Dec 12, 2007

Just.. don't do it to your business!

Berapa lama sebenarnya kekuatan sebuah produk akan menjadi landasan utama persaingan dalam bisnis? Tidak terbatas pada bisnis apapun, produk memang sudah menjadi substansi utama untuk berjualan. Tetapi dalam perkembangan persaingan dan persepsi masyarakat yang juga semakin kompleks, diferensiasi produk sudah tidak sepenuhnya bisa diandalkan lagi, tetapi sifatnya mutlak. Karena apabila produk terus menerus diandalkan sebagai diferensiasi maka bisnis anda akan terjebak alias got association trap. Berkaitan dengan restoran misalnya, produk merupakan substansi yang mutlak untuk berjualan, karena baik dari skala pedagang kaki lima sampai yang sekelas hotel bintang 5, apa lagi yang dicari orang dan akan membuatnya kembali selain rasa enaknya si makanan yang dijual. Tapi ada yang dinamakan pula dengan elemen servis yang juga nga kalah pentingnya dengan si substansi mutlak produk. Malahan kalau bisa kita perhatikan atmosfer persaingan sekarang ini baik dari skala lokal sampai internasional, servis masih menjadi suatu elemen konsep yang dipersaingkan alias lomba unik2an.. baik dari yang ngampring sampe yang emang bisa kita akui servisnya jempolan dan bikin yang datang merasa nyaman.

Sebagai contoh simple skala lokal pedaganga kaki lima.. lagi-lagi saya harus ambil contoh pedagang kaki lima bebek goreng di dekat RS Borromeus di Bandung itu, si owner sekaligus pelayannya itu memang memberi atmosfer yang beda banget dengan pedagang2 bebek lainnya.. yang yahh.. okelah substansi mutlak nya memang enak dan sambelnya puedess nikmattt..... tapi di luar itu.. si owner sekaligus pelayan ini bisa menciptakan suasana yang ramai banget dan menjadikan waktu lama untuk menunggu (karena ramai banget) bisa terasa nga ngebosenin. Sang owner yang tampangnya emang lumayan itu sering ngajak bercanda pengunjung-pengunjungnya dengan gaya khas dia yang agak melambai dan manggil semua orang dengan sebutan ”say” itu... tapi ya... jujur aja gw akan datang lagi ke sana dan akan dengan senang hati merekomendasikan itu ke temen-temen dan keluarga gw.. tapi yang tentunya nga keberatan antri.

Contoh dengan skala yang internasional.. ada satu brand di Amerika Serikat bernama Hooters. Cikal bakal brandnya di usaha restoran juga dengan substansi mutlak produk yang kelasnya standar sampai enak, tergantung selera. Tapi dengan elemen servis unik di konsepnya, brand Hooters bisa menciptakan satu persepsi yang menjadi identitas nya sampai ia bisa melebarkan sayapnya ke bisnis lain yang memang nga nyambung sama bisnis resto. Jadi seluruh pelayan di restoran Hooters ini mengandalkan keseksian dan sensual mereka, ya tentulah para wanita-wanita, dengan kostum kaos putih dan celana/rok pendek yang ketat. Jangan pikir yang tidak-tidak, dan jangan sekali-sekali meniru konsep yang satu ini di negara tercinta kita ini, karena bukannya menciptakan brand asosiasi yang unik, tapi restoran anda akan dicap buruk dan didemo (atau dibakar???) massa, kata mereka sumber kemaksiatan. Ya memang budaya yang kita punya jauh berbeda dengan di AS sana, jadi ambil segi positifnya saja : unique selling point on service concept. Lanjut, jadi mereka mengasosiasikan Hooters itu dengan pelayanan yang unik dan seksi. Lalu beberapa waktu setelahnya, setelah asosiasi dengan baik tertanam di dalam benak masyarakat luas, maka tidak segan-segan ia menjajal bisnis baru di bidang penerbangan, dengan nama HootersAir. Ya tentu saja ketenaran asosiasi brand nya tidak terlupakan, para pelayan penerbangannya juga menggunakan atribut dengan konsep yang serupa, kaos putih ketat nan seksi.. dan memang nyeleneh nya konsep tersebut menjadi satu nilai jual yang tidak bisa diremehkan oleh para pesaingnya.

Oh ya saya punya satu contoh lagi, kali ini singkat saja ya. Mungkin juga sudah banyak yang membahas masalah ini, apalagi kalau bukan Blitz Megaplex yang sempat menggemparkan Bandung sampai Jakarta. Dengan konsep pelayanan bioskop yang akhirnya keluar dari pakem baju pramugari para pelayannya.. bisa menciptakan suasana yang sama sekali baru, dan hey.. everyone likes innovation, so do it with your own business.. tapi ingat sesuaikan dengan lingkungan dan karakter customer anda sendiri, jangan mentah-mentah mengadopsi konsep lain terutama dari latar belakang budaya yang sama sekali lain, seperti kasus Hooters, just don’t do it to your business ok !

Endoser Effect

Banyak pihak yang mencerca iklan Indomie 3 diva yang kampanye nya masih sering kita lihat di mana-mana. Saya juga sedikit bingung dengan berbagai pihak yang berpendapat berbeda dari saya itu.. tapi ya sudah semua orang punya pandangannya masing-masing, dan asik nya kita jadi bisa diskusi dan menemukan hal-hal baru yang bisa jadi pembelajaran.

Beberapa waktu lalu di salah satu milis periklanan saya juga sempat berdiskusi berkaitan dengan kasus 3 diva ini. Menurut saya penggunaan 3 endorser ini tidak bisa dikatakan tidak tepat. Ketiga diva ini memang sangat tepat untuk disejajarkan dengan persepsi Indomie yang telah tertanam di benak masyarakat Indonesia, yaitu Indomie (sekaligus 3 diva) adalah sosok yang sudah menjadi nomor 1 di kelasnya, memiliki kualitas yang paling diandalkan (persepsi lho..) dan merupakan generasi-generasi pelopor yang sudah mapan. Dan bukannya se simple itu tujuan dari penggunaan endorser selebriti dalam sebuah produk yang sudah nomor 1 di kelasnya? Yaitu memperkuat asosiasi yang tertanam dalam benak konsumen dengan adanya dukungan asosiasi yang serupa pada endorser tersebut.

Mungkin banyak yang berpikir bahwa iklan nya sama skali nga kreatif blah blah.. seberapa jauh sih penilaian kretifitas dalam iklan? Mungkin saja konsep iklan nya standar, tapi toh konsep penjualan dan strategi pemasarannya tetap bisa mempertahankan asosiasi yang tercipta di benak masyarakat luas. Iklan tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan aktivitas promosi/komunikasi yang dijalankan. Dan yang terpenting lagi ada baiknya si peng kritik bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia masih mengkonsumsi Indomie sampai saat ini. Siapa yang tidak makan Indomie? Walaupun dengan berbagai pilihan merk dan rasa dari merk lain, tapi salah satu yang tetap dibeli orang ya Indomie ini.

Balik lagi soal selebriti endorser, ya memang tidak semua produk harus diiklankan oleh seorang endorser, menyambung ngobrol2 saya dulu dengan Pak Handoko Hendroyono dari Matari Advertising, kita mendiskusikan seberapa penting endorser digunakan. Serupa dengan pendapatnya yang juga jadi materi diskusi seminar After Break With The Creative lalu bahwa tergantung dari tujuan iklan itu sendiri dan tentu saja posisi brand pada benak masyarakat, terlebih posisi modal dari produknya, kalau memang tidak memungkinkan yang tidak harus dipaksakan, karena masih banyak cara lain untuk mendongkrak brand tanpa harus bergantungan dengan ketenaran artis. Bila merk belum memiliki tingkat awareness yang tinggi, endorser selebriti bisa menjadi hal penting yang mendongkrak ketenaran merk. Tetapi apabila merk yang diiklankan sudah kuat atau bahkan pemimpin pasar ya sama seperti kasus Indomie di atas, bahwa tujuannya adalah memperkuat citra merk dengan didukung oleh citra selebriti yang serupa pula. Pemilihan endorser selebriti harus sangat hati-hati dan harus terus menerus dipantau perkembangannya, karena penggunaan endorser ini memiliki hal negatif apabila terjadi suatu kasus terhadap si endorser, nama merk akan terus terbawa-bawa. Jangan sampai penggunaan endorser malah menciptakan citra buruk dari produk.

Contoh kasus Pepsi yang sempat menggunakan Michael Jackson sebagai endorsernya karena ingin mendukung asosiasi muda, dinamis dan sensual. Sejak Michael mulai terlibat berbagai kasus, dengan sigap Pepsi memutuskan kisah cinta Michael sebagai icon nya.

Ada 4 kategori asosiasi merk yang diciptakan (David Aaker) Brand as a product, Brand as organization, Brand as a person, Brand as a symbol

Posisi penggunaan asosiasi merk yang dikaitkan dengan asosiasi endorser, seperti Indomie terdapat pada posisi brand as a person. Jadi tips untuk memilih endorser yang tepat bagi produk anda adalah memperhatikan kesesuaian sasaran pasar, positioning yang ingin dikomunikasikan dan citra merk saat ini dan yang akan diciptakan.

The Love of Dove

Melanjutkan diskusi ngelantur singkat kemaren bersama teman kerja saya di area meeting baru kami, saya menyisipkan post singkat di salah satu milis, berkomentar tentang strategi Dove yang, saya nyaris tidak percaya kalau hampir semua orang membicarakannya. Entah hal ini sebenarnya bukan merupakan hal yang baru, Dove bukan baru kemarin melancarkan strategi persahabatan itu : The Love of Dove. Tapi ada dua hal sebenarnya yang ingin saya bahas. Yang pertama : Oprah adalah suatu media yang menggemparkan, sangat menggemparkan dan saya tidak percaya kalau efeknya sebesar itu, seperti yang sebelumnya saya katakan bahwa sudah sejak beberapa waktu lalu (hitungan bulan) Dove memulai strategi persahabatan yang ia jalankan, tetapi sejak muncul di Oprah Show (Dove based on America, tentunya) baru setelah itu semua orang membicarakannya, ya termasuk teman kerja saya dan orang-orang di milis. Ternyata that Oprah really does work.. dan memang jarang sih ada hal-hal komersil in that show, tapi karena saya juga tidak menonton nya secara langsung, saya tidak bisa bercerita terlalu banyak, mungkin saya lebih banyak bercerita tentang dampaknya, karena saya memang yang terkena dampaknya.

Pertama kali saya menyadari Dove’s new brand activation, yaitu berupa pengangkatan sisi persahabatan common women, sebenarnya saya tidak terlalu terkejut juga sih, karena bagi saya sebagai seorang wanita, ini bukan hal yang benar-benar baru, dalam artian mengangkat persahabatan sebagai simbol dari kecantikan, di mana pada brand activation sunsilk girls day pun melakukan hal yang serupa hanya saja perbedaan target usia market. Tapi reaksi dari orang lain, ya mungkin teman kerja saya yang laki-laki dan orang-orang milis yang juga laki-laki beranggapan bahwa hal ini adalah hal yang baru, berbeda dan cerdas. Mau tidak mau sayapun jadi berpikir ulang tentang semuanya. Ternyata demikian, ini hal kedua yang ingin saya sampaikan. Bahwa ternyata memang tidak hanya unsur persabahatan dan cinta saja yang ingin ditampilkan dari momen ini, tetapi adanya kejujuran (begitu kata teman kerja saya) yang dalam from this activation, yaitu penggunaan common women. Ya.. boleh dibilang sih mungkin saja target market terutama para wanita, sudah cukup muak dengan melihat berbagai kecantikan (yang bagi diri mereka sendiri adalah semu) yang diombar ambir di layar kaca. Tubuh langsing putih, hidung mancung, rambut indah dan wajah bule, sepertinya tidak dapat lagi secara nyata menggambarkan makna sebuah kecantikan. Melalui Dove, makna sebuah kecantikan dijabarkan sebagai sebuah kecantikan hati melalui cinta dan persahabatan. Yah.. sekali lagi saya bilang, it is really touching, terutama bagi mereka yang ingin melihat kepada diri mereka sendiri, siapa dia dan seberapa cantikah dia?

Oh iya hampir lupa, ternyata ada tiga hal yang ingin saya sampaikan. Yang ketiga adalah Dove melakukan suatu pendekatan yang berbeda dikarenakan adanya kejenuhan terhadap suatu kondisi tertentu di pasar, dalam hal ini terpolanya penyampaian pesan kecantikan melalui artis atau endorser cantik fisik lainnya. Maka Dove melakukan pendekatan lain, secara emosional untuk menyiasati kejenuhan tersebut. Apabila suatu hari semua orang sadar bahwa pendekatan emosional merupakan hal yang sangat cerdas dan semua orang melakukan hal yang sama, ya.. sudah seharusnya ada pendekatan lain lagi yang dilakukan, karena tentu saja pasar telah kembali jenuh. So, the point is not about the emotional or physical or another side we get through, but it is about the innovation of strategy, new way of thingking..

Pocari dan Adik Angkatnya

Di sebuah sore yang melelahkan ternyata saya harus mengalami shock berat. setelah beberapa waktu lalu mendengar tentang extra dan eren walahhh ada lagi yang bikin saya di satu sisi geli tapi di satu sisi jadi berpikir juga. Pada saat saya makan mi instan (makanan favorit gua) dan mencari acara TV yang bagus, ya terjadilah saya melihat iklan si mari sweat ini mungkin masih adik jauhnya si pocari, tapi walau mari mengaku adik jauh (hanya soal nama belakang sweat) tapi nyatanya mereka nampak kembar. dari baju kemasan, karakter air dan "peluh" nya hingga warna si biru putih pun ikutan di coreng-corengin. yah okey, memang sampai sekarang itu "bukan masalah"

Yang bikin saya bingung sekarang, entah memang semua orang seperti saya atau nga yah, karena sedari kecil mungkin ini bagian dari doktrinasi ayah saya yang selalu hanya merekomendasikan membeli barang dengan brand terbaik (dulu tajir -sekarang setelah belajar hidup sendiri boro2, makan mi instan aja pilih yang paling murah :P) sampai sekarang saya masih enggan (walau uang pas2an) untuk beli produk yang meniru seperti itu, saya benar2 akan prefer untuk pilih produk lain yang lebih murah yang beda sama skali dari si raja pasar itu dibanding harus beli produk yang saya tau hanya meniru si raja pasar (apa mungkin karena saya kerja di bidang kreatif jadi packaging promosi dan segalanya benar2 pengaruh buat saya untuk mengkonsumsi sesuatu) saya tidak tahu kalau "pasar" ternyata bertindak lain, bahwa it's ok to consume sang produk peniru.

saya jadi ingat sewaktu makan di "bu jawa" tempat makan murah banyak dan puas andalan anak-anak kos setempat, dijual banyak permen-permen ber merk -ya ampun i cant believe it- cola cola atau funta atau sprit, yah yang seperti itulah (kalau tidak salah ingat namanya seperti itu pokonya nyrempet dikiiiiittttt banget dari asilnya) dengan karakter tulisan dan warna yang SAMA PERCIS dengan aslinya, wakakakaa... sambil makan martabak goreng dan minum nutri sari kemanisan saya cekikikan sendiri dengan seorang teman, adaa ajaaa.. yang bikin saya tambah bingung lagi ada gitu yang beli???????

Beberapa bulan yang lalu saya sempat menulis tulisan singkat tentang saudara-saudara tiri produk-produk besar tersebut, dan mendapat beberapa tanggapan dari teman-teman milis periklanan lainnya. Tapi usaha para saudara tiri cola dan fanta atau apapun juga tidak stop saja sampai pada distribusi mereka yang gencar di beberapa lapisan masyarakat menengah bawah hingga menengah. Sekarang-sekarang ini, merekapun sudah mulai terjun pada kampanye TVC, dan yah.. boleh dibilang mereka benar-benar siap untuk bersaing pada pasar yang sebenarnya. Di satu sisi boleh saja timbul pertanyaan di benak kita masing-masing, bahwa benarkah sudah menjadi satu budaya yang di"aku"kan masyarakat kita tentang kemiripan identitas di segala bidang, ya salah satunya dalam kategori naming ini. Tapi ya.. kita benar-benar harus mengakui bahwa produk-produk tersebut memang mengakui bahwa produk-produk tiri tersebut memang diterima masyarakat.

Jadi.. boleh lah kita menarik temporary conclusion, bahwa daya konsumsi masyarakat kita masih banyak yang berkiblat pada rasa dan harga, dibandingkan dengan kualitas. Tetapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa tidak sedikit yang (seperti saya) merasa bahwa orisinalitas adalah yang utama (lantaran.. sambil menyangkal diri sendiri, saya konsumen barang-barang bajakan juga, haha.. ) Yah.. memang setiap produk yang dipasarkan pasti memiliki arahan pasar yang memang sudah tercipta dalam masyarakat. Bahwa.. lapisan masyarakat yang begitu kompleksnya menjadi peluang bagi kita semua..

Purple Ocean

Begitu banyak sumber dan para pakar yang sekarang ini terus menebarkan pemahaman ilmu untuk mencari peluang bisnis baru di area blue ocean atau bisa kita sebut sebagai sebuah pasar yang belum terjamah pebisnis/produk lain. Hal ini memang betul adanya, tetapi sebenarnya ada satu segi yang bisa kita masuki pula selain tetap diam dan terkikis di red ocean atau tergopoh-gopoh mencari modal untuk membuka blue ocean, yaitu the purple ocean.. area di antara red ocean dan blue ocean. Apa maksud the purple ocean?

Secara singkat kita tilik kasus C1000, di mana dia memasuki area pasar the purple ocean itu.. di mana satu area pasar yang jelas-jelas bukan red ocean (jenuh) tetapi telah teredukasi atau telah ada pemain yang lebih dulu membuka pasar blue ocean tersebut. Produk tersebut tentu saja You C 1000. Sebelumnya produk vitamin C cenderung diasumsikan orang lebih mendekati pada kategori obat, di mana bisa kita lihat perihal pendistribusian di berbagai supermarket, produk vitamin C, seperti Redoxon, Vitacimin, dll diletakan berdekatan dengan produk-produk kesehatan dan counter obat-obatan.

Tetapi secara baik sekali You C 1000 memposisikan produk vitamin C sebagai sebuah minuman yang bisa diminum kapan saja, dan menciptakan sebuah lifestyle tersendiri untuk mengkonsumsi vitamin C setiap harinya secara teratur. Dengan adanya penciptaan pasar yang baru, yaitu para masyarakat yang senang mengkonsumsi vitamin C sebagai sebuah minuman ringan (sehari-hari), maka terbentuklah apa yang disebut dengan the purple ocean.

Para konsumen di area ini telah teredukasi dengan baik tentang kategori produk dan menciptakan suatu ketergantungan terhadap penciptaan lifestyle itu sendiri, tetapi belum jenuh seperti di red ocean. Maka dengan terang-terangan, pihak Sido Muncul (SM) mengeluarkan suatu produk sejenis yang memang terinspirasi dari adanya produk You C 1000 (Kesuksesan You C 1000 pun menginspirasi Irwan Hidayat, Presiden Director PT. Sido Muncul, untuk melundurkan produk sejenis – SWA No.23/XXII/2-15 November 2006, halaman 74).

Hal semacam ini di satu sisi menjadi semacam penciptaan produk me too, tetapi dari segi bisnis hal ini merupakan satu kesempatan yang patut untuk dimanfaatkan, karena pasar yang dibidik telah teredukasi dengan baik sehingga tidak membutuhkan adanya pengeluaran budget tersendiri-yang tentunya tidak sedikit- untuk memperkenalkan kategori produk baru. Di lain sisi, pasar di kategori produk tersebut belum jenuh terhadap keragaman produk serupa. Terlebih di antara penciptaan ketergantungan para konsumen terhadap produk sejenis, produk pendatang (dalam hal ini C 1000) bisa menawarkan benefit yang serupa dengan harga yang lebih low. Jadi, bukan mustahil para konsumen berpindah bukan?

Tetapi hal ini tentu saja tidak didiamkan saja oleh You C 1000, karena penanaman brand orisinil dan eksklusivitas tetap bisa mempengaruhi pertimbangan para konsumen dalam mengkonsumsi produk. Jadi, baik bagi pemain pioneer atau pengikut, sama-sama harus memiliki strategi dan pemikiran yang jauh ke depan untuk tetap bisa bersaing dalam menjual produk mereka.

So.. start to think about that other ocean anyway..

Manusia itu Sulit

Tadi ketika asyik ngobrol melepas lelah sepulangnya dari kantor ada yang menanyakan kepada saya apa sih leadership itu dan bagaimana menjadi seorang leader yang baik. hmm pertanyaan yang benar-benar berat untuk menjelaskan dengan jawaban yang tepat.

Dengan santai gua jelaskan kepada sahabat gua tersebut bahwa kalo ingin secara teoritis, lebih jelas dan dilengkapi dengan contoh-contoh kepemimpinan mungkin ada baiknya dia membaca 22 irrutable laws of leadershipnya Jhon maxwell, membaca forbes dan buku-buku lainnya yang berhubungan dengan kepemimpinan. nah di semua literatur itu dijelaskan dengan sangat-sangat baik mengenai kepemimpinan.

Nah yang jadi masalah dia malah menanyakan bagaimana dengan yang gua rasakan dan jalani. wah berat nih, oke lah secara acak-acakan gua mungkin bisa sedikit berbagi cerita seperti apa sih kepemimpinan itu menurut pengalaman hidup gua tentunya. pertama buat gua seorang pemimpin itu harus mempunyai visi bagi seluruh komponen perusahaannya. seorang pemimpin harus bisa memikirkan akan dibawa kemana semua kompenen perusahaan dalam jangka panjang. mungkin secara sederhana bila kita bisa bermimpi tidak hanya untuk kebaikan diri kita sendiri tapi untuk kebaikan banyak orang, maka orang itu mungkin bisa disebut seorang pemimpin. kedua, seorang pemimpin buat gua harus mau belajar lebih banyak dari yang dipimpinnya. dengan kata lain, seorang pemimpin harus yang berilmu lebih baik dari yang dipimpinnya. saya teringat pesan guru mengaji saya ketika masih kecil, kalo ingin sholat berjamaah pilihlah imam yang paling baik ilmu agamanya agar ia bisa membimbing sholat dengan baik untuk mencapai impian kita semua mendapat ridho Allah. jadi di sini saya sekali ingin menekankan, pemimpin dalam bidang apapun ia harus memiliki ilmu yang seharusnya lebih baik dari yang ia pimpin.

Ketiga, seorang pemimpin harus mengalami kegagalan dalam hidupnya. nah loh aneh banget khan nih, cuma yah ini yang saya rasakan. banyaknya keberhasilan yang tertunda di masa yang lalu benar-benar memberikan pelajaran yang sangat tidak terharga yang bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih baik di masa sekarang. kegagalan dalam mengelolah team di masa lalu menjadikan kita belajar lebih banyak bagaimana mengelolahnya di masa sekarang dan masa depan dan kegagalan apapun selalu menjadi pelajaran yang sangat berguna. keempat, seorang pemimpin harus selalu menghargai dan mau mendengarkan orang-orang yang ia pimpim, kembali lagi pengalaman gua yang bisa membuat mengatakan hal ini, secara sederhana harusnya seorang pemimpin harus sering berterimakasih dengan seluruh orang yang ada di sekelilingnya, apapun bentuk sikap dan perlakukan orang-orang di sekitarnya baik itu yang positif ataupun yang negatif.

Apalagi yah, wah banyak banget deh syaratnya misalnya seperti harus menjadi pendengar yang baik, berani mengambil keputusan-keputusan yang strategis dan sulit, harus jadi pengayom yang baik, teman diskusi yang demokratis dan sebaginya-sebagainya. buanyakkkk banget khan, gua pikir itulah nikmatnya jadi seorang pemimpin, kita belajar banyak hal dalam hidup ini.Nah kalo ditanya apa yang tersulit ketika menjadi seorang pemimpin, buat gua hanya ada satu jawaban, manusia. entah mengapa hal inilah yang paling sulit yang pernah gua rasakan ketika memimpin, tidak ada ilmu yang tepat, tidak ada cara yang sama dalam menghadapi manusia satu dengan manusia yang lainnya dan tidak ada metode apapun yang bisa menjelaskan mengapa kadang orang bersikap mengjengkelkan, tidak professional, ambisius ataupun sikap-sikap lainnya. bikin stress deh pokoknya, sampe gua perbah mikir kok rasanya jualan itu gampang banget yah tapi kalo ngurusin manusia, busetttt minta ampun deh gua.

Bocah Gendeng dan Segmentasi

Saat lagi santai menikmati hidangan the manis hangat di teras seorang sahabat tiba-tiba datang dan bertanya kepada saya, eh rex segmentasi itu apa sih? Kebenaran sahabat saya ini masih kuliah, terhitung angkatan senior (-:, dan rada gendeng. Wah tumben nih tiba-tiba nanyain hal yang berhubungan dengan pelajaran, pikir saya. “ada apa nih, kok nanya pelajaran yang ga ada hubungan langsung dengan jurusan kamu?”.

Kemudian sahabat saya tersebut menceritakan bahwa sekarang ada mata kuliah pilihan dan kebenaran dia mengambil mata kuliah pemasaran, oh pantesan guman hati saya. Ok deh, saya coba jelaskan secara singkat makna dari segmentasi yang kamu tanyakan dengan sebuah pertanyaan. Kalo kamu punya sebuah produk atau service katakanlah, kemana dan kepada siapa kamu menjualnya? Wah tergantung dong rex, kalo misalnya gua punya mobil mewah yah gua bakal jual ke orang-orang yang kaya yang bisa membeli mobil tersebut, nah kalo gua jualnya Brownis, gua akan jual kekalangan ibu-ibu karena biasanya merekalah yang suka membeli makanan ringan seperti itu. Nah pertanyaan lagi nih, kenapa jual mobil mewah dengan orang kaya? Yah pertanyaan bego lo ah, yah karena itulah pasar mobil mewah??????? Nah kalo gitu dah ngerti khan apa itu segmen, tanya saya lagi. Oh iya juga yah he.......he, jawab teman saya tersebut.

Pada dasarnya makna dari segmentasi itu sangatlah sederhana yaitu kita mencoba memetahkan orang berdasarkan beberapa kategori tertentu menurut pandangan kita si empunya produk atau jasa. Dalam pengertian lain, beberapa pakar juga mengatakan bahwa segmentasi dalah cara kita memandang sebuah market dengan cermat dan kreatif sehingga implementasi strategi bisnis perusahaan dapat berjalan sesuai dengan visi, misi dan rencana perusahaan.

Secara teoritis ada 3 pendekatan segmentasi yang bisa dijalankan ole perusahaan dalam melakukan segmentasi bagi produk atau jasa mereka. Pertama adalah static attribute segmentation. Pendekatan ini penekanannya lebih kepada hal-hal yang bersifat static atau seperti apa adanya, sama sekali tidak menyentuh sisi human characteristic seperti sikap dan tingkah laku. Pandekatan ini biasanya didasarkan pada dua faktor yaitu geografis dan domografis (kelamin, umur dsb). Kedua, dynamic attribute segmentation. Pendekatan kedua ini mengakomodir sisi dari manusia dan juga memberikan gambaran yang lengkap tentang sikap dan tingkah laku seseorang dalam melakukan pembelian dan mengambil keputusan terhadap sebuah produk misalnya. Pendekatan ini biasanya didasarkan pada dua faktor yaitu psikografis dan behaviour. Ketiga adalah one to one segmentation, ini metode yang cukup hangat dibicarakan saat ini, dimana segmentasi dilakukan berdasarkan pribadi masing-masing orang.

Ketiga pendekatan diatas memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing tergantung bagaiman situasi persaingan, konsumen saat itu dan beberapa kondisi lainnya yang berpengaruh terhadap penjualan produk kita seperti aturan pemerintah dsb. Pendekatan pertama mungkin sangat cocok bila produk kita merupakan satu-satunya produk yang ada di pasaran karena ngapain juga capek-capek ngurusin tingkah laku pembelian, yang penting barang tersedia beres. Lain halnya kalo produk kita ternyata punya pesaing yang bejibun, bisa bisa modar kita kalo cuma ngandalin segementasi berdasarkan geografis ataupun demografis.

Gimana sudah cukup jelas? Tanya saya kepada sahabat saya tersebut. Hmm lumayan deh, trus pertanyaan terakhir nih friend, lanjut teman saya. Kalo gua mensegmen apa ajah yang harus gua perhatikan? Hmm, iya juga yah, yang ini penting juga. gini, sederhananya ada beberapa hal yang mungkin kamu perlu perhatikan, pertama segmen tersebut besar dan potensial untuk di garap kaga, ato kalopun niche market, potensi ke depannya bagus ga. Kedua kamu harus menganalysis dan menemukan segmen dengan metode yang sangat tepat, sehingga bisa terbaca dengan jelas prilaku dan karakteristik konsumennya bisa ditemukan dan di dapat dengan jelas. Ketiga, yah think the opposite lah, maksudnya coba pandang segmen kamu dengan cara yang berbeda dengan pesaing kamu, sehingga di situ kamu bisa lead dari competitor kamu.

Dasar bocah gendeng, orang lagi enak istirahat malah nanya-nanya segmentasi, Cuma ya semoga kamu ngerti deh.

Ngobrol Brand

Brand, apa sih sebenarnya brand itu? bertahun-tahun berbicara dengan banyak orang baik itu klien, calon karyawan, mahasiswa ataupu akedemisi sekalipun hampir semua jawaban yang saya dapatkan bias. dalam artian hampir tidak ada satupun yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti apa itu sebenarnya brand. tentu semua jawaban yang saya dapatkan setelah didiskusikan memiliki argumen sendiri dan tentu tidak bisa dikatakan salah karena demiakianlah pengertian yang melekat selama ini di benak masing-masing orang dan juga kadang dalam prateknya hal tersebut berhasil.

Brand sebagai sebuah bahasa rasanya bukan lagi hal yang asing di masyarakat umum rasanya, tukang nasi goreng (kribo), tukang perkedel (perkedel bondon) dan bahkan tukang baso (bu lela) bahkan sudah mengerti dengan baik pentingnya sebuah brand sehingga mereka bisa membangun perusahaan demikian besar. lantas mengapa masih banyak sekali orang yang tidak dapat menjelaskan makna dari brand? it's easy to think but hard to say, demikianlah salah satu guru saya pernah memberi tahu saya permasalahan brand ini, dan memang 100 persen saya setuju dengan beliau karena itu saya merasa perlu membahas dari awal terlebih dahulu apa itu brand agar kedepannya kita bisa mengerti mengenai masalah-masalah brand lebih jauh.

Ok, bagaimana jika kita mulai dengan mengungkapkan sebuah kata, HONDA. apa yang terpikir di benak kita? kualitas tingga, hemat, harga jual tinggi, keren, purna jual yang memuaskan, suku cadang gampang, ada di mana-mana dan seterusnya. Bagaimana dengan BMW, keren, mewah, gaya hidup, mahal, eksklusif, orang kaya, style, kenyamanan, coll dan seterusnya. kalo The Valley, bandung, tempatnya indah, sejuk, mewah, nikmat.

Nah dari Honda, BMW, The Valley apa yang bisa kita tangkap? yah setiap nama tersebut memiliki arti atau nilai di benak masing-masing orang, ketika saya berpikir sal BMW hal di ataslah yang timbul, begitupun ketika teman saya saya tanyakan mengenai Honda, sehingga dari hal yang sederhana di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa brand adalah kumpulan nilai yang melekat pada sebuah produk.

Sederhana sekali bukan, bahkan hal sederhana ini kadang kala dijelaskan sampai ber bab bab di dalam buku yang pada kesimpulannya kita masih tidak bisa menangkap esensi dari apa yang kita baca. sekali lagi pada diskusi awal ini saya ingin mengatakan dan berharap pembaca dapat setuju bahwa brand adalah sekumpulan nilai. dan nilai inilah yang menjadi dasar keunggulan setiap produk dalam persaingan di pasar.tentu permasalahannya untuk mencreate nilai-nilai tersebut di pasar bukanlah permasalahn yang mudah, butuh strategy, dana dan sumber daya yang besar dan inilah yang kita namakan branding yaitu proses membangun brand yang akan kita bahas pada edisi berikutnya.

When Your Brand?

Suatu hari ada seorang sahabat yang bertanya kepada saya memang perlu yah melakukan branding? Paman gua ga ngerti yang namanya branding ajah bisa jadi “tajir” dan bisnisnya makin maju ajah tuh. Lagi pula branding itu khan menghabiskan dana ajah yang efeknya kalopun ada jangka panjang.

Hmmm dari dulu sampai hari ini, ga itu teman atapun pemilik perusahaan kalau sudah membicarakan topik yang satu ini kebanyakan selalu ajah berpendapat seperti itu, tapi memang kadang gua sendiri ga bisa menutup mata emang mereka maju tanpa perlu teori branding yang ini ataupun yang itu sehingga memang harus dicari cara yang tepat untuk mengatakan bahwa itu dulu, ketika persaingan tidak seketat sekarang, teman!

Oke lah, kemudian gua bertanya kepada sahabat gua tersebut, lo kalo mobil sukanya apa? “Honda.” Kenapa? “Soalnya gaya anak mudah banget deh”. Kalo ngerokok rokonya apa? “A mild.” Kenapa? “Soalnya rendah tar nya.” Nah sekarang kalo lo dikasih rezeki yang banyak sama Tuhan mau pergi kemana? “Singapura.” Kenapa? “Soalnya gua bisa belanja yang banyak di sana karena emang terkenal dengan orchad roadnya.” Trus semua barang dan tempat yang elo sebut itu elo tau dari mana? Ada yang dari iklan TV, ada yang dari teman dan ada juga yang dari baca majalah dan sebagainya. Hmmmmm trus itu semua, majalah, iklan TV dan omongan orang nurut lo proses apa? Branding. Sambil menghela nafas gua memperhatikan tatapan matanya yang menunjukkan muka sok lugu dan kemudian tersenyum tersebut.

Kemudian pembicaraan mengalir dengan lebih santai karena dia menjawab sendiri pertanyaannya yang diajukan pada awal pembicaraan. Sesaat setelah berdiam diri kemudian teman saya tersebut kembali bertanya, emang gimana sih nurut elo proses branding yang baik itu rex? Maksud gua kalo gua punya produk gimana biar gua bisa ngebangun brand gua menjadi besar dan kuat? Wah-wah, gua jadi teringat banyak sekali teman, kolega dan klien yang selalu mempertanyakan hal ini kepada gua.

Sejujurnya menjawab pertanyaan tersebut sama beratnya dengan meminum slimming tea buat gua, pahit, ga enak tapi memiliki kepuasan tertentu bagi diri gua sendiri. Ga nyambung yah, sedikit ngelenceng ajah sih itu namanya Spot Ad he….he. Oke back to the topic, gua kemudian mengajukan sebuah pertanyaan untuk sahabat gua tersebut, kira-kira kalo elo bisnis maunya bisnis apa? “Roti deh, jawabnya”. Oke sekarang, elo bikin bisnis roti, kelak cita-cita elo apa terhadap bisnis roti lo? “yah gua mau bisnis roti gua bisa segede J.CO ato Bread Talk setidaknya”, nah itu dia unsur pertama kalo elo ingin membangun sebuah brand yang besar yang dalam bahasa pemasarannya biasa di sebut brand equity elo harus punya mimpi atau bahasa kerennya Vision. Mimpi elo segede J.Co or Bread Talk.

Kenapa? Ini gua kutipin sebuah kata-kata yang bagus “if you don't have a dream, how do you know when your brand will be big”? Mimpi elo akan mendorong elo untuk terus berusaha mencapainya dengan segala daya upaya elo tentunya. Gua udah banyak banget nemuin orang-orang yang bisnis sekedar buang-buang duit, udah ga keitung kali yang gua prediksi bakal kolaps dan jadi kenyataan. Why? Simple, itu orang-orang ga punya mimpi, taunya cuma yang penting dapet duit secepatnya sehingga usaha-usaha yang mendeliver mereka untuk berkembang menjadi besar itu ga ada. “Pengen dapat duit dan kaya khan juga mimpi rex?” bener banget tapi ada satu hal lagi yang penting sering dilupakan dalam menterjemahkan dari memimpikan sesuatu yaitu, ukuran.

Kalo mimpi, ngukur dong, kalo pengen jadi petinju kelas berat, mikir dong kira-kira badan lo bakal segede Tyson ato Lenox Lewis kaga, kalo kaga ya disesuaikan dong, ambil kelas bulu terbang misalnya sehingga mimpi elo untuk jadi juara dunia menjadi masuk akal dan usaha untuk ke sana punya kemungkinan berhasil, gitu fren. Intinya mimpi basah “banyak duit” kenapa engga tapi yah itu diukur. Nah faktor ukuran ini nih yang suka dilupain sama orang-orang yang mulai usaha sehingga yah semua usahanya menjadi percuma disamping tentunya banyak lagi faktor-faktor penyebab lainnya. Ntar kita bahas lain kali.

Gimana jelas nga, intinya faktor pertama sebuah merek atau perusahaan berhasil atau tidak yah ada atau tidaknya impian yang mendeliver semua sumber daya untuk terus meraihnya. Simple kan jack, paman lo jadi besar pasti karena dia punya mimpi yang dari tadi kita bahas. Cukup ga mimpi doang, yah? kaga, karena itulah mengetahui dan menjalankan proses branding itu penting. “dasar konsultan lo, bisaan ajah”. Haa………ha, kamipun berpisah karena keterbatasan waktu yang kami miliki. Tentunya kelak kami akan berbincang-bincang lagi untuk melanjutkan pembahasan yang sangat menarik mengenai branding ini.

Blizt & The Old Lady

Pernah datang ke blitz Megaplex di Bandung? Jika belum pernah sebaiknya anda harus menyempatkan diri untuk datang, menikmati suasana dan kemudia menonton di dalam bioskopnya. Lalu kemudian anda pergi ke salah satu pesaingnya dan lakukan aktivitas yang sama dengan yang anda lakukan di Blitz. Yah kamu akan menemukan apa bedanya Blitz dan The Old Lady.

Bangku-bangku dan sofa-sofa yang sangat nyaman untuk menunggu sampai film yang kita inginkan diputar di Blitz bertebaran di lantai bawah dan lantai atasnya, begitu nyaman dan santai sambil sesekali waiter dari cafe di sana datang menawarkan beberapa menu ringan untuk dinikmati, belum cukup bagi anda penggemar musik terdapat db di mana anda dapat membuat album yang kamu sukai. Kalo di old lady, wah wah nunggu film kita bisa bisa harus ngapar-ngapar di lantai, sukur-syukur ada bangku din dong yang kosong sehingga kita bisa manfaatkan untuk duduk kalo ga mau yah pergi ke food court ato resto di sekitarnya.

Blizt sepertinya tahu benar expectasi anak-anak muda dan penonton dewasa seperti saya tentang bagaimana semestinya sebuah tempat menonton. Kombinasi hiburan dan pengalaman berkunjung ke sana sedikit banyak menciptakan sebuah apresiasi yang positif di mata target marketnya. Memang sih konsep ini bukan barang baru terutama di Jakarta, Cuma aneh juga di bandung baru mereka yang ngusung konsep ini (setidaknya yang benar benar terlihat dan dipublikasikan) padahal Old Lady sudah sangat-sangat lama bermukim di bandung.

Dalam bukunya M. Tracy dan Weiserman, The Discipline of market Leader, dijelaskan bahwa setiap pemimpin pasar harus memiliki senjata pamungkas atau fokus pasa salah satu dari tiga bisang yaitu operational execellent, customer intimacy dan product leadership. Nah gawatnya di Old Lady saya sama sekali tidak melihat mereka kuat dalam satu bidangpun. Berbicara soal harga, hampir semua film pukul rata harganya, yah paling-paling Nomat, sedangkan pesaingnya bahkan memberikan treatment harga khusus untuk film Indonesia selain hal-hal standart seperti Nomat. Customer intimacy, jauhhhhh. Saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana hal ini bisa sangat berbeda, anda bahkan bisa rapat kecil dengan exclusive di area blizt untuk menunggu film di putar sedangkan di Old Lady? Bagaiman mungkin bisa menciptakan customer intimacy, untung mereka membuka tempatnya di daerah yang agak sulit di capai sehingga memang segmen menengah ke atas yang lebih banyak datang kalau saja hal ini terjadi di tengah kota?. Product leadership? Yah kalo Old lady gitu gitu ajah dari jaman satu ampe sekarang kali yah mungkin yang paling gress Cuma bisa beli tiket mulai jam 12 an buat jam berapa ajah di hari yang sama.

Loh saya ini siapa sih ha....ha kok usil ajah, yah namanya juga brandist (julukan kami di kantor buat orang branding). Saya pikir sudah saatnya Old Lady melakukan rejuvenasi baik dari sisi content, context maupun dari sisi infrastructure. Kenyamanan ketikan film sudah diputar memang sangat penting, Cuma point of sales ketika orang menunggu, mengantri, dan hal hal lainya sebelum menonton juga sangat penting. Ketika alternatif belom ada ok lah apa boleh buat, take it or leave it, Cuma ketika pesaing muncul ga bisa gitu lagi, innovation or die.

Dulu saya dan beberapa teman saya adalah pelanggan setia old lady, sekarang saya pelanggan setianya blitzMegaplex. Alasannya sederhana di Blitz saya bisa bersantai di sofa, ngobrol beberapa hal dan menikmati secangkir kopi yang langsung ditawarkan oleh seorang pelayan ketika menunggu film yang saya nantikan di putar.

Pertanyaannya apakah kelak jika Old Lady berubaha saya mau kembali kepangkuan kasihnya? Ya, asal mereka bisa mengerti keinginan hati saya dan para movie maniac lainnya. Instilah mereka bisa memahami Customer Insight target marketnya.