu Anda sudah terlambat membangun brand. Jadi bisa Anda simpulkan sendiri kan kapan Anda perlu mulai membangun brand Anda!

“Oh.. branding tuh yang kayak masang-masang iklan itu yahhh..”

Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa branding adalah advertising, atau branding adalah pasang iklan. Salah kaprah ini begitu besar, sehingga membuat para pelaku bisnis begitu saja melupakan pentingnya pembangunan brand. Branding tidak sama dengan memasang iklan. Memasang iklan adalah salah satu cara membangun brand, jadi tidak selalu aktivitas membangun brand itu adalah memasang iklan. Aktivitas lain seperti brand activation atau event juga merupakan aktivitas pembangunan brand, atau mengadakan talkshow dengan para konsumen, membuka account Facebook untuk produk kita, mencantumkan nama perusahaan kita menjadi signature di email kita, memakai kaos berlogo toko kita atau membujuk tetangga untuk membeli produk kita juga adalah aktivitas branding.

Jadi dalam melakukan aktivitas branding, jangan asal melakukan, atau asal pasang iklan karena orang marketing majalahnya udah nelponin terus. Buatlah sebuah perencanaan aktivitas sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan tentu saja sesuaikan dengan karakteristik produk dan budget Anda.

“wah kita ga ada dananya nih buat yang seperti ini”

Begitu banyak asumsi bahwa kegiatan branding adalah kegiatan yang butuh banyak biaya. Hal ini adalah salah. Program pembangunan brand dapat disesuaikan dengan berapapun budget yang Anda miliki. Sekalipun Anda tidak memiliki budget, Anda tetap bisa memanfaatkan source yang Anda miliki sendiri untuk memulai melakukan aktivitas pembangunan brand. Contohnya adalah WOM, aktivitas word of mouth tidak butuh biaya. Yang terpenting bukan biayanya, tetapi perencanaannya dan pelaksanaannya. Tentu saja besarnya biaya akan berimpact pada sejauh mana aktivitas Anda memberi dampak. Misalnya saja pemilihan media televisi dikatakan memakan biaya yang sangat besar, tetapi juga efeknya pun tidak main-main. Jadi Anda bisa menetapkan skala yang ingin Anda capai seperti apa, begitu pula alokasi pembiayaannya.

Sekarang ini strategi pembagunan brand melalui internet merupakan solusi bagi Anda yang memiliki pembiayaan terbatas. Bagi Anda yang sekarang ini telah melakukan berbagai aktivitas offline juga perlu melakukan aktivitas pembangunan brand di dunia online. Karena internet merupakan sebuah dimensi baru kehidupan manusia. Itulah mengapa di beberapa tahun terakhir ini, kami selalu menjadikan online strategies bagi klien-klien kami sebagai prioritas aktivitas pembangunan brand.

Semoga setelah membaca beberapa penjelasan di atas, Anda tidak lagi salah kaprah ya mengenai pentingnya pembangunan brand! Dan seperti 3 Mul yang sering diomongin orang :
  • Mulailah dari hal kecil (tidak perlu aktivitas berbudget besar jika kondisi keuangan Anda belum mampu)
  • Mulai dari sekarang
  • dan Mulailah dari diri sendiri (dari brand Anda tentunya!)
Bisnis = otak kiri + otak kanan


Selama ini bertemu dengan berbagai karakteristik pebisnis membuat saya belajar banyak. Satu kesimpulan besar, adalah mereka pebisnis yang sukses adalah seorang yang jenius! Dulu pada waktu masih menjadi mahasiswa dan berada di lingkungan orang-orang teknik, saya merasa bahwa orang teknik itu jenius banget yah!! Ya.. beberapa tahun setelah bergelut di bidang perekonomian dan bertemu dengan orang-orang yang mampu membangun bisnis dari nol hingga beromset besar membuat saya berubah pikiran. Saya rasa pebisnis adalah orang paling jenius dibandingkan profesi lainnya, dan kenyataannya mereka tidaklah harus bergelar S1, S2, S3 atau es teler…

Latar belakang opini saya tersebut adalah bahwa seorang pebisnis yang sukses tidak hanya mampu mengembangkan otak kiri mereka, yaitu berupa pengelolaan keuangan, jalur distribusi dan sistem stok barang, tetapi juga otak kanan mereka, berupa konsep produk atau jasa yang mereka tawarkan, kemampuan psikologi mereka dalam melakukan pendekatan baik kepada karyawan mereka sendiri atau bahkan kepada para konsumen. Sebelum bertemu dengan orang-orang di balik kesuksesan perusahaan raksasa tersebut, saya berasumsi bahwa “pasti ada para profesional di balik semua kesuksesan ini”, tapi ternyata saya salah, yang sebenarnya adalah “ada orang jenius di balik para pekerja profesional tersebut”.

Selama ini juga saya berkali-kali bertukar pikiran, melakukan berbagai diskusi dan studi dan bahkan sesekali merenung untuk mendapatkan “keyword” atas keberhasilan sebuah bisnis. Di awal langkah saya bergabung dengan perusahaan in-house brand and marketing ini, saya merasa kreativitas memegang peranan penting (maklum, waktu itu saya berada di divisi kreatif). Saya seringkali berasumsi bahwa dalam membesarkan sebuah brand/bisnis, kreativitas memegang peranan penting, bahwa pada saat sebuah produk berhenti untuk berinovasi, maka produk tersebut akan mati. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya menemukan banyak elemen lain dalam bisnis. Bagaimana dengan pemasaran? Bagaimana dengan pengelolaan keuangan? Investasi perusahaan? Sistem internal atau bahkan pengelolaan SDM? Begitu banyak kunci bukan, yang harus dibuat “sempurna” untuk bisa menghasilkan sebuah bisnis yang sukses?

Lalu melangkah ke divisi Strategic Planning, saya merasa bahwa peran strategi sungguh kuat dalam menentukan kesuksesan bisnis, terutama yang berhubungan dengan visi perusahaan yang diterjemahkan dalam berbagai strategi jangka pendek perusahaan. Idealisme saya mengatakan bahwa kunci utama dalam sebuah perusahaan besar adalah kekuatan para profesional yang ada di dalamnya yang mampu menjalankan setiap rincian perencanaan menjadi nyata, baik yang menyangkut ke pengembangan internal perusahaan maupun mengenai pemasaran ke para target market. Lalu apakah selesai sampai di sana tanda tanya yang muncul?
Ternyata tidak! Karena strategi adalah sebuah barang onggokan sampah tanpa adanya kekuatan untuk membuat seluruh organisasi bergerak menjalankannya.

Lalu apa yang menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut? Orang-orang yang saya temui dan memegang peranan besar dalam bisnis mereka masing-masing memiliki 1 karakteristik yang sama. Mereka bisa mengantarkan bisnis menjadi besar, karena mereka adalah seorang pemimpin! Yup! Itu adalah jawabannya. Pemimpin atau Leader adalah “keyword” dari seluruh kesuksesan perusahaan. Leader atau CEO sebuah perusahaan adalah penggerak; mereka adalah bahan bakar yang membuat sebuah bisnis berjalan dan melangkah menuju tujuan bersama-sama. Itulah mengapa orang-orang yang berkompetensi menjadi CEO handal merupakan the most wanted person di dunia bisnis dan sudah menjadi sasaran langganan para head-hunter. Jawaban inilah yang memberikan pencerahan pada beberapa kasus yang kami tangani, bahwa beberapa perusahaan terkadang tidak menyadari hal tersebut. Mereka fokus pada pengembangan teknologi, produk, atau bahkan strategi marketing; mengeluarkan banyak uang untuk bisa bermimpi mengalahkan para pesaingnya. Tapi apakah mereka pernah mengevaluasi : sudah benarkah pemimpin perusahaan mereka menjalani fungsi kepemimpinan itu sendiri?

Saya rasa, begitu banyak perusahaan yang fungsi organisasinya masih lemah dan itulah akar dari ketidakberhasilan program-program yang diciptakan. Beberapa kasus dari Harvard Business Review yang sempat saya studi, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan besar di dunia mengagendakan hal terpenting dalam perencanaan bisnis para pemegang saham adalah menentukan siapa CEO terbaik yang harus memimpin perusahaan mereka. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya sebuah leadership dalam sebuah bisnis. Para pemegang saham P&G pun memutuskan untuk meng-hire A.G. Lafley sebagai CEO mereka di tengah krisis pada pertengahan tahun 2000, karena berdasarkan career history, mereka yakin bahwa beliau adalah orang yang tepat dan berpengalaman dalam menyelematkan krisis perusahaan.

Pada artikel nya “What only the CEO can do” (HBR May 2009), A.G. Lafley menjelaskan 4 koridor utama pekerjaan CEO berdasarkan observasi Drucker :

1. Defining and interpreting the meaningful outside
Melakukan pengumpulan data outlook (internal dan eksternal perusahaan), melakukan analisa bisnis dan penyusunan strategi perusahaan (otak kiri)

2. Answering, time and again, the two part question : What business are we in and what business are we not in?
Mengamati peluang dan memanfaatkan peluang tersebut dengan berbagai inovasi, dengan tetap diimbangi pertimbangan analisa bisnis (kreativitas = otak kanan)

3. Balancing sufficient yield in the present with necessary investment in the future
Melakukan perencanaan investasi baik dalam hal keuangan, produk dan teknologi (otak kanan)

4. Shaping the values and standards of the organization
Penciptaan culture perusahaan dan berbagai pendekatan organisasional, termasuk di dalamnya penciptaan corporate values (kreativitas dan psikologi = otak kanan)

Bagi kami, pengalaman menangani perusahaan dengan skala yang beragam (tidak hanya skala besar) membuat kami memiliki lebih banyak input dalam menganalisa problem bisnis, tidak hanya dari sudut pandang yang ideal tetapi juga perusahaan yang masih dalam proses berkembang. Terkadang analisa kami menyatakan bahwa masalah utama seringkali terlihat bukan dari aktivitas pemasarannya, tetapi dari fungsi organisasinya, atau lebih buruknya lagi : tidak memiliki seorang pemimpin! Bagaimana dengan perusahaan Anda?

Sudahkah ada orang yang tepat dengan kemampuan otak kanan dan kirinya yang mampu membawa perusahaan Anda menjadi lebih baik?
Let Your Business Through It!


Masih terbayang jelas diingatan saya ketika pertama kali saya datang ke perusahaan yang memanggil saya untuk interview kerja dulu. Sampai di depan ruko saya masih merasa biasa-biasa saja, tapi ketika sampai di depan pintu masuk kantor, saya sempat terhenti, ragu. “Bener nggak ya ini kantornya?”, gumam saya dalam hati. Begitu masuk ke dalam, saya makin ragu saja “Maaan, kantor apaan nih??!”. Hahaa, bayangkan saudara-saudara…Kantor yang berada di lantai 2 tepat di atas toko Circle K, yang untuk kesan kita harus melewati gorong-gorong sempit, dengan luas ruangan hanya sekitar 10 x 5 m² dan karyawan tidak lebih dari 15 orang yang semuanya anak muda! Kalau Mama saya tahu sih pasti saya langsung disuruh pulang tanpa harus diinterview dulu segala!=D (Yah layaknya ibu-ibu pada umumnya, dia sangat menginginkan anaknya kerja di perusahaan besar dan ternama gitu deh!;p)

Lebih dari setahun waktu berlalu dari hari itu, dan lihatlah perusahaan itu seperti apa sekarang. Menempati sebuah rumah luas yang disulap jadi kantor yang sangat nyaman dan full facilities (computer & laptop untuk setiap orang, pastry, ruang tamu, ruang meeting, ruang berkumpul, meja bilyard, dll), ruangan masing-masing untuk setiap divisi, memiliki mobil operasional kantor, dengan karyawan lebih dari 30 orang yang berkualitas tinggi, plus Office Boy dan driver, dan jumlah klien besar yang bertambah hampir dua kali lipat dari tahun lalu. Hmmm…pertumbuhan bisnis yang sangat pesat jika kita lihat hanya dalam hitungan 1 tahunan. Hebat!

Well, itulah bisnis yang mampu mengembangkan dirinya semaksimal mungkin. Berapa banyak perusahaan yang harus gulung tikar hanya karena pertumbuhan bisnisnya sangaaaat lambat, bahkan nyaris tidak ada? Banyak say! Lha itu banyak PHK dimana-mana, apa sebabnya? Ya mungkin tidak sepenuhnya karena pertumbuhan bisnisnya mandek sih, tapi alasan ini mendominasi fenomena tersebut lho!

Sebelum lebih jauh saya tanya dulu deh, siapa yang tidak merencanakan, mengharapkan dan mengusahakan bisnis yang dimilikinya dapat tumbuh pesat waktu demi waktu? Berani potong kuping deh (eh, serem ah, berani jadi tajir saja! Hehee!;p), setiap pengusaha pasti menginginkan pertumbahan bisnis yang signifikan bagi perusahaannya. Karena pertumbuhan bisnis yang bagus tentu otomatis akan berkolerasi sangatsignifikan juga terhadap peningkatan profit…dan profit pastinya adalah tujuan dari setiap bisnis dimanapun!

Hhmm..lalu kenapa ya ada perusahaan yang mampu mengalami pertumbuhan bisnis yang ok sementara ada juga yang justru mandek dan berujung bangkrut? Layaknya manusia, bisnis juga harus melewati beberapa fase pertumbuhan donk. Nah menutur Larry E. Greiner, ada beberapa fase yang memang biasa dilewati oleh setiap perusahaan untuk peertumbuhan bisnisnya. Dalam Growth Phases of Greiner disebutkan enam fase pertumbuhan dan perkembangan organisasi (dalam hal ini bisnis).

1. Growth through creativity
Perusahaan yang baru merintis bisnisnya pasti mengalami fase ini di awal perjuangannya. Fase ini biasanya ditandai dengan komunikasi yang masih tidak formal, kerja keras dan pendapatan yang rendah. Dengan situasi seperti itu biasanya akan sangat memungkinkan munculnya masalah krisis kepemimpinan. Dibutuhkan sosok pemimpin dengan karakter yang kuat dalam fase ini. Disini pertumbuhan melalui kreativitas menjadi masa yang berkesan bagi para perintisnya. Kreativitas jelaas sangat dibutuhkan untuk dapat tumbuh dan berkembang, Kreatifitas disini jangan hanya disempitkan dengan design, seni dsj ya, tapi diterapkan ke semua hal dalam bisnis tersebut. Contohnya, selain kreatif dalam servis atau produk yang kita keluarkan, perusahaan juga harus kreatif menekan biaya operasional semaksimal mungkin namun dengan profit yang maksimal juga. Maunya! Hehee!

2. Growth through direction
Di fase ini perusahaan biasanya mengalami beberapa hal seperti ini, pertumbuhan yang mulai berkelanjutan, struktur organisasi yang fungsional, adanya akunting yang capable di bidangnya, capital management, budget yang lebih besar, dan standarisasi proses dalam bisnis tersebut. Fase ini bisa saja berakhir dan semua fase selanjutnya terhenti jika terjadi Krisis OtonomiHarus diperhatkan bahwa kata “direction” ini bisa saja memungkinkan timbulnya system “bossy”, sehingga karyawan tidak memiliki “otonomi” dalam melakukan tugasnya dengan cara yang mereka ketahui dengan pasti yang terbaik bagi keberhasilan tugas tersebut. Ini bukan hal yang sepele karena saat karyawan merasa dibatasai atau terlalu diatur oleh system yang tidak sesuai, maka memungkinkan pertumbuhan bisnis secara keseluruhan terhenti. Disinilah direction yang digunakan harus diusahakan berjalan se-smooth mungkin hingga dapat diterima oleh seluruh pihak yang terlibat. ‘Main cantik’ lah bahasa gaulnya sih!;p

3. Growth through delegation
Fase ketiga ini ditandai dengan karaketeristik perusahaan yang mulai menerapkan desentralisasi struktur organisasi, responsibilitas terhadap operasional dan tingkatan market, profit oriented, insentif keuangan, pengambilan keputusan didasarkan pada review per-periodic, seluruh top management terlibat tanpa pengecualian, dan komunikasi yang digunakan pun sudah formil. Sudah tambah baik kan pertumbuhannya di fase ini, tapi jangan sampai lupa kalau control yang tidak baik akan mampu menghentikan pertumbuhan perusahaan sampai di fase ini saja. Itulah sebabnya di fase ini masalah yang mungkin timbul adalah control yang kurang terhadap operasional bisnis secara keseluruhan. Ya karena banyak mendelegasikan itulah, seharusnya pimpinan memiliki control juga terhadap kinerja delegator tersebut, Jangan sampai jalan di tempat hanya karena salah mendelegasikan ya!

4. Growth through coordination and monitoring
Kalau fase yang satu ini lebih menekankan pada koordinasi dan monitoring. Semakin bertumbuhnya bisnis perusahaan, masalah yang akan muncul pun makin beragam dan kompleks saja. Itulah sebabnya dibutuhkan fase dimana koordinasi dan monitoring yang baik harus diterapkan dengan konsisiten. Fase ini biasanya ditandai dengan adanya formasi grup produk, dilakukan review dari rencana yang telah disetujui, pengeluaran perusahaan yang sangat besar, ROI sudah dapat dihitung (wiih, asik nih!;p), karyawan termotivasi oleh harapan adanya sedikit saja profit sharing, dll. Fase yang sudah bagus untuk pertumbuhan bisnis memang, namun tetap saja tidak boleh lengah karena pasti akan muncul masalah atau krisis yang memungkinkan perusahaan mandek atau bahkan turun level. Duh, semoga nggak terjadi ya!

5. Growth through collaboration
Whiiiiii…sudah sampai di fase ini saja nih! Selamat! Fase ini adalah masa dimana pertumbuhan perusahaan terlihat sangat jelas jika dibandingkan dengan fase awal tadi. Dalam fase ini bisanya juga ditandai dengan munculnya jalan pintas evolusioner yang baru untuk mengembangkan bisnis perusahaan, problem solving dengan acti0n, bukan wacana berlarut-larut, crossing tugas tiap tim, adanya staf support system desentralilasi, mekanisme control yang lebih simple, dilaksanakannya program pendidikan behavior setiap tim, sistyem informasi yang advance, disusunnya insentif tim, dll. Wah, bisa kita lihat ya kalau fase ini oke berat! Sangt menunjukkan pertumbuhan bisnis perusahaan sudah berada di titik hampir maksimal. Hampir lho..! Hehee! Karena lagi-lagi jika perusahaan tidak mampu memanage dengan baik, maka memungkinkan timbulnya krisis pertumbuhan (justru) di internal. Lihat indikasi fase ini? Belum tentu setiap karyawan dan managemen mampu mengikuti semua hal itu dan bisa melewati fase ini dengan baik.

6. Growth through extra-organizational solutions
Sebenarnya Growth Phase ini awalnya berakhir di fase kelima tadi, tapi kemudian Greiner menambahkan satu fase lagi. Fase terakhir ini benar-benar menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis perusahaan sudah sampai di batas tertinggi pertumbuhannya. Hohoo, gaya banget deh!;p Sesuai judulnya, extra-organizational solutions, dalam fase ini dibutuhkan solusi organisasi yang ekstra. Ekstra tinggi, ekstra baik, ekstra maju, ekstra inovatif, ekstra nekat (hehee!), dan ekstra-ekstra yang lainnya. Disini perusahaan muali berani melakukan merger dengan perusahaan lain, bermain dengan saham, membangun networks dengan banyak pihak yang berkepentingan di kemudian hari, dll. Intinya adalah bagaimana menemukan celah kekuatan tertinggi untuk sampai di pertumbuhan bisnis yang semaksimal mungkin, Memang benar kata pepatah yang bilang manusia itu tudak pernah merasa puas! =)

Tidak pernah ada cara instans dan mudah memang untuk mencapai titik tertinggi dalam bisnis. Disadari ataupun tidak, perusahan yang tumbuh instan pun sesungguhnya tetap saja melewati fase-fase di atas. Hanya saja bedanya, ada perusahaan yang paham betul fase-fase ini dan mengikutinya dengan sangat baik sebagai penyempurna pertumbuhannya kelak, ada juga perusahaan yang masa bodo (atau mungkin ‘bodo’ beneran?;p).

Perusahaan yang sempat saya ceritakan di awal tentunya sadar betul fase-fase ini dan menjalaninya dengan sabar. Terilihat kan dalam beberapa tahun bisnisnya mampu mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Yah walaupun jelas belum berada di fase terakhir, namun saya yakin perusahaan itu mampu melewati semua fase dengan sangat baik dan akan tiba di titik pertumbuhan yang diinginkan oleh managemen dan karyawannya. Dengan bangga, saya menyebutnya: kantor saya! =)
Result Oriented Management,
It’s Not a Nightmare for Us


Saya tipe orang yang sangat ‘menggilai’ berkumpul dengan teman-teman, baik itu teman kerja, teman kuliah, SMA, SMP, bahkan teman sedari TK pun masih saya jaga silaturahminya sampai sekarang. Menjadi lebih menyenangkan lagi karena topic obrolan kita setiap kali berkumpul tidak lagi hanya seputaran cinta, keluarga, ataupun pertemanan, tapi ditambah dengan topic pekerjaan. Karena semua dari kami mayoritas telah bekerja untuk orang lain (bukan wiraswasta maksudnya), sudah dipastikan cerita-cerita mengenai situasi kerja, sifat para atasan, corporate culture, dan curhatan mengenai pekerjaan tak pernah absen menjadi bahan obrolan kami.

“ Gw suka kesel deh kalau si bos ngasih gw tugas yang susaaah banget dan dengan manisnya bilang “Terserah gimana kamu caranya, yang penting saya mau besok tugasnya sudah selesai!”…ampun deh! Suka nggak mau tau proses, maunya hasil aja!”, ini curhatan salah satu teman SMP saya yang sekarang ini sedang bekerja di salah satu IT Consultant di Bandung. Entah hanya bermaksud menimpali atau memang curcol (curhat colongan) teman saya yang lain yang sekarang bekerja di salah satu koran harian umum di Bandung langsung nyerocos “ Iya tuh, udah gitu pas kita serahin hasilnya, dia protes, ngomel-ngomel karena hasilnya kurang memuaskan versi dia. Dia mah nggak pernah mau tahu kalau kita berusaha kemaksimal mungkin kaya orang gila, sampai nangis darah sampai nggak tidur semaleman untuk ngerjain itu. Don’t care with the process, just need the result! Dasar Result Oriented! Yang penting hasil, bukan proses!”. Saya sampai wondering, dia pasti mengalami hal yang seperti itu dari atasannya. Berapi-api banget!=D

Hmmm…saya sih jadi berpikir sendiri dalam hati, “atasan saya kaya apa ya? ‘paham’ seperti apa yang ‘dianut’ oeh kantor saya ya? Ngak pernah kepikiran sampai kesitu sih sebelumnya…”. Saya masih ingat dulu salah satu bos saya pernah “memarahi” tim activation kita, padahal event-nya sukses lho,tapi menurut beliau, dia ‘kecewa’ karena dia tahu proses yang terjadi selama persiapan hingga pelaksanaan, prosesnya kacau sekali. Menurut beliau, saat proses yang harus dijalani berjalan dengan baik, maka hasil sih pasti mengikuti. Makanya saya berpikir bahwa dia ‘proccess oriented’. Ah tapi dalam beberapa hal, beliau akan tetap marah jika prosesnya benar sementara hasilnya tidak seperti yang diinginkan. Lho, jadi gimana nih??

Heee…sebenarnya sih kalau kita mau membuka pikiran, apapun itu, mau result oriented atau process oriented, ya ujungnya pasti hasilnya harus bagus. Ya nggak make sense juga kan kalau prosesnya baguuus sekali, tapi hasilnya tidak ok. Buat apa? KJadi ya pada dasarnya semua perusahaan pasti menganut paham result oriented lah!=)

Eitz, sebenarnya apa sih result oriented management itu? Ya gampangnya adalah system manajemen yang menginginkan hasil maksimum dengan pengukuran yang jelas. Jadi kalau kamu dikasih tugas jadi marketing, pengukuran keberhasilan kamu sebagai marketing sudah ada ukiuran yang jelas. Misalnya dalam 1 minggu harus ada closing minimal 1 deal. Maka kamu akan lebih mudah melihat bagaimana caranya supaya hasilnya tercapai, manajemen juga jadi mudah mengukurnya, kalau tidak ada 1 closing bulan ini, ya bewrarti kamu gagal. Justru malah fair kan?

Tapi jangan salah, menerapakan result oriented management itu memerlukan beberapa tahapan, seperti yang disampaikan oleh Jan Schouten and Wim van Beers :

1. Set the target
Jangankan perusahaan, kamu saja pasti punya target dalam hidup kamu kan? Tidak ada perusahaan yang jalan dengan prinsip ‘go with the flow’, profit dan kemajuan perusahaan saja sudah masuk menjadi target/ tujuan perusahaan. Target akan memudahkan perusahaan untuk ‘melihat’ masa depan perusahaan dan menkadi penyemangat bekerja para karyawannya. Jadi di awal, jangan lupa untuk menentukan target apa yang ingin atau harus dicapai. Ini bisa merujuk pada tujuan jangka panjang perusahaan, jadi target jangka pendek atau target individu pun yang dibuat harus sejalan dengan hal tersebut.

2. Translating
Setelah target ditentukan, waktunya menerjemahkan tujuan perusahaan ke dalam tujuan Strategic Bussiness Units (SBU) dan juga tujuan individu. Maksudnya disini, tahap selanjutnya perusahaan harsu menyusun SBU yang sesuai atau berdasarkan tujuan perusahaan, nggak ‘masing-masing’. Begitu juga dengan tujuan divisi sampai tujuan individu sekalipun, semuanya harus berdasarkan tujuan perusahaan secara umum, tidak boleh bertentangan. Ya nggak akan lucu saja kan kalau perusahaan, manajemen, dan individu memiliki tujuan yang tidak ada hubungannya dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan. Nggak nyambung! Bagaimana bis maju kalau begitu?=)

3. Result Oriented Agreements
Nah seperti sempat saya singgung di atas, hasil yang ingin dicapai sebaiknya memang memiliki pengukuran yang jelas. Tapi jelas saja tentu belum cukup. Banyak karyawan yang iya-iya saja saat atasannya menentukan taeget yang harus mereka capai, tapi saat pengukuran ternyata baru diketahui mereka lupa atau misperception dengan pengukuran yang dibuat. Maka dari itu, perusahaan selanjutnya harus membuat suatu result oriented agreement mengenai tujuan yang ingin dicapai tersebut. Agreement ini akan menjadi “buku besar” bagi perusahaan dan karyawannya. Dan karena semua pihak sudah ‘agree’, maka tidaka ada excuse sedikitpun untuk penyimpangan atau pelaksanaan yang tidak maksimal.

4. Implementation
Semua persiapan sudah tersusun dengan baik, maka apalagi langkah selanjutnya jika bukan implementasi. Setiap individu dalam perusahaan harus mampu mengaplikasikan semua tujuan dan target tersebut, menyetir dirinya sendiri dan memanage laporan yang harus diberikan pada perusahaan atau pada atasan. Tidak ada gunanya tujuan yang hebat, target yang tinggi, jika semuanya itu tidak dapat diterapkan di dunia nyata saat pelaksanannya. Baik divisi maupun individu yang in charge harus juga mampu mengarahkan dirinya untuk dapat melaksanakan tugas sebaik mungkin hingga dapat mencapai tujuan atau target. Jangan lupa juga selalu sempatkan untuk membuat laporan mengenai proses itu baik diminta ataupun tidak. Karena sesungguhnya laporan itu akan menjadi saksi mata ‘perjuangan’ kamu dan juga sebagai ‘alarm’ kamu.

5. Periodic appraisals, progress control.
Walaupun semua tujuan dan target sudah disusun bahkan sudah dilaksanakan, bukan berarti semuanya stop sampai disitu. Jangan pernah lupa untuk melakukan pengecekan laporan dan pengukuran secara periodic terhadap proses dan pencapaian hasilnya. Selain itu, selama implementasi tersebut jangan sampai tidak ada pengontrolan terhadap setiap progress yang ada. Kontrol yang baik akan menghindarkan kita dari kekeliruan atau ‘ketersesatan’ dari tujuan dan target yang ingin kita capai. Semua ini lebih menjadi ‘guardian’ kita untuk mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. Selama ada yang menjaga dan mengingatkan, rasa-rasanya kemungkinan gagal sedikit sekali ya!=)

Jadi gimana, tidak salah kan jika perusahaan menganut system result oriented? Lagipula proses dan maknanya tidak ‘sekasar’ yang teman-teman saya utarakan di awal kan? Kalau yang kaya gitu sih saya juga bisa ngomel-ngomel dalam hati (walaupun kadang ada juga sih! Hehee!;p). Tapi sekarang kita jadi tahu kan bahwa pengertiannya bukan seperti itu dan proses-proses itu membuka mata kita bahwa it’s not a nightmare kok! Hehee!;p

Jun 22, 2009

Peta Pemasaran Capres dan Cawapres

Menarik sekali memperhatikan kampanye dari para capres kita belakangan ini. Sepertinya perkembangan dunia politik di tanah air menuntut pengembangan strategi dari masing-masing tim sukses dalam “memasarkan” produk mereka yaitu para pasangan capres dan cawapres. Pada dasarnya sekarang ini selama masa pemilu, masing-masing kandidat sedang “menjual” diri mereka sendiri, tentunya yang semakin menarik adalah adanya pola-pola pemasaran yang mereka gunakan termasuk di dalamnya dalam menentukan siapa target market mereka yang sebenarnya.

Nampaknya jika dilihat di permukaan, seorang presiden tidak memiliki target market, karena mereka dipilih oleh semua orang di negara ini. Tetapi hal tersebut tentu pemahaman yang salah dalam langkah pemasaran, karena nyaris tidak ada strategi yang berhasil tanpa adanya pemilihan target market secara fokus, karena masing-masing kelompok target market memiliki hal-hal yang wajib kita penuhi dan tentunya memiliki ekspektasi yang berbeda-beda. Bukan saja ekspektasi lho! Bahkan bahasa yang kita gunakan juga dalam menyampaikan berbagai value produk kita haruslah berbeda. Jadi misalnya saja contoh yang paling kontras adalah Bu Mega dan Mas Prabowo yang menjadikan wong cilik sebagai target market mereka, menggunakan bahasa yang sederhana dan strategi mengedepankan isu-isu usaha kecil yang dapat dengan mudah diterima dan didukung oleh para wong cilik yang sebenarnya. Jadi Anda tahu kan betapa dominannya ilmu pemasaran dewasa ini? Hingga dunia politik pun bergantung pada ilmu pemasaran!

Kali ini akan lebih dalam diulas mengenai strategi pemasaran pasangan Capres dan Cawapres SBY dan Boediono, dari mulai pemilihan target market hingga strategi komunikasi yang mereka implementasikan.

Langkah paling awal dalam menyusun strategi pemasaran adalah memilih target market yang akan kita bidik. Tanpa memilih dan menentukan secara spesifik criteria seperti apa yang akan kita sasar, akan sangat sulit menentukan langkah-langkah selanjutnya, karena seluruhnya berhubungan dengan kondisi dari target market tersebut. Berikut di bawah ini merupakan gambaran secara sederhana mengenai 2 target utama yang dibidik oleh SBY-Boediono.

Dalam lingkungan masyarakat kita, 2 lingkungan yang memiliki besaran dominan adalah lingkungan tempat tinggal kita dan lingkungan perekonomian. Dilihat dari 2 lingkungan tersebut, diambil figur paling dominan dari masing-masing. Untuk lingkungan tempat tinggal, figur paling dominan adalah wanita, sedangkan di lingkungan perekonomian, yang paling dominan adalah para pebisnis.

Jadi saya simpulkan 2 target market utama yang menjadi fokus aktivitas komunikasi SBY-Boediono adalah :

1. Wanita , Latar belakang pemilihan :
  • Wanita sebagai figur yang mendominasi keputusan dalam keluarga, yang berkembang dalam masyarakat
  • Wanita memiliki sensitivitas yang tinggi dan mudah dipengaruhi dari sisi emosional
  • Wanita memiliki kemampuan penyebaran WOM dari segi kualitas dan kuantitas yang paling tinggi dibandingkan pria
  • Wanita merupakan kelompok dengan loyalitas yang tinggi selama tidak ada kekecewaan yang muncul dalam diri mereka (tengok kasus AA Gym)
Cara mengambil hati target market :
  • Dengan mengedepankan komunikasi mengenai lingkungan keluarga, menjadikan SBY sebagai “idola” baru para wanita (terutama ibu-ibu) yang mendambakan seorang pemimpin bangsa yang dapat memulai jiwa kepemimpinannya dari kelompok terkecil yaitu keluarga.
  • Berbagai liputan dan ekspos yang dilakukan terhadap keluarga SBY bukan merupakan untuk meningkatkan brand awareness saja, tetapi juga mengambil hati target market mereka yaitu para wanita. Karena sisi emosional yang dikomunikasikan melalui citra keluarga yang bahagia dan figur kepala keluarga yang ideal menjadi harapan bagi para wanita tersebut untuk kemudian jatuh hati dan mendukung SBY.
2. Pebisnis, Latar belakang pemilihan :
  • Pebisnis merupakan jantung bergeraknya perekonomian di suatu Negara
  • Pebisnis memiliki jaringan yang sangat luas, yang memudahkan persebaran informasi di kelompok mereka sendiri
  • Pebisnis memiliki hubungan yang solid, jika 1 memihak pada seseorang, kemungkinan besar seluruh jaringannya pun akan melakukan hal yang sama
  • Dalam menjalankan roda pemerintahan, salah satu pihak yang memiliki andil besar dalam mendukung program pemerintah adalah para pebisnis
  • Pebisnis memiliki dana dukung yang besar dan merupakan pihak yang perlu “diambil hatinya”
Cara mengambil hati target market :
  • Dengan memilih Boediono sebagai wakil presiden SBY, merupakan salah satu langkah besar untuk mengambil hati para pebisnis. SBY menyadari latar belakangnya yang sangat minim dalam peran serta di dunia ekonomi, melihat sebegitu besarnya peluang JK dalam mengambil hati para pebisnis. Diambilnya Boediono sebagai wakil presiden SBY membuat para pebisnis berpikir 2x untuk tidak berpihak pada SBY, mengingat Boediono memiliki track record yang brilian di dunia ekonomi. Cara lainnya pula adalah dengan terus memaparkan pemahaman ekonomi dan strategi yang akan diimplementasikan ke depannya. Dengan tidak menutupnya unsur globalisasi dalam berbagai ulasan ekonomi mereka, bahkan dengan memanfaatkan globalisasi tersebut, semakin membuka peluang pebisnis untuk mengembangkan kondisi bisnis mereka.
Dapat Anda amati sendiri bagaimana janji dan cara berkomunikasi yang mereka lakukan adalah untuk merangkul 2 kelompok utama sebagai sasaran penyebaran WOM positif selama masa kampanye ini. Dibandingkan dengan pola pemasaran kampanye terdahulu, atau pasangan lain, SBY-Boediono menggunakan sudut pandang pemasaran yang lebih modern. Dengan tidak melakukan segmentasi berdasarkan agama atau kelas ekonomi, tetapi berdasarkan gender dan peran serta di perekonomian, menjadikan cakupan WOM positif dan value yang mereka bangun lebih cepat tersebar di masyarakat.

Jadi dari pola pemasaran tersebut ada beberapa hal yang dapat kita pelajari :
  • Cari peluang segmentasi yang berbeda dari yang sebelumnya Anda lakukan atau para pesaing Anda lakukan
  • Tetapkan target market pada beberapa kelompok utama yang menurut Anda memiliki potensi terbesar dalam purchasing produk Anda
  • Jangan lupakan positioning dan diferensiasi yang Anda tekankan sesuai dengan target market yang Anda bidik
  • Dan yang terakhir adalah jangan lupakan “cara bicara” Anda harus sesuai dengan bahasa target market yang Anda bidik, hal ini tercermin dari berbagai media promosi yang Anda gunakan dan pesan yang ada di dalamnya
Mmhh.. lalu siapa ya yang akan memenangkan pertarungan “pemasaran” pasangan capres dan cawapres ini?? Haha, ini opini iseng saya ajah, tentang siapa yang saya pilih tentu menjadi rahasia saya dan siapapun yang menang semoga mampu dan berkomitmen untuk memenuhi janji-janjinya.
Corporate Value
Pajangan atau Junjungan?


Apa salah satu pekerjaan yang paling sulit sebagai bisnis partner perusahaan, celetuk salah satu sahabat saya ketika sedang menikmati dinner bersama, hmmm, hampir semua sebetulnya sulit karena karakeristik bisnis setiap klien berbeda namun jika boleh mengungkapkan satu hal yang paling sulit yang selama ini saya tangani mungkin implementasi Corporate Valueslah jawabannya. Yah setelah saya pikir-pikir inilah pekerjaan yang paling nyita pikiran dan waktu dalam implementasinya karena melibatkan seperangkat nilai yang bisa dikatakan abstrak dan sejumlah orang yang punya sikap dan prilaku yang juga unik dan berbeda-beda.

Corporate Values, kata yang sederhana, sangat sering diucapkan di perusahaan dan jika Anda datang ke sebuah kantor pasti hampir dipastikan Anda melihat poster yang bertulisan corporate values di perusahaan tersebut, ditempel di ruang meeting atau tamu, dengan gambar yang indah dan ditulis dengan hurup yang besar dan kadang jumlahnya bisa sampai 10 corporate values. Yah tidak salah memang, namun kemudian yang jadi masalah adalah ketika hal tersebut hanya menjadi sebuah tulisan tanpa implementasi yang jelas baik dari sisi ekternal maupun internal perusahaan.

Di sebuah kantor saya pernah membaca sebuah corporate value yang bertuliskan “Konsumen Adalah Raja” namun sejujurnya saya tidak merasa diperlakukan seperti raja, dan maaf kalo boleh dibilang perlakukannya malah seperti kepada rakyat. Dalam hati saya mananya yang konsumen raja? Omong kososng doang ternyata, graphis dan copywritingnya sih udah ok cuma implemetasinya berbanding terbalik 180 derajat dengan semua yang saya baca.

Salah satu manager yang pernah saya jumpai dalam seminarpun memberikan sharingnya dimana beliau sudah hampir dua tahun mencoba untuk menerapkan corporate values di dalam perusahaan dan sampai hari ini tetap belum bisa diterapkan dengan sempurna karena manusia itu unik katanya. Belum lagi bila turn over perusahaan cukup tinggi yang menyebabkan terus berubahnya orang-orang yang berada di dalam perusahaan.

Ok mari kita coba diskusikan, mengapa corporate values cukup sulit diterapkan dan atau kadang malah gagal diterapkan di dalam perusahaan?

1. Sikap dan Prilaku Manusia
Yah ini yang paling menantang sekaligus rintangan yang paling sulit bagi penerapan corporate values sebuah perusahaan, Manusia. Rasanya kita semua bisa mengerti mengapa manusia adalah tantangan yang paling sulit dalam penerapan corporate values di dalam perusahaan, sederhananya mungkin karena kita diberikan anugrah pikiran sehingga tidak bisa dengan mudah dipengaruhi apalagi diminta untuk berubah. Prilaku dan sikap yang terbentuk di dalam diri seseorang kadang sudah sangat mengakar dan tidak dapat diubah dalam waktu singkat disesuaikan dengan corpotate values yang diinginkan oleh perusahaan.

2. Perangkat aturan yang tidak mendukung
Kadang dalam pembuatan corporate values perusahaan tidak menyiapkan atau tidak siap dengan perangkat aturan pendukung di mana nantinya corporate values tersebut bisa diterap secara efektif dan betul-betul bisa menjadi sebuah nilai di dalam perusahaan. Katakanlah ketika perusahaan menginginkan disiplin sebagai bagian dari nilai perusahaan, seharusnya perusahaan sudah menyiapkan aturan-aturan yang diperlukan agar nilai disiplin ini bisa diterapkan dan menjadi nilai bagi perusahaan. Untuk beberapa hal bisa saya katakana, adalah omong kosong jika penerapan corporate value tidak diikuti oleh seperangkat aturan yang mendukung.

3. Komitmen dari manajemen
Nah ini juga bisa dikatakan salah satu factor yang paling berpengaruh terhadap sulitnya atau bahkan ketidak susksesan perusahaan dalam membangun corporate value. Yah Anda mungkin yang pernah mengalami atau melihat akan senyum-senyum membaca hal ini karena inilah mungkin yang paling sering terjadi, bahwa corporate value dibahas habis habisan, dibaut makna yang luar biasa dengan kata-kata yang menawan lantas di graphiskan oleh designer dengan pendekatan atau bahkan konsep disain yang luar biasa, disimpan di seluruh dinding perusahaan, kemudian berakhir menjadi pajangan yang kita sama-sama tertawa bila melihatnya, “ah biasa, kerjaan bos”.

Komitmen dari manajemen puncak adalah kunci keberhasilan penerapan corporate value, bila manajemen memiliki komitmen kuat untuk melaksakannya makan apapun yang menjadi halangan bisa dieliminasi satu per satu sampai tuntas. Bahkan kesulitan terbesarpun yaitu manusia bisa diantisipasi dengan perangkat aturan yang jelas sehingga setiap orang bersikap dan prilaku sesuai dengan corporate value perusahaan.

Lantas pertanyaan berikutnya bagaimana membangun corporate value perusahaan dan bagaimana melakukan penerapan corporate values di dalam perusahaan?

1. Seperangkat Nilai yang Sesuai
Buat corporate values yang sesuai dengan nilai yang ada di dalam perusahaan dan juga sesuai dengan karakter pekerjaan dan lingkungan di dalam perusahaan tersebut. Sederhananya, jika Anda punya pabrik, memperkerjakan ribuan atau bahkan ratusan karyawan dengan pekerjaan yang itu-itu sajah maka adalah hal konyol jika anda kemudian membuat corporate value yang merujuk pada kreatifitas, mengapa? Yah tentu kreatifitas adalah hal penting, namun untuk pegawai pabrik dimana pekerjaan yang sama yang selalu berhubungan dengan proses ataupun mesin, untuk apa kreatifitas dijadikan nilai? Boro-boro memikirkan kreatifitas, waktu mereka mungkin habis untuk mengerjakan hal berisifat rutinitas yang sangat penting bagi perusahaan (memisahkan barang rejected misalnya) dan untuk itulah memang perusahaan membutuhkan mereka. Disiplin, mungkin merupakan corporate value yang cocok untuk mereka dan disinilah kemudian corporate value bisa dibangun efektif karena dibangun dari seperangkat nilai yang sesuai dengan lingkunga kerja karyawan.

2. Komitmen pimpinan dan komitmen bersama
Yah sekali lagi, ingin berhasil atau tidak kunci utama adalah komitmen untuk membangun corporate value ini khususnya dari pimpinan-pimpinan perusahaan. Dengan komitmen, pimpinan perusahaan bisa membawa nilai-nilai yang ingin dibangun menjadi bagian dari diri mereka sehingga karyawan lainnya akan melihat contoh kongkrit bagaimana nilai-nilai yang diharapakan diimplementasikan dan menjadi bagian dari sikap dan prilaku setiap orang.
Komitmen pimpinan ini juga akan mendorong penciptaaan aturan yang bisa digunakan untuk menjadi menjadi bagian dari menyukseskan penerapan corporate value ini, Anda bisa bayangkan tanpa komitmen ini, bagaimana mungkin corporate value bisa berhasil diterapkan?

3. Menciptakan seperangkat alat aturan
Kadang corporate value yang ingin dibentuk membutuhkan perangkat aturan tambahan atau yang disesuaikan sehingga penerapannya bisa efektif dan realistis untuk dilaksanakan. Ambil contoh, ketika perusahaan ingin menerapkan disiplin sebagai corporate values perusahaan maka perusahaan tersebut membutuhkan seperangkat aturan dimana disiplin ini bisa diterapkan secara efektif seperti absensi. Dengan absensi Anda bisa berharap bahwa nilai-nilai disiplin yang ingin diterapkan dapat dilaksanakan secara efektif dengan mengukur dan mempelajari tingkat absensi karyawan perusahaan cotohnya.

4. Seperangkat Alat Ukur
Nah ini mungkin akan paling jarang diterapkan oleh perusahaan atau bahka mungkin cukup banyak yang tidak mengerti bahwa hal inilah yang bisa memperlihatkan apakah nilai-nilai yang ingin dibangun sudah betul-betul menjadi nilai yang diharapkan oleh perusahaan secara kuantitatif. Mungkin Anda bisa melihat perubahan sikap dan prilaku yang sesuai dengan nilai perusahaan, namun tetap sajah akan menjadi pertanyaan apa ukurannya? Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa nilai-nilai pelayanan sudah menjadi nilai di dalam perusahaan tanpa alat ukur?

Alat ukur digunakan untuk memastikan dan menjadi acuan dalam pelaksanaan corporate value adalah hal yang sangat penting. Dengan alat ukur anda dapat melihat sejauh mana pelaksanaan sudah berjalan sesuai harapan dan apakah corporate value yang dibangun bisa dikatakan berhasil atau tidak. Yah tentu membuat alat ukur ini bukan perkara mudah karena banyak factor yang mempengaruhi bagaimana cara perusahaan mengembakan alat ukurnya seperti target kerja, lingkungan kerja dan kondisi kerja sehari-hari. Tapi intinya, Anda harus mengembangkan alat ukut yang sesuai untuk dapat mengukur dengan betul nilai yang ingin diterapkan.

5. Pengukuran secara berkala
Setelah memiliki alat ukur, maka tugas dari seluruh pimpinan melakukan pengukuran secara berkala terhadap nilai yang ingin dibangun oleh perusahaan. Lalu mungkin pertanyaannya siapa mengukur siapa? Yah secara sederhana bisa saya katakan pimpinan mengukur bawahannya dan seterusnya berjenjang menurut jabatan. Ada beberapa teknik lain mungkin yang bisa dikembangkan untuk melakukan pengukuran ini sesuai dengan nilai yang ingin dibangun, namun pada intinya kita harus melakukan evaluasi dan pengukuran secara berkala untuk dapat mengukur perkembangan dari penerapan nilai ini agar perusahaan tahu sudah sejauh mana nilai-nilai yang ingin dibangun sudah menjadi bagian dari diri setiap karyawan.

6. Komunikasi/ Couching
Penerapan corporate value mungkin bisa kita katakan adalah tentang bagaimana seperangkat nilai menjadi dasar dalam sikap dan prilaku setiap orang di dalam perusahaan. Aturan mungkin bisa dibuat dengan ketat, alat ukur mungkin bisa dibuat dengan sangat detail, namun hanya sentuhan manusia yang memiliki nilai yang paling kuat untuk dapat membuat sikap dan prilaku seseorang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh perusahaan. Karena itulah komunikasi dan coaching menjadi salah satu kunci penting di dalam keberhasilan penerapa corporate value perusahaan.

Katakanlah nilai seorang karyawan sangat buruk setelah dilakukan pengukuran, maka tugas seorang pemimpinlah yang akan berusaha memberikan arahan, nasihat dan dukungan untuk si karyawan memperbaiki sikap dan prilaku yang sesuai dengan harapan perusahaan, coba bayangkan jika si pemimpin tidak suka melakukan komunikasi dengan bawahan dan tidak berusaha untuk selalu memberikan arahan dan bimbingan tentang bagaimana bersikap dan berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaam?

7. Program-program pendukung
Yah untuk bisa lebih menanamkan corporate value di seluruh anggota perusahaan, ada baiknya dibuat juga program-program yang sesuai dengan corporate value tersebut. Program-program pendukung ini tentu banyak sekali jenisnya dan yang terpenting adalah sesuai dengan nilai tersebut seperti outbond, visiting, seminar, gathering, social activity dan sebagainya. Jika Anda ingin menamkan nilai saling mengasihi di dalam perusahaan Anda, yah cobalah buat program-program yang membangkitkan semangat saling mengasihi seperti kunjungan ke panti asuhan, bagi-bagi sembako di daerah tertinggal dan sebagainya.

Pertanyaan terkahir tentunya, apa ukuran keberhasilan penerapa corporate values di dalam perusahaan?

Sebetulnya sederhana jika dalam pemikiran saya, corporate values berhasil diterapkan jika setiap individu di dalam perusahaan sudah dengan sadar bersikap dan berprilaku sesuai dengan corporate values perusahaan. Jika kita mengatakan values perusahaan salah satunya adalah memberikan layanan terbaik, maka setiap frontlinner atau bahkan seluruh karyawan perusahaan akan memberikan standart layanan yang sama kepada konsumen perusahaan, misalnya dengan senyum yang tulus. Mau bagian gudang, bagian riset ataupun bagian manapun jika sudah bertemu konsumen akan memberikan senyum yang tulus, yah ini sederhananya.

Karena itulah saya katakana dari awal hal ini tulis, walaupun kita sudah mengembangkan seperangkat alat ukur dan setelah pengkuran ternyata nilainya bagus belum tentu implementasi di lapangan bisa sesuai dengan corporate values perusahaan, yah sekali lagi karena corporate values ini adalah masalah merubaha sikap dan prilaku, dan ini berarti Anda sedang mencoba merubah banyak manusia dan tentu sajah itu bukan perkara mudah. Namun ketika kita mampu, Anda akan mendapatkan hasil yang setimpal tentunya untuk kinerja bisnis Anda.

Pada akhirnya, tinggal Anda yang memutuskan, hal ini menjadi sekedar pajangan atau junjungan di dalam perusahaan Anda.
Strategy Perusahaan = Tipe Perusahaan


Saya sempat heran setengah mati saat ‘berkunjung’ ke kantor salah satu perusahaan makanan yang cukup terkenal namanya (dulu) di Bandung. Tidak ada yang tidak mengetahui perusahaan itu beberapa belas tahun yang lalu, siapun yang berkunjung ke Bandung pasti membeli oleh2 disana. Coba tanyakan pada Mama-Papa atau Eyang kamu sekalian ,saya yakin banyak dari mereka yang tahu tentang brand itu. Itu dulu! Sekarang? Coba tanya ke teman-teman sepantaran kamu, mungkin hanya beberapa orang yang mengetahui brand tersebut. Terjadi lost generation yang sangat saya sayangkan. Tapi mau bagaimana lagi, perusahaan ternyata mempunyai strategy tersendiri dalam menjalankan usahanya. Strategy yang menurut saya sebagai bagian dari target market mereka (saya belum bicara sebagai konsultan branding lho ya!;p), “sayang banget!”.

Bukan bermaksud membanding-bandingkan jika saya jadi penasaran ‘melihat’ strategy yang digunakan Mc. Donalds dalam menjalankan usahanya. Yah memang benar bahwa Mc. D tidak berdiri sejak jaman penjajahan, tapi bisa dibilang dia adalah pemain lama yang terbukti mampu bertahan dan justru makin berkembang seiring perkembangan jaman. Kenapa perusahaan makanan yang saya maksud di atas tidak mampu mempertahankan market share-nya seperti Mc.D ya? No-no…ini bukan masalah uang, bukan masalah budget promosi dsb yang dimiliki oleh perusahaan, ini adalah masalah strategi. Perusahaan harus mempunyai strategy dalam mengorganisasikan perusahaan/ bisnisnya.

Secara garis besar, Snow & Miles pernah mengemukakan bahwa perbedaan strategy perusahaan dengan perusahaan yang lainnya didasarkan pada bagaimana perusahaan harus me-manage market share-nya, bagaimana perusahaan mengimplementasikan solusi yang didapat untuk itu, dan bagaimana perusahaan me-manage dua hal diatas secara structural. Dari jawaban-jawaban tersebut pada akhirnya akan terbentuk tipe-tipe perusahaan dilihat dari tipe strategi yang mereka gunakan.

Defender
Tipe ini adalah tipe perusahaan yang berada di industry yang mature. Mereka biasanya menggunakan strategi yang melindungi posisi pasarnya melalui produksi yang efisien, control yang kuat pada mekanisme, berkelanjutan, dan dapat dipercaya. Karena berada di ‘posisi’ aman, maka mereka cenderung “defensive” untuk mempertahankannya, maka dari itu disebut defender. Semua permasalahan dalam perusahaan akan mereka usahakan sesegera mungkin diatasi tanpa membutuhkan pengeluaran yang berlebihan.

Prospector
Tipe perusahaan yang lebih menekankan pada eksploitasi kemungkinan yang baru, mengembangkan produk atau jasa baru, dan juga menciptakan pasar yang baru (new market). Tentru saja untuk mencapai semua itu core skills yang dimiliki haruslah setara dengan kemampuan marketing yang kuat dalam menjual dan R&Dn akan memperluas range tipe produk dan teknologi yang digunakan perusahaan. Sesuai dengan namanya, perusahaan tipe ini giat mencari prospek-prospek baru yang akan mempengaruhi perkembangan bisnis perusahaan. Tidak mengherankan memang jika perusahaan tipe ini dapat berkembang dengan cukup pesat dan cepat. Mereka pintar mencari dan memanfaatkan peluang yang ada.

Analyser
Nah kalau perusahaan yang ini sih tipenya cocok banget dengan namanya. Tipe ini akan cenderung menghindari kemungkinan resiko namun cukup ahli dalam men-deliver produk atau jasa baru milik perusahaan. Sebagai ‘penganalisa’, perusahaan ini mengkonsentrasikan diri pada range yang terbatas bagi produk dan teknologi yang dimilikinya. Bagus sioh, jadinya semua terkontrol dan berjalan pada ‘jalur’ yang ‘benar’. Namun hati-hati ya, terlalu analis juga tidak terlalu baik lho, bagaimana pun juga, dalam dunia bisnis, intuisi atau feeling ikut berperan serta.

Reactor
Lain lagi dengan tipe yang ini, perusahaan mempunyai control yang sangat kecil terhadap lingkungan eksternal perusahaannya. Mereka cenderung “terjebak” di kemampuan mereka dalam mengadaptasi kompetisi di luar sana, tapi sekaligus juga ‘terjebak’ dalam mekanisme kontrol internal yang mereka anggap sangat efektif (padahal belum tentu! Hehee!). Dengan sifat reactor-nya, perusahaan jadi tidak mempunyai strategy, design atau struktrur yang sistematis. Semua strategi atau aktivitas yang dilakukan ditentukan secara kondisional, sesuai dengan “pergerakan” pasar. Hati-hati lho, layaknya orang yang sangat emosional, ‘sifat’ seperti ini harus benar-benar dikontrol dan dimanage dengan cermat oleh management, supaya tidak salah langkah gitu lho!;p

Pada akhirnya semua strategi yang membentuk tipe-tipe perusahaan di atas harus dapat dipahami agar kita tahu bagaimana harus ‘bersikap’ dan dapat menjalankan bisnis kita dengan baik dan sesuai. Seperti kata Snow & Miles, sesungguhnya sih tidak ada strategy yang paling baik atau paling buruk. Toh semuanya disesuaikan dengan visi-misi-goals perusahaan, terutama dengan kultur atau situasi perusahaan itu sendiri. Tapi jika perusahaan mampu memahami stategy yang tepat dan menjalankannya dengan baik, saya sih yakin 100% bahwa tidak akan ada tuh kejadiannya ‘lost generation’ seperti yang dialami toko makanan yang saya singgung di awal tadi. Malah saya berharap semua perusahaan bisa berkembang dan mempertahankan (bagus kalau sampai memperluas) market share-nya. Yah, kembali ke perusahaan lah yah. Gimana dengan perusahaan kamu? Masuk tipe yang mana nih?

Jun 21, 2009

Loyal Customer = More Profit


Beberapa waktu yang lalu saya membaca postingan salah satu member milis tersebut, dimana si anggota milis yang kecewa pelayanan salah satu hotel bintang lima di daerah Ibu Kota. Dalam postingnya ia mengeluhkan pelayanan yang tidak professional yang tidak sesuai dengan expektasinya terhadap hotel berbintang 5. Tanggapan dari anggota milis yang lain pun bermacam-macam, namun sebagian besar beranggapan kalau hotel bintang lima tidak seharusnya punya kualitas pelayanan seperti yang dikeluhkan.

Di lain kesempatan, adapula cerita dari seorang Ibu berkatitan RS International yang betul-betul membuat heboh dengan maraknya pemberitaan kasus ini. Cerita singkatnya sang Ibu mengeluhkan layanan dan tindakan dari RS tersebut yang membuat beliau merasa dirugikan sebagai pasiennya.

Bicara soal service, mungkin Anda sekalian sudah tidak asing lagi dengan yang namanya SERVQUAL, metode yang dikemukakan oleh Valerie A. Zeithamal, A. Parasuraman, dan Leonard L. Berry, dimana SERVQUAL merupakan teknik yang dapat digunakan untuk menunjukkan analisa gap antara service quality performance perusahaan terhadap service quality yang dibutuhkan oleh konsumen. Metode ini sering digunakan untuk peningkatan service quality dari perusahaan terhadap konsumennya. Metode SERVQUAL ada lima dimensi, yaitu :
  • Tangibles, merupakan dimensi yang mengacu pada fasilitas fisik, peralatan, staf, dan materi komunikasi.
  • Reliability. Kemampuan untuk menunjukkan servis yang dijanjikan perusahaan kepada konsumen secara dependen dan akurat.
  • Responsiveness. Kemapuan untuk menolong konsumen dan menyediakan layanan yang tepat.
  • Assurance. Pengetahuan dan kemampuan karyawan untuk memberikan trust dan percaya diri.
  • Empathy. Perusahaan memberikan perhatian dan pelayanan kepada konsumen.
Penggunaan SERVQUAL dapat diaplikasikan pada dua hal, yaitu :
  • SERVQUAL secara lebih luas dapat digunakan dalam sevice industries/industry-industri penyedia layanan atau jasa untuk memahami persepsi dari target mengenai kebutuhan akan servis. Dan untuk menyediakan pengukuran kualitas servis dari perusahaan.
  • SERVQUAL juga dapat diaplikasikan secara internal di dalam perusahaan untuk memahami persepsi karyawan terhadap kualitas servis, dengan tujuan untuk mencapai kemajuan dalam memberikan servis kepada konsumen.
Nah, dari pembahasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa servis merupakan hal yang krusial apalagi di jaman sekarang ini, dimana para konsumen banyak ditawari berbagai produk dan jasa yang ditawarkan oleh banyak perusahaan juga. Dalam hal ini, konsumen mempunyai hak untuk memutuskan, produk dan layanan yang seperti apakah yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan ekspektasinya terhadap perusahaan tersebut.

Dalam buku “Marketing In Venus” yang ditulis oleh Hermawan Kertajaya, di era sekarang ini, empati memegang peranan paling penting. Kenapa? Karena dengan empati, perusahaan bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumennya dan ini sangat berguna dalam memberikan memorable experience kepada pelanggannya. Lagipula siapa sih yang tidak senang diberikan perhatian oleh orang lain?

Hermawan Kertajaya juga mengungkapkan bahwa ada relevansi antara empati dan servis. Dimana pemasar yang memiliki empati adalah pemasar yang mampu melihat situasi penjualan dari perspektif pelanggan, dengan tujuan untuk membantu si pelanggan mencapai kesuksesan. Pemasar seperti ini akan selalu berusaha untuk mendengar dan mencari apapun yang berguna bagi kesuksesan pelanggan dan piawai dalam menangkap respons pelanggan, baik positif maupun negative, walaupun tidak diungkapkan dalam bentuk kata-kata oleh pelanggan.

Lebih lanjut lagi, dengan memberikan kualitas servis yang baik akan juga membantu perusahaan untuk mencapai apa yang dinamakan loyalitas konsumen. Bagi konsumen yang puas dengan pelayanan sebuah perusahaan maka bukan tidak mungkin ia akan melakukan aktivitas word-of-mouth kepada teman-teman, keluarga, dan kerabatnya untuk menggunakan produk atau layanan yang diberikan oleh perusahaan.

Bahkan bagi perusahaan yang peka terhadap pelanggan, maka ia akan senantiasa menjadikan konsumen tersebut menjadi konsumen yang loyal. Darimana konsumen yang loyal itu bisa diperoleh? Dari yang awalnya complain pun bisa menjadi konsumen yang loyal. Saya pernah membaca pengalaman seseorang yang tadinya sering complain terhadap layanan sebuah perusahaan. Tapi karena perusahaan tersebut memberikan pelayanan yang baik melalui karyawan-karyawannya, maka menjadikan orang tersebut sebagai pelanggan yang loyal bahkan merekomendasikan produk dan layanan perusahaan tersebut kepada kerabat dekatnya.

Maka, bagi perusahaan yang ingin konsumennya loyal berikanlah pelayanan yang berkualitas kepada pelanggan, karena semakin loyal pelanggan anda maka mungkin akan semakin banyak profit yang bisa Anda peroleh dari mereka.

Jun 8, 2009

Cinta itu Memang Indah


Kalo Anda memperhatikan iklan Telkomsel akhir-akhir ini pasti beberapa dari Anda akan menyadari bahwa pendekatan iklan yang dilakukan saat ini sepertinya mengambil angle kreatif dari sisi Cinta. Saya sendiri ketika melihat iklan tersebut langsung membayangkan iklan Ponds beberapa waktu lalu yang juga menggunakan konsep Cinta serta beberapa iklan lainnya yang juga menggunakan cinta sebagai big ideanya seperti Conello, TImtam Crush dan beberapa iklan lainnya.

Di paman sam sana, Kota Philadelphia, untuk meningkatkan kunjungan tourist, Tourisms marketing Corporationnya mencipkatan pendekatan yang terbilang cukup unik dalam industry Tourist dengan mengadopsi cinta sebagai tema kampanyenya. Kapanye periklanan tersebut dinamakan "With love, Philadelphia," dimana Kota tersebut diibaratkan teman akrap lama yang menuliskan surat cintanya ke seluruh media yang mereka gunakan dan uniknya tema ini digunakan untuk promosikan apa saja mulai dari hotel sama museum seni di sana.. Yah ujung-ujungnya sih biar orang dateng, belanjam, nginep dan sebagainya, hanya saja pendekatan lebih diarahkan pada sisi emosional target marketnya.

Memang cinta itu Indah, sebuah kata yang mengandung sejuta makna dan arti. Konsep cinta mungkin salah satu konsep perikalanan yang paling universal yang digunakan oleh siapapun dalam membangun komunikasi dan mungkin bisa digunakan oleh produk atau perusahaan manapun. Kesetian kepada Merekpun tentu didasarkan oleh Cinta kita terhadap merek tersebut dan ratusan juta bahkan miliaran dana yang digelontorkan untuk melakukan kampanye beriklananpun rasanya salah satunya ditujukan untuk membangun kecintaan di dalam hati dan pikiran target market perusahaan tentunya.

Ok mari kita bahas dahulu mengapa Cinta itu sangat penting dan akan selalu menjadi sebuah tema yang akan terus kita lihat di dunia bisnis sekarang dan yang akan datang.

1. Cinta itu Abadi
Jika bicara sesuatu yang akan abadi mungkin cinta adalah salah satu yang akan terus abadi sampai akhir jaman. Segala sesuatunya berjalan dan bisa berjalan dengan Cinta dan cintalah yang membangun setiap detik dan detak jantung mahluk hidup manapun di dunia ini. Coba kita melihat pada awal adanyanya Manusia, Nabi Adam. Karena cintalah beliau kemudian diberikan oleh Tuhan kesempatan untuk menebus kesalahannya di Surga karena sudah mendengarkan bisikan Setan dan memakan buah kuldi yang dilarang oleh Tuhan (dan Karena cintalah (kepada Hawa) beliau terbujuk rayu untuk memakan buah tersebut. Yah semua dasarnya cinta dan inilah pesan utama yang mungkin ingin disampaikan oleh Yang Maha Kuasa kepada seluruh makhluknya.

Itulah sebabnya mungkin dari jaman dahulu dimana dan sampai saat ini dimana periklanan sudah demikian modernnya dan mungkin kelak puluhan tahun ke depan sampai akhir jaman, cinta masih terus dan akan relevan dan mendapatkan tempat sendiri untuk menjadi konsep dalam mengiklankan produk dan layanan sebuah perusahaan, yah tentu dengan konsep dan pendekatan yang berbeda-beda tergantung objectives dari iklan tersebut.

2. Sejuta Arti dan Makna
Mungkin inilah salah satu kelebihan yang membuat Cinta sebagai sebuah konsep tidak pernah basi mungkin sampai kapanpun karena Cinta memiliki sejuta arti dan makan. Tidak percaya, coba sajah lihat Film yang bertemakan cinta, mungkin kita akan kehabisan tempat di memori kepala kita untuk mengingat-ingat film apa saja yang bertemakan cinta, yah sangking banyaknya tentunya. Bagi industry per filman mungkin cinta adalah komoditas utama yang paling laku untuk dijadikan tema dalam membuat film, coba jika Horor hehehe, yah lagi bommingnya sih rame banget, sekarang? Bosen mungkin yah.

Pendekatan cinta menjadi sebuah tema yang sangat memacu kretifitas dalam menggarapnya karena kita bisa berkreasi dan menciptakan banyak ide dari cinta. Dan mungkin karena cinta merupakan sifat dasar seorang manusia (saya selalu yakin setiap orang lahir dengan cinta di hatinya), tema cinta membuat orang memiliki kreatifitas yang sangat beragam dalam memaknainya dan membangun konsep kreatif dengan pendekatan ini. 10 orang dengan kemampuan yang sama sekalipun sebagai seorang copywriter bisa menghasilkan konsep yang benar-benar berbeda jika tema dasarnya adalah cinta. Yah sekali lagi karena cinta punya sejuta arti dan makna sehingga sejuta konsep dan maknanyapun bukan tidak mungkin muncul bahkan untuk sejuta produk dan layanan yang ada.

3. Milik Siapa Saja
Yah cinta adalah kepunyaan setiap orang, cinta bersifat universal dan karena itulah tema cinta akan selalu bisa diterima oleh kalangan market manapun. Coba sajah bayangkan dan pikirkan, tema apa yang sifatnya betul-betul universal selain cinta dan bisa diterima oleh setiap orang? Karena itulah konsep periklanan di mana cinta dipilih untuk menjadi big idea di dalamnya merupakan pendekatan yang mungkin cukup sering digunakan dari dulu.

Mulai dari bantaran kali sampai gedung mewah setiap orang pasti memiliki cinta sehingga rasanya tidak ada yang keberata didekati sebuah produk atau layanan dengan cinta dengan “syarat tentunya”.
……………………………………

Nah kalimat di atas mungkin menjadi pertanyaan tersendiri, demikian universalnya cinta, milik siapa sajah dan abadi, namun kemudian mengapa “bersyarat”? Yah dibalik semua itu cinta pasti membutuhkan syarat dan inilah point menariknya, dari sisi periklanan (yah tentu topiknya sekarang iklan bukan tentang cinta dalam makna dan arti lain) Konsumen Anda membutuhkan syarat untuk dapat cinta kepada brand Anda dan hal ini tentu sangat wajar karena banyak sekali competitor yang juga akan berusaha agar brandnya dicintai oleh target marketnya.

Ok mari kita coba bahas satu persatu apa sajah syarat agar brand kita bisa dicintai oleh konsumennya? Hehehe mungkin secara sederhananya mari kita bayangkan apa yang membuat wanita bisa jatuh cinta kepada seorang laki-laki sehingga penting bagi setiap laki-laki untuk mengetahuinya.

1. Product It Self
Apakah barang anda menjawab needs and want or even expetasi dari si target market? Hal ini merupakan sebuah syarat yang amat sederhana, jika ingin dicintai maka jadilah bagian yang dibutuhkan oleh konsumen, kalo tidak butuh mengapa harus cinta?

Kebutuhan merupaka gerbang awal di mana cinta bisa ditumbuhkan di dalam hati konsumen, yah seperti pacaran ajah deh, pasti awal-awal khan produknya dulu yang dilihat heheheh, ganteng ga, tajir ga nih orang, cantik ga?, baik hati ga? Dan sebagainya yang berhubungan dengan produk dan atributnya, kalo ternyata apa yang kita cari (butuh) ada di dalam seseorang maka mulailah kita mencoba untuk mencintainya. Yah betul mencoba dulu dong hehehehe, produknya khan harus dibuktikan dulu untuk kemudian kita menjalin hubungan cinta jangka panjang.

2. Jangan Pernah Berbohong
Katakanlah sejujurnya, jangan pernah berbohong kepada konsumen mengenai produk dan atributnya karena begitu miss perception atau apalagi ternyata memang ketahuan produknya tidak sesuai dengan yang dijanjikan atau diharapkan maka mungkin bencilah yang akan timbul, kalo sudah begini jangan berharap produk kita dicintai, dilirkpun mungkin tidak lagi.

Andapun misalnya dalam perpacaran pasti tidak akan suka khan bila tenyata kenyataan yang Anda temui sebelum dan sesudah jadian berbada dari yang Anda harapkan? Sebelum pacaran orangnya romantic banget, eh setelah pacaran ternyata cueknya minta ampun, jika sudah begini bagaimana kita bisa menciptakan loyalitas terhadap cinta kita?

Nah kembali ke iklan, walaupun dikemas dalam bahasa iklan kita sebagai pemilik produknya harus tetap memperhatikan nilai-nilai kejujuran dalam bahasa iklan kita, yah sederhananya katakanlah yang sejujurnya dengan cara yang se kreatif mungkin, jangan berbohong dengan melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangi.

3. Pengorbanan
Yah ini salah satu syarat mutlak bila brand kita ingin dicintai, berkorban. Dalam hal apa? Yah banyak tentunya hehehe. Milsanya kita harus memastikan distribusi produk bisa menjangkau target market kita di desa sekalipun sehingga si konsumen jika sedang membutuhkan bisa mendapatkan produk kita dengan mudah. Berilah harga yang sesuai dan bisa dimengerti oleh konsumen sehingga mereka dengan senang hati membeli brand kita karena nilainya sudah sesuai dengan yang mereka harapkan. Cobalah hadir di mana saja konsumen kita berada dengan beriklan sehingga mereka akan selalu ingat dengan kita, berilah mereka diskon, berilah mereka member dan privilege sehingga mereka merasa dihargai oleh brand kita dan sebagainya.

Banyak sekali pengorbanan yang memang harus dilakukan oleh sebuah brand untuk dapat dicintai oleh konsumennya, namun dengan cinta konsumen perusahaan akan terus dapat hidup dan sejahtera karena cinta tersebut.

Ah memang, cinta itu indah. Mari beriklan dengan cinta.
Innovation for Other Innovation


Ditawari Blackberry second oleh atasan dengan harga yang murah membuat saya sempat “ragu” dengan niatan membeli handphone biasa (biasa = yang ada kamera 3,2 MegaPixel, ada MP4, ada radio, ada buat ngedit-ngedit foto, bisa internet-an, dll…biasa banget kan?;p). Di rumah saya mencoba berdiskusi dengan adik saya (yah jujur saja saya nggak begitu jago dalam hal per-gadget-an). Dia bilang kalau mau sih lebih bagus I-Phone, katanya multimedianya lebih komplit, kalau Blacberry kan enaknya buat keperluan bisnis. Hmmm…makin bingung saya!

Di jalan-jalan di Bandung saya mulai melihat ‘persaingan’ dua brand tersebut. Billboard di spot-spot utama, iklan di media massa, bundling dengan provider-provider kuat, dsb. Fiuh…lagi kenceng tuh! Saya suka jadi ‘amaze’ sendiri kadang kalau mengamati perkembangan gadget sekarang ini. Dulu saya salut sekali dengan system inovasi Nokia yang selalu mengeluarkan inovasi produk setiap 3 bulan sekali. Kemarin-kemarin saya lihat Sony Ericcson yang mulai gencar berinovasi dan mengeluarkan produk-produk baru dengan inovasi masing-masing. Sekarang ini sudah terbentuk “budaya” kompetisi yang akhirnya melahirkan inovasi-inovasi yang membuat konsumen merasa termanjakan karena ekspektasinya selalu “dipenuhi”.

Inovasi memang merupakan salah satu cara yang paling ampuh untuk dapat selalu memanjakan customer. Inovasi ini tidak hanya diaplikasikan pada feature produk saja, tapi juga di semua elemen bisnis, mulai dari inovasi servis, system management, dll, yang semuanya ditujukan demi terwujudnya perkembangan bisnis perusahaan. Hal inilah yang sekarang ini banyak menjadi focus perhatian banyak perusahaan (baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil). Kenapa? Karena inovasi juga menjadi diferensiasi yang kuat untuk merebut perhatian target market di tengah menjamurnya para competitor. Jika mau bertahan ditengah persaingan, inovasi memang harus menjadi bargain power yang kuat untuk ditawarkan.

Eiiitzz, tapi jangan pernah berpikir bahwa saat perusahaan kamu memiliki inovasi tercanggih yang tidak ada competitor manapun yang memilikinya, maka perusahaan kamu “aman” dan dapat “berjalan” tenang. Jangan salah, hari ini mungkintidak ada yang punya, tapi besok pasti sudah ada yang mengikuti! Hahaaa! Ini bukan masalah bajak-membajak, saudara-saudara, ini masalah “up to date”! Siapapun punya hak untuk mengadopsi inovasi siapapun juga selama legal! Menyebalkan sih, tapi dalam dunia bisnis, hal-hal seperti itu justru memperkaya situasi industry itu sendiri, malah ada pengkategoriannya segala lho!

Tidak mengherankan memang, seperti yang disebutkan di situs www.12manage.com mengenai Innovation Adoption Curve, ada beberapa kategori personil atau perusahaan yang berhubungan dengan pengadopsian inovasi ini.

1. Innovators
Ini dia sang trully innovator. Dia adalah orang atau perusahaan yang berani melakukan perubahan melalui inovasi-inovasi yang dibuatnya sendiri. Dia selalu focus memperhatikan jalannya bisnis perusahaan, mengamati trend (bahkan meramal tren masa datang) dan berpikir inovasi apa yang harus dilakukan untuk memajukan bisnisnya tanpa ‘terlindas’ competitor. Yang begini ini nih yang jadi sentral perkembangan bisnis, sekaligus “role model” para pembajak, eh, pengikut! Hehee!;p Tapi sayangnya, innovator kadang cenderung “semau-maunya” dalam berinovasi. Yah seperti ilmuwan kali ya, kadang suka “gila”, nggak masuk akal, dan revolusioner! Heheee!

2. Adopters
Kalau adopter ya mungkin kamu ngerti lah yah. Heee! Dia adalah orang atau perusahaan yang “kerjaannya” mengadopsi inovasi yang dibuat si innovator tadi. Walaupun begitu, dia sangat respectable, dan biasanya meruapakan opinion leader. Itu sebabnya saat dia mengadopsi inovasi yang sudah ada, dia tidak di cap sebagai “pembajak”. Dia punya posisi yang cukup kuat di pasar untuk itu. Mencoba ide-ide baru dengan cara yang lebih smooth dan ‘aman’ menjadi kunci keberhasilan si adopter ini. Beda sama innovator jadinya kan?

3. Early Majority.
Hampir mirip sama si adopter sih memang. Dia merupakan orang atau perusahaan yang sangat kuat, sama hati-hatinya dengan si adopter tapi cenderung lebih cepat dalam menerima perubahan maupun mengikuti inovasi dibandingkan kebanyakan orang atau perusahaan. Jadi sebelum yang lain ikut-ikutan, dia sih sudah duluan! Heheee! Nggak ada ceritanya dia nunggu-nunggu. Kelebihannya, walaupun dia pengikut, dia one step higher than majority, jadi konsumen juga akan lebih dulu “melihat” dia daripada para pengikut selanjutnya. Akhirnya ya kalau inovasi yang dia adopsi atau ikuti itu ok dan menarik hati konsumen, ya berarti dia untung lebih dulu!;p

4. Late Majority.
Judulnya saja sudah “late”, pakai “majority” pula! Heheee! Ini sih orang atau perusahaan yang cukup skeptic bahkan bisa jadi nggak peduli sama perubahan atau inocasi yang dilakukan orang lain. Ide-ide baru hanya akan digunakannya kalau sudah banyak orang atau perusahaan menggunakannya juga. Play save istilahnya mah! Yang ada di mind set dia, inovasi kalau sudah banyak yang mengikuti berarti ‘aman’. Rada susah yah kalau jadi tipe ini, telat terus!;p

5. Laggards.
Wih apalagi yang ini! Dia adalah orang atau perusahaan yang sangat tradisional. Ya layaknya nenek kita, kolot dan konservatif banget lah!(heheee, kualat nggak yah saya?;p) Dia sudah terpaku pada hal-hal yang sudah lama. Malah kalau ada ide atau inovasi baru dia cenderung kritis dan hanya mau menerima kalau ide atau inovasi baru tersebut telah menjadi tradisi. Duh, ribet ya? Heee! Susah nih kalau yang begini! Walaupun tujuannya mempertahankan originalitas dan membuat diferensiasi dari orang lain yang lebih ‘modern’, tapi bisa-bisa ketinggalan jauh di belakang tuh! Kalau kata anak gaul bilang sih “So last year banget deh lo!”. =D

Nah, sebenarnya terserah perusahaan sih mau jadi kategori yang mana. Semua kategori punya alasan tersendiri memang untuk diterapkan sebagai budaya atau arah perusahaan. Sesuaikan saja dengan situasi dan budaya perusahaan, jangan lupa merujuk pada visi dan misi perusahaan ya. Mau jadi innovator atau laggards sekalipun, jangan pernah “menutup mata” pada kategori-kategori yang lain, karena siapa tahu kamu tiba-tiba memutuskan untuk “pindah” kategori!=)